Setelah naga es itu berhasil dikalahkan, para prajurit yang lihat hal itu pun langsung bersorak karena kedua Naga es itu telah berhasil dikalahkan.
Setelah nghancurkan kepala Naga es itu, Duchess Arlet naruh rapiernya kembali di pinggangnya. Setelah itu, Duchess Arlet berjalan ke arah para prajuritnya yang telah bersorak. Para prajurit itu pun langsung nyambut Duchess Arlet yang telah berhasil ngalahkan kedua Naga itu.
"Nona Duchess mang hebat, anda telah berhasil ngalahkan kedua Naga es yang sangat besar itu,"
"Itu benar, anda mang hebat,"
"Sepertinya rumor yang ngatakan kalau anda adalah orang terkuat di keluarga San Lucia saat ini adalah benar," ucap para prajurit itu.
"Aku bisa ngalahkan kedua Naga itu berkat bantuan kalian semua. Jika tidak ada kalian, aku tidak akan bisa ngalahkan kedua Naga itu," ucap Duchess Arlet.
ski begitu, para prajurit itu tetap muji Duchess Arlet. Namun tiba-tiba reka terdiam dan terkejut karena reka baru saja nyadari sesuatu. Tubuh Duchess Arlet saat ini terdapat banyak luka. Ada banyak luka goresan dan tusukan pada tubuh Duchess Arlet.
"Nona Duchess, kenapa tubuh anda banyak sekali luka ? Apa luka itu akibat serangan yang dilancarkan Naga itu kepada anda tadi ?," tanya salah satu prajurit.
"Ah luka ini ya. Iya itu benar, luka ini didapatkan karena aku sebelumnya nghantam beberapa pohon, batu dan bongkahan es akibat terkena serangan ekor yang dilancarkan Naga itu," ucap Duchess Arlet.
"Maaf karena tidak nyadarinya selama ini, nona Duchess," ucap prajurit itu.
"Tidak apa-apa, lagipula ini hanyalah luka kecil. Kalian tidak perlu khawatir," ucap Duchess Arlet.
"Itu bukanlah luka yang kecil, nona Duchess. Saya kebetulan bisa lakukan sihir penyembuhan. Saya akan nyembuhkan anda, nona,"
"Saya juga bisa, saya juga akan ikut mbantu,"
"Saya juga," ucap para prajurit yang bisa nggunakan sihir penyembuhan.
"Aku nghargai niat kalian yang ingin nyembuhkanku, tetapi saat ini lebih baik kita periksa keadaan para prajurit yang sedang lawan Naga es yang satu lagi. Kita harus riksa apakah para prajurit itu sudah ngalahkan Naga es itu atau belum," ucap Duchess Arlet.
Setelah Duchess Arlet ngatakan itu, tiba-tiba datang para prajurit dari sisi lainnya ke tempat Duchess Arlet.
"Saya ingin lapor, nona Duchess. Kami telah berhasil ngalahkan seekor Naga es sesuai yang anda perintahkan. Lalu sepertinya anda dan para prajurit yang bersama anda juga telah berhasil ngalahkan kedua Naga es itu," ucap salah satu prajurit yang datang.
Para prajurit yang datang itu lihat dan riksa sekitar tempat itu yang terdapat bongkahan es yang berserakan dan juga seekor Naga es yang sudah kehilangan kepalanya. Karena itu, prajurit itu tahu kalau kedua Naga es di tempat itu telah berhasil dikalahkan.
Setelah para prajurit itu lihat dan riksa sekitar tempat itu, para prajurit itu pun lihat ke arah Duchess Arlet. reka semua terkejut begitu lihat tubuh Duchess Arlet yang sudah dipenuhi oleh banyak luka.
"Nona Duchess, kenapa tubuh anda terluka seperti itu ?," tanya salah satu prajurit yang baru datang.
"Yah, aku terluka saat tadi sedang lawan kedua Naga es itu," ucap Duchess Arlet.
"Anda tenang saja, nona Duchess. Saya akan nyembuhkan anda," ucap prajurit itu.
"Karena prajurit di sisi lain sudah datang dan mberikan laporan kalau reka sudah ngalahkan Naga itu. Itu berarti sudah tidak ada yang perlu anda lakukan, nona. Jadi anda diam saja dan biarkan kami semua nyembuhkan anda,"
"Itu benar, ayo semuanya sembuhkan nona Duchess," ucap para prajurit itu.
"Baiklah, baiklah, terserah kalian apabila kalian ingin nyembuhkanku. Tetapi setelah itu, kalian sembuhkanlah prajurit yang lain juga," ucap Duchess Arlet.
"Baik, nona," ucap para prajurit itu.
