Saat Duchess Arnett njatuhkan tubuhnya ke permukaan tanah yang sudah dipenuhi oleh bunga-bunga Lily, nona Violetta terlihat sangat terkejut. Nona Violetta sangat terkejut karena dia baru saja ndengar Duchess Arnett berbicara.
"Ibunda!!!," ucap nona Violetta.
Nona Violetta lalu bergegas nghampiri Duchess Arnett. Namun baru beberapa langkah dia bergerak, nona Violetta tiba-tiba berhenti karena dia rasakan rasa sakit yang cukup parah di dadanya. Dia lalu lihat ke arah dadanya dan kemudian dia baru nyadari kalau dadanya saat ini masih tertusuk oleh cambuk milik Duchess Arnett. Nona Violetta lalu narik cambuk itu agar tidak lagi nusuk dadanya. Dia narik cambuk itu dengan nggunakan kedua tangannya. Kedua tangan nona Violetta pun terluka akibat tertusuk oleh duri-duri yang nyelimuti cambuk itu. Nona Violetta ncabut cambuk itu dari dadanya secara perlahan sambil nahan rasa sakit yang dialaminya. Tidak lama kemudian, cambuk itu pun berhasil dicabut dari dadanya. Nona Violetta lalu letakkan cambuk itu di bawahnya dan kemudian dia bergegas kembali untuk nghampiri Duchess Arnett.
"Ibunda!!," ucap nona Violetta.
Kini nona Violetta sudah berada di samping Duchess Arnett yang sudah terbaring di tanah yang telah dipenuhi oleh bunga-bunga Lily. Kondisi Duchess Arnett terlihat sudah sangat lemah. Kedua matanya pun sudah mau terpejam seluruhnya. Nona Violetta yang berada di samping Duchess Arnett hanya terdiam saja sambil lihat ke wajah Duchess Arnett. Air mata terlihat masih ngalir keluar dari kedua mata nona Violetta.
"Ibunda," ucap nona Violetta.
Nona Violetta lalu gang kedua tangan Duchess Arnett dengan kedua tangannya.
"Ibunda tadi bilang kalau ibunda akan selalu nyayangiku, aku pun juga sama. Aku akan selalu nyayangi Ibunda,"
"Sekarang, ibunda sudah terbebas dari kendali orang itu. Jadi ibunda sudah bisa pergi dengan tenang," ucap nona Violetta.
Duchess Arnett lalu noleh dan natap wajah nona Violetta setelah ndengar perkataan nona Violetta.
"Violetta.....," ucap Duchess Arnett.
Nona Violetta terlihat sangat terkejut setelah ndengar perkataan Duchess Arnett. Nona Violetta tidak nyangka kalau dia masih bisa ndengar perkataan Duchess Arnett. Nona Violetta pikir apa yang dikatakan oleh Duchess Arnett sebelum dia njatuhkan dirinya adalah perkataan terakhir dari Duchess Arnett yang dia dengar. Lalu tidak lama setelah ndengar perkataan Duchess Arnett, nona Violetta pun langsung nanggapinya.
"Ada apa, ibunda ?," tanya nona Violetta.
"Sepertinya...aku masih belum bisa pergi....sebelum aku ngatakan ini. Terima kasih karena telah.....mberikanku kematian yang indah.....dengan mbuatku mati di atas hamparan.....bunga-bunga Lily ciptaanmu. Bunga-bunga Lily ciptaanmu.....tetap sangatlah indah seperti dulu...Aku tidak nyangka....kalau kamu masih ngingat perkataanku waktu itu," ucap Duchess Arnett.
"Tentu saja aku masih ngingatnya, ibunda. Karena itu adalah kenangan yang sangat berharga bagiku, jadi aku harus terus ngingatnya," ucap nona Violetta.
"Begitu ya. Aku juga ingin....minta maaf kepadamu karena aku sebelumnya telah lukaimu....dan bahkan berniat untuk mbunuhmu. Saat itu.....entah kenapa aku seperti tidak bisa ngendalikan....pergerakan tubuhku sendiri. Bahkan aku....tidak bisa ngendalikan pikiranku," ucap Duchess Arnett.
