Font Size
15px

Setelah ngambil pedang berwarna putih dari ~Storage~, aku kemudian gang pedang itu dengan kedua tanganku. Aku gang pedang itu sambil lihat dan mperhatikan seluruh bagian pedang itu.

"Sudah berapa lama ya sejak terakhir kali aku berlatih dengan nggunakan pedang ini ? Terakhir kali aku berlatih dengan nggunakan pedang ini sepertinya saat aku mau ngikuti ujian masuk akademi, jadi kira-kira 4 tahun yang lalu. Sudah lama juga ya," pikirku.

Setelah mikirkan itu, aku jadi teringat dengan suatu kenangan antara aku dan ndiang kakekku tentang pedang ini.

-

~Flashback dimulai~

15 tahun yang lalu.

Aku yang saat itu masih berusia sekitar 6 tahun sedang berada di rumah kakekku, yang sekarang sudah njadi rumahku. Aku hanya sendirian saja di rumah karena kakek sedang bekerja di sawah dan ladang yang dimilikinya. Saat sedang sendirian di rumah, aku biasanya nghabiskan waktuku dengan mbaca buku yang ada di rumah, seperti saat ini. Aku saat ini sedang mbaca beberapa buku yang terdiri dari buku pengetahuan dan buku untuk mpelajari beberapa teknik dan sihir. Kakek bilang sebagian besar dari buku-buku yang ada di rumahnya rupakan buku-buku yang diberikan oleh kedua orang tuaku sebelum kedua orang tuaku pergi ninggalkanku. Alasan kedua orang tuaku mberikan sebagian besar buku-buku itu adalah agar buku-buku itu bisa mbantuku njadi orang yang lebih kuat dan cerdas ketika aku sudah beranjak dewasa. Bisa dibilang, buku-buku yang diberikan oleh orang tuaku adalah sebagai bentuk pertanggung jawaban reka karena reka tidak bisa mbantuku untuk njadi lebih kuat dan cerdas secara langsung karena reka harus pergi ninggalkanku. Aku dulu penasaran tentang alasan kenapa kedua orang tuaku pergi ninggalkanku. nurut kakek, reka ninggalkanku saat aku masih bayi. Tetapi setelah ngetahui alasannya dari kakekku kalau reka pergi karena ada urusan yang harus diselesaikan, aku tidak lagi penasaran tentang alasan orang tuaku pergi ninggalkanku.

Saat aku sedang fokus mbaca buku yang sedang aku pegang saat ini, tiba-tiba kedua mataku langsung tertuju ke arah box kotak berukuran cukup besar yang terbuat dari besi yang ada di pojok ruangan tempat aku berada saat ini. Aku penasaran dengan isi dari box kotak itu karena setiap aku bertanya kepada kakek tentang isi box kotak itu, kakek selalu njawab kalau isi box kotak itu adalah sesuatu yang rahasia dan belum waktunya bagiku untuk ngetahuinya. Kakek juga bilang kalau aku tidak boleh mbuka box kotak itu sampai waktunya tiba. Berhubung karena sekarang kakek sedang berada di ladang dan sawah miliknya, aku pun mutuskan untuk nghampiri box kotak itu dan berniat untuk mbukanya. Ketika aku sudah berada dekat dengan box kotak itu, aku pun tanpa ragu-ragu langsung berusaha mbuka box kotak itu. Ternyata box kotak itu tidak dikunci jadi aku dapat dengan mudah mbuka box kotak itu. Lalu box kotak itu pun berhasil aku buka dan di dalam ternyata ada 2 buah pedang. Satu pedang berwarna dominan hitam dengan campuran warna rah di beberapa bagiannya, dan satu pedang lainnya berwarna dominan putih dengan campuran warna emas di beberapa bagiannya.

"Ternyata isi di dalam box kotak itu adalah 2 buah pedang. Apa 2 buah pedang ini adalah milik kakek ?," ucapku saat lihat ke dalam isi box kotak itu.

Aku kemudian terus lihat dan mperhatikan kedua pedang itu.

"2 buah pedang ini bagus sekali. Bentuknya juga sangat indah," ucapku yang kagum saat lihat bentuk dari kedua pedang itu.

