"Aku dikalahkan dengan telak oleh monster itu tanpa bisa lukai monster itu sedikitpun," ucap nona Laviena.
Remia dan Willa terkejut setelah ndengar perkataan nona Laviena.
"Anda dikalahkan dengan telak oleh Divine Elental Spirits itu ?," tanya Remia.
"Iya. Aku ngalami luka bakar yang cukup parah akibat lawan monster itu. Bahkan beberapa bekas luka bakar akibat pertarunganku dengan monster itu masih mbekas di beberapa bagian tubuhku. Itu sebabnya aku selama ini tidak pernah ngenakan pakaian yang terbuka di depan umum karena aku tidak mau bekas luka bakar yang ada pada tubuhku ini terlihat," ucap nona Laviena.
"Apa bekas luka bakar itu tidak dapat disembuhkan, nona ? Apa para Holy Priest yang ada di gereja Angelica Castitat tidak bisa nyembuhkan bekas luka pada tubuh anda ?," tanya Willa.
"Para Holy Priest tidak bisa nyembuhkan bekas luka bakar pada tubuhku ini. Bahkan nona Maiden sendiri tidak bisa nyembuhkan bekas luka bakar pada tubuhku ini. Nona Maiden berasumsi kalau Magran nyerangku dengan kekuatan sihir apinya dengan sangat kuat sehingga mbuat bekas luka bakar yang diakibatkan oleh sihir itu tidak bisa hilang. Apalagi, ada jeda waktu yang cukup lama di antara kejadian ketika aku lawan Magran dengan aku yang baru pertama kali bergabung dengan Holy Knights. Nona Maiden bilang kalau jeda waktu itu sangat berpengaruh, jadi jika misalkan aku ndapatkan bekas luka bakar ini 5 tahun yang lalu dan baru sekarang aku bertemu dengan nona Maiden untuk minta beliau nyembuhkanku, maka nyembuhkan bekas lukaku akan sangat sulit karena jeda waktunya sudah cukup lama,"
"ski begitu, nona Maiden bilang kalau di antara para Malaikat, ada beberapa yang bisa nyembuhkan bekas luka skipun bekas luka itu didapat sangat lama. Tetapi beberapa Malaikat itu belum tentu mau untuk bisa nyembuhkan bekas lukaku. Nona Maiden sepertinya ingin mbantu nyembuhkan bekas lukaku dengan minta bantuan para Malaikat, tetapi aku bilang kepada beliau untuk tidak perlu karena aku tidak ingin repotkan para Malaikat. Aku sudah bersyukur karena diberikan sedikit kekuatan oleh reka jadi aku tidak ingin minta lebih seperti minta disembuhkan oleh reka. Lagipula skipun bekas luka bakar di tubuhku tidak bisa disembuhkan hingga saat ini, aku masih bisa nyembunyikannya di balik pakaian yang aku kenakan," ucap nona Laviena.
"Nona Laviena.....," ucap Remia.
Remia dan Willa terlihat bersimpati kepada nona Laviena. Sentara itu, Alexis yang sedang mbuat ramuan atau potion tiba-tiba mulai nanyakan sesuatu kepada nona Laviena.
"Aku baru pertama kali ndengar tentang cerita anda itu. Aku sebenarnya berniat untuk mbantu tetapi setelah ndengar cerita anda secara keseluruhan, aku jadi ngurungkan niatku untuk mbantu karena nona Maiden saja tidak bisa untuk nyembuhkan anda, apalagi aku," ucap Alexis.
"Hmmmm ? Jadi sejak tadi kamu ndengarkan percakapan kami ya ?," tanya nona Laviena.
"Sudah jelas kalau aku ndengarnya. Jarak kalian bertiga denganku saat ini cukup dekat, apalagi suara kalian juga cukup keras sehingga semua pembicaraan kalian terdengar olehku," ucap Alexis.
"Begitu ya. Ah soal perkataanmu sebelumnya, aku ngucapkan terima kasih karena kamu telah berniat untuk mbantuku," ucap nona Laviena.
"Tidak perlu berterima kasih, lagipula aku hanya berniat saja dan kemudian milih untuk ngurungkan niatku itu," ucap Alexis.
"Tetapi tetap saja kamu berniat untuk mbantuku skipun pada akhirnya kamu malah ngurungkan niatmu itu," ucap nona Laviena.
"Daripada itu, aku masih penasaran dengan cerita anda yang telah bertarung dengan Magran yang rupakan ’Divine Fire Elental Spirits’. Bagaimana anda bisa bertemu dengan dia ? ncari atau nemukan Roh tingkat tinggi sepertinya itu sangatlah sulit. Jangankan Roh tingkat tinggi, nemukan Roh yang tingkatnya berada di bawah dari dia pun juga sangat sulit. Mungkin, satu-satunya cara untuk bisa nemukan reka dengan mudah adalah dengan ngunjungi negeri reka yaitu Negeri Para Roh ’Geestenland’. Namun, masuki negeri itu pun juga sangat sulit karena negeri itu tersembunyi di tengah hutan ’Himnaskogur’. Jadi intinya, nemukan para Roh itu sangatlah sulit, tetapi aku tidak nyangka kalau anda bisa bertemu dengan salah satu dari Divine Elental Spirits," ucap Alexis.
"Dulu, sebelum aku bergabung dengan Holy Knights, aku sering berpetualang ke banyak tempat yang ada di Benua Utara ini. Lalu ketika aku berada di kaki gunung api tertinggi di Benua Utara ini yaitu Gunung Api Vurpieken, disitulah aku bertemu dengan Magran. Saat itu, lihat beberapa bagian tubuhnya disertai dengan beberapa bagian pakaiannya yang diselimuti oleh api yang mbara, aku langsung tahu kalau dia itu rupakan Roh tingkat tinggi karena Roh tingkat tinggi rupakan Roh yang ngambil wujud dari ras yang ada di dunia ini. Setelah ngetahui kalau dia adalah Roh, aku tanpa pikir panjang langsung nyerangnya dan berniat untuk mbunuhnya. Alasannya karena aku pernah ndengar informasi kalau Inti Mana yang berasal dari Roh yang telah dikalahkan dapat digunakan sebagai bahan untuk mbuat senjata sihir. Saat itu aku berpikir jika aku bisa mbunuh dia yang rupakan Roh tingkat tinggi, aku bisa ndapatkan Inti Mananya dan dari Inti Mananya itu pastinya akan njadi senjata sihir yang hebat,"
"Saat itu, aku hanya berpikir untuk bisa mbunuhnya dan ndapatkan Inti Mananya, aku tidak kepikiran tentang hal lain, termasuk tentang apakah ada kemungkinan kalau aku bisa ngalahkannya. Lalu, ketika aku sudah berada dekat dengan Magran dan bersiap untuk nyerangnya, disitulah aku tersadar kalau aku tidak bisa ngalahkannya. Magran langsung mbakarku dengan sihir apinya yang kuat begitu aku sudah berada dekat dengannya. Aku pun langsung tergeletak di tanah setelah terbakar oleh sihir api milik Magran. Sebelumnya, aku bilang kalau aku pernah bertarung dengan Magran, tetapi nyatanya ini bukanlah pertarungan karena aku berhasil dikalahkan olehnya tanpa sempat nyerangnya,"
"Setelah terkena sihir api milik Magran, aku tergeletak dalam kondisi masih tersadar sambil rasakan sakit di seluruh tubuhku. Saat itu, aku berpikir kalau saat itu rupakan akhir hidupku. Aku pun hanya bisa pasrah jika mang saat itu rupakan akhir hidupku. Tetapi entah aku beruntung atau tidak, Magran sepertinya tidak berniat untuk mbunuhku. Setelah dia mbakarku dan mbuatku tergeletak di tanah, dia langsung pergi ninggalkanku. Hal itu masih mbuatku bertanya-tanya. Entah dia berpikir kalau serangan sihir apinya yang mbakar tubuhku telah mbuatku tidak bisa diselamatkan atau dia mang tidak berniat untuk mbunuhku. Sejak awal, jika aku tidak nyerangnya lebih dulu, mungkin dia juga tidak akan nyerangku. Jika aku hanya lewat di kaki gunung itu tanpa mperdulikannya, dia pastinya juga tetap tidak akan nyerangku. Semua ini dari awal mang rupakan salahku karena tiba-tiba nyerangnya,"
"Lalu, setelah Magran pergi ninggalkanku, aku berusaha untuk berdiri kembali. Setelah berhasil berdiri kembali, aku berusaha untuk berjalan ke pemukiman yang dekat dengan kaki gunung itu sambil nahan rasa sakit di seluruh tubuhnya. Sekitar hampir 1 jam berjalan sambil nahan rasa sakit, aku pun tiba di sebuah pemukiman yang ada di dekat gunung itu. Setelah tiba di pemukiman itu, aku pun langsung tidak sadarkan diri. Lalu, begitu aku terbangun, tahu-tahu aku sudah berada di sebuah tempat tidur yang berada di dalam sebuah ruangan. Ruangan itu rupakan ruangan dari salah satu rumah yang ada di pemukiman itu. Setelah terbangun, aku langsung lihat kondisi seluruh tubuhku. Aku pun terkejut ketika lihat tubuhku karena luka yang ada pada tubuhku telah nghilang. Tetapi ada beberapa bekas luka bakar yang masih belum nghilang dan bekas luka bakar itu masih ada di tubuhku hingga saat ini. Itulah cerita tentangku yang bertemu dengan Magran, Alexis," ucap nona Laviena.
"Hmmm begitu ya, anda bertemu dengan Magran ketika anda sedang berada di kaki gunung Vurpieken. Anda ngetahui kalau Magran adalah seorang Roh dan anda pun berniat untuk mbunuh Magran untuk ndapatkan Inti Mananya tetapi malah anda yang dikalahkan oleh Magran," ucap Alexis.
"Iya. Semua itu adalah kesalahanku karena tidak mikirkan tentang perbedaan kekuatan di antara kita dan lebih milih untuk langsung nyerangnya. Hasilnya aku dikalahkan dengan telak hanya dengan satu serangan miliknya," ucap nona Laviena.
"Hmmm aku pikir bukan hanya anda saja yang akan bertindak seperti itu apabila lihat seorang Roh, apalagi Roh tingkat tinggi seperti Divine Elental Spirits. Orang yang lihat Divine Elental Spirits pastinya akan berusaha untuk ngalahkan dan mbunuhnya untuk ndapatkan Inti Mana miliknya tanpa mikirkan resiko lain ketika berhadapan dengannya," ucap Alexis.
"Terima kasih karena telah mbela kesalahanku, Alexis," ucap nona Laviena.
"Aku bukan mbela anda, aku hanya ngungkapkan apa yang aku pikirkan," ucap Alexis.
Sentara itu, Remia dan Willa yang juga ndengar cerita nona Laviena mulai ngutarakan pendapatnya.
"Saya tidak percaya anda bisa dikalahkan hanya dengan satu serangan saja, nona. Sepertinya para Divine Elental Spirits itu mang sangat kuat," ucap Remia.
"Iya, reka itu mang sangat kuat. Kekuatan reka mungkin setara dengan para Malaikat atau Iblis tingkat tinggi. Sebenarnya, tanpa aku cerita tentang aku yang kalah dengan 1 serangan pun, kalian seharusnya sudah tahu kalau reka mang sangat kuat. Kalian tahu kan kalau nona Terra sempat lawan Undine yang nyerang wilayah yang dekat dengan perbatasan Holy Kingdom ? Kalian seharusnya tahu apa yang terjadi dengan wilayah itu akibat pertarungan antara nona Terra dengan Undine," ucap nona Laviena.
"Ya, saya sudah tahu tentang wilayah itu karena informasi itu tersebar di surat kabar yang terbit di Holy Kingdom. Lingkungan dan area yang ada di wilayah itu berubah total setelah pertarungan antara nona Terra dengan Undine. Wilayah itu kini berubah njadi danau yang sangat besar yang dikelilingi oleh bebatuan besar yang tiba-tiba muncul. Selain itu, di sekitar danau besar itu ada beberapa retakan di tanah yang ukurannya sangat besar. Wilayah itu dulunya adalah kota yang mpunyai penduduk yang cukup banyak dan sekarang wilayah itu telah berubah njadi danau besar yang dikelilingi oleh bebatuan," ucap Remia.
"Itulah yang terjadi apabila Divine Elental Spirits saling bertarung. Pertarungan reka bisa rubah lingkungan dan area yang njadi tempat bertarung reka. Danau besar itu rupakan perbuatan Undine. Danau itu bisa saja berukuran lebih besar dari sekarang, tetapi nona Terra dengan sigap munculkan bebatuan besar yang ngelilingi danau itu agar danau itu tidak semakin mbesar dan nggelamkan kota atau desa yang ada di sekitarnya. Nona Terra juga mbuat retakan di tanah yang berukuran besar di sekitar danau itu untuk ncegah apabila air di danau itu bisa nembus bebatuan yang dia buat. Jika air di danau itu nembus keluar dari bebatuan itu, air itu akan langsung masuk ke tanah lewat retakan besar yang dia buat," ucap nona Laviena.
"Pertarungan di antara reka berdua sampai rubah lingkungan dan area yang njadi tempat reka bertarung. Saya tidak bisa mbayangkan apabila reka bertarung tepat di ibukota Holy Kingdom. Mungkin ibukota akan berubah njadi seperti wilayah itu," ucap Remia.
"Sebenarnya tidak harus ada pertarungan antara Divine Elental Spirits saja untuk bisa rubah lingkungan di tempat itu karena seorang Divine Elental Spirits saja sudah cukup untuk rubah lingkungan di tempat itu. Sebagai contoh, jika Undine tiba-tiba muncul di ibukota Holy Kingdom, dia bisa langsung nenggelamkan ibukota itu dengan kekuatannya. Tetapi sebelum Undine lakukan itu, aku yakin kalau tuan Dragia dan nona Maiden akan langsung nghentikannya, karena reka berdua adalah benteng pertahanan terakhir di Holy Kingdom," ucap nona Laviena.
"Anda pun juga sama, nona. Anda rupakan salah satu komandan Holy Knights, jadi anda juga rupakan benteng pertahanan terakhir di Holy Kingdom," ucap Willa.
"mang aku yang rupakan salah satu komandan Holy Knights juga rupakan benteng pertahanan terakhir di Holy Kingdom, tetapi apabila yang nyerang ibukota Holy Kingdom adalah Undine, aku tidak yakin kalau aku dapat ngalahkannya. Jangankan ngalahkannya, aku bahkan tidak yakin kalau aku mampu untuk nghentikannya. Sebelumnya aku sudah cerita kalau aku bahkan dikalahkan oleh Magran yang rupakan salah satu dari Divine Elental Spirits dengan 1 serangan. Jika lawan Magran saja aku kalah, apalagi lawan Undine," ucap nona Laviena.
"Tetapi, anda saat itu kalah karena anda belum njadi salah satu komandan Holy Knights, nona. Sekarang anda rupakan salah satu komandan Holy Knights dan anda pun juga diberikan sedikit tambahan kekuatan oleh para Malaikat. Jika anda bertarung dengan salah satu dari Divine Elental Spirits lagi, saya yakin hasilnya akan berbeda," ucap Willa.
"Hmmm entahlah, mungkin saja hasilnya akan berbeda sesuai dengan perkataanmu atau mungkin saja hasilnya akan tetap sama. Setelah njadi salah satu komandan Holy Knights, aku belum pernah bertarung dengan salah satu Divine Elental Spirits lagi. Bahkan aku tidak pernah minta bertarung dengan nona Terra, padahal bisa saja aku mintanya lakukan latihan tanding denganku untuk ngetahui apakah aku yang sekarang sudah mampu untuk ngalahkan salah satu dari Divine Elental Spirits atau tidak. Tetapi hal itu tidak pernah aku lakukan. Sepertinya kekalahan telakku dari Magran mbuatku tersadar kalau aku lebih baik tidak seenaknya nantang makhluk seperti reka. Tetapi apabila nanti ada kondisi atau situasi yang ngharuskanku untuk lawan salah satu dari reka lagi, maka aku akan ngeluarkan seluruh kekuatan yang aku miliki saat ini untuk berusaha ngalahkan reka," ucap nona Laviena.
"Saya tidak sabar untuk lihatnya apabila nona bertarung dengan salah satu dari Divine Elental Spirits lagi," ucap Willa.
"Lebih baik kamu tidak nantikannya karena mungkin nanti kamu akan nyesal kalau hasilnya tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan," ucap nona Laviena.
"Hehehe baiklah, nona. Ngomong-ngomong, saya penasaran dengan Magran yang sejak tadi anda bicarakan, nona. Saya penasaran dengan wujud dari Divine Elental Spirits itu. Saya sudah ngetahui wujud nona Terra karena saya sudah sering lihatnya. Saya juga sudah ngetahui wujud Undine dari deskripsi yang ada pada surat kabar yang terbit di Holy Kingdom. skipun saya belum pernah lihatnya langsung, tetapi dari deskripsi tersebut setidaknya saya sudah mpunyai gambaran tentang wujudnya. Saya penasaran dengan wujud Magran. Tidak hanya Magran saja, saya penasaran dengan wujud dari Divine Elental Spirits lainnya. Jika anda pernah bertemu dengan Divine Elental Spirits lainnya, tolong beritahu wujudnya kepada saya," ucap Willa.
"Saya juga sedikit penasaran, nona," ucap Remia.
"Kalian penasaran dengan wujud Magran ya. Baiklah, aku akan beritahu bagaimana wujudnya. Tetapi yang kuberitahu ini adalah wujud Magran ketika aku bertemu dengannya waktu dulu. Sekarang aku tidak tahu bagaimana wujudnya. Bisa saja wujudnya tetap sama atau wujudnya bisa juga berbeda karena Magran awalnya adalah sekumpulan elen, jadi dia bisa rubah wujudnya sesuka hati," ucap nona Laviena.
"Tidak masalah, nona. Tolong beritahu wujudnya," ucap Willa.
"Baiklah. Saat itu, Magran miliki wujud yang mirip dengan wanita manusia dewasa. Magran mpunyai rambut panjang yang berwarna rah terang. Kedua bola mata Magran juga miliki warna yang sama dengan warna rambutnya itu. Magran ngenakan pakaian yang berwarna dominan rah, tetapi ada beberapa bagian dari pakaiannya yang berwarna putih. Di beberapa bagian pakaian yang dikenakan oleh Magran, terdapat api yang nyelimuti bagian pakaiannya itu. Selain itu, Magran juga ngenakan selendang yang terbuat dari api. Itulah wujud dan penampilan Magran yang aku lihat waktu dulu,"
"Hanya wujud Magran saja yang bisa aku beritahu kepada kalian karena aku hanya pernah bertemu dengan dia saja. Aku belum pernah bertemu dengan Divine Elental Spirits lainnya selain Magran dan tentu saja nona Terra. Untuk Undine, aku pun juga sama dengan kalian yang hanya bisa nggambarkan wujudnya dari deskripsi di surat kabar karena aku belum pernah bertemu secara langsung dengannya," ucap nona Laviena.
"Tidak apa-apa, nona. Terima kasih karena telah mberitahu wujudnya," ucap Willa.
"Terima kasih, nona," ucap Remia.
"Sama-sama," ucap nona Laviena.
Setelah itu, Willa terlihat terdiam sambil mikirkan sesuatu. Tidak lama kemudian, Willa mulai nggumamkan sesuatu.
"Jadi wujud Magran adalah wanita dewasa ya, sama seperti Undine yang dideskripsikan di surat kabar. Saya pikir wujud Magran akan seperti dengan nona Terra. Sepertinya sejauh ini hanya nona Terra saja yang mpunyai wujud yang imut dan nggemaskan," ucap Willa.
"Jika nona Terra tahu kalau kamu berbicara begitu, nona Terra pasti akan marahimu," ucap nona Laviena.
Setelah nona Laviena ngatakan itu, nona Laviena kembali mbaca surat kabar yang dia pegang. Remia dan Willa pun juga ikut mbaca surat kabar bersama dengan nona Laviena.
Beberapa nit kemudian, Alexis terlihat sudah nyelesaikan pekerjaannya dalam mbuat ramuan.
"Aku sudah selesai mbuat beberapa ramuan, bagaimana dengan kalian ? Apa kalian sudah selesai mbaca surat kabar itu ?," tanya Alexis.
"Iya, kami sudah selesai mbacanya," nona Laviena.
"Kalau begitu, ayo kita segera pergi untuk nuju gereja Sancta Lux yang ada di kota ini. Kita akan beristirahat di gereja itu untuk malam ini," ucap Alexis.
"Baiklah. Karena kita susah ndapatkan informasi yang cukup dari orang-orang dan juga surat kabar yang ada di kerajaan ini, sepertinya besok kita harus nemui pemimpin kerajaan ini untuk ndapatkan informasi lainnya," ucap nona Laviena.
-
Sentara itu, disaat yang sama, di gereja Sancta Lux yang ada di kota San Lucia.
Di sebuah ruangan yang ada di gereja itu, terlihat High Priest Julian sedang berbicara dengan beberapa oranf yang ada di ruangan itu. Beberapa orang itu adalah orang-orang yang sebelumnya berada di sekitar gerbang belakang kediaman Duke Louis.
"Jadi, kalian lihat ada orang ncurigakan yang ngenakan jubah yang masuk ke dalam kediaman tuan Duke Louis lewat gerbang belakang kediamannya ?," tanya High Priest Julian.
"Benar, tuan," ucap salah satu dari orang itu.
"Hmmmm....., besok kalian ikuti orang itu apabila orang itu keluar dari kediaman tuan Duke Louis lewat gerbang belakang," ucap High Priest Julian.
"Baik, tuan," ucap orang-orang itu.
"Elsie, besok kamu ikut pergi bersama dengan orang-orang itu. Kemampuan Stealth Magicmu pastinya berguna untuk mbuntuti orang itu," ucap High Priest Julian sambil noleh ke arah seorang biarawati.
Biarawati itu rupakan biarawati yang sebelumnya lihat Rid yang telah nyembuhkan senior Gretta dan senior Nadine. Nama biarawati itu adalah Elsie.
"Baik, tuan," ucap Elsie.
"Jika orang ncurigakan yang ngenakan jubah itu adalah Rid Archie, kalian harus nangkap orang itu hidup-hidup dan bawa dia kemari. Jika dia mberikan perlawanan, kalian boleh lumpuhkannya dengan cara apapun seperti motong anggota tubuhnya atau lainnya, tetapi pastikan jangan sampai mbunuhnya. Tidak peduli apabila kalian mbawanya dengan kondisi sedang terluka parah atau kehilangan anggota tubuhnya, asalkan dia masih hidup, kita bisa nyembuhkannya,"
"Kita harus mbuat Rid Archie njadi bagian dari gereja Sancta Lux. Kita harus nggunakan cara apapun untuk mbuatnya njadi bagian dari gereja Sancta Lux. Apabila dia nolaknya, kita tidak boleh langsung nghabisinya karena perintah dari tuan Theodor adalah untuk terus mbuatnya njadi bagian dari gereja Sancta Lux apapun caranya. Tetapi jika nanti tuan Theodor kehilangan kesabarannya karena Rid Archie terus nolak untuk njadi bagian dari gereja Sancta Lux dan mberikan perintah untuk nghabisi Rid Archie, maka kita harus nuruti perintah itu. Kita harus mbunuh Rid Archie dengan seluruh kekuatan kita," ucap High Priest Julian.
-Bersambung
Reviews
All reviews (0)