Setelah berbicara dengan Duke Louis dan Duchess Arlet, aku pun langsung pergi kembali ke kamarku untuk ngambil pedang milikku. Tentu yang aku ambil rupakan pedang milikku yang diberikan oleh akademi, bukan pedang peninggalan kedua orang tuaku. Aku juga sekalian ingin ngambil jubah yang ada di kamarku. Kebetulan dulu aku pernah mbeli sebuah jubah panjang untuk berjaga-jaga apabila nanti mbutuhkannya, aku tidak nyangka kalau jubah panjang itu akan berguna saat ini. Setelah ngambil jubah itu, aku berniat untuk langsung ngenakannya karena setelah itu aku akan langsung pergi nuju tempat yang sebelumnya digunakan sebagai tempat ujian bagi para murid tahun keempat. Tempat itu mulai sekarang akan njadi tempat latihan rahasia milikku selama aku masih tinggal di kediaman Duke Louis.
Setelah ngambil pedang di kamarku dan sekaligus ngenakan jubah, aku pun langsung bergegas untuk pergi ke tempat itu. Pertama-tama, aku harus pergi keluar dari kediaman ini secara diam-diam tanpa diketahui oleh Irene. Alasan aku ingin pergi secara diam-diam tanpa diketahui oleh Irene adalah karena jika Irene lihatku yang ingin pergi ke luar kediaman ini, dia pasti akan bertanya kemana aku pergi. Jika aku bilang kepadanya kalau aku ingin latihan di luar kediaman ini, ada kemungkinan kalau dia akan ikut denganku untuk latihan bersama. Jika Irene ikut ke tempat itu untuk latihan bersamaku, aku jadi tidak bisa latih sihir kegelapan dan sihir cahayaku karena aku belum mberitahu Irene kalau aku bisa nggunakan kedua sihir itu. Kalaupun aku berbohong kepada Irene dengan alasan lain seperti ingin berjalan-jalan keliling kota San Lucia, ada kemungkinan juga kalau Irene ingin ikut denganku. Baik aku ngatakan jujur ataupun bohong, Irene kemungkinan akan tetap ngikutiku untuk pergi keluar dari kediaman ini. Jadi aku lebih milih untuk pergi secara diam-diam dari kediaman ini tanpa diketahui oleh Irene. Sebelumnya, aku juga sudah minta Duke Louis dan Duchess Arlet untuk rahasiakan tentangku yang akan pergi ke tempat itu kepada Irene. Duke Louis dan Duchess Arlet pun nyetujuinya. Sekarang, tinggal aku sendiri yang harus berusaha untuk pergi diam-diam dari kediaman ini.
Beberapa nit kemudian, aku pun kini telah berada di gerbang belakang kediaman Duke Louis. Aku berhasil sampai di gerbang belakang ini tanpa diketahui oleh Irene. Aku juga tidak lihat dia ketika aku sedang berjalan untuk nuju kesini, sepertinya dia masih berada di tempat latihan prajurit Duke San Lucia untuk berlatih. Yah apapun itu, yang penting aku berhasil pergi tanpa diketahui olehnya. Lalu, setelah aku sampai di gerbang belakang kediaman Duke Louis, aku lalu nghampiri beberapa prajurit yang njaga gerbang itu.
"Tuan prajurit, bolehkah aku pergi lewati gerbang ini ?," tanyaku sambil lepas tudung kepala pada jubah yang aku kenakan.
"Rid Archie ? Ah boleh saja, mangnya kamu ingin pergi kemana sampai ngenakan jubah panjang seperti itu ?," tanya salah satu prajurit yang njaga gerbang itu.
"Aku ingin pergi berkeliling kota San Lucia. Alasan aku ngenakan jubah ini karena aku tidak ingin terlihat ncolok. Tuan prajurit tahu sendiri kan kalau aku saat ini sedang njadi topik pembicaraan setelah terbitnya surat kabar hari ini ? Maka dari itu, aku ngenakan jubah ini agar orang-orang tidak ngetahui siapa aku," ucapku.
"Begitu ya. Yah, kamu benar juga. Saat ini kamu mang sedang njadi topik pembicaraan. Orang-orang di kediaman ini pun sejak tadi terus mbicarakan tentangmu termasuk kami yang njaga gerbang ini," ucap prajurit itu.
"Itu benar, aksimu yang diberitakan di surat kabar itu sangatlah luar biasa, Rid Archie," ucap prajurit lainnya yang tiba-tiba ikut berbicara.