Setelah lihat dan mperhatikan kedua pedang itu, aku pun mutuskan untuk nyentuh dan gang kedua pedang itu, dimulai dari pedang yang berwarna putih. Aku ngambil pedang berwarna putih dari dalam box kotak itu dan gangnya. Pedang itu cukup berat untuk dipegang olehku yang saat ini masih berumur 6 tahun. Saat gang pedang itu, aku pun lihat dan mperhatikan seluruh bagian pedang itu. Saat dilihat dari dekat, pedang itu benar-benar pedang yang bagus dan juga indah.

Pedang berwarna putih yang aku pegang saat ini masih diselimuti oleh sarung pedang yang nutupinya. Setelah lihat dan mperhatikan pedang itu dari dekat, aku pun mutuskan untuk narik pedang itu keluar dari sarungnya karena aku penasaran dengan bentuk pedang itu apabila tidak ditutupi oleh sarung pedang. Lalu, ketika aku baru sedikit narik pedang itu keluar, tiba-tiba muncul cahaya yang bersinar terang. Cahaya yang bersinar terang itu muncul pada bagian pedang tepatnya bilah pedang yang sedang aku tarik keluar. Cahaya yang bersinar itu sangat nyilaukan dan mbuat aku harus nghalangi pandanganku dengan tangan kiriku agar aku tidak terus lihat cahaya yang nyilaukan itu. Lalu setelah itu, disaat aku masih nghalangi pandanganku dari tangan kiriku karena cahaya yang nyilaukan itu belum nghilang, tiba-tiba ada seseorang yang langsung ngambil pedang berwarna putih yang saat ini masih aku pegang dengan tangan kananku. Setelah seseorang ngambil pedang itu dari tanganku, tidak lama kemudian cahaya yang nyilaukan itu pun nghilang. Setelah cahaya yang nyilaukan itu nghilang, aku pun nurunkan tangan kiriku yang sebelumnya digunakan untuk nghalangi pandanganku dan kemudian aku langsung berniat untuk lihat ke sekitar untuk ncari tahu siapa yang baru saja ngambil pedang itu. Tetapi sepertinya aku tidak perlu lihat ke sekitar karena orang yang baru saja ngambil pedang itu kini sedang berada dihadapanku. Orang yang ngambil pedang itu adalah kakekku. Terlihat kakek sedang gang pedang yang sebelumnya aku pegang. Bagian bilah pedang yang sebelumnya aku keluarkan terlihat sudah dimasukkan kembali ke dalam sarung pedang itu oleh kakek.

Setelah itu, kakek naruh pedang itu kembali di box kotak yang sebelumnya aku buka. Setelah naruh pedang itu kembali, kakek pun langsung nutup box kotak itu dan kemudian beliau noleh ke arahku.

"Bukankah aku sudah bilang kalau jangan mbuka box kotak itu sampai waktunya tiba, Rid ?," tanya kakek.

"Maaf, kek. Aku terpaksa lakukan itu karena aku penasaran dengan isi box kotak itu," ucapku.

"Haaaaahhhh, ya sudah mau bagaimana lagi," ucap kakek sambil nghela nafas.

"Kedua pedang yang ada di dalam box itu, apakah itu punyamu, kek ?," tanyaku.

Kakek terdiam sebentar saat aku nanyakan itu, tetapi tidak lama kemudian kakek pun mulai njawab pertanyaanku.

"Bukan, kedua pedang itu bukan milikku," ucap kakek.

"Lalu kedua pedang itu milik siapa ?," tanyaku.

"Kedua pedang itu adalah milik orang tuamu. reka nitipkan kedua pedang itu kepadaku. Kedua orang tuamu berpesan untuk mberikan kedua pedang itu kepadamu saat kamu sudah dewasa nanti," ucap kakek.

"Begitu ya, jadi kedua pedang itu adalah pedang milik orang tuaku yang akan diberikan kepadaku nanti," ucapku.

"Iya. Aku sengaja naruh dan nyimpannya di box kotak itu dan nyuruhmu untuk tidak mbukanya sampai waktunya tiba agar aku bisa mberikannya sebagai kejutan. Tetapi kamu malah sudah lihatnya terlebih dahulu," ucap kakek.

