Di kediaman Duke San Lucia, 1 jam setelah Rid berlatih tanding dengan komandan Mina.
Aku saat ini sedang berada di salah satu ruangan yang ada di kediaman Duke San Lucia. Alasan aku berada di ruangan tempatku berada saat ini adalah karena sebelumnya, setelah aku berlatih tanding dengan komandan Mina, aku minta tolong kepada salah satu prajurit yang berjaga di kediaman itu untuk nyampaikan pesan kepada Duke Louis kalau aku ingin berbicara dengannya. Prajurit itu pun nyetujui permintaanku itu dan dia langsung pergi untuk nyampaikan pesan ke Duke Louis. Beberapa nit kemudian, prajurit itu pun kembali dan nyampaikan pesan dari Duke Louis. Duke Louis bilang kalau beliau nyetujui permintaanku yang ingin berbicara dengannya. Tetapi saat itu Duke Louis sedang ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan, jadi aku diminta nunggu terlebih dahulu di sebuah ruangan yang ditunjuk oleh Duke Louis sebagai tempat pembicaraanku dengan beliau nantinya. Ruangan itu adalah ruangan tempatku berada saat ini.
Saat ini, aku masih nunggu kedatangan Duke Louis di ruangan itu. Aku nunggu di ruangan itu hanya sendiri saja. Tidak ada Irene yang nemaniku karena dia, Leandra, dan Lily saat ini masih berada di tempat latihan prajurit Duke San Lucia untuk lakukan latihan. ski aktivitas akademi sedang diliburkan, reka tidak lupa untuk lakukan latihan rutin.
Lalu, beberapa nit kemudian, pintu ruangan itu pun terbuka. Setelah pintu itu terbuka, masuklah Duke Louis dan juga Duchess Arlet ke dalam ruangan ini.
"Maaf telah mbuatmu nunggu lama, Rid," ucap Duke Louis.
"Anda tidak perlu minta maaf, paman. Lagipula anda sedang ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Justru aku ngucapkan terima kasih karena anda telah bersedia untuk nuhi permintaanku yang ingin berbicara dengan anda, padahal anda sedang ada banyak pekerjaan," ucapku.
"Jika orang yang telah nyelamatkan keluargaku beberapa kali minta sesuatu kepadaku, tentu saja aku harus kabulkan. Apalagi permintaan ini hanyalah untuk sebuah pembicaraan saja, mana mungkin aku tidak bersedia untuk nemuimu, Rid," ucap Duke Louis.
"Anda terlalu berlebihan, paman. Pokoknya sekali lagi, aku ngucapkan terima kasih, paman," ucapku.
"Iya, sama-sama, Rid," ucap Duke Louis.
"Ngomong-ngomong, aku tidak nyangka kalau bibi Arlet juga ikut dengan paman Louis untuk nemuiku," ucapku.
"Maafkan aku, Rid. Padahal kamu hanya ingin berbicara dengan suamiku, tetapi aku malah ikut datang ke pembicaraan ini. Habisnya, aku penasaran tentang apa yang akan kalian bicarakan nanti. Maafkan aku jika kehadiranku di ruangan ini mbuatmu terganggu," ucap Duchess Arlet.
"Tidak apa-apa, bibi Arlet, anda tidak perlu minta maaf. Aku tidak keberatan apabila anda ingin ndengarkan pembicaraan ini," ucapku.
"Terima kasih, Rid," ucap Duchess Arlet.
"Sama-sama, bibi Arlet. Ah, aku minta maaf telah mbuat kalian berdua terus berdiri karena sejak tadi aku terus ngajak kalian berdua untuk berbicara. Silahkan duduk, paman Louis, bibi Arlet," ucapku.
"Baik, Rid," ucap Duke Louis.
Setelah itu, Duke Louis dan Duchess Arlet pun mulai duduk di kursi yang tersedia di ruangan itu. Setelah Duke Louis sudah duduk, beliau mulai berbicara kepadaku.
"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan denganku, Rid ?," tanya Duke Louis.
"Aku ingin nanyakan sesuatu kepada anda, paman," ucapku.
"nanyakan apa, Rid ?," tanya Duke Louis.
"Di kediaman anda ini, apakah ada tempat latihan yang rahasia ? Maksudnya tempat latihan yang tidak digunakan oleh banyak orang seperti tempat latihan prajurit di kediaman anda ini. Selain itu, tempat latihan itu hanya beberapa orang saja yang tahu dan nggunakannya," ucapku.
