Font Size
15px

Di area pertokoan, tempat Irene berada.

Terlihat di sekitar tempat Irene berada ada beberapa bangunan pertokoan yang sudah hancur karena tanah tempat bangunan berdiri itu njadi tempat munculnya dinding-dinding pohon yang ngelilingi tempat itu. Sentara itu, Irene terlihat sedang berusaha untuk nghancurkan dinding pohon yang ngelilinginya itu.

~San Lucia Art : Freezing Air Slash~

Irene lancarkan sebuah tebasan dengan nggunakan rapiernya ke arah dinding pohon itu. Serangan itu ngenai dinding pohon itu dengan telak dan dinding pohon yang dikenai oleh serangan itu pun langsung mbeku. Kemudian, Irene lancarkan sebuah serangan lagi ke dinding pohon yang mbeku itu.

~Ice Sword Art : Great Ice Slash~

Irene lancarkan sebuah tebasan es yang besar ke arah dinding pohon yang mbeku itu. Serangan itu pun ngenai dinding pohon yang mbeku itu dengan telak, tetapi dinding pohon itu tidak berhasil dihancurkan oleh Irene. Bahkan tidak ada kerusakan sedikitpun pada dinding pohon itu. Es yang mbekukan dinding pohon itu pun secara perlahan mulai ncair.

"Dinding pohon ini keras sekali, padahal jika aku bisa nghancurkan dinding pohon ini, aku bisa lewati dinding-dinding pohon itu dan berpindah ke tempat lain dengan lebih cepat. Sepertinya aku harus nggunakan cara lain untuk bisa pergi dari tempat ini," ucap Irene.

Lalu Irene noleh ke arah jalan atau lorong yang ada di tempat itu. Di tempat Irene saat ini ada 3 buah jalan yang ngarah ke tempat berbeda-beda. Irene mperhatikan ketiga jalan itu secara satu per satu. Setelah mperhatikan 3 buah jalan itu, Irene lalu noleh ke atas. Di atas Irene ada banyak dedaunan yang berasal dari dinding-dinding pohon yang ngelilinginya.

"Aku tidak tahu apakah dedaunan itu bisa ditembus atau tidak. Hmmmm kurasa lebih baik aku lewati jalan yang ada saja, jika aku lewati jalan itu mungkin aku bisa bertemu dengan orang-orang yang aku kenal," ucap Irene.

Irene lalu kembali lihat ke arah 3 jalan yang berbeda itu. Satu jalan ngarah ke kiri, satu jalan ngarah ke tengah dan satu jalan lagi ngarah ke kanan. Irene harus milih jalan mana yang harus dia lewati karena ada 3 jalan yang ngarah ke tempat yang berbeda.

"Kalau tidak salah, ketiga jalan itu ngarah keluar dari area pertokoan. Itu berarti, jika aku milih jalan yang kiri, maka aku akan ngarah ke taman atau hutan akademi. Jika aku milih jalan yang tengah, aku akan ngarah ke jalan yang nuju asrama murid. Jika aku milih jalan yang kanan, aku akan ngarah ke asrama murid dan dinding pembatas yang ada di dekatnya. Tetapi ada kemungkinan juga kalau ketiga jalan itu malah ngarah ke tempat lain yang berbeda dengan yang aku pikirkan. Hmmm, ini mbingungkan," pikir Irene.

Irene lalu terdiam sambil terus mikirkan sesuatu.

"Tidak ada gunanya terus mikirkan hal ini. Aku harus segera pergi dari tempat ini. Rid tadi bilang kalau dia akan pergi ke gerbang akademi. Kalau begitu, aku akan pergi ke jalan tengah. Entah jalan itu ngarah ke jalan nuju asrama akademi atau malah ngarah ke tempat lain, yang terpenting aku harus pergi dari tempat ini terlebih dahulu," pikir Irene.

Setelah itu, Irene pun langsung bergegas pergi ke jalan tengah yang dipilihnya. Irene terus berlari nyusuri jalan itu. Jalan yang dia susuri itu terlihat berbelok-belok dan tidak ngarah lurus.

"Jalan yang lain sepertinya juga berbelok-belok seperti ini. Jika jalannya berbelok-belok seperti ini, aku tidak akan heran jika jalan ini malah ngarah ke tempat lain yang tidak sesuai dengan yang aku pikirkan. ski begitu, aku harus tetap maju nyusuri jalan ini," pikir Irene.

