Font Size
15px

"Tolong bawa semua orang yang ada di gedung ini untuk pergi ninggalkan gedung ini, karena aku ingin nghadapi tuan Duke Remy seorang diri di dalam gedung ini," ucapku.

Nona Karina terlihat terkejut setelah ndengar perkataanku.

"lawan tuan Duke Remy sendiri ?! Apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan barusan, Rid ?! Tuan Duke Remy saat ini sudah berubah njadi iblis yang berbahaya, mustahil beliau bisa dikalahkan hanya dengan lawannya seorang diri. Setidaknya kita harus nyerangnya bersama-sama agar bisa ngalahkannya ," ucap nona Karina.

"nyerangnya bersama-sama mang mungkin bisa untuk ngalahkan tuan Duke Remy. Namun, nyerangnya bersama-sama juga miliki resiko yaitu akan ada banyaknya korban yang terluka atau mungkin tewas di pihak kita jika kita nyerangnya bersama-sama,"

"Seperti yang anda tahu, nona, serangan tuan Duke Remy jangkauannya sangat luas, apalagi tuan Duke Remy bisa nyerang nggunakan batang-batang pohon yang berasal dari sihir miliknya. Dengan batang-batang pohon itu, nyerang semua orang di tempat ini bukanlah hal yang sulit baginya. Jika kita tetap nyerangnya bersama-sama, akan ada beberapa orang yang terluka. Aku mungkin bisa nyembuhkan orang-orang yang terluka itu. Tetapi beda kasusnya apabila reka langsung tewas jika terkena serangan tuan Duke Remy. Aku tidak akan bisa nyelamatkan reka karena aku tidak bisa nghidupkan orang yang sudah mati. Alasanku minta untuk lawan tuan Duke Remy seorang diri adalah untuk minimalisir korban di pihak kita, nona," ucapku.

Nona Karina pun terdiam setelah ndengar perkataanku. Tidak lama kemudian, nona Karina pun mulai berbicara kembali.

"Kalau begitu, aku akan nyuruh yang lainnya untuk pergi dari gedung ini, tetapi aku, Violetta dan Yang Mulia Ratu akan tetap berada di gedung ini untuk mbantumu, Rid," ucap nona Karina.

"Tidak perlu, nona. Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku akan lawan tuan Duke Remy seorang diri, jadi anda, nona Violetta dan Yang Mulia Ratu tidak perlu untuk mbantuku dalam lawan tuan Duke Remy. Aku minta kalian bertiga juga pergi ninggalkan gedung ini," ucapku.

"Tetapi, Rid-," ucap nona Karina.

Tetapi sebelum nona Karina nyelesaikan perkataannya, nona Karina langsung berhenti dan terdiam dengan ekspresi yang terkejut. Nona Karina terdiam dan terkejut karena nona Karina rasakan tekanan aura yang sama dengan yang sebelumnya dia rasakan.

"Tekanan ini ?!," pikir nona Karina.

Sentara itu, setelah tiba-tiba nona Karina terdiam, aku pun langsung berbicara kembali kepadanya.

"Anda tidak perlu khawatir kepadaku, nona. Sebelumnya anda juga lihat kalau aku bisa lukai tuan Duke Remy kan ? Jika aku bisa lukainya, sudah pasti aku akan bisa ngalahkannya. Jadi anda tenang saja, aku akan ngalahkan tuan Duke Remy dengan tanganku sendiri sekaligus nepati janjiku kepada para warga Desa Aston yang telah tewas karena diserang tuan Duke Remy," ucapku.

Nona Karina terlihat terdiam lagi setelah ndengar perkataanku. Wajahnya masih terlihat terkejut dan juga tegang. Namun tidak lama kemudian, beliau mulai nanggapi perkataanku.

"Baiklah, Rid. Aku akan nuruti permintaanmu, aku akan mbawa semua orang pergi dari kediaman ini termasuk dengan Yang Mulia Ratu dan juga Violetta," ucap nona Karina.