"Tempat latihan yang rahasia ya. mangnya ada apa kamu nanyakan tentang itu ? Apakah kamu ingin nggunakan tempat latihan itu ?," tanya Duke Louis.
"Iya, paman. Jika paman miliki tempat latihan rahasia di kediaman ini, saya minta izin untuk nggunakannya," ucapku.
"Hmmm begitu ya. Tetapi sayangnya kediaman ini tidak miliki tempat latihan rahasia, Rid. Kediaman ini hanya miliki satu tempat latihan yaitu tempat latihan para prajurit milikku. Para prajurit milikku dan orang-orang yang ada di kediaman ini selalu latihan di tempat itu. Beberapa dari reka mang terkadang latihan di tempat lain yang ada di kediaman ini seperti di halaman atau lainnya, tetapi semua tempat itu bukanlah tempat yang bersifat rahasia karena orang lain dapat lihat reka latihan di tempat-tempat itu," ucap Duke Louis.
"Begitu ya. Jadi kediaman ini tidak miliki tempat latihan rahasia," ucapku.
"Iya, maafkan aku apabila jawabanku tidak nuhi ekspektasimu, Rid," ucap Duke Louis.
"Tidak apa-apa, paman. Anda tidak perlu minta maaf," ucapku.
"mangnya kenapa kamu ingin nggunakan tempat latihan rahasia apabila kediaman ini milikinya, Rid ? Apa tempat latihan para prajurit milik kami tidak cukup luas bagimu ?," tanya Duchess Arlet yang tiba-tiba mulai berbicara.
"Bukan begitu, nona Arlet. Tempat latihan milik para prajurit kalian tentu saja sangat luat. Tempat latihan itu pun dapat nampung banyak orang sekaligus yang ingin berlatih. Tetapi, di tempat latihan itu terdapat banyak orang. Alasan aku nanyakan tentang tempat latihan rahasia adalah karena aku ingin berlatih tanpa dilihat oleh orang lain. Soalnya ada beberapa teknik dan sihir rahasia yang ingin aku latih, sehingga aku tidak ingin orang lain lihat ketika aku sedang latih teknik dan sihir itu," ucapku.
"Hmmmm begitu ya, jadi itu alasan kamu ingin nggunakan tempat latihan rahasia," ucap Duchess Arlet.
"Iya, bibi Arlet," ucapku.
"Aku ngerti alasanmu yang ingin nggunakan tempat latihan rahasia, tetapi sayangnya kediaman ini tidak miliki tempat latihan rahasia yang kamu mau, Rid. Sekali lagi, aku minta maaf, Rid," ucap Duke Louis.
"Sudah kubilang kalau anda tidak perlu minta maaf, paman," ucapku.
Setelah itu, kami pun mulai terdiam. Aku terdiam sambil mikirkan tentang sesuatu, sentara untuk Duke Louis dan Duchess Arlet, aku tidak tahu apakah reka juga sedang mikirkan sesuatu atau tidak. Lalu setelah beberapa saat terdiam sambil mikirkan sesuatu, aku pun mulai kembali berbicara.
"Paman Louis, sebelumnya aku dan murid-murid tahun keempat lainnya sempat lakukan ujian di alam liar yang berada di sebelah utara kota San Lucia yang tidak jauh dari kediaman ini. Apakah di tempat itu biasanya selalu didatangi oleh orang-orang yang tinggal ataupun berada di sekitar alam liar itu ?," tanyaku.
"Tidak, tempat itu jarang sekali didatangi oleh orang lain atau bahkan hampir tidak ada orang sama sekali yang datang ke tempat itu. Orang-orang yang datang ke tempat itu hanyalah para murid yang lakukan ujian di wilayah ini atau para prajurit milikku yang ditugaskan untuk ngawasi wilayah itu ketika ujian berlangsung. Jadi bisa dibilang, tempat itu hanya didatangi oleh orang lain selama 1 kali dalam setahun yaitu saat para murid lakukan ujian di tempat itu. mangnya ada apa, Rid ? Kenapa kamu nanyakan tentang hal itu ?," tanya Duke Louis.
"Jika tidak ada orang yang datang ke tempat itu, maka tempat itu sempurna untukku. Aku ingin njadikan tempat itu sebagai tempat latihan rahasiaku, paman," ucapku.