"Maafkan aku, kek," ucapku.

"Sudah, tidak apa-apa. Tetapi skipun kamu sudah lihat kedua pedang itu, kamu tetap tidak boleh gangnya ataupun nggunakannya saat ini, Rid. Itu karena kamu saat ini masih rupakan anak kecil, belum waktunya bagimu untuk nggunakan pedang itu. Saat kamu sudah sedikit lebih dewasa, kamu baru boleh gang dan nggunakan kedua pedang itu," ucap kakek.

"Baik, kek," ucapku.

-

10 tahun yang lalu.

Aku yang saat ini telah berusia 11 tahun sedang berlatih di hutan yang berada cukup jauh dari desa Aston. Aku sedang berlatih dengan nggunakan pedang berwarna putih milik orang tuaku. Setelah cukup lama berlatih, aku lalu masukkan pedang putih itu ke dalam sarung pedangnya dan naruh pedang itu di pinggangku. Setelah itu, aku pun nghampiri kakek yang berada tidak jauh dariku.

"Kerja bagus, Rid. Kelihatannya kamu sudah njadi semakin kuat," ucap kakek.

"Terima kasih, kek," ucapku.

"Kelihatannya ~Light Magic~ yang kamu gunakan mang terlihat cocok apabila kamu nggunakannya sambil makai pedang berwarna putih itu. Lalu untuk ~Dark Magic~, kamu cocok nggunakannya sambil makai pedang yang satu lagi yang berwarna hitam," ucap kakek.

"Iya, kek. Lagipula kedua pedang ini sepertinya mang dikhususkan untuk kedua sihir itu. Kedua pedang ini sangat bagus, tetapi sayangnya kamu tidak tahu nama kedua pedang ini, kek. Jika kamu tahu namanya, mungkin kedua pedang ini akan semakin bagus dan keren," ucapku.

"Aku tidak tahu karena kedua orang tuamu tidak mberitahu nama kedua pedang itu. Kenapa tidak kamu sendiri saja yang mberikan nama untuk kedua pedang itu agar kedua pedang itu mpunyai nama ?," tanya kakek.

"Jika kedua pedang ini aslinya miliki nama, mana mungkin aku namainya lagi. Yah daripada namainya sendiri, mungkin aku ncari tahu nama dari kedua pedang ini. Mungkin aku akan ngetahui nama dari kedua pedang ini suatu saat nanti," ucapku.

"Iya, mungkin kamu akan ngetahui nama dari kedua pedang itu apabila kamu bertemu lagi dengan orang tuamu," ucap kakek.

"Bertemu dengan kedua orang tuaku lagi ya," ucapku.

Setelah itu, aku pun terdiam selama beberapa saat. Saat aku sedang terdiam, kakek kembali ngatakan sesuatu kepadaku.

"Kamu akhir-akhir ini mang sering berlatih dengan nggunakan kedua pedang itu dan kamu pun juga sering berlatih dengan ~Dark Magic~ dan ~Light Magic~ skipun kamu hanya berlatih dengan sedikit kekuatan sihir. Tetapi kamu jangan lupa akan pesanku ini, Rid. Kamu jangan sampai nggunakan kedua pedang itu ataupun kedua sihir itu jika di sekitarmu terdapat banyak orang. Karena seperti yang kamu tahu, kedua sihir itu sangatlah ncolok dan akan nimbulkan kehebohan yang besar apabila banyak orang yang tahu kalau kamu bisa nggunakan kedua sihir itu. Kedua pedang itu pun juga sangat ncolok apabila digunakan di hadapan banyak orang karena saat kamu nggunakan pedang itu, pedang itu akan ngeluarkan aura yang sama persis dengan kedua sihir itu. Apalagi kedua pedang itu miliki karakteristik yang mirip dengan kedua sihir itu, terutama ketika kamu sedang ncabut pedang itu dari sarung pedang yang nutupinya. Pokoknya kamu tidak boleh lupakan ini, Rid," ucap kakek.