"Terima kasih karena telah nuruti permintaanku, nona," ucapku.

"Iya," ucap nona Karina.

"Lalu, nona, aku lihat komandan Oliver sedang terbaring dengan kondisi sudah kehilangan lengan, aku minta tolong carikan tangan komandan Oliver yang sudah terpotong dan bawa tangan itu keluar dari gedung ini bersama dengan komandan Oliver. Jika tangan komandan Oliver yang sudah terpotong itu masih ada, mungkin aku bisa nyambungkannya kembali nanti setelah aku selesai bertarung dengan tuan Duke Remy," ucapku.

"Baiklah, Rid. Aku akan nyuruh beberapa orang untuk segera ncari tangan komandan Oliver yang telah terpotong lalu mbawa tangan itu keluar dari gedung ini bersama dengan komandan Oliver," ucap nona Karina.

"Terima kasih, nona. Lalu ada satu hal lagi, nona, selain di lantai ini, sepertinya masih ada orang lain yang berada di lantai lain di gedung ini, salah satunya di lantai teratas gedung ini yaitu di arena turnan. Aku minta tolong untuk mbawa reka juga untuk keluar dari gedung ini. Dengan sihir tanaman anda, seharusnya anda bisa mbawa reka dengan nggunakan batang-batang pohon yang sama dengan milik tuan Duke Remy, kan ? Anda bisa nggunakan batang-batang pohon dari sihir anda untuk mbawa reka keluar lewati dinding dan jendela yang ada di masing-masing lantai itu," ucapku.

"Iya, aku bisa lakukan itu. Baiklah, aku akan mbawa reka juga dengan sihir tanamanku. Tetapi aku akan mbawa reka setelah aku keluar dari gedung ini terlebih dahulu. Setelah aku sudah berada di luar, baru aku nggunakan sihir tanamanku untuk mbawa reka yang masih ada di lantai lain di gedung ini," ucap nona Karina.

"Iya, begitu juga tidak apa-apa. Terima kasih, nona," ucapku.

"Iya. Apa kamu ada permintaan lagi, Rid ?," tanya nona Karina.

"Tidak ada, nona. Hanya itu saja permintaanku," ucapku.

"Baiklah. Kalau begitu aku akan nghampiri Yang Mulia Ratu dan Violetta. Setelah itu aku akan mberitahu semua orang yang ada disini untuk segera pergi dari gedung ini," ucap nona Karina.

"Iya, mohon bantuannya, nona. Anda harus bergegas karena saat ini tuan Duke Remy masih diselimuti oleh batang-batang pohon itu. Dirinya yang sedang diselimuti oleh batang-batang pohon itu mbuat beliau sepertinya tidak bisa lakukan sesuatu seperti nyerang kita semua yang ada di tempat ini. Ini kesempatan anda untuk segera pergi dari tempat ini tanpa dihalangi oleh tuan Duke Remy," ucapku.

"Iya, aku akan bergegas untuk pergi dari tempat ini bersama dengan yang lainnya," ucap nona Karina.

Setelah itu, nona Karina langsung pergi ninggalkanku untuk nuju Ratu Kayana dan nona Violetta. Setelah nona Karina sudah berada dekat dengan reka berdua, nona Karina pun langsung ngatakan sesuatu kepada reka.

"Yang Mulia Ratu, Violetta, mari kita segera pergi dari gedung ini. Kita juga harus mbawa semua orang yang ada di gedung ini untuk pergi," ucap nona Karina.

"Pergi dari gedung ini ? Lalu bagaimana dengan orang itu ?," tanya nona Violetta.

"Maksudmu tuan Duke Remy ? Kamu tidak perlu khawatir, Rid bilang kalau dia akan lawan tuan Duke Remy seorang diri di gedung ini," ucap nona Karina.

Ratu Kayana dan nona Violetta pun terkejut saat ndengar perkataan nona Karina.

"lawannya seorang diri ?! Rid sedang tidak bercanda kan ?!," ucap nona Violetta.