"Terima kasih atas pujiannya, tuan prajurit. Ngomong-ngomong, karena aku sebelumnya sudah njawab pertanyaan anda, apakah aku sudah boleh pergi lewati gerbang ini ?," tanyaku.
"Iya, silahkan, Rid Archie. Tetapi, apakah kamu sudah izin terlebih dahulu dengan tuan Duke atau dengan nona Duchess ?," tanya prajurit itu.
"Aku sudah izin dengan reka berdua, tuan prajurit. Jika anda tidak mpercayainya, anda bisa ngkonfirmasinya sendiri dengan bertanya kepada tuan Duke dan nona Duchess," ucapku.
"Tidak, kami tidak perlu ngkonfirmasinya, kami percaya dengan perkataanmu. Kalau begitu, karena kamu sudah ndapatkan izin dari tuan Duke dan nona Duchess, kamu boleh lewati gerbang ini," ucap prajurit.
"Terima kasih, tuan prajurit," ucapku.
Setelah itu, prajurit itu pun mbukakan gerbang itu agar aku bisa lewatinya. Setelah gerbang itu terbuka, aku pun langsung berjalan pergi lewati gerbang itu.
"Hati-hati di jalan, Rid Archie. Saat ini, orang-orang di kota San Lucia masih mbahas tentang surat kabae yang baru terbit hari ini, termasuk dengan berita tentangmu. Jadi lebih baik kamu terus nggunakan jubahmu itu dan jangan sampai wajahmu itu dilihat oleh reka. Jika reka tahu kalau kamu adalah Rid Archie, reka mungkin akan langsung ngerumunimu dan mbuat kamu tidak bisa bergerak di tengah kerumunan reka," ucap prajurit itu.
"Baik, terima kasih atas peringatannya, tuan prajurit," ucapku.
"Iya, sama-sama," ucap prajurit itu.
Setelah itu, aku pun langsung bergegas pergi ninggalkan gerbang itu. Untuk sampai ke tempat yang sebelumnya digunakan sebagai tempat ujian para murid tahun keempat, aku harus berjalan nyusuri kota San Lucia bagian utara selama beberapa nit. Lokasi tempat itu berada di sebelah utara kota San Lucia dan tempat itu pun juga tidak jauh dari kediaman Duke Louis, mungkin sekitar 7-10 nit dengan berjalan kaki dari kediaman Duke Louis. Lalu ketika aku sedang berjalan nyusuri kota San Lucia, aku lihat beberapa orang sedang ngobrol di beberapa titik di pinggir jalanan kota yang aku lalui. Dari yang aku dengar, reka sedang ngobrol tentang berita-berita yang ada pada surat kabar yang terbit hari ini, termasuk dengan berita tentangku.
"Apa yang dikatakan oleh prajurit itu ternyata benar. Orang-orang di kota ini masih mbicarakan tentang surat kabar yang baru terbit hari ini. Bahkan sebagian besar dari reka terus mbicarakan tentangku. Aku harus berhati-hati agar penyamaranku ini tidak diketahui oleh reka," pikirku.
Lalu, aku terus berjalan nyusuri jalanan kota itu sambil lewati orang-orang yang sedang ngobrol di pinggir jalan itu. Sesekali aku lihat ke sekelilingku untuk lihat kondisi kota itu. Beberapa titik jalan dan beberapa bangunan terlihat masih ngalami kerusakan akibat penyerangan yang terjadi kemarin. Aku pun juga lihat ada beberapa orang yang berusaha mperbaiki jalanan dan bangunan yang rusak itu secara manual. Jalanan dan bangunan yang rusak itu seharusnya bisa diperbaiki dan dipulihkan kembali dengan nggunakan sihir ataupun artifact seperti yang dimiliki oleh pihak kerajaan, tetapi sepertinya reka tidak miliki sihir untuk mperbaiki jalanan dan bangunan yang rusak itu, serta reka sepertinya tidak mau nunggu lama untuk ndapatkan bantuan Artifact dari pihak kerajaan. Artifact yang dimiliki pihak kerajaan itu sepertinya jumlahnya cukup terbatas. Karena dampak kerusakan yang terjadi akibat penyerangan yang terjadi kemarin itu tersebut hingga ke seluruh wilayah kerajaan, Artifact yang jumlahnya terbatas itu apabila dibagikan ke seluruh wilayah kerajaan pun pastinya akan ada beberapa wilayah yang tidak ndapatkan bantuan Artifact itu. Apabila kota San Lucia ini tidak ndapatkan bantuan Artifact itu, maka reka harus nunggu sampai Artifact yang digunakan di wilayah lain telah selesai digunakan untuk mperbaiki jalanan atau bangunan yang rusak di wilayah itu. Karena orang-orang di kota ini sepertinya tidak mau nunggu, reka pun milih untuk mperbaiki jalanan dan kota ini secara manual.
Kemudian, sambil lihat orang-orang yang sedang mperbaiki jalanan dan bangunan yang rusak itu, aku terus berjalan nyusuri jalanan itu untuk sampai ke tempat latihan itu.
Beberapa nit kemudian, aku pun sampai di perbatasan antara kota San Lucia bagian utara dengan tempat itu. Perbatasan itu adalah sebuah hutan yang tidak cukup lebat yang dedaunannya diselimuti oleh salju. Untuk pergi ke bagian tengah atau pusat dari tempat itu, aku harus masuki dan lewati hutan ini terlebih dahulu. Aku pun berniat untuk langsung masuki hutan itu setelah sampai di depan hutan itu, tetapi sebelum aku masuki hutan itu, aku lihat ke sekelilingku terlebih dahulu untuk mastikan tidak ada orang yang lihatku pergi masuki hutan itu. Setelah dipastikan tidak adanya orang di sekelilingku, aku pun langsung masuki hutan itu. Kemudian, aku terus langkah nyusuri hutan itu untuk sampai ke bagian tengah dari tempat itu. Aku sesekali lihat ke sekelilingku untuk lihat kondisi hutan yang sedang aku lewati. Sebelumnya, ketika aku dan para murid tahun keempat njalankan ujian di tempat ini, kami diberitahu kalau hutan ini termasuk daerah yang aman dari keseluruhan tempat yang digunakan untuk njalankan ujian. Karena hutan ini berada dekat dengan kota San Lucia, tidak ada satupun hewan buas ataupun monster yang berada di tempat ini karena sepertinya hewan buas atau monster yang berada di tempat ini njauhi tempat yang ramai ataupun dihuni oleh orang-orang. Para hewan buas ataupun monster yang ada di tempat ini hanya berada di bagian tengah, barat, timur dan utara tempat ini. Saat kami njalankan ujian di tempat ini, kami hanya boleh pergi ke bagian tengah, barat dan timur tempat ini karena daerah-daerah itu masih dinyatakan aman skipun di daerah-daerah itu terdapat hewan buas dan monster. Tetapi, hewan buas dan monster yang ada di tempat itu tidaklah berbahaya dan masih bisa dikalahkan oleh para murid akademi, berbeda dengan hewan buas dan para monster yang ada di daerah utara. Karena daerah utara dari tempat ini rupakan tempat yang berbatasan langsung dengan pegunungan Orokho, hewan buas dan monster yang ada di tempat itu pun sangatlah berbahaya karena reka berasal dari pegunungan Orokho yang turun hingga ke tempat itu.
"skipun berbahaya, tetapi aku penasaran dengan daerah utara di tempat ini. Mungkin aku akan ncoba untuk pergi ke daerah utara itu, siapa tahu ada hewan buas ataupun monster yang cukup kuat untuk dijadikan objek latihanku," pikirku.
Lalu, setelah beberapa nit berjalan nyusuri hutan itu, aku pun kini telah keluar dari hutan itu. Setelah keluar dari hutan itu, terlihat hamparan padang salju yang luas. Padang salju yang luas itu rupakan tempatku sebelumnya njalankan ujian bersama dengan para murid tahun keempat lainnya. Tempat itu sekarang akan njadi tempat latihan rahasiaku. Tidak hanya padang salju saja, di tempat itu juga ada beberapa perbukitan, beberapa hutan yang tidak cukup lebat dan beberapa sungai yang di beberapa titiknya sudah mbeku. Lalu cukup jauh di sebelah utara tempat itu, tepatnya di arah yang sedang aku lihat saat ini, ada gunung-gunung tinggi yang saling berdekatan dan saling nyambung antara gunung satu dengan gunung lainnya. Semua gunung-gunung itu terlihat diselimuti oleh salju. Terlihat pula ada hujan salju yang sangat lebat yang sedang ngguyur gunung-gunung itu. Gunung-gunung yang sedang aku lihat itu adalah pegunungan Orokho.
"lihat hujan salju lebat yang ngguyur pegunungan itu, sepertinya suhu yang ada di pegunungan itu lebih dingin dari suhu yang ada di kota San Lucia," pikirku sambil lihat ke arah pegunungan itu.
Setelah lihat ke arah pegunungan itu, aku lalu lihat ke hamparan padang salju yang ada di depanku. Di hamparan padang salju itu, aku lihat ada beberapa ’Frost Sli’ mulai dari ukuran yang kecil hingga yang besar.
"Sli ya, skipun reka bukanlah monster yang kuat, tetapi setidaknya reka berguna sebagai objek latihanku," ucapku.
Setelah itu, aku pun langsung ngambil pedangku yang ada di pinggangku. Kemudian, aku gang pedang itu dengan tangan kananku. Setelah gang pedang itu, aku pun langsung ngaliri sihir milikku ke pedang yang sedang aku pegang.
~Light Magic : Apply Magic Weapon - Light Sword~
Aku ngaliri sihir cahaya ke pedang yang sedang aku pegang dan mbuatnya njadi pedang cahaya.
"Sekarang, saatnya untuk berlatih," ucapku.
-
Sentara itu, disaat yang sama, di salah satu ruangan yang ada di kediaman Duke San Lucia.
Terlihat Duke Louis dan Duchess Arlet sedang ngerjakan beberapa dokun yang ada di ja reka masing-masing. Saat reka berdua sedang ngerjakan dokun, tiba-tiba Duchess Arlet mulai berbicara.
"Apa keputusanmu sudah tepat untuk mbiarkan Rid berlatih di tempat itu, sayang ? Karena jujur saja, aku sedikit khawatir dengannya," ucap Duchess Arlet.
"Kamu tidak perlu khawatir dengan Rid. Orang yang kamu khawatirkan itu rupakan orang yang telah ngalahkan tuan Remy yang kita berdua saja tidak bisa ngalahkannya. Para hewan buas dan monster yang ada di tempat itu aku yakin bukan masalah yang sulit bagi Rid," ucap Duke Louis.
"Para hewan buas dan monster mungkin tidak masalah baginya, tetapi jika orang-orang dari gereja Sancta Lux datang nghampirinya di tempat itu, itu akan njadi masalah besar baginya," ucap Duchess Arlet.
"Aku yakin reka tidak tahu kalau Rid pergi ke tempat itu. Lagipula Rid juga pergi ke tempat itu dengan nyamar, jadi orang lain tidak tahu kalau orang yang ngenakan jubah yang sedang berjalan di kota San Lucia untuk pergi ke tempat itu adalah Rid," ucap Duke Louis.
"Kamu ada benarnya, tetapi tetap saja aku masih khawatir," ucap Duchess Arlet.
Setelah Duchess Arlet ngatakan itu, tiba-tiba ada suara ketukan dari pintu yang ada di ruangan itu.
*Tok *Tok *Tok
Duke Louis tahu kalau yang ngetuk pintu itu rupakan salah satu prajurit atau pelayan miliknya. Duke Louis pun langsung nyuruh orang yang ngetuk pintu itu untuk masuk.
"Masuk," ucap Duke Louis.
"Baik, tuan Duke," ucap orang yang ngetuk pintu itu.
Suara orang itu terdengar seperti suara laki-laki. Setelah itu, pintu itu pun terbuka dan orang yang ngetuk pintu itu langsung masuk. Orang yang ngetuk pintu itu ternyata adalah salah satu dari prajurit milik Duke Louis.
"Ada perlu apa kamu datang kemari ?," tanya Duke Louis.
"Maafkan saya karena telah ngganggu pekerjaan anda, tuan Duke. Tetapi saat ini di gerbang masuk kediaman anda, ada beberapa tamu yang ingin bertemu dengan anda," ucap prajurit itu.
"Tamu ? Siapa tamu itu ?," tanya Duke Louis.
"Tamu itu adalah High Priest Julian dan beberapa Priest yang berasal dari gereja Sancta Lux yang ada di kota ini," ucap prajurit itu.
Duke Louis dan Duchess Arlet pun langsung terkejut setelah ndengar perkataan prajurit itu.
"Apa ?! High Priest Julian ?! Ada perlu apa beliau datang kemari ?," tanya Duke Louis yang terkejut.
"High Priest Julian bilang kalau beliau ingin minta izin kepada anda untuk masuki kediaman anda. Beliau bilang kalau beliau ndapatkan informasi tentang Rid Archie yang berada di kediaman anda, jadi beliau minta izin untuk masuki kediaman anda untuk bertemu dengan Rid Archie," ucap prajurit itu.
Duke Louis dan Duchess Arlet pun kembali terkejut setelah ndengar perkataan prajurit itu.
"Apa ?! Darimana beliau tahu kalau Rid ada di kediaman ini ?," tanya Duke Louis yang terkejut.
-Bersambung
Reviews
All reviews (0)