"Tidak apa-apa, ibunda. Ibunda tidak perlu minta maaf karena aku sudah ngetahui kalau ibunda sedang dikendalikan paksa oleh orang itu," ucap nona Violetta.
"Orang itu ? Siapa....yang kamu maksud ?," tanya Duchess Arnett.
"Ayahanda," ucap nona Violetta.
Duchess Arnett lalu terdiam selama beberapa saat. Tidak lama kemudian, Duchess Arnett kembali berbicara.
"Ah benar juga.....aku baru ngingatnya. Sebelum aku rasa....tidak bisa ngendalikan tubuhku dan juga pikiranku, ayahandamu.....tiba-tiba nyuntikkan sebuah cairan berwarna rah ke dalam....tubuhku," ucap Duchess Arnett.
"Dia lah yang telah mbuatmu njadi seperti ini, ibunda. Dia mang dulunya rupakan ayahandaku, tetapi kali ini dia bukan ayahandaku lagi karena aku sudah tidak miliki hubungan apa-apa dengannya setelah aku pergi ninggalkan keluarga San Quentine. Apalagi, setelah ngetahui kalau dia lah yang mbuat kamu njadi seperti ini, aku semakin mbenci dia, ibunda," ucap nona Violetta.
"ski kamu mbencinya...dan tidak mau ngakuinya lagi sebagai.....ayahandamu, tetapi dia tetaplah ayahandamu, Violetta," ucap Duchess Arnett.
Nona Violetta lalu terdiam setelah ndengar perkataan Duchess Arnett.
"Aku punya satu permintaan.....terakhir, Violetta," ucap Duchess Arnett.
Nona Violetta yang sebelumnya terdiam, kini langsung nanggapi perkataan Duchess Arnett.
"Permintaan apa itu, ibunda ?," tanya nona Violetta.
"Tolong hentikanlah ayahandamu, Violetta," ucap Duchess Arnett.
Nona Violetta lalu kembali terdiam selama beberapa saat. Tidak lama kemudian, nona Violetta pun kembali berbicara.
"Baiklah, ibunda. Aku akan nghentikan dia seperti apa yang ibunda minta," ucap nona Violetta.
"Terima kasih. Kalau begitu.....sepertinya aku harus ngucapkan selamat tinggal lagi,"
"Selamat tinggal, Violetta. Terima....kasih karena telah nemaniku.....disaat-saat terakhirku," ucap Duchess Arnett.
"Iya, selamat tinggal, ibunda," ucap nona Violetta.
Air mata nona Violetta terlihat masih ngalir keluar saat dia ngatakan itu. Setelah itu, kedua mata Duchess Arnett pun mulai terpejam secara perlahan. Tidak lama kemudian, kedua mata Duchess Arnett pun telah terpejam. Duchess Arnett pun tidak bergerak maupun bersuara lagi. Duchess Arnett kini telah ninggal dunia. Duchess Arnett ninggal dunia dengan senyuman di wajahnya.
Sentara itu, nona Violetta yang masih gang kedua tangan Duchess Arnett, tidak lama kemudian mulai lepaskannya. Nona Violetta lalu letakkan dan mposisikan kedua tangan Duchess Arnett di dada Duchess Arnett. Setelah itu, nona Violetta berbicara ke Duchess Arnett yang sedang terbaring.
"Sampai bertemu lagi di tempat yang lain, ibunda," ucap Duchess Arnett.
Kemudian, nona Violetta mbasuh kedua matanya yang ngeluarkan air mata dengan tangannya. Setelah itu, nona Violetta kembali berdiri dan kemudian dia natap kembali ke Duchess Arnett yang sedang terbaring.
"Sekarang, aku akan pergi untuk nyelesaikan permintaan terakhirmu itu, ibunda. Aku akan nghentikan orang itu....dengan mbunuhnya," ucap nona Violetta.
-
Di tempat Rid berada, di saat yang sama ketika nona Violetta sedang bertarung dengan Duchess Arnett.
