Font Size
15px

"Tolong sembuhkan ibundaku dan bangunkan beliau dari tidur panjangnya," ucap Irene.

"nyembuhkan ibundamu ?," tanyaku.

Aku tidak terkejut setelah ndengar perkataan Irene karena sebelumnya aku sudah nebak kalau Irene akan mintaku untuk lakukan itu.

"Iya. Aku minta tolong kepadamu, Rid," ucap Irene.

Walaupun tidak terlihat dengan jelas, tetapi wajah Irene nunjukkan kalau dia benar-benar mohon kepadaku. Aku pun terdiam beberapa saat setelah ndengar perkataan Irene. Tidak lama kemudian, aku pun mulai berbicara kembali.

"Aku sudah tahu tentang apa yang dialami oleh ibundamu, Irene. Ibundamu ngalami ’Frozen Sleep’ karena diduga nggunakan teknik terlarang yang dimiliki oleh keluarga San Lucia. ’Frozen Sleep’ yang dialami oleh ibundamu mbuat jantung beliau diselimuti oleh es yang mbeku. Jantung yang mbeku itu lah yang mbuat beliau ngalami tidur panjang seperti ini. Beliau tidak akan bangun sampai es yang nyelimuti jantungnya itu nghilang," ucapku.

"Iya. Seperti yang dikatakan kak Asier kepadamu sebelumnya," ucap Irene.

"Tetapi Irene, ibundamu tidak terluka sama sekali. Masalah pada beliau saat ini hanyalah jantung beliau yang mbeku. Sihir penyembuhan yang kupunya hanya bisa nyembuhkan luka. Sihir penyembuhanku tidak bisa ncairkan atau nghilangkan es yang nyelimuti jantung ibundamu. Jadi sepertinya aku tidak bisa mbantu untuk nyembuhkan ibundamu," ucapku.

"Bukankah kamu bisa nggunakan sihir penyembuhan yang berasal dari sihir api, Rid ? Kamu nggunakan sihir penyembuhan itu ketika kamu nyembuhkan tubuh Elaina yang mbeku karena terkena seranganku. Sihir penyembuhan yang kamu lakukan itu pun berhasil ncairkan es yang mbeku di tubuh Elaina tanpa lukai atau mbakar tubuhnya dan disaat yang sama, sihir itu juga langsung nyembuhkan luka yang ada pada tubuh Elaina," ucap Irene.

"Aku mang bisa ncairkan es yang ada pada tubuh Elaina tetapi es yang kucairkan itu berada pada bagian luar tubuhnya. Aku tidak tahu apakah aku bisa ncairkan es yang berada di dalam bagian tubuh seseorang karena aku belum pernah ncobanya. Maka dari itu aku bilang kalau aku sepertinya tidak bisa mbantu untuk nyembuhkan ibundamu, Irene," ucapku.

"Jika mang kamu belum pernah ncobanya, kamu bisa ncobanya sekarang, Rid. Kamu bisa ncobanya ke ibundaku yang jantungnya sedang diselimuti es saat ini. Aku mohon kepadamu, Rid,"

"Selama ini aku sudah nahan diri. Ketika aku lihat kamu yang bisa ncairkan es yang ada pada tubuh Elaina dengan mudah dan cepat, aku berpikir kalau kamu mungkin juga bisa lakukan hal itu kepada ibundaku. Tetapi aku nahan diri untuk tidak maksamu pergi ke kediaman ayahandaku agar kamu dapat nyembuhkan ibundaku secepatnya. Aku selalu nunggu kapan waktunya kamu dapat datang ke kediaman ayahandaku ini tanpa harus aku paksa. Dan akhirnya, sekarang adalah waktu yang tepat. Kamu datang dengan sendirinya ke kediaman ayahandaku ini untuk lakukan ujian terakhir sebagai murid tahun keempat. Oleh karena itu, aku tidak akan nahan diri lagi. Tolong sembuhkanlah ibundaku, Rid. Aku akan lakukan apa saja apabila kamu bisa nyembuhkan ibundaku," ucap Irene.

Ketika Irene ngatakan itu, wajah Irene terlihat sedih. Dia seperti mohon dan berharap kepadaku. Aku pun langsung nanggapi perkataan Irene.

"Kamu tidak perlu berkata seperti itu, Irene. Daripada itu, aku tidak tahu apakah aku bisa. Tetapi baiklah, aku akan nyembuhkannya," ucapku.

Setelah aku ngatakan itu, Irene pun langsung natap wajahku. Kemudian, Irene langsung nundukkan kepalanya.

"Terima kasih, Rid," ucap Irene sambil nundukkan kepalanya.

Aku mang tidak bisa lihat wajahnya saat ini tetapi aku tahu kalau Irene sedang tersenyum dan dia pun tampak puas setelah ndengar perkataanku. Setelah itu, aku langsung berjalan ke arah samping tempat tidur dimana Duchess Arlet sedang terbaring untuk ndekatinya. Setelah sudah berada di samping tempat tidur, aku langsung ngarahkan tangan kananku ke arah dada kiri Duchess Arlet yang mana rupakan tempat jantungnya berada.

~Fire Magic : Healing Fire Blanket~

Aku ngeluarkan sebuah sihir api dari tangan kananku. Sihir api yang ku keluarkan itu pun langsung nyelimuti tubuh Duchess Arlet. Lalu, aku lihat ke arah dada kiri Duchess Arlet. Aku lihat ada aura berwarna perpaduan putih dan biru yang ada di dalam dada kiri Duchess Arlet. Aura berwarna perpaduan putih dan biru itu sepertinya adalah jantung Duchess Arlet yang telah mbeku.