Para prajurit itu pun mulai nyembuhkan Duchess Arlet. Tubuh Duchess Arlet yang terluka pun secara perlahan mulai kembali pulih. Lalu setelah itu, para prajurit yang bisa nggunakan sihir penyembuhan mulai nyembuhkan prajurit lainnya yang terluka. Beberapa nit kemudian, para prajurit yang terluka pun telah berhasil disembuhkan.
Setelah para prajurit itu berhasil disembuhkan, Duchess Arlet ngumpulkan para prajuritnya karena Duchess Arlet ingin ngatakan sesuatu kepada para prajuritnya itu.
"Karena ketiga Naga es itu telah berhasil dikalahkan, itu berarti ekspedisi kita kali ini telah selesai. mang ekspedisi ini belum berhasil karena kita belum nemukan target kita yang sebenarnya di pegunungan ini, tetapi kita tidak bisa lanjutkan ekspedisi ini disaat beberapa prajurit telah tewas. Oleh karena itu, aku mutuskan untuk nyelesaikan ekspedisi ini dan kembali ke kota San Lucia. Tetapi sebelum kita kembali, kalian tolong kumpulkan jasad rekan-rekan kalian yang telah tewas. Kita akan mbawa jasad-jasad itu ke kota San Lucia dan mberikan pemakaman yang layak kepada reka," ucap Duchess Arlet.
"Baik, nona," ucap para prajurit itu.
Para prajurit itu pun mulai ngumpulkan jasad para prajurit yang telah tewas. Beberapa nit kemudian, jasad para prajurit yang telah tewas pun telah berhasil dikumpulkan. Para prajurit yang telah tewas itu berjumlah 11 orang.
"Ada 11 prajurit yang telah tewas ya. Baiklah, karena semua prajurit yang telah tewas telah dikumpulkan, mari kita langsung kembali ke kota San Lucia," ucap Duchess Arlet.
"Baik, nona Duchess," ucap para prajurit itu.
Duchess Arlet dan para prajurit itu pun bersiap untuk kembali ke kota San Lucia sambil mbawa jasad para prajurit yang telah tewas. Tetapi baru beberapa langkah reka berjalan, reka tiba-tiba terkejut karena ndengar suara seperti suara seorang wanita.
"Kalian sudah mau pergi ya ?," tanya suara wanita itu.
Duchess Arlet dan para prajurit itu pun terkejut. Lalu reka langsung noleh ke arah asal suara itu. Saat reka sudah noleh ke arah asal suara itu, reka lihat seorang wanita yang sedang terbang dengan sepasang sayap di punggungnya. Wanita itu miliki sepasang tanduk di kepala dan juga ekor. Tanduk dan ekor pada wanita itu terlihat seperti tanduk dan ekor Naga. Wanita yang sedang terbang itu kemudian turun ke permukaan salju. Setelah wanita itu sudah turun, sepasang sayap yang ada di punggungnya itu pun langsung nghilang. Kemudian, wanita itu mperhatikan sekitar tempat itu.
"Hmmm jadi reka semua benar-benar telah dikalahkan ya," ucap wanita itu.
Sentara itu, Duchess Arlet terlihat sedang lihat ke arah wanita itu sambil gang rapiernya.
"Siapa kamu ?," tanya Duchess Arlet.
Duchess Arlet terlihat sedang bersiap untuk nyerang karena dia ngatakan itu sambil masang kuda-kuda untuk nyerang. Setelah mperhatikan sekitar tempat itu, wanita itu lalu lihat ke arah Duchess Arlet.
"’Manusia berambut putih’, kamu adalah pemimpin dari orang-orang itu kan ?," tanya wanita itu.
"Iya. mangnya ada apa ?," tanya Duchess Arlet.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin bertanya saja. Lalu alasan kamu dan orang-orang itu datang ke pegunungan ini adalah untuk ncari seseorang kan ?," tanya wanita itu.
"Bagaimana kamu tahu tentang itu ?," tanya Duchess Arlet.