"Tidak, dari kata-katanya tadi, sudah jelas dia tidak bercanda. Rid sangat serius saat berkata kalau dia ingin lawan tuan Duke Remy seorang diri," ucap nona Karina.

"Apa kamu tidak ncoba untuk nghentikannya, Karina ? Tuan Remy saat ini adalah orang yang sangat berbahaya, lawannya seorang diri sangatlah beresiko," ucap Ratu Kayana.

"Saya sudah mberitahunya kalau lawan tuan Duke Remy seorang diri sangatlah berbahaya. Tetapi Rid bilang kalau lawan dengan banyak orang pun juga akan berbahaya karena akan ada banyak korban di pihak kita ngingat serangan tuan Duke Remy jangkauannya sangat luas dan berbahaya. Rid bilang kalau dia mungkin bisa nyembuhkan orang-orang yang terluka di gedung ini saat lawan tuan Duke Remy, tetapi jika ada orang yang langsung tewas setelah terkena serangan tuan Duke Remy, Rid tidak akan bisa nyelamatkannya. Itu karena Rid bilang kalau dia tidak bisa nghidupkan orang mati. Jadi alasan dia ingin lawan tuan Duke Remy seorang diri adalah untuk minimalisir korban di pihak kita," ucap nona Karina.

"Tidak masalah jika orang-orang lainnya pergi dari gedung ini, tetapi setidaknya aku, kamu dan Violetta tetap berada di gedung ini untuk mbantu. Apa kamu tidak bilang begitu kepada Rid ?," tanya Ratu Kayana.

"Saya sudah bilang kepadanya kalau saya, Yang Mulia Ratu dan Violetta akan tetap berada di gedung ini sentara orang-orang yang lain akan pergi ninggalkan gedung ini. Tetapi Rid tetap bersikeras untuk lawan tuan Duke Remy seorang diri," ucap nona Karina.

Setelah ndengar perkataan nona Karina, Ratu Kayana pun terdiam. Tidak hanya Ratu Kayana yang terdiam, nona Karina pun juga terdiam yang mbuat tempat itu njadi sunyi. Di tengah suasana yang sunyi itu, nona Violetta tiba-tiba berbicara.

"Jika mang Rid ingin lawan orang itu seorang diri, maka biarkan saja dia," ucap nona Violetta.

Ratu Kayana yang sebelumnya terdiam pun sedikit terkejut setelah ndengar nona Violetta yang tiba-tiba berbicara.

"Violetta ?!," ucap Ratu Kayana.

"Saya mang sangat kesal karena saya tidak bisa ngalahkan orang itu, padahal saya sudah berjanji kepada ibunda saya untuk bisa nghentikan dan ngalahkan orang itu. Tetapi mau bagaimana lagi, semua serangan yang saya lancarkan kepada orang itu sama sekali tidak berpengaruh. Namun berbeda dengan Rid, serangan yang dia lancarkan kepada orang itu dapat berpengaruh sehingga mbuat orang itu dapat terluka setelah terkena serangan Rid. Serangan Rid pula yang mbuat orang itu kembali nyuntikkan darah iblis yang dia punya. Jadi jika serangan Rid mampu untuk lukai orang itu, saya rasa Rid juga akan mampu untuk ngalahkan orang itu,"

"Mungkin alasan Rid tidak mau kita mbantunya adalah karena kita bisa saja njadi beban untuknya. Serangan yang kita lancarkan sebelumnya sama sekali tidak berpengaruh kepada orang itu. Jika kita maksa untuk bertarung bersama Rid, kita sama sekali tidak akan bisa berkontribusi karena serangan kita tidak akan berpengaruh kepada orang itu. Di sisi lain, kita dapat mbuat Rid khawatir apabila kita juga terluka akibat terkena serangan orang itu. Karena itu, kita hanya akan njadi beban untuknya. Tetapi tentu saja Rid tidak akan mberitahu alasan sebenarnya itu kepada kita. Rid tidak mau lukai perasaan kita jika dia mberitahu alasan sebenarnya," ucap nona Violetta.