Aku terus ngarahkan tangan kananku yang sedang ngeluarkan sihir api ke arah dada kiri Duchess Arlet. Disaat yang sama aku terus lihat dan mperhatikan aura berwarna perpaduan putih dan biru itu. Jika aura berwarna putih dan biru itu hilang atau berganti dengan warna yang lain, itu berarti jantung Duchess Arlet tidak mbeku lagi.

Tetapi setelah 5 nit aku terus lakukan hal itu, aku tidak lihat ada perubahan pada aura berwarna putih dan biru itu. 10 nit, 15 nit bahkan hingga 20 nit, aku tetap tidak lihat ada perubahan pada aura berwarna putih dan biru itu. Karena tidak ada perubahan, aku pun mutuskan untuk berhenti nggunakan sihir apiku. Irene terlihat sedikit terkejut ketika lihat aku yang berhenti nggunakan sihir apiku ke Duchess Arlet.

"Ada apa, Rid ? Kenapa kamu berhenti nggunakan sihirmu ? Apakah kamu sudah berhasil nyembuhkan ibundaku ?," tanya Irene.

"Tidak, aku tidak berhasil nyembuhkan ibundamu, jantung ibundamu masih mbeku seperti sebelumnya. Jika kamu tidak percaya, kamu bisa lihatnya ke arah jantung ibundamu. Kamu juga bisa lihat aura kan ? Aura pada jantung ibundamu masih berwarna perpaduan putih dan biru yang nandakan kalau jantung ibundamu masih diselimuti es. Es yang nyelimuti jantung ibundamu sangatlah kuat, bahkan aku tidak bisa ncairkan 1% pun dari keseluruhan es yang nyelimuti jantung ibundamu. Aku minta maaf Irene, sepertinya aku tidak bisa nyembuhkan ibundamu," ucapku.

Irene terlihat terkejut setelah ndengar perkataanku.

"Ini tidak mungkin, bahkan dengan sihirmu pun kamu tidak bisa nyembuhkan ibundaku ? Bagaimana dengan sihir ~Full Healing~mu ? Apakah sihir itu juga tidak bisa dipakai untuk nyembuhkan ibundaku ?," tanya Irene.

"~Full Healing~ milikku hanya nyembuhkan luka, aku rasa sihir ini tidak bisa dipakai untuk nghilangkan es yang nyelimuti jantung ibundamu. ski begitu, aku akan ncobanya," ucapku.

Aku kembali ngarahkan tangan kananku ke dada kiri Duchess Arlet.

~Full Healing~

Setelah nggunakan sihirku, aku lihat ke dada kiri Duchess Arlet untuk lihat aura pada jantungnya. Aura pada jantungnya masih miliki warna yang sama yaitu perpaduan putih dan biru. Itu berarti, sihir yang aku gunakan tidak berpengaruh pada es yang nyelimuti jantung Duchess Arlet. Setelah ngetahui kalau sihirku tidak berpengaruh, aku langsung nurunkan tanganku yang sebelumnya aku arahkan ke Duchess Arlet.

"Seperti yang aku katakan tadi, Irene. Sihir penyembuhanku tidak bisa dipakai untuk nyembuhkan ibundamu. Jantung ibundamu masih tetap diselimuti es," ucapku.

Irene pun kembali terkejut setelah ndengar perkataanku.

"Apa kamu tidak miliki sihir yang lain, Rid ? Kamu pasti punya sihir yang bisa digunakan untuk nyembuhkan ibundaku, kan ? Soalnya kamu sudah mpelajari banyak sihir dari buku-buku sihir peninggalan kedua orang tuamu. Tolong bantu aku untuk nyembuhkan ibundaku, Rid," ucap Irene.

Wajah Irene terlihat seperti sangat mohon dan berharap kepadaku. Aku tidak pernah lihat wajah Irene yang seperti ini sebelumnya. Sepertinya Irene sangat nyayangi ibundanya, karena dia terlihat sangat mohon kepadaku untuk nyembuhkan ibundanya. Selama ini pastinya dia sangat khawatir dengan ibundanya tetapi dia tidak bisa ngungkapkan perasaan khawatirnya itu kepada orang lain. Dan kini, perasaan khawatir yang sebelumnya dia tahan pun langsung keluar.

"Aku minta maaf, Irene," ucapku.

"Aku mohon, Rid. Tolong sembuhk-," ucap Irene.

"Sudah cukup, Irene," ucap suara seseorang.

Irene berniat mohon lagi kepadaku tetapi sebelum dia nyelesaikan perkataannya, perkataannya itu langsung dipotong oleh seseorang. Aku dan Irene pun langsung noleh ke arah orang yang motong perkataan Irene. Dan orang itu adalah Duke Louis yang sudah berada di depan pintu ruangan ini. Pintu ruangan ini sudah dalam kondisi terbuka tanpa aku sadari. Duke Louis tidak sendiri, terlihat ada komandan Mina yang nemaninya.

"Paman Louis," ucapku.

Duke Louis lalu berjalan masuki ruangan dan berjalan nghampiri kami berdua.

"Saya akan berjaga di depan pintu, tuan Duke," ucap komandan Mina.

"Iya," ucap Duke Louis.

Komandan Mina lalu nutup pintu ruangan ini dari luar.

"Aku tadi ncari kalian berdua di ruang jamuan, tetapi aku tidak dapat nemukan kalian berdua. Lalu aku ndapatkan informasi dari beberapa penjaga kalau kalian berdua pergi ke ruangan ini dan ternyata benar," