Font Size
15px

Komandan Oliver terlihat sangat terkejut begitu lihat lengan kanannya yang sebelum terpotong kini telah tersambung dan dapat digerakkan kembali. Tidak hanya komandan Oliver saja, Elaina pun juga terkejut.

"Ini bukan mimpi kan ? Lengan kananku telah tersambung kembali. Selain itu, aku juga bisa kembali nggerakkan lengan kananku," ucap komandan Oliver seolah tidak percaya.

Komandan Oliver ngatakan itu sambil terus nggerakkan lengan kanannya itu.

"Ini bukanlah mimpi, komandan. Lengan anda mang telah tersambung kembali," ucapku.

Setelah ndengar perkataanku, komandan Oliver yang sebelumnya sedang nggerakkan lengan kanannya, kini langsung berhenti nggerakkan lengan kanannya itu. Setelah itu, komandan Oliver raih tangan kananku dengan kedua tangannya. Komandan Oliver lalu ngarahkan tangan kananku dengan kedua tangannya untuk ndekat ke wajahnya. Wajah komandan Oliver lalu nyentuh tangan kananku. Aku pun rasa bingung dengan apa yang dilakukan komandan Oliver.

"Apa yang anda lakukan, komandan ?," tanyaku.

"Aku ingin nyampaikan terima kasih yang ndalam, tuan muda Rid. Terima kasih karena telah nyambungkan tangan kananku kembali seperti semula," ucap komandan Oliver.

"Sama-sama, komandan. Tetapi ungkapan terima kasih anda ini terlalu berlebihan, komandan. Aku tidak pantas untuk nerimanya. Selain itu, aku juga rasa tidak nyaman atas perlakuan anda ini. Anda itu adalah komandan tertinggi di kerajaan ini sedangkan aku hanyalah seorang murid akademi. Anda tidak perlu lakukan ini hanya untuk nyampaikan terima kasih," ucapku.

Komandan Oliver secara perlahan mulai lepaskan tanganku setelah ndengar perkataanku.

"Aku minta maaf karena telah mbuat anda tidak nyaman, tuan muda Rid. Aku rasa emosional karena lengan kananku yang sebelumnya terpotong telah tersambung kembali. Sekali lagi, aku minta maaf, tuan muda Rid. Selain itu, sekali lagi aku juga ngucapkan terima kasih karena telah nyambungkan kembali lengan kananku," ucap komandan Oliver.

"Sama-sama, komandan. Selain itu, anda tidak perlu minta maaf," ucapku.

Setelah itu, Elaina juga ikut ngucapkan terima kasih kepadaku.

"Terima kasih karena telah nyambungkan lengan ayahandaku, senior Rid," ucap Elaina.

"Sama-sama, Elaina," ucapku.

Kemudian, kami bertiga pun mulai saling ngobrol. Namun tidak lama setelah kami bertiga mulai saling ngobrol, datang seorang wanita ke tempat kami berada.

"P-permisi," ucap wanita itu.

Kami bertiga yang sedang ngobrol pun langsung noleh ke arah wanita itu setelah ndengar perkataan wanita itu. Ketika aku lihat wanita itu, wanita itu terlihat ngenakan pakaian biasa. Sepertinya wanita itu rupakan salah satu penonton yang hadir untuk nonton pertandingan turnan akademi sebelum akhirnya akademi ini diserang.

"Ada apa, nona ?," tanyaku kepada wanita itu.

"Aku minta maaf apabila aku ngganggu kalian. Aku sebelumnya lihat kamu yang berhasil nyambungkan kembali lengan tuan komandan yang telah terpotong. Apa itu berarti kamu bisa nggunakan sihir penyembuhan ?," tanya wanita itu.

Aku tanpa ragu-ragu langsung njawab pertanyaan wanita itu.

"Iya, saya bisa, nona," ucapku.

Wanita itu terlihat bahagia setelah ndengar perkataanku. Wajah wanita itu terlihat seperti baru saja nemukan sebuah harapan.

"Kalau begitu, bolehkah aku minta tolong kepadamu untuk nyembuhkan suamiku ? Suamiku terluka akibat diserang oleh tuan Duke Remy dan para anak buahnya ketika kami masih berada di arena turneman akademi," ucap wanita itu.

Aku sedikit terkejut setelah ndengar perkataan wanita itu karena aku rasa kalau aku sudah nyembuhkan semua orang yang ada di dalam gedung tengah, termasuk dengan yang ada di arena turnan akademi sebelum aku nghadapi Duke Remy satu lawan satu.

"Ini aneh. Aku yakin kalau aku sudah nyembuhkan semua orang termasuk dengan yang ada di arena turnan. Lebih baik aku pastikan terlebih dahulu," pikirku.

Setelah itu, aku lalu nanggapi perkataan wanita itu.

"Baiklah, nona. Tolong antarkan saya ke tempat suami anda berada, saya akan nyembuhkannya," ucapku.

"Terima kasih. Kalau begitu mari saya antar ke tempat suami saya," ucap wanita itu dengan wajah yang terlihat lega.

Sebelum aku ngikuti wanita itu, aku minta izin terlebih dahulu kepada komandan Oliver dan Elaina untuk pergi ninggaokan reka.

"Komandan Oliver, Elaina, aku izin pergi dulu untuk mbantu nona ini," ucapku.

"Kalau begitu, aku ikut juga, tuan muda Rid. Aku saat ini sudah sembuh total, lengan kananku pun juga sudah pulih dan dapat digerakkan kembali. Mungkin aku bisa sedikit mbantu," ucap komandan Oliver.

"Aku ikut juga," ucap Elaina.

"Baiklah kalau begitu, kalian berdua boleh ikut," ucapku.

Setelah itu, kami pun langsung pergi ke tempat suami dari wanita itu berada. Tidak lama kemudian, kami pun sampai di tempat yang kami tuju.

"Kita sampai, ini suamiku yang sedang terbaring," ucap wanita itu sambil ngarahkan tangannya ke seorang pria yang sedang terbaring.

Ketika lihat ke arah pria yang terbaring itu, aku sedikit terkejut. Itu karena kondisi pria itu terlihat cukup parah, bahkan mungkin sangat parah. Seluruh tubuh pria itu terlihat dipenuhi oleh banyak luka. Darah pun masih terus ngalir dari luka di seluruh tubuhnya itu. Lalu, disaat aku sedang lihat dan mperhatikan pria yang terbaring itu, wanita itu lalu ngatakan sesuatu kepadaku.

"Tolong sembuhkan suamiku," ucap wanita itu.

Setelah ndengar perkataan wanita itu, aku pun langsung ngarahkan tangan kananku ke arah pria yang terbaring itu.

~Full Healing~

Aku lancarkan sihir penyembuhan milikku ke arah pria itu. Tetapi luka pada seluruh tubuh pria itu tetap tidak pulih. ski begitu, aku terus lancarkan sihir penyembuhanku ke arah pria itu. Namun luka pada tubuh pria itu masih tetap tidak kunjung pulih. lihat luka pada pria itu yang tidak kunjung pulih skipun aku sudah lancarkan sihir penyembuhanku, aku jadi tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Pria ini....dia sudah tewas. Sihir penyembuhanku hanya bisa nyembuhkan luka pada orang yang masih hidup, jika orang itu sudah mati maka luka-luka pada tubuh orang itu tidak akan bisa disembuhkan oleh sihir penyembuhanku. Ini njadi masuk akal kenapa pria ini tidak ikut pulih bersama dengan orang yang lainnya yang ada di gedung tengah, padahal aku sudah yakin kalau semua orang yang ada di gedung tengah sudah aku sembuhkan. Itu karena saat aku sedang lancarkan sihir penyembuhanku ke seluruh gedung tengah, pria ini telah tewas terlebih dahulu," pikirku.

Setelah mikirkan itu, aku pun langsung berhenti untuk nggunakan sihir penyembuhanku kepada pria itu. Wanita itu terlihat bingung ketika lihatku yang sudah tidak lagi nggunakan sihir penyembuhan kepada suaminya.

"Kenapa kamu berhenti ? Apakah suamiku sudah kamu sembuhkan ? Tetapi lihat luka-lukanya yang masih ada itu, itu berarti suamiku belum disembuhkan. Jadi kenapa kamu berhenti ?," tanya wanita itu.

Aku pun langsung njawab pertanyaan wanita itu tanpa ragu-ragu.

"Saya minta maaf, nona. Saya tidak bisa nyembuhkan suami anda," ucapku.

Wanita itu terlihat terkejut setelah ndengar perkataanku.

"Tidak bisa nyembuhkan suamiku ? Kenapa ? Bukannya kamu bisa nggunakan sihir penyembuhan ? Kamu bahkan bisa nyambungkan lengan tuan komandan yang sebelumnya telah terpotong," ucap wanita itu.

"Iya, saya mang bisa nggunakan sihir penyembuhan. Tetapi sihir penyembuhan milik saya hanya berefek kepada reka yang masih hidup. Sihir penyembuhan milik saya tidak berefek kepada reka yang sudah mati. Dengan penjelasan ini, seharusnya anda jadi ngetahui kenapa suami anda tidak bisa saya sembuhkan," ucapku.

Wanita itu terlihat terkejut setelah ndengar perkataanku.

"J-jangan bilang.....," ucap wanita itu.

"Iya, saya tidak bisa nyembuhkan suami anda karena suami anda telah tewas," ucapku.

Kali ini, wanita itu terlihat sangat terkejut. Air mata pun mulai keluar dari kedua matanya.

"T-tidak, Tidak! Kamu jangan berbohong!. Tidak mungkin suamiku sudah mati!," ucap wanita itu seolah tidak percaya.

"Saya minta maaf, nona. Tetapi apa yang saya katakan barusan bukanlah kebohongan," ucapku.

"Aku tidak mpercayainya!. Kamu berbohong!, Suamiku belum mati!," ucap wanita itu.

Wanita itu kemudian langsung nghampiriku. Tetapi sebelum wanita itu nghampiriku, komandan Oliver dengan sigap langsung nghentikan wanita itu.

"Tenanglah, nona," ucap komandan Oliver.

"Bagaimana aku bisa tenang ?! Suamiku dibilang sudah mati padahal suamiku belumlah mati!. Pasti itu hanya alasanmu saja agar kamu tidak mau nyembuhkan suamiku!. Dari awal, seharusnya kamu diam saja jika kamu tidak mau nyembuhkan suamiku!," ucap wanita itu.

Setelah ndengar perkataan wanita itu, Elaina yang sejak tadi hanya diam mulai berbicara.

"Tolong dijaga perkataan anda, senior Rid tidak mu-," ucap Elaina.

Tetapi sebelum Elaina nyelesaikan perkataannya, aku langsung motong perkataan Elaina.

"Cukup, Elaina. Kamu tidak perlu ngatakan apapun," ucapku.

"Tetapi senior Rid, dia sampai ngatakan hal yang tidak-tidak kepada senior Rid, tidak mungkin aku hanya diam saja," ucapku.

"Sudah, tidak apa-apa. Nona itu tidak salah apa-apa. Dia hanya masih belum nerima kalau suaminya telah tewas. Yah itu wajar saja, karena orang yang dicintai dan disayanginya telah tewas, pasti ada rasa tidak percaya di diri nona itu. Jika hal yang saat ini sedang dialami oleh nona itu dialami olehmu, apa kamu akan nerima begitu saja apabila orang yang kamu sayangi tiba-tiba dibilang sudah tewas ?," tanyaku.

Elaina terdiam sejenak setelah ndengar perkataanku. Tidak lama kemudian, Elaina mulai berbicara kembali.

"Mungkin aku akan bereaksi sama dengan dia. Aku tidak terima kalau orang yang aku sayangi telah mati. Aku akan terus berusaha untuk nyembuhkan orang yang aku sayangi skipun orang lain sudah mberitahu kalau orang yang aku sayangi itu telah mati," ucap Elaina.

"Tidak hanya kamu saja, aku pasti juga akan lakukan hal yang sama jika itu terjadi kepadaku. Maka dari itu, nona itu tidak salah sama sekali. Jadi kamu tidak perlu ngatakan hal yang tidak perlu kepada nona itu, Elaina. Lebih baik kamu diam saja dan biarkan nona itu tenang dengan sendirinya. Nona itu butuh waktu untuk nerima semua ini," ucapku sambil lihat ke arah wanita itu yang saat ini sedang ditenangkan oleh komandan Oliver.

"Baik, senior Rid," ucap Elaina.

Setelah itu, aku terus lihat ke arah wanita itu yang saat ini sedang ditenangkan oleh komandan Oliver. Tidak lama kemudian, aku mulai beranjak pergi untuk ninggalkan tempat itu. Elaina terlihat bingung ketika lihatku yang tiba-tiba berjalan pergi.

"Kamu mau kemana, senior Rid ?," tanya Elaina.

"Aku ingin pergi untuk ngelilingi akademi ini. Mungkin saja di akademi ini masih ada orang-orang yang terluka akibat penyerangan yang dilakukan oleh tuan Duke Remy. Aku harus segera nyembuhkan orang-orang yang terluka itu. Aku tidak akan mbiarkan ada orang yang tewas lagi akibat penyerangan ini," ucapku.

-

Sentara itu, di tempat nona Leirion berada.

Nona Leirion terlihat sedang terbang lesat dengan cepat di sebuah padang rumput yang ada di suatu tempat. Ketika nona Leirion sedang terbang, tiba-tiba dia langsung ndarat di padang rumput itu. Setelah nona Leirion telah ndarat di padang rumput itu, nona Leirion tiba-tiba langsung berbicara.

"Ada apa, Agaris ?," tanya nona Leirion.

Nona Leirion terlihat seperti sedang berbicara sendiri. Tetapi setelah nona Leirion nanyakan itu, tiba-tiba terdengar suara seseorang di tempat itu.

"Kapan anda akan kembali, Yang Mulia Ratu ?," ucap suara seseorang yang bernama Agaris.

Suara itu terdengar seperti suara seorang pria.

"Saat ini aku sedang dalam perjalanan untuk kembali. Mungkin dalam 1-2 hari ini aku akan sampai di tepi pantai lautan ’Sangu Mare’. Begitu aku sampai disana, segera siapkan portal di titik koordinat di tempat yang biasanya agar aku bisa langsung sampai di kerajaanku," ucap nona Leirion.

"Baiklah, Yang Mulia Ratu. Usahakan anda jangan sampai terlambat karena anda harus segera mberikan laporan rutin kepada Yang Mulia Raja Iblis, Yang Mulia Ratu," ucap Agaris.

"Tenang saja, aku tidak akan terlambat. Lagipula selama ini aku juga tidak pernah terlambat dalam mberikan laporan rutin kepada Yang Mulia Raja Iblis," ucap nona Leirion.

"Baiklah kalau begitu. Selain itu, saya ingin mberikan laporan lain, Yang Mulia Ratu," ucap Agaris.

"Laporan apa itu ?," tanya nona Leirion.

"’Demon Sovereign Commanders’ yang lain sepertinya juga akan mberikan laporan rutin kepada Yang Mulia Raja Iblis dalam beberapa hari ke depan. Jadi ada kemungkinan kalau anda akan bertemu dengan salah satu dari reka saat anda akan mberikan laporan rutin," ucap Agaris.

"Biasanya aku tidak pernah bertemu dengan salah satu dari reka ketika aku sedang mberikan laporan rutin. Hmmm ini benar-benar sungguh repotkan. Aku berharap aku tidak bertemu dengan beberapa dari reka yang tidak aku sukai ketika aku sedang mberikan laporan rutin nanti, terutama dengan putri Riena. Aku berharap aku tidak bertemu dengannya skipun dia adalah adik dari tuan muda yang dulu pernah aku layani," ucap nona Leirion.

Kedua tangan nona Leirion tiba-tiba terlihat getar setelah dia ngatakan itu.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 410 : Kebohongan dan Ketidakpercayaan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Dragon God Supreme cover
Similar genre

Dragon God Supreme

Seven Luan ·Action

Theordinaryyouthlackedtheexceptionaltalentsofhispeers,yethepossessedashockingheritage,bearingamysteriousbloodlineandharboringthespiritoftheEvilDrag...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.