Peace Hunter Chapter 351 : Hutan Labirin

Novel: Peace Hunter Author: Rizdhan Updated:
Font Size
15px

Tanah yang bergetar dan mulai munculnya pohon-pohon dari dalam tanah mbuat terkejut orang-orang yang lihat itu.

"Pohon-pohon muncul dari dalam tanah ? Apakah ini adalah sebuah sihir ?,"

"Pohon-pohon ini terus muncul dan njulang tinggi. Kalian semua, berhati-hatilah dengan tempat kalian berpijak karena di tempat kalian berpijak mungkin akan ada pohon lain yang muncul. Jika kalian tidak nghindar, kalian akan terbawa pohon itu hingga njulang tinggi ke atas," ucap orang-orang yang terkejut lihat pohon-pohon itu.

Pohon-pohon itu terus bermunculan dalam jumlah yang sangat banyak. Bahkan pohon-pohon itu muncul seperti mbuat sebuah pola dimana pohon yang baru muncul akan muncul di dekat pohon lain yang sudah muncul sehingga pohon-pohon yang muncul itu dalam posisi yang berdempetan antara satu pohon dengan yang lainnya. Pohon-pohon yang berdempetan itu terasa seperti sedang mbuat dinding pohon karena pohon-pohon itu saling berdempetan dengan sangat rapat tanpa nimbulkan celah antara satu pohon dengan yang lainnya. Formasi pohon-pohon yang berdempetan itu ada yang manjang lurus ke depan, ke samping, atau berbelok-belok. Formasi pohon-pohon itu mirip dengan sebuah labirin. Saat ini, di akademi dan wilayah sekitarnya mulai terbentuk labirin yang terbuat dari pohon-pohon yang njulang tinggi.

-

Di depan gedung lobi akademi.

Disaat aku, nona Karina dan nona Violetta sedang bertarung dengan Raja Albert dan yang lainnya, pohon-pohon yang njulang tinggi mulai muncul di tempat aku, nona Violetta dan nona Karina berada. Pohon-pohon itu muncul dengan sangat cepat dengan pola yang berdempetan. Pohon-pohon itu muncul di antara aku, nona Karina dan nona Violetta sehingga mbuat kami bertiga terpisah karena adanya pohon-pohon yang berdempetan itu.

"Nona Karina!, nona Violetta!," teriakku saat pohon-pohon itu sudah misahkan kami bertiga.

Tidak ada respon apapun setelah aku neriakkan nama nona Karina dan nona Violetta. Sepertinya reka berdua tidak ndengar teriakanku karena terhalang dinding yang terbuat dari pohon-pohon yang berdempetan itu. Setelah itu, aku langsung lancarkan sebuah tebasan dengan niat untuk nghancurkan dinding pohon itu.

~Fla Sword Art : Great Fla Slash~

Aku lancarkan tebasan api ke arah dinding pohon itu. Tebasan itu pun ngenai dinding pohon itu dan berhasil mbakarnya, tetapi beberapa saat kemudian api yang mbakar pohon itu langsung nghilang. Aku pun sedikit terkejut lihat hal itu.

"Dinding pohon itu sangat kuat, bahkan tebasan api pun tidak bisa nghancurkan dan mbakar dinding pohon itu. Jadi bagaimana caraku agar bisa nemui nona Karina dan nona Violetta yang berada di sisi lain dari dinding pohon itu," pikirku.

Kemudian, aku pun terdiam. Aku terdiam sambil mperhatikan sekelilingku. Di sekelilingku mang ada dinding yang terbuat dari pohon, tetapi dinding pohon itu tidak ngelilingiku secara keseluruhan karena aku lihat ada 2 buah celah yang cukup besar di antara dinding pohon yang ngelilingiku. 2 buah celah itu nghubungkan tempatku berada saat ini dengan tempat yang berbeda. lihat kedua celah itu, aku nyadari kalau aku sepertinya sedang berada dalam sebuah labirin yang terbuat dari pohon.

"Dinding pohon yang nutupi sekelilingku dan juga ada 2 jalan yang nghubungkan ke tempat yang berbeda-beda. Rasanya seperti sedang berada di dalam sebuah labirin. Siapa orang yang nciptakan pohon-pohon yang mbentuk labirin ini ?," tanyaku.

Setelah itu, aku lihat ke arah 2 jalan itu. Aku harus milih salah satu jalan agar aku bisa ke tempat nona Karina dan nona Violetta berada. Tetapi aku tidak tahu harus milih jalan yang mana.

"Ini benar-benar sulit, aku harus milih salah satu dari 2 jalan yang ada. Aku rasakan nona Karina dan nona Violetta berada di balik dinding pohon yang ada di sebelah kiriku. Secara logika, jalan sebelah kiri lah yang seharusnya aku pilih karena jalan itu tentu saja ngarah ke tempat nona Karina dan nona Violetta yang berada di sebelah kiri. Namun, bisa juga kalau jalan itu nghubungkan ke tempat lain dan bukan ke tempat nona Violetta dan nona Karina ngingat saat ini tempat ini sudah berubah njadi labirin. Ini benar-benar mbuatku bingung," pikirku.

Setelah itu, aku noleh ke atas. Di atasku, ada banyak dedaunan yang berasal dari pohon-pohon yang berdempetan dan berubah njadi dinding yang ngelilingiku. Dedaunan itu sangat banyak sehingga nutupi tempat ini dari sinar matahari, bahkan langit pun tidak terlihat karena banyaknya dedaunan itu.

"Mungkin di atas sana ada celah yang bisa aku manfaatkan untuk pergi ke tempat nona Karina dan nona Violetta. Jika lewati jalan biasa mbuatku bingung, lebih baik aku lewati jalan pintas," pikirku.

Setelah itu, aku bersiap untuk lompat ke atas untuk nembus dedaunan yang nutupi tempat ini. Aku berniat untuk pergi ke tempat nona Karina dan nona Violetta dengan lewati tempat ini dari atas dan langsung pergi ke tempat nona Karina dan nona Violetta yang berada di sisi lain tempat ini. Lalu aku pun langsung lompat dengan tinggi ke atas hingga ncapai dedaunan yang nutupi tempat ini. Namun saat aku hendak ncapai dedaunan itu, tiba-tiba muncul sebuah tebasan api berwarna hitam dari balik dedaunan itu yang ngarah ke arahku. Aku yang lihat tebasan itu pun langsung nghindarinya. Setelah nghindari tebasan itu, Raja Charles muncul dari balik dedaunan itu dan langsung nyerangku dengan pedangnya yang sudah diselimuti oleh api berwarna hitam. Aku pun langsung nahan serangan itu dengan pedangku. Setelah nahan serangan itu, aku langsung mundur kembali ke bawah. Raja Albert pun juga ikut ke bawah bersamaku.

"Aku bertanya-tanya kemana perginya anda, ternyata anda bersembunyi di dedaunan yang ada di atas," ucapku.

Kemudian, muncul 2 orang lagi dari balik dedaunan yang ada di atas dan 2 orang itu kini berdiri di samping Raja Albert. 2 orang itu adalah komandan Marshall dan senior Florian yang sudah berubah njadi iblis.

"3 orang yang sudah berubah njadi iblis ya. Aku tidak nyangka kalau kalian bertiga akan ngeroyokku seperti ini,"

"Aku berniat untuk pergi ke tempat nona Karina dan nona Violetta, tetapi sepertinya kalian bertiga tidak akan mbiarkanku pergi. Sepertinya aku harus ngalahkan kalian bertiga terlebih dahulu," ucapku sambil bersiap untuk nyerang reka bertiga dengan nggunakan pedangku.

-

Di tempat nona Violetta berada.

Nona Violetta terlihat masih bertarung dengan Duchess Harriet. reka berdua saling beradu serangan yang reka gunakan.

"Tiba-tiba muncul banyak pohon dari dalam tanah dan pohon-pohon yang muncul itu tiba-tiba rubah tempat ini njadi seperti labirin. Siapa yang mbuat labirin ini ? Dilihat dari pohon-pohon yang muncul itu, sepertinya pohon itu berasal dari ~Plant Magic~. Di kerajaan ini, aku hanya tahu 2 orang yang bisa nggunakan ~Plant Magic~. Satu adalah nona Karina, tetapi dia tidak mungkin nggunakan teknik ini karena aku tidak lihat dia nggunakan teknik in tadi. Jadi, kemungkinan yang nggunakan teknik ini adalah orang itu. Ayahanda, jika mang dia yang nggunakan teknik ini, maka sudah pasti dia lah yang telah rubah Alia njadi iblis. Bisa-bisanya orang itu lakukan hal ini,"

"Untuk sekarang, aku harus ngalahkan nona Harriet terlebih dahulu. Setelah itu, aku harus bertemu dengan nona Karina dan juga Rid yang berada di sisi lain dinding. Kemudian, aku harus ncari Alia. Karena munculnya pohon-pohon yang misahkan kami, aku jadi terpisah dengan Alia. Aku tidak bisa mbiarkannya berkeliaran dan nyerang orang-orang di akademi ini," pikir nona Violetta sambil terus beradu serangan dengan Duchess Harriet.

-

Di tempat nona Karina berada.

Nona Karina terlihat sedang bertarung dengan Duchess Claret di tempatnya berada saat ini. Tapi nona Karina terlihat tidak fokus karena matanya terus mperhatikan dinding pohon yang ngelilinginya maupun dedaunan yang ada di atasnya.

"Sihir ini...sihir ini lebih kuat dari ~Great Forest~ milikku. Apakah yang nggunakan sihir ini adalah anda, tuan Duke Remy ?," pikir nona Karina sambil terus beradu serangan dengan Duchess Claret.

-

Di arena turnan akademi.

Duke Remy terlihat sudah mulai berdiri kembali setelah sebelumnya dia berjongkok sambil ngarahkan kedua tangannya untuk nyentuh lantai arena turnan. Setelah itu, Duke Remy lihat ke arah Duchess Arnett, komandan Dayne, senior Vyn dan para prajuritnya yang ada di sekitarnya.

"Tempat perburuannya sudah dibuat, sekarang kalian pergi untuk nyerang dan mbunuh orang-orang yang sudah aku tentukan," ucap Duke Remy.

"Baik, tuan," ucap Duchess Arnett, komandan Dayne, senior Vyn dan para prajuritnya.

Setelah itu, reka pun langsung pergi dari arena turnan dengan njebol dinding arena turnan agar bisa langsung pergi ke luar ninggalkan gedung tengah tanpa harus turun ke lantai 1 terlebih dahulu. Duke Remy pun lihat ke arah reka yang satu per satu mulai pergi ninggalkan arena turnan.

"Aku juga harus pergi, aku juga harus nyerang dan mbunuh ’mangsaku’ sendiri," ucap Duke Remy sambil lepaskan kacamata yang sedang dia pakai.

Setelah itu, Duke Remy mbuang kacamata itu dan dia pun langsung pergi ninggalkan arena turnan.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 351 : Hutan Labirin on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Data-Driven Daoist cover
Trending now

Data-Driven Daoist

CatVI ·Action

Theycalledhimtrash—untilhestartedtreatingtheDaolikeaDataset.Whendemonsslaughterhisnewfamily,computerscientistJohan—nowrebornasYuHan—survivesbypurew...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.