"Sejak dulu, setiap tahunnya aku selalu rasakan kalau ada beberapa orang yang selalu datang ke pegunungan ini. ski aku selalu rasakan datangnya orang-orang itu, aku jarang untuk nghampiri reka secara langsung. Terakhir kali aku nghampiri reka yang datang ke pegunungan ini itu sudah sangat lama, mungkin sekitar puluhan tahun yang lalu. Saat aku nghampiri reka itu lah aku ngetahui kalau alasan reka datang ke tempat ini adalah untuk mbunuh pemimpin dari para Naga es yang tinggal di pegunungan ini,"
"Aku tidak nyangka kalau kalian, ’manusia berambut putih’ masih ingin mbunuhku bahkan sampai sekarang. Padahal aku kira konflik di antara kita sudah berakhir disaat kalian mbunuh semua Naga es itu. Dan disaat yang sama, aku juga telah mbunuh orang-orang yang datang ke pegunungan ini untuk mbunuh kami. Aku bahkan juga lukai pemimpin dari orang-orang itu dengan sangat parah. Pemimpin itu juga rupakan ’manusia berambut putih’ seperti dirimu. Aku kira dengan lukainya dengan sangat parah sudah cukup untuk mberikan sebuah peringatan agar kalian tidak datang ke pegunungan ini lagi, tetapi kalian tetap datang ke pegunungan ini bahkan sampai sekarang. ski aku bisa ngabaikan hampir semua orang yang datang ke pegunungan ini, tetapi ada beberapa kasus dimana aku tidak bisa ngabaikan orang-orang yang datang ke pegunungan ini. Contohnya adalah sekarang, aku tidak bisa ngabaikanmu karena kedatanganmu ke pegunungan ini telah ngganggu waktu istirahatku. Aku sangat terganggu dengan hawa keberadaan dari orang-orang kuat yang datang ke pegunungan ini," ucap wanita itu.
Duchess Arlet dan para prajurit itu terlihat terkejut setelah ndengar perkataan wanita itu.
"T-tunggu sebentar, kamu tadi bilang kalau ’kalian masih ingin mbunuhku’ ? Apa itu berarti...," ucap Duchess Arlet.
"Ya, itu benar, akulah pemimpin para Naga es yang kalian cari-cari," ucap wanita itu.
Setelah wanita itu ngatakan itu, Duchess Arlet dengan cepat langsung lesat ke arah wanita itu dan langsung nebasnya dengan rapiernya. Tetapi, sebelum rapiernya ngenai tubuh wanita itu, rapiernya tertahan oleh sebuah pedang layang yang terbuat dari es yang muncul di dekat wanita itu. Duchess Arlet langsung terkejut begitu ngetahui kalau serangannya telah gagal karena ditahan oleh pedang es itu.
"Tidak perlu terburu-buru begitu," ucap wanita itu.
"Mana mungkin aku tidak terburu-buru disaat target sesungguhnya yang kami cari tiba-tiba muncul dihadapan kami dengan sendiri," ucap Duchess Arlet.
ndengar itu, wanita itu pun tersenyum.
Setelah itu, wanita itu mbuat pedang layang yang terbuat dari es lagi dan kali ini dia mbuat 2 buah pedang es. Pedang layang itu langsung nyerang Duchess Arlet dengan cepat, tetapi Duchess Arlet berhasil nghindari serangan 2 buah pedang es itu dengan lesat mundur kembali ke dekat para prajuritnya.
"Hmmm lumayan juga," ucap wanita itu.
Setelah gagal nyerang Duchess Arlet, pedang layang itu kini terus layang di dekat wanita itu. Pedang layang itu tidak ngejar Duchess Arlet yang kembali ke dekat para prajuritnya. Sepertinya pedang layang itu hanya nyerang lawan yang berada di dekat wanita itu. Sentara itu, setelah Duchess Arlet kembali ke dekat prajuritnya, Duchess Arlet langsung ngatakan sesuatu kepada para prajuritnya.
"Kalian semua, kalian akan nuruti apapun yang aku perintahkan kan ?," tanya Duchess Arlet.
"Iya, nona Duchess, kami akan nuruti apapun yang anda perintahkan," ucap para prajurit itu.
"Kalau begitu, aku perintahkan kalian untuk kembali ke kota San Lucia sekarang juga," ucap Duchess Arlet.
Para prajurit itu terlihat terkejut setelah ndengar perkataan Duchess Arlet.
"Bagaimana dengan nona sendiri ?," tanya salah satu prajurit.
"Aku akan lawan dan nahan wanita itu seorang diri," ucap Duchess Arlet.
"Itu terlalu berbahaya, nona,"
"Itu benar, nona. Wanita itu barusan bilang kalau dia lah pemimpin dari para Naga yang tinggal di pegunungan ini. Itu berarti dia rupakan orang yang berbahaya, nona. Mustahil anda bisa lawan dia seorang diri,"
"Lawan kita kali ini rupakan pemimpin para Naga yang tinggal di pegunungan ini, itu berarti lawan kita itu rupakan target sesungguhnya dari ekspedisi kali ini. Izinkan kami untuk bertarung, nona. Kami semua masih sanggup untuk bertarung skipun harus lawan dia,"
"Itu benar, nona. Mari kita kalahkan dia bersama-sama dan nyelesaikan ekspedisi ini dengan sempurna," ucap para prajurit itu.
"skipun kita semua yang ada disini bertarung sekaligus lawannya, aku yakin kalau kita tidak akan bisa ngalahkannya. Jika kita semua tidak bisa ngalahkannya, tentu saja aku sendiri juga tidak akan bisa ngalahkannya. Tetapi, setidaknya aku mungkin bisa nahan wanita itu. Dan disaat aku sedang nahan wanita itu, aku perintahkan kalian untuk pergi ke kota San Lucia dan ncari bala bantuan sebanyak-banyaknya untuk ngalahkan wanita itu," ucap Duchess Arlet.
Para prajurit itu pun terdiam setelah ndengar perkataan Duchess Arlet. reka seperti tidak mau nuruti perintah Duchess Arlet untuk pergi ke kota San Lucia dan ninggalkan Duchess Arlet sendiri.
"Tetapi, nona-," ucap salah satu prajurit.
Tetapi sebelum prajurit itu nyelesaikan perkataannya, Duchess Arlet langsung motong perkataan prajurit itu.
"Tidak ada tapi-tapi. Sekarang, kalian cepat pergi ke kota San Lucia. Antarkan jasad rekan-rekan kalian terlebih dahulu lalu bawakanlah bala bantuan sebanyak-banyaknya ke pegunungan ini," ucap Duchess Arlet.
Para prajurit itu pun terdiam, reka tidak bergerak sedikitpun.
"CEPAT PERGI!!!!," teriak Duchess Arlet.
Para prajurit yang awalnya terdiam langsung bergerak pergi setelah ndengar teriakan Duchess Arlet.
"Baik, nona," ucap para prajurit itu.
Prajurit itu lalu bergegas pergi ninggalkan Duchess Arlet. Sentara itu, wanita bertanduk dan berekor itu terlihat sedang lihat ke arah para prajurit yang bergegas pergi itu.
"Kenapa para prajurit itu pergi ?," tanya wanita itu.
"Kamu tidak perlu tahu. Kamu tidak perlu mperdulikan reka, lawanmu kali ini adalah aku," ucap Duchess Arlet sambil bersiap untuk nyerang kembali.
"Tidak perlu mpedulikan reka ? Mana mungkin aku akan lakukan hal itu. Aku harus mperdulikan reka karena.....aku tidak akan mbiarkan siapapun pergi dari pegunungan ini," ucap wanita itu.
Setelah wanita itu ngatakan hal itu, udara di sekitar tempat itu tiba-tiba njadi berat. Duchess Arlet dan para prajurit yang sedang bergegas pergi ninggalkan pegunungan itu pun terkejut dengan udara yang tiba-tiba berubah. Beberapa prajurit terlihat berlari sambil gangi dada dan leher reka karena udara yang tiba-tiba njadi berat ini mbuat reka kesulitan bernafas. Sentara itu, Duchess Arlet terlihat baik-baik saja skipun udara di tempat itu tiba-tiba njadi berat. Tetapi wajahnya terlihat cemas dan khawatir.
"Ini...tekanan aura ya. Dari tekanan aura ini, aku sangat yakin kalau wanita itu adalah makhluk yang berbahaya," pikir Duchess Arlet dengan wajah cemas.
Selain udara yang tiba-tiba njadi berat, suhu di sekitar tempat itu pun tiba-tiba berubah njadi lebih dingin dari sebelumnya.
Setelah itu, tiba-tiba di sekeliling wanita itu muncul banyak bola-bola sihir yang mirip seperti bola salju. Beberapa bola-bola sihir itu langsung ditembakkan dan lesat dengan sangat cepat ke arah para prajurit yang sedang berlari untuk pergi ninggalkan tempat itu. 6 orang prajurit yang sedang berlari terkena serangan bola-bola sihir itu tepat di kepala reka. Kepala reka pun langsung mbeku dan dalam waktu singkat kepala reka yang mbeku itu langsung hancur berkeping-keping. 6 orang prajurit yang sebelumnya sedang berlari itu pun langsung terjatuh dan tergeletak dengan kondisi tubuh yang sudah tidak miliki kepala.
Duchess Arlet dan para prajurit lainnya yang masih berlari itu pun sangat terkejut saat lihat hal itu.
"Apa-apaan serangannya itu ?!?!," pikir Duchess Arlet yang terkejut.
Sentara itu, wanita itu terlihat masih terus nembakkan bola-bola sihir yang ngelilinginya ke arah para prajurit yang sedang berlari untuk ninggalkan tempat itu.
"Aku tidak akan mbiarkan kalian semua pergi dari tempat ini setelah kalian nghancurkan semua ciptakaanku. Selain itu, kalian juga telah ngganggu waktu istirahatku. Aku akan nghabisi kalian semua," ucap wanita itu sambil terus nembakkan bola-bola sihir yang ngelilinginya.
-Bersambung
Reviews
All reviews (0)