Ratu Kayana dan nona Karina pun terdiam setelah ndengar perkataan nona Violetta.

"Selain itu, kalian berdua rasakannya kan ? Tekanan Aura ini, Rid ngeluarkan tekanan auranya lagi skipun tidak sekuat sebelumnya. Jika dia ngeluarkan tekanan aura ini lagi, sepertinya dia mang serius ingin lawan orang itu seorang diri. Oleh karena itu, kita biarkan saja dia lawan orang itu seorang diri, kita jangan ngganggunya," ucap nona Violetta.

Setelah sebelumny terdiam, Ratu Kayana pun mulai berbicara kembali untuk nanggapi perkataan nona Violetta.

"Kamu ada benarnya, saat ini satu-satunya serangan yang berpengaruh kepada tuan Remy hanyalah serangan yang Rid lancarkan. Itu berarti hanya Rid lah yang mampu untuk ngalahkan tuan Remy. Lebih baik kita tidak ngganggunya dan biarkan dia fokus untuk lawan tuan Remy seorang diri. Kalau begitu, ayo kita segera pergi dari gedung ini, Karina, Violetta," ucap Ratu Kayana.

"Baik, Yang Mulia Ratu," ucap nona Karina dan nona Violetta.

Ratu Kayana, nona Karina dan nona Violetta pun langsung bergegas mberitahu orang-orang yang ada di lantai itu termasuk dengan Charles dan Chloe untuk segera pergi dari gedung tengah. Orang-orang yang ada di tempat itu pun langsung nuruti perkataan Ratu Kayana, nona Karina dan nona Violetta tanpa bertanya apa alasannya. reka pun segera pergi dari tempat itu. Lalu bagi orang-orang yang masih terbaring tidak sadarkan diri yang salah satunya adalah komandan Oliver, reka semua digendong dan dibopong oleh orang-orang yang sudah sadarkan diri. reka semua pun kini sudah bergegas pergi nuju pintu keluar gedung tengah untuk ninggalkan gedung ini.

Sentara itu, aku saat ini sedang lihat Duke Remy yang masih diselimuti oleh batang-batang pohon berwarna hitam yang tiba-tiba muncul di sekitarnya. Lalu disaat aku sedang lihat Duke Remy, tiba-tiba ada suara seseorang yang sedang manggilku.

"Rid!," ucap suara itu.

Aku pun langsung noleh ke asal suara itu. Ketika aku sudah noleh, aku pun lihat nona Karina yang sedang lihat ke arahku. Nona Karina lah yang sebelumnya manggilku karena aku sudah ngenal suaranya.

"Ada apa, nona ?," tanyaku.

"Kami semua akan segera pergi dari gedung ini. Sekarang kamu bisa fokus untuk lawan tuan Duke Remy seorang diri," ucap nona Karina.

"Terima kasih, nona," ucapku.

"Jangan sampai kalah, Rid," ucap nona Karina.

"Tenang saja, nona. Aku tidak akan kalah," ucapku.

Nona Karina pun tersenyum. Setelah itu, nona Karina pun berbalik dan langsung berlari nuju pintu keluar gedung tengah bersama dengan yang lainnya. Aku lihat orang-orang yang berlari pergi itu sudah hampir sampai di pintu keluar itu.

Namun ketika reka semua sudah ncapai pintu keluar itu, tiba-tiba di pintu keluar itu muncul beberapa batang pohon berwarna hitam yang nghalangi reka untuk pergi keluar dari gedung itu. Tidak hanya di pintu keluar itu saja, batang-batang pohon itu juga tiba-tiba muncul di lantai, dinding dan langit-langit. Batang-batang pohon itu kini sedang ngepung reka yang ingin pergi ninggalkan gedung tengah. Batang-batang pohon itu tidak hanya muncul di sekitar reka saja, batang-batang pohon itu juga muncul di sekitarku dan ngepungku. Aku hanya diam saja sambil lihat batang-batang pohon itu yang sedang ngepungku.

