Setelah nona Laviena ngatakan sesuatu dengan mbawa nama Malaikat Archiela, Remia yang kebetulan ndengar perkataan nona Laviena pun mulai ikut berbicara.
"Malaikat Archiela ? Bukankah itu adalah nama Malaikat yang rupakan putri dari Sang Malaikat Agung ?," tanya Remia.
"Iya, itu benar. Aku tidak nyangka kalau kamu ngetahui tentang hal itu, Remia. Karena, tidak semua orang ngetahui tentang ras Malaikat termasuk dengan nama-nama reka," ucap nona Laviena.
"Saya kebetulan pernah mbaca buku tentang para Malaikat ketika saya sedang beristirahat di gereja Angelica Castitat. Jadi saya sedikit ngetahui tentang para Malaikat," ucap Remia.
"Hmmm begitu ya. Aku pun juga ngetahui tentang para Malaikat dari buku-buku yang ada di gereja itu. Tetapi skipun aku ngetahui tentang para Malaikat dari buku itu, pengetahuanku tentang Malaikat masih lah kurang dibandingkan dengan para Priest dari gereja Sancta Lux, terutama para Holy Priest dari gereja utama agama Sancta Lux yaitu gereja Angelica Castitat. Pengetahuan reka tentang para Malaikat benar-benar sangat hebat. Yah ngingat reka rupakan Priest dari agama yang muja Sang Malaikat Agung. Tentu saja reka harus ngetahui tentang Sang Malaikat Agung dan para Malaikat lainnya," ucap nona Leviana.
"Ngomong-ngomong, nona, barusan anda bilang kalau orang yang ada di surat kabar itu mpunyai nama yang terinspirasi dari nama Malaikat Archiela. Seperti perkataan anda tadi, tidak semua orang ngetahui tentang nama para Malaikat termasuk Malaikat Archiela. Kebanyakan yang tahu tentang nama para Malaikat adalah para Priest dari gereja Sancta Lux. Tetapi kenapa orang itu miliki nama yang terinspirasi dari nama Malaikat Archiela ? Apa orang tua dari orang itu rupakan orang yang tahu tentang nama para Malaikat ? Apa mungkin orang tua dari orang itu rupakan mantan Priest dari gereja Sancta Lux ?," tanya Remia.
"Iya, mungkin saja seperti itu. Priest dari gereja Sancta Lux tidak boleh nikah selama reka masih bertugas sebagai Priest. reka baru boleh nikah setelah reka ninggalkan tugas reka sebagai Priest. Jadi bisa saja kalau orang tua dari orang tua itu rupakan mantan Priest, jadi tidak ngherankan kalau orang itu mpunyai nama yang terinspirasi dari nama Malaikat Archiela yang mana nama Malaikat Archiela pastinya diketahui oleh para Priest dari gereja Sancta Lux. Tetapi bisa saja kalo orang tua dari orang ini rupakan orang yang kebetulan tahu tentang nama Malaikat Archiela skipun reka bukan mantan Priest dari gereja Sancta Lux. Bisa juga kalau orang tua dari orang ini secara asal namakan anak reka dengan nama ’Archie’ tanpa ngetahui kalau nama itu hampir sama dengan nama Malaikat Archiela,"
"Yah, apapun itu lebih baik kita tidak terlalu mikirkannya. Sekarang, lebih baik kita hentikan saja pembahasan tentang asal muasal nama ’Archie’ pada orang ini. Saat ini aku sedang fokus untuk ncari informasi tentang insiden penyerangan yang terjadi di kerajaan ini lewat surat kabar ini," ucap nona Laviena.
"Baik, nona," ucap Remia.
Nona Laviena pun kembali mbaca surat kabar yang ada di tangannya, sentara Remia ngajak Willa berbicara.
"Aku baru sadar, kenapa kamu dan nona Laviena lepaskan tudung kepala dan sarung tangan yang kalian kenakan ?," tanya Willa.
"Nona Laviena bilang kalau beliau tidak nyaman ngenakan tudung kepala dan sarung tangan, maka dari itu nona Laviena mutuskan untuk lepasnya. Lalu, karena nona Laviena lepas tudung kepala dan sarung tangan yang dikenakannya, aku pun juga ikut lepasnya karena aku juga tidak nyaman ketika ngenakannya," ucap Remia.
"Kalau begitu, aku juga mau lepasnya sama seperti kalian," ucap Willa.
Setelah itu, Willa pun lepaskan tudung kepala dan sarung tangan yang dia kenakan. Ketika tudung kepala dan sarung tangan yang dia kenakan sudah dilepas, terlihat kalau Willa juga miliki telinga yang berbentuk seperti sirip ikan dan juga miliki selaput pada kedua tangannya. Willa ternyata juga rupakan ras Siren sama seperti nona Laviena dan Remia.
Sentara itu, di sisi nona Laviena yang sedang mbaca surat kabar.
"Hmmmm jadi orang bernama Rid Archie itu telah ngalahkan Duke yang njadi dalang utama insiden penyerangan di kerajaan ini. Aku pikir dia rupakan salah satu prajurit atau komandan prajurit di kerajaan ini, tetapi di surat kabar ini disebutkan kalau dia hanyalah seorang murid akademi di kerajaan ini. Usianya pun juga masih muda. Ini benar-benar sangat ngejutkan. Seorang murid dari akademi di kerajaan ini telah njadi pahlawan yang nyelamatkan kerajaan ini," ucap Laviena.
"Apa Duke yang njadi dalang utama dalam insiden penyerangan di kerajaan ini juga telah njadi iblis, nona ?," tanya Remia.
skipun Remia sebelumnya sedang berbincang dengan Willa, tetapi dia terus ndengarkan nona Laviena yang sedang mbaca surat kabar itu.
"Iya. Di surat kabar ini ada beberapa foto yang mbuktikan kalau Duke yang njadi dalang utama dalam insiden penyerangan di kerajaan ini telah berubah njadi iblis. Beberapa foto dari orang yang bernama Rid Archie juga ada di surat kabar ini," ucap nona Laviena.
"Bolehkah saya lihatnya, nona ?," tanya Remia.
"Saya juga mau lihatnya," ucap Willa.
"mangnya kamu tadi belum lihat isi dari surat kabar itu sama sekali, Willa ? Kan kamu sendiri yang mbawa surat kabar itu," ucap Remia.
"Setelah diberikan surat kabar itu, aku tidak sempat untuk lihat surat kabar itu karena aku langsung pergi untuk nemui nona Laviena," ucap Willa.
"Hmmm jadi begitu," ucap Remia.
"Jika kalian berdua ingin lihatnya, kalian ndekatlah kemari. Kita bertiga bisa mbaca surat kabar ini bersama-sama," ucap nona Laviena.
"Baik, nona," ucap Remia dan Willa.
Remia dan Willa lalu ndekati nona Laviena dan kini reka pun lihat dan mbaca surat kabar itu bersama-sama.
"Ternyata benar kalau Duke yang njadi dalang utama insiden penyerangan itu telah berubah njadi iblis. Jika Duke itu telah berubah njadi iblis, pasti Duke itu lebih kuat daripada orang-orang yang telah berubah njadi iblis yang nyerang kerajaan ini. Tetapi orang bernama Rid Archie itu dapat ngalahkan Duke itu. Bukankah itu nandakan kalau dia itu kuat ?," tanya Remia.
"Ya, sudah pasti kalau dia itu kuat, terlebih dia masih muda. Ke depannya pasti orang bernama Rid Archie itu akan njadi semakin kuat. Lalu...," ucap nona Laviena.
Nona Laviena kembali mbaca surat kabar yang sedang dia pegang.
"....tidak hanya kekuatan untuk bertarung saja, orang bernama Rid Archie ini juga miliki kekuatan untuk nyembuhkan," ucap nona Laviena.
"Anda benar, di surat kabar ini ada beberapa foto dirinya yang sedang nyembuhkan orang-orang yang terluka. Lalu, di samping beberapa foto itu ada tulisan yang nyebutkan kalau Rid Archie bisa nggunakan sihir penyembuhan skala area dan sihir penyembuhannya itu bahkan bisa nyembuhkan luka yang diakibatkan oleh sihir kegelapan. Bukankah orang bernama Rid Archie ini luar biasa ? Bahkan, para Holy Priest yang ada di gereja Angelica Castitat belum tentu mpunyai sihir penyembuhan seperti sihir penyembuhan milik orang ini," ucap Remia.
"Jika tuan Alexis lihat ini, pasti beliau akan rekrut orang bernama Rid Archie ini untuk njadi salah satu Priest. Atau bahkan Rid Archie ini bisa langsung direkrut njadi salah satu Holy Priest," ucap Willa.
"Iya, kamu benar. Sebagai salah satu Holy Priest, Alexis tidak akan mbiarkan orang bernama Rid Archie ini begitu saja, apalagi kemampuan Rid Archie ini sangat luar biasa," ucap nona Laviena.
Setelah nona Laviena ngatakan itu, tiba-tiba ada seseorang yang ikut dalam pembicaraan reka.
"Kalian sepertinya sedang mbicarakanku," ucap seseorang yang kini sudah berada di samping nona Laviena, Remia dan Willa.
Orang yang kini sudah berada disamping reka bertiga adalah seorang pria yang sedang mbawa tas yang cukup besar. Tetapi tinggi pria itu tidak seperti manusia atau ras lain pada umumnya karena tinggi pria itu cukup pendek, mungkin tinggi pria itu setara dengan tinggi paha atau pinggang dari manusia dewasa pada umumnya. Pria itu bernama Alexis, orang yang dibicarakan oleh nona Laviena, Remia dan Willa. lihat tingginya itu, wajar kalau tinggi Alexis cukup pendek karena dia mang bukan berasal dari ras Manusia. Alexis berasal dari ras Dwarf.
Sentara itu, setelah ndengar perkataan Alexis, nona Laviena, Remia dan Willa pun langsung noleh ke arah pria itu.
"Tuan Alexis ?! Sejak kapan anda berada disini ?!," tanya Remia yang sedikit terkejut.
"Baru saja. Ketika aku sudah selesai ncari informasi di sekitar pelabuhan ini, aku kebetulan lihat kalian bertiga disini. Kemudian, aku pun langsung berjalan untuk nghampiri kalian. Lalu saat aku sudah berada di dekat kalian, aku ndengar kalian sedang mbicarakan tentangku," ucap Alexis.
"B-begitu ya," ucap Remia.
"Ngomong-ngomong, kenapa kita harus nyamar untuk datang ke kerajaan ini ? Akibatnya aku jadi sulit untuk ndapatkan informasi karena orang-orang yang aku tanya malah nertawakan atau ledek tubuhku yang pendek. Jika saja aku ngenakan seragam Holy Priestku, reka pastinya tidak akan nertawakanku skipun tubuhku pendek," ucap Alexis.
"nyamar rupakan langkah yang tepat agar tidak narik perhatian orang-orang di kerajaan ini. Selain itu, dengan nyamar, kita bisa ndapatkan informasi dengan lebih mudah daripada kita nunjukkan identitas kita sebagai utusan dari Holy Kingdom. Karena, begitu orang-orang di kerajaan ini ngetahui kalau kita berasal dari Holy Kingdom, ada kemungkinan kalau reka tidak akan mberikan informasi atau reka malah akan mberikan informasi palsu kepada kita karena reka mungkin tidak mau informasi tentang apa yang terjadi di kerajaan reka diketahui oleh pihak kerajaan lain," ucap nona Laviena.
"Yah, anda ada benarnya juga," ucap Alexis.
"Daripada itu, aku ingin bertanya sesuatu kepadamu, Alexis. Sesuatu ini berhubungan dengan kami yang sebelumnya sedang mbicarakanmu," ucap nona Laviena.
"nanyakan tentang apa ?," tanya Alexis.
"Sebagai Holy Priest, jika kamu nemukan seseorang yang bisa nggunakan sihir penyembuhan dengan sangat hebat, apa yang akan kamu lakukan ?," tanya nona Laviena.
"Hmmm tentu saja aku akan rekrutnya, orang itu akan njadi aset berharga untuk gereja Sancta Lux. Apapun yang terjadi aku akan berusaha rekrut orang itu apabila aku nemukan orang itu," ucap Alexis.
"Kalau begitu, bagaimana dengan orang yang ada disini ?," tanya nona Laviena sambil mberikan surat kabar yang dipegangnya ke Alexis.
"Apa ini ? Sebuah surat kabar ?," tanya Alexis.
"Iya, coba kamu baca surat kabar itu," ucap nona Laviena.
Alexis lalu gang surat kabar yang diberikan oleh nona Laviena dan mulai mbacanya. Beberapa saat kemudian, wajah Alexis terlihat terkejut saat mbaca surat kabar itu.
"Apa-apaan ini ?! Orang ini bisa nggunakan sihir penyembuhan skala area yang mana tidak semua Priest gereja Sancta Lux bisa nggunakannya. Selain itu, sihir penyembuhan orang ini juga bisa untuk nyembuhkan luka yang diakibatkan oleh sihir kegelapan. Bahkan di antara para Holy Priest saja, hanya ada beberapa orang yang bisa nyembuhkan luka yang diakibatkan oleh sihir kegelapan dan reka adalah para Holy Priest yang sudah ndapatkan ~Blessing~. Apa orang ini juga ndapatkan ~Blessing~ ? Siapa sebenarnya orang yang miliki nama yang mirip dengan nama Malaikat Archiela ini ?," tanya Alexis.
"nurut surat kabar itu, orang itu adalah pahlawan yang nyelamatkan kerajaan ini karena berhasil ngalahkan dalang utama dalam insiden penyerangan yang terjadi di kerajaan ini," ucap nona Laviena.
"Jika orang ini bergabung dengan gereja Sancta Lux, tidak diragukan lagi kalau orang ini pastinya akan langsung diangkat njadi Holy Priest," ucap Alexis.
"Jadi, apa gereja Sancta Lux akan rekrut orang itu ?," tanya nona Laviena.
"Tentu saja. Orang ini harus direkrut dan njadi bagian dari gereja Sancta Lux apapun caranya. Bagaimana dengan anda sendiri ? Sebagai salah satu komandan Holy Knights, apa anda tidak berminat untuk rekrutnya untuk njadi bagian dari Holy Knights ?," tanya Alexis.
"Hmmmm, nurut surat kabar itu, orang itu pastinya kuat karena telah ngalahkan dalang utama yang rencanakan penyerangan di kerajaan ini. Tetapi aku tidak tahu seberapa kuat orang itu tanpa lihatnya secara langsung. Lagipula, skipun aku adalah salah satu komandan Holy Knights, bukan aku yang nentukan apakah seseorang harus direkrut oleh Holy Knights atau tidak karena yang nentukannya adalah nona Maiden," ucap nona Laviena.
"Hmmm begitu ya. Berbeda dengan Holy Knights, gereja Sancta Lux diperbolehkan untuk rekrut orang-orang yang berbakat tanpa ditentukan atau disetujui oleh nona Maiden. Tetapi ada beberapa kasus dimana nona Maiden sendiri lah yang harus nentukannya," ucap Alexis.
"Hmmm jadi bisa saja ketika kamu rekrut orang ini, ada kemungkinan nona Maiden sendiri yang harus nentukan apakah orang ini harus direkrut atau tidak dan ada kemungkinan kalau nona Maiden tidak peduli sama sekali dengan perekrutan orang ini," ucap nona Laviena.
"Iya, seperti itu. Untuk sekarang, aku masih berniat untuk rekrut orang ini. Aku belum mau mikirkan apakah nona Maiden nanti akan ikut campur atau tidak. Nanti aku akan berkoordinasi dengan pihak gereja Sancta Lux yang ada di kerajaan ini terlebih dahulu tentang perekrutan orang ini," ucap Alexis.
"Di kerajaan ini juga ada gereja Sancta Lux ya ?," tanya nona Laviena.
"Iya. Kerajaan San Fulgen rupakan satu di antara beberapa kerajaan dan negara di benua utara yang miliki gereja Sancta Lux. Itu berarti kerajaan ini juga berafiliasi dengan Holy Kingdom karena gereja Sancta Lux ada di kerajaan ini. Aku sebelumnya sudah bertanya dengan seseorang tentang lokasi gereja Sancta Lux di dekat sini. Orang itu bilang kalau di kota ini ada gereja Sancta Lux yang rupakan cabang dari gereja utama yang ada di kerajaan ini," ucap Alexis.
"Hmmm begitu ya," ucap nona Laviena.
"Ngomong-ngomong, apakah anda sudah selesai dengan urusan anda disini ? Jika sudah, bagaimana jika kita pergi ke gereja Sancta Lux yang ada di kota ini ? Kita bisa beristirahat sentara di gereja itu," ucap Alexis.
"Aku belum selesai mbaca seluruh surat kabar itu. Aku akan mbacanya terlebih dahulu baru kita pergi ke gereja Sancta Lux itu," ucap nona Laviena.
"Hmm baiklah, ini kuberikan lagi kepada anda," ucap Alexis sambil mberikan surat kabar yang dipegangnya itu kepada nona Laviena.
Nona Laviena lalu ngambil surat kabar itu dari tangan Alexis.
"Karena anda saat ini sedang mbaca, aku akan mbuat beberapa ramuan atau potion terlebih dahulu untuk diberikan kepada orang-orang yang masih terluka akibat insiden penyerangan yang terjadi di kerajaan ini. Karena dari yang aku dengar, stok potion yang ada di gereja Sancta Lux di kerajaan ini sudah nipis akibat banyaknya orang yang terluka karena penyerangan itu," ucap Alexis sambil nurunkan tas yang dibawanya.
"Kamu baik sekali ya sampai mau mbuat potion untuk diberikan kepada orang-orang yang masih terluka," ucap nona Laviena.
"Ini sudah njadi tugasku sebagai Holy Priest," ucap Alexis.
Setelah itu, Alexis mulai mbuat ramuan atau potion dengan nggunakan bahan-bahan dan alat-alat yang ada di tasnya. Sentara, nona Laviena, Remia dan Willa kembali lanjutkan untuk mbaca surat kabar itu.
Beberapa nit kemudian, disaat reka bertiga masih mbaca surat kabar itu, Remia tiba-tiba terkejut ketika mbaca salah satu berita yang ada di surat kabar itu.
"Loh, ini kan Violetta ?!," ucap Remia.
"Kamu benar, ini adalah Violetta, mantan rekan kita dulu," ucap Willa.
"Ah benar juga, aku baru ngingat kalau dia berasal dari kerajaan San Fulgen. Aku tidak nyangka kalau dia sekarang sudah njadi seorang Duchess skipun hanya sentara," ucap Remia.
"Violetta ? Ah aku ingat, dia adalah anggota Holy Knights yang selamat setelah bertarung dengan Undine," ucap nona Laviena.
"Anda benar, nona. Tetapi, setelah dia bertarung dengan Undine, dia mutuskan untuk keluar dari Holy Knights. Dia sepertinya ngalami trauma setelah lawan Undine," ucap Remia.
"Trauma ya. Yah, lagipula yang dilawannya adalah salah satu dari ’Divine Elental Spirits’. Wajar saja jika dia trauma setelah lawan monster itu. Beruntung dia masih selamat setelah lawan monster itu," ucap nona Laviena.
"’Divine Elental Spirits’, sama seperti nona Terra ya," ucap Willa.
"Iya. ’Divine Elental Spirits’ rupakan Roh Elental tingkat tinggi. reka dikenal sebagai pemimpin dari para Roh Elental yang elentnya reka wakili. reka juga dikenal sebagai ’Bencana Berjalan’ karena setiap reka ngeluarkan kekuatan reka di suatu tempat, maka di tempat tersebut pasti akan dilanda bencana yang sesuai dengan elen reka. reka itu sangat kuat, aku sendiri bahkan tidak bisa ngalahkan reka. Jangankan ngalahkan reka, aku bahkan tidak bisa lukai tubuh reka," ucap nona Laviena.
"Bahkan ski anda sendiri rupakan salah satu dari komandan Holy Knights, nona ?," tanya Willa.
"Iya," ucap nona Laviena.
"Tunggu sebentar, nona. Tadi anda bilang kalau anda tidak bisa ngalahkan reka dan bahkan tidak bisa lukai reka. Anda berbicara seperti itu seolah-olah anda pernah bertarung dengan reka," ucap Remia.
"Aku mang pernah bertarung dengan salah satu monster itu, tetapi itu sudah terjadi sangat lama. Mungkin sekitar kurang lebih 30 tahun yang lalu sebelum aku njadi salah satu komandan Holy Knights. Saat itu, ’Divine Elental Spirits’ yang aku lawan bukanlah Undine ataupun nona Terra, lainkan Magran yang rupakan ’Divine Fire Elental Spirits’,"
"Hasil dari pertarungan antara aku dengan Magran mbuatku nyadari perbedaan antara aku dengan monster itu. Aku dikalahkan dengan telak oleh monster itu tanpa bisa lukai monster itu sedikitpun," ucap nona Laviena.
-Bersambung
Reviews
All reviews (0)