Irene kembali laju nyusuri jalan yang dia pilih. Lalu tidak lama kemudian, Irene bertemu dengan beberapa iblis disaat dia terus nyusuri jalan itu. Iblis itu awalnya hanya diam di tempat itu, tetapi ketika Irene datang ke tempat itu, iblis itu langsung bergerak ke arah Irene dan bersiap untuk nyerangnya. Irene yang lihat iblis-iblis itu pun juga bersiap untuk nyerang.

"Jangan nghalangi jalanku," ucap Irene.

~San Lucia Art : Great Freezing Air Slash~

Irene lancarkan tebasan ke arah para iblis itu. Para iblis itu pun terkena tebasan yang dilancarkan Irene dengan telak. Tebasan itu langsung mbuat tubuh reka semua mbeku.

Setelah itu, Irene kembali lanjutkan langkahnya nyusuri jalan itu. Irene beberapa kali bertemu dengan iblis saat dia terus langkah nyusuri jalan itu, tetapi Irene dapat dengan mudah ngatasi iblis-iblis yang nghalangi jalannya. Lalu beberapa nit kemudian, disaat Irene sedang laju, Irene lihat ada sesuatu bongkahan yang terlihat seperti bongkahan pagar yang berada di dekat dinding yang ngelilingi jalan yang dilaluinya itu. Irene lalu nghampiri bongkahan itu dan riksanya.

"Bongkahan ini terlihat persis dengan pagar asrama akademi. Apa itu berarti aku telah sampai di depan asrama akademi ? Sepertinya tidak sia-sia aku terus nyusuri jalan ini skipun jalan ini berbelok-belok,’ ucap Irene.

Kemudian, Irene kembali nyusuri jalan yang dia lalui itu. Beberapa saat kemudian, di depan jalan yang sedang Irene susuri, Irene lihat ada beberapa murid akademi dan beberapa prajurit. Beberapa murid dan prajurit itu terlihat sedang beristirahat di jalan itu. Irene lalu mutuskan untuk nghentikan langkahnya dan nghampiri reka. Beberapa murid dan prajurit yang sedang beristirahat itu terlihat sudah ngalami beberapa luka. Irene lalu lihat dan mperhatikan para murid yang ada di tempat itu. Di antara para murid yang ada di tempat itu, Irene lihat ada seseorang yang dia kenal. Irene pun langsung nghampiri orang yang dia kenal itu.

"Elaina," ucap Irene.

Ternyata orang yang Irene hampiri itu adalah Elaina. Elaina yang ndengar namanya baru saja disebut pun langsung noleh.

"Senior Irene," ucap Elaina.

Irene terus lihat ke arah Elaina. Kemudian, dia noleh ke arah seseorang yang sedang tergeletak di samping Elaina. Irene pun terkejut saat lihat orang yang tergeletak itu. Orang yang tergeletak itu adalah Noa yang sedang dalam kondisi ngalami banyak luka di tubuhnya.

"Noa ?!, Apa yang terjadi dengan Noa, Elaina ?," tanya Irene.

"Senior Noa...dia tadi diserang oleh para iblis dalam jumlah yang banyak. Kondisinya saat ini benar-benar ngkhawatirkan," ucap Elaina

-

Sentara itu, di gedung tengah akademi, tepatnya di lantai 5 gedung tengah akademi yang rupakan tempat latihan khusus para murid pengguna senjata jarak dekat.

Terlihat Duke Louis dan Duchess Arlet sedang lihat keluar jendela yang ada pada salah satu sisi dinding tempat itu. Duke Louis dan Duchess Arlet terlihat sangat terkejut begitu lihat keadaan di wilayah akademi.

"Apa-apaan ini ? Seluruh wilayah akademi tiba-tiba berubah njadi hutan. Tidak hanya seluruh akademi saja, tetapi daerah yang berada di dekat wilayah akademi juga berubah njadi hutan. Apa yang terjadi ?," tanya Duke Louis yang terkejut.

"Bangunan ini pun juga ikut berubah. Dinding-dinding pada bangunan ini tiba-tiba dipenuhi oleh banyak ranting pohon dan juga dedaunan," ucap Duchess Arlet.

Apa yang dikatakan oleh Duchess Arlet adalah benar karena dinding-dinding yang ngelilingi reka saat ini terlihat sudah dipenuhi oleh banyak ranting pohon dan dedaunan.