Saat ini, komandan Dayne dan senior Vyn terus nyerangku secara bersamaan dengan nggunakan pedang reka. Tetapi aku dapat dengan mudah nghindari dan nahan serangan-serangan yang dilancarkan oleh reka. Aku juga beberapa kali dapat nyerang reka berdua dengan pedangku dan juga beberapa pukulan dan tendangan. Tetapi serangan yang aku lancarkan kepada reka tidak begitu berefek karena saat ini reka sedang ngenakan armor besi berwarna hitam di seluruh tubuh reka.
Sentara itu, kedua Naga besi yang diciptakan oleh senior Vyn terlihat masih bertarung dengan keenam Naga yang sebelumnya aku ciptakan. skipun kedua Naga itu terlihat kewalahan karena reka sedang dalam posisi yang kalah jumlah, tetapi kedua Naga itu masih bisa bertahan dari serangan-serangan keenam Naga ciptaanku hingga saat ini.
"Kedua Naga itu cukup tangguh juga. Selain itu, aku tidak nyangka kalau armor yang dikenakan oleh komandan Dayne dan senior Vyn itu sangat kuat. Beberapa serangan yang aku lancarkan kepada reka jadi tidak begitu berefek kepada reka karena adanya armor itu,"
"Jika kedua Naga dan armor yang reka kenakan itu hanyalah besi biasa, mungkin aku bisa nyerangnya. Tetapi karena reka telah bercampur dengan ~Dark Magic~, reka bertambah jadi lebih kuat daripada biasanya. Mungkin aku harus nyelimuti seluruh tubuhku dengan Mana yang lebih kuat agar aku bisa nyerang kedua Naga dan juga reka berdua yang ngenakan armor," pikirku.
Setelah aku mikirkan itu, komandan Dayne dan senior Vyn kembali nghampiriku dan nyerangku. Tetapi aku dapat nghindari serangan itu dengan mudah. Setelah nghindari serangan itu, aku langsung nyerang reka berdua.
~Secret Sword Art - Dragon Slayer Technique : Dragon Slayer Slash~
reka berdua yang kebetulan saling berdekatan pun terkena seranganku dengan telak. reka berdua pun langsung terhempas hingga nghantam dinding pohon yang berada cukup jauh di belakang reka. Setelah nghantam dinding pohon itu, reka berdua pun langsung bangkit kembali. Terlihat tidak ada luka pada tubuh reka setelah terkena serangan itu, yang ada hanyalah bekas goresan pada armor reka setelah terkena serangan itu. Bekas goresan itu terlihat cukup dalam.
"Bahkan dengan ~Dragon Slayer Technique~ pun aku tidak mampu untuk langsung nebas armor reka. Jika itu hanyalah besi biasa, aku yakin armor itu dapat aku tebas dan reka yang ngenakan armor itu pun juga akan terluka. Sepertinya aku mang harus ningkatkan Mana yang nyelimuti tubuhku agar aku dapat nebas dan nghancurkan armor itu, atau...aku harus nggunakan sihir ’itu’," pikirku sambil lihat ke arah komandan Dayne dan senior Vyn yang baru saja bangkit kembali.
Setelah itu, aku noleh ke arah jalan penghubung tempat nona Violetta lawan Duchess Arnett.
"Pertarungan antara nona Violetta dengan nona Duchess Arnett sepertinya belum selesai. Itu berarti, nona Violetta belum akan kembali ke tempat ini. Kalau begitu, sepertinya tidak apa-apa kalau aku nggunakan sihir ’itu’,"
"Aku bisa saja ngalahkan reka berdua tanpa nggunakan sihir ’itu’, tetapi sepertinya itu akan makan waktu yang cukup lama. Saat ini, aku harus secepatnya ngalahkan reka berdua agar aku bisa segera ngejar Charles dan Chloe. Maka dari itu, aku terpaksa nggunakan sihir ’itu’, ~Light Magic~," pikirku.
-Bersambung
Reviews
All reviews (0)