Duke Louis dan Duchess Arlet pun terkejut setelah ndengar perkataanku.
"Kamu ingin njadikan tempat itu sebagai tempat latihan rahasiamu ?," tanya Duke Louis.
"Iya, paman," ucapku.
"Kamu serius, Rid ? Tempat itu cukup berbahaya karena ada beberapa hewan buas dan monster yang tinggal di tempat itu. Yah, skipun monster yang hidup di tempat itu tidak terlalu berbahaya, tetapi tetap saja jika ada monster yang tinggal di suatu tempat, maka tempat itu rupakan tempat yang berbahaya," ucap Duchess Arlet.
"Aku serius, bibi Arlet. Aku sudah tahu kalau di tempat itu terdapat beberapa hewan buas dan juga monster karena aku pernah nghadapi reka ketika aku njalani ujian di tempat itu. Tetapi hewan buas dan monster yang tinggal di tempat itu bukanlah masalah untukku karena sebelumnya aku berhasil ngalahkan reka dengan mudah. Justru alasan aku milih tempat itu sebagai tempat latihan rahasiaku adalah karena adanya hewan buas dan monster yang tinggal di tempat itu. Aku bisa nggunakan reka sebagai objek untuk latih teknik dan sihir rahasia milikku," ucapku.
"Yah, kalau untuk hewan buas dan monster yang tinggal di tempat itu, sepertinya kamu dapat dengan mudah ngatasinya. lihat kemampuanmu itu, kami bisa saja langsung ngizinkanmu untuk berlatih di tempat itu, tetapi masalahnya kita saat ini sedang nghadapi masalah lain tentangmu, Rid," ucap Duchess Arlet.
"Masalah lain tentangku ? Masalah apa itu, bibi ?," tanyaku.
Setelah aku nanyakan itu, Duchess Arlet pun terdiam. Duchess Arlet lalu noleh ke arah Duke Louis. Duke Louis tahu kalau Duchess Arlet sedang lihat ke arahnya. Duke Louis pun kemudian mulai berbicara.
"Kamu pastinya sudah mbaca ataupun ngetahui tentang surat kabar yang baru terbit hari ini. Pada salah satu berita yang ada di surat kabar itu, diberitakan kalau kamu berhasil nyembuhkan semua orang yang terluka di akademi. Disebutkan juga kalau kamu miliki kemampuan sihir penyembuhan yang hebat yang liputi sihir penyembuhan skala area dan sihir penyembuhanmu pun bisa nyembuhkan luka yang diakibatkan oleh sihir kegelapan. Dengan terbitnya surat kabar yang mberitakan tentang kemampuan sihir penyembuhanmu itu, semua orang di kerajaan ini jadi ngetahui tentang sihir penyembuhanmu itu setelah mbaca surat kabar itu,"
"Mulai saat ini, beberapa orang pasti akan ncoba untuk ndekatimu atau bahkan berkontak denganmu untuk manfaatkan sihir penyembuhanmu itu. Mungkin ada juga yang berusaha untuk nculik atau ngambilmu secara paksa. Intinya, setelah kemampuan sihir penyembuhanmu diketahui oleh semua orang di akademi ini, akan ada banyak bahaya yang akan nghampirimu, Rid,"
"Kamu saat ini masih aman karena kamu sedang tinggal di kediaman kami. Keberadaanmu yang tinggal di kediaman kami saat ini masih dirahasiakan dari pihak luar. Tetapi aku tidak bisa njamin apakah kamu akan aman ketika kamu pergi ninggalkan kediaman kami. Apalagi barusan kamu bilang kalau kamu ingin njadikan tempat yang sebelumnya digunakan untuk ujian para murid sebagai tempat latihan rahasiamu. Tempat itu berada di luar wilayah kediaman kami, jadi bisa saja akan ada bahaya yang nghampirimu disana. Kamu mungkin bisa nghadapi hewan buas dan monster yang ada di tempat latihan itu, tetapi jika orang-orang yang ngincarmu datang ke tempat latihan itu, apakah kamu sanggup untuk nghadapinya ?," tanya Duke Louis.
"Hmmm begitu ya. Jadi masalah tentangku itu adalah masalah tentang kemampuan sihir penyembuhanku yang sudah diketahui publik. Karena itu, setelah terungkapnya sihir penyembuhanku ke publik, kemungkinan aku akan diincar oleh beberapa orang yang ingin manfaatkan kemampuan sihir penyembuhanku," ucapku.