"Kakek tenang saja, aku tidak akan lupakan pesanmu itu. Aku tidak akan nggunakan kedua sihir itu dan kedua pedang itu di hadapan banyak orang. Aku pastikan kalau aku akan nggunakan kedua sihir dan kedua pedang itu apabila aku hanya sedang bersama dengan orang-orang yang sedang aku hadapi," ucapku.

~Flashback berakhir~

-

Kembali ke saat ini, di lantai 1 gedung tengah.

Setelah lihat dan mperhatikan pedang itu, aku kemudian mulai ncabut pedang itu dari sarung pedang yang nutupinya. Aku ncabut pedang itu secara perlahan. Cahaya terang yang nyilaukan tiba-tiba muncul dari bilah pedang milikku begitu bagian bilah pedang itu sudah terlihat setelah aku cabut. Tidak lama kemudian, seluruh bagian bilah pedang itu pun sudah aku cabut dari sarung pedangnya. Cahaya terang yang berasal dari bilah pedang itu pun semakin nyilaukan setelah seluruh bagian bilah pedang itu sudah terlihat. Duke Remy terlihat terkejut ketika lihat pedang putih yang ngeluarkan cahaya terang dan nyilaukan yang sedang dipegang olehku.

"Pedang apa itu ?! Kenapa pedang itu ngeluarkan cahaya yang sangat terang dan nyilaukan ?! Selain itu, darimana kamu ngambil pedang itu ?!," ucap Duke Remy.

Duke Remy tidak terpengaruh dengan cahaya terang dan nyilaukan yang berasal dari pedang yang aku pegang karena bagian wajahnya termasuk dengan matanya saat ini sedang diselimuti oleh armor yang beliau kenakan.

Lalu setelah ncabut pedang itu dari sarung pedangnya, aku naruh sarung pedang itu kembali ke dalam ~Storage~. Kemudian, aku bersiap untuk nyerang Duke Remy dengan pedangku itu. Duke Remy terlihat biasa saja skipun beliau tahu kalau aku sedang bersiap untuk nyerangnya.

"Aku tidak tahu pedang apa yang sedang kamu gunakan itu, tetapi kamu tidak akan bisa lukaiku lagi saat ini, tidak peduli pedang apapun yang kamu gunakan," ucap Duke Remy.

Setelah ndengar perkataan Duke Remy, aku pun langsung nanggapi perkataan Duke Remy sambil tersenyum.

"Begitu ya. Kalau begitu, mungkin anda akan langsung narik perkataan anda itu begitu anda terkena serangan pedang ini," ucapku.

Setelah itu, aku langsung lesat dengan cepat ke arah Duke Remy. Duke Remy terlihat hanya diam saja begitu aku sedang lesat ke arahnya. Beliau tidak terlihat berusaha untuk nghindar ataupun nghentikan aku yang sedang lesat ke arahnya. Lalu tidak lama kemudian, aku pun sudah berada di hadapan Duke Remy dan langsung nyerangnya dengan pedang yang kugunakan saat ini. Namun lagi-lagi Duke Remy tidak berusaha untuk nghindar atau nahan serangan.

Sampai akhirnya, seranganku pun ngenai tubuh Duke Remy dengan telak. Duke Remy yang awalnya hanya bersikap biasa saja pun langsung terkejut setelah terkena seranganku itu. Duke Remy terkejut karena serangan yang aku lancarkan itu berhasil mberikan luka tebasan yang sangat besar di tubuhnya mulai dari perut bawah sebelah kirinya hingga ke bahu kanannya.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 397 : Pedang Peninggalan Orang Tua on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Data-Driven Daoist cover
Similar genre

Data-Driven Daoist

CatVI ·Action

Theycalledhimtrash—untilhestartedtreatingtheDaolikeaDataset.Whendemonsslaughterhisnewfamily,computerscientistJohan—nowrebornasYuHan—survivesbypurew...

Grasping the Evil cover
Similar genre

Grasping the Evil

I'm Ink我是墨水 ·Action

Mastersaid,thewomanIheldinmyhands,ImustprotectfortherestofmylifeMastersaid,it’shardtocultivateasaDemon,andonceyouentertheDemonDao,youshouldneverloo...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.