"Sepertinya akan sulit bagi kita untuk pergi dari akademi ini ngingat akademi sudah berubah njadi hutan. ski begitu, kita harus tetap pergi ninggalkan akademi untuk kembali ke kota San Lucia. Kita harus mbantu keluarga kita yang telah diserang," ucap Duke Louis.

"Iya, kamu benar. Ayo kalian semua kita kembali bergegas untuk segera ninggalkan gedung ini," ucap Duchess Arlet kepada para prajurit Duke San Lucia yang nemani reka.

"Baik, nona," ucap para prajurit itu.

Setelah itu, Duke Louis, Duchess Arlet dan beberapa prajurit Duke San Lucia kembali lanjutkan langkah reka untuk pergi ninggalkan gedung tengah. Tetapi, baru beberapa detik reka langkah, tiba-tiba terdengar suara dinding yang baru saja dihancurkan.

*BRUAK!

Duke Louis, Duchess Arlet dan para prajurit itu pun terkejut karena suara dinding yang hancur itu berasal dari dinding di depan reka yang baru saja dihancurkan. Para prajurit yang lihat itu kemudian langsung bergerak ke depan Duke Louis dan Duchess Arlet untuk lindungi reka berdua. Setelah itu, dari dinding yang hancur itu, muncul seorang pria yang dengan cepat langsung nyerang para prajurit yang berada di depan Duke Louis dan Duchess Arlet. Pria itu nyerang para prajurit itu dengan batang-batang pohon yang muncul dari lantai tempat berpijaknya pria itu. Batang-batang pohon itu bergerak dengan cepat dan langsung nusuk para prajurit yang ada di depan Duke Louis dan Duchess Arlet. Para prajurit yang tertusuk oleh batang-batang pohon itu pun langsung tergeletak dengan kondisi bersimbah darah. Duke Arlet dan Duchess Arlet terlihat terkejut saat lihat para prajurit reka telah tumbang dengan cepat. Namun reka berdua lebih terkejut lagi ketika lihat dan ngetahui siapa yang telah nyerang para prajurit itu.

"Tuan Remy ?!?!," ucap Duke Louis.

"Kenapa anda lakukan ini, tuan Remy ?! ucap Duchess Arlet.

Duke Louis dan Duchess Arlet lihat ke arah Duke Remy dengan rasa tidak percaya dengan apa yang dilakukan Duke Remy barusan. Kemudian, Duchess Arlet kembali terkejut ketika dia lihat ke arah Duke Remy.

"Sayang....coba kamu perhatikan kedua mata tuan Remy," ucap Duchess Arlet.

Duke Louis pun nuruti perkataan Duchess Arlet dan dia langsung mperhatikan kedua mata Duke Remy. Duke Louis pun juga terkejut saat lihat ke kedua mata Duke Remy. Kedua mata Duke Remy yang saat ini tidak tertutupi oleh kacamata miliknya terlihat miliki bola mata yang berwarna hitam pekat, mirip seperti ciri-ciri dari ras Iblis.

"Tuan Remy, kenapa kedua mata anda seperti itu ?! Kedua mata anda terlihat seperti mata milik ras iblis. Jangan bilang kalau anda lah yang telah mbuat para iblis itu dan rintahkan reka untuk nyerang seluruh wilayah kerajaan San Fulgen ?!," tanya Duke Louis yang terkejut.

"Itu mang benar, aku lah yang telah rintahkan para iblis itu untuk nyerang seluruh wilayah kerajaan San Fulgen, termasuk akademi ini," ucap Duke Remy.

"....Itu berarti, anda juga lah yang telah rencanakan pembunuhan terhadap Yang Mulia Ratu dan seluruh keluargaku ?!?!," tanya Duke Louis.

"Itu benar," ucap Duke Remy.

Setelah itu, Duke Louis pun terdiam. Lalu dia mulai ncabut pedang yang ada di pinggangnya dan langsung gang pedang itu dengan kuda-kuda seperti mau nyerang.

"Tuan Remy, kau.....jadi kau lah dalang dari semua ini ?!?!," tanya Duke Louis yang terlihat marah.

"Iya, itu benar," ucap Duke Remy.

"Aku tidak akan maafkanmu, aku akan mbunuhmu di tempat ini!!!," ucap Duke Louis.

"Justru aku lah yang akan mbunuh anda di tempat ini, tuan Louis. Aku tidak akan mbiarkan anda pergi dari sini," ucap Duke Remy sambil tersenyum.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 352 : Hutan Labirin part 2 on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.