Sentara itu, nona Karina, Ratu Kayana, nona Violetta dan orang-orang lainnya yang berada di dekat pintu keluar terlihat sedang gang senjata reka masing-masing.

"Sial, kita terlambat. Batang-batang pohon ini, sepertinya tuan Duke Remy sudah selesai ningkatkan kekuatan sihirnya," ucap nona Karina.

"Kalian semua, bersiap untuk nyerang batang-batang pohon ini agar kita bisa pergi dari gedung ini," ucap Ratu Kayana.

"Baik, Yang Mulia Ratu," ucap orang-orang itu.

Ketika reka sedang bersiap untuk nyerang batang-batang pohon itu, tiba-tiba terdengar suara seseorang. Suara seseorang itu adalah suara Duke Remy.

"Kalian semua ingin pergi dari gedung ini ya ? Apa kalian pikir aku akan mbiarkan kalian pergi begitu saja ?," tanya Duke Remy.

Batang-batang pohon yang muncul di sekitar Duke Remy terlihat sudah tidak lagi nyelimuti tubuh Duke Remy. Batang-batang pohon itu pun langsung nyusut dan kembali ke bawah lantai. Sentara Duke Remy yang sebelumnya diselimuti oleh batang-batang pohon itu terlihat sudah pulih sepenuhnya. Tidak ada luka pada tubuhnya lagi dan armornya pun sudah pulih kembali tanpa ada kerusakan atau goresan apapun.

"Aku akan mbunuh kalian semua," ucap Duke Remy.

Setelah Duke Remy ngatakan itu, batang-batang pohon berwarna hitam yang muncul di tempat ini pun langsung bergerak dan lesat dengan cepat ke arah orang-orang yang berada di tempat ini, salah satunya adalah aku. lihat batang-batang pohon yang sedang lesat ke arahku itu, aku pun langsung ngangkat kaki kananku dan nghentakkan kaki kananku ke lantai dengan cepat.

~Ice Magic : Full Frost - Aeterna Glacies~

Setelah aku nghentakkan kaki kananku ke lantai, lantai tempatku berpijak pun langsung diselimuti oleh es. Es yang berada di lantai tempatku berpijak langsung nyebar dan rembet dengan cepat hingga ke seluruh lantai yang ada di lantai 1 ini. Tidak hanya seluruh lantai saja, es itu juga nyebar dan rembet hingga ke dinding dan langit-langit. Es yang nyebar dan rembet di lantai, dinding dan langit-langit itu pun langsung mbekukan batang-batang pohon yang muncul di tempat itu. Batang-batang pohon yang mbeku itu pun gagal untuk nyerangku dan orang-orang yang ada di tempat ini.

Sentara itu, orang-orang di tempat ini terlihat sangat terkejut begitu ngetahui kalau seluruh lantai ini beserta batang-batang pohon yang tiba-tiba muncul itu telah berubah njadi es dan mbeku.

"Sihir es area ?!,"

"Tidak hanya itu saja, sihir es area ini juga mbekukan seluruh tempat ini dengan sangat cepat. Aku tidak nyangka kalau seluruh tempat ini tiba-tiba langsung mbeku hanya dalam kurang dari 5 detik," ucap orang-orang itu.

Sentara itu, aku lihat Duke Remy hanya diam saja dan tidak berkata apapun. Aku lihat Duke Remy sedang lihat dan mperhatikan sekitarnya. Namun tidak lama kemudian, Duke Remy mulai noleh dan kini beliau sedang lihat ke arahku.

"Lagi-lagi kamu, Rid Archie!!," ucap Duke Remy.

"Saya tidak akan mbiarkan anda nyerang orang-orang yang ingin pergi itu, tuan Duke Remy. Jika anda ingin nyerang orang-orang itu, kalahkan saya terlebih dahulu," ucapku sambil gang pedang milikku dan bersiap untuk nyerang.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 393 : Permintaan Rid part 2 on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.