"Iya, karena itu, aku sarankan lebih baik kamu tidak perlu pergi ke tempat itu dan tetap berada di kediaman ini. Selama kamu berada di kediaman ini, aku njamin kalau kamu akan aman," ucap Duke Louis.
Kemudian, aku pun terdiam sebentar setelah ndengar perkataan Duke Louis. Tidak lama kemudian, aku pun mulai berbicara kembali.
"Anda bilang kalau aku akan aman selama berada di kediaman ini, paman ? Anda bilang begitu karena anda miliki pengaruh untuk lindungiku di kediaman ini atau karena keberadaanku di kediaman ini belum diketahui oleh pihak luar ?," tanyaku.
Duke Louis terlihat sedikit terkejut setelah ndengar pertanyaanku. Mungkin beliau tidak nyangka kalau aku nanyakan hal seperti itu.
"Dua-duanya, Rid. Untuk beberapa orang misalnya seperti para Bangsawan, skipun reka tahu kalau kamu sedang tinggal di kediaman kami, aku miliki pengaruh untuk nghentikan reka yang ingin ngincarmu. Tetapi untuk beberapa orang lainnya, aku tidak miliki pengaruh untuk nghentikan reka. Jadi jika reka tahu kalau kamu ada di kediaman ini, aku tidak bisa lakukan apa-apa kepada reka," ucap Duke Louis.
"Bahkan dengan posisi anda sebagai salah satu Duke di kerajaan ini, anda tidak bisa nghentikan reka ? Siapa orang-orang itu, paman ?," tanyaku.
"Orang-orang itu adalah orang-orang dari gereja Sancta Lux. Aku tidak bisa lakukan apa-apa terhadap tindakan reka karena reka tidak matuhi aturan atau perintah petinggi di kerajaan ini. reka hanya matuhi pemimpin-pemimpin reka yang berada di Holy Kingdom. Jadi apabila reka ngetahui kalau kamu berada di kediaman ini dan reka maksa untuk ngambilmu, maka tidak ada yang bisa aku lakukan. Mungkin yang bisa aku lakukan hanya berbohong kepada reka dan bilang kalau kamu tidak ada disini. Oleh karena itu, aku rasa lega karena Keberadaanmu yang tinggal di kediamanku saat ini belum diketahui oleh pihak luar," ucap Duke Louis.
"Hmmmm begitu ya," ucapku.
"Orang-orang dari gereja Sancta Lux ya. Kemarin, bibi Arlet juga ngatakan hal yang sama tentang reka," pikirku.
Setelah itu, aku terdiam selama beberapa saat sambil mikirkan sesuatu. Tidak lama kemudian, aku mulai berbicara kembali.
"Aku pikir hanya tinggal masalah waktu saja sampai keberadaanku yang berada di kediaman ini diketahui oleh pihak luar," ucapku.
"Apa maksudmu, Rid ? Bagaimana mungkin ada pihak luar yang ngetahui tentang keberadaanmu di kediaman ini, sedangkan aku saja tidak pernah mberitahu pihak luar tentang keberadaanmu. Aku hanya mberitahu kepada orang-orang yang aku percaya seperti Yang Mulia Ratu. Aku juga telah mberitahu para pelayan dan prajurit milikku untuk tidak mberitahu tentang keberadaanmu di kediaman ini kepada pihak luar," ucap Duke Louis.
"Tentang para pelayan dan para prajurit anda, paman. Anda mungkin telah mberitahu reka untuk tidak mberitahu tentang keberadaanku di kediaman ini, tetapi apakah anda berani njamin kalau semua pelayan dan prajurit anda tidak akan mberitahu tentang keberadaanku ke pihak luar ? Aku bukannya rehkan kesetiaan para pelayan dan prajurit milik anda, paman. Tetapi ada kalanya para pelayan atau prajurit milik anda sedang ngalami masalah seperti masalah keuangan yang mbuat reka njual kesetiaan reka untuk ndapatkan uang," ucapku.
"Apa maksudmu, Rid ?," tanya Duke Louis yang terlihat bingung.
"Kemungkinan, ada beberapa pelayan dan prajurit milik anda yang njual informasi kepada pihak luar tentang keberadaanku di kediaman ini untuk ndapatkan uang. mang anda bilang kalau anda sudah mberitahu kepada para pelayan dan prajurit milik anda untuk tidak mberitahu pihak luar tentang keberadaanku, tetapi kemungkinan yang aku katakan itu bisa saja terjadi," ucapku.
Duke Louis dan Duchess Arlet terlihat sedikit terkejut setelah ndengar perkataanku.
"Kalau dipikir-pikir, perkataanmu ada benarnya, Rid. Kami tidak bisa njamin kalau semua pelayan dan prajurit kami tidak akan mberitahu tentang keberadaanmu. Kemungkinan akan ada beberapa atau salah satu dari reka yang mberitahu tentang keberadaanmu kepada pihak luar," ucap Duchess Arlet.
"Iya. Oleh karena itu, tolong izinkan aku untuk pergi ke tempat latihan rahasia itu, karena aku pikir baik di dalam kediaman ini, maupun di luar kediaman ini, aku tetap akan diincar oleh orang-orang yang ngincarku. Anda sebelumnya bilang kalau jika orang-orang dari gereja Sancta Lux datang ke kediaman anda untuk ngambilku secara paksa, maka tidak ada yang bisa anda lakukan selain berbohong kepada reka. Jika reka datang ke kediaman anda dan disaat yang sama aku sedang berada di tempat latihan rahasia itu, setidaknya kebohongan anda dapat dipercaya oleh reka, apalagi jika reka mutuskan untuk riksa ke dalam kediaman anda," ucapku.
"Kamu ada benarnya," ucap Duke Louis.
"Jadi, tolong izinkan aku pergi untuk berlatih di tempat itu, paman. Aku akan pergi ke tempat itu secara tidak ncolok jadi paman Louis dan bibi Arlet tidak perlu khawatir tentangku. Aku akan pergi dengan nggunakan jubah atau mantel yang mbuat orang lain tidak ngenali siapa aku ketika reka sedang lihatku. Lagipula, sebelum paman Louis dan bibi Arlet mbahas tentang aku yang diincar karena kemampuan sihir penyembuhanku, aku mang berniat untuk pergi ke tempat latihan itu dengan nggunakan mantel atau jubah karena aku tidak mau terlihat ncolok. Apalagi semua orang di kerajaan ini sedang mbicarakan tentang aku setelah terbitnya surat kabar hari ini," ucapku.
Duke Louis pun terdiam sebentar setelah ndengar perkataanku. Lalu, tidak lama kemudian, beliau pun mulai berbicara kembali.
"Baiklah, Rid. Kamu aku izinkan untuk pergi berlatih di tempat itu," ucap Duke Louis.
"Terima kasih, paman," ucapku.
"Ya, sama-sama, Rid. Lagipula, jika aku tidak ngizinkanmu, kamu mungkin akan tetap pergi ke tempat latihan itu secara diam-diam," ucap Duke Louis.
"Ahahaha, tidak mungkin aku akan lakukan itu, paman," ucapku.
Tetapi apa yang dikatakan oleh Duke Louis ada benarnya. Mungkin aku akan tetap pergi secara diam-diam ke tempat latihan itu.
"Aku mang ngizinkanmu untuk berlatih di tempat itu, tetapi sebelum itu, tolong berjanjilah denganku terlebih dahulu, Rid," ucap Duke Louis.
"Berjanji tentang apa, paman ?," tanyaku.
"Jika penyamaranmu terbongkar skipun kamu sudah makai mantel ataupun jubah dan mbuatmu didatangi oleh orang-orang yang ngincarmu, kamu boleh bertarung dan ngalahkan reka apabila pakaian yang dikenakan oleh orang-orang yang nyerangmu adalah pakaian biasa ataupun pakaian bangsawan. Tetapi, jika yang ndatangimu adalah orang-orang yang berpakaian seperti pendeta ataupun biarawati, kamu tidak boleh bertarung ataupun ngalahkan reka. Satu-satunya pilihanmu adalah pergi ninggalkan reka secepat mungkin. Apapun yang terjadi kamu tidak boleh bertarung dan ngalahkan reka karena masalah yang lebih besar akan muncul apabila kamu ngalahkan reka," ucap Duke Louis.
"Baiklah, paman. Aku berjanji untuk tidak bertarung dan ngalahkan reka," ucapku.
-Bersambung
Reviews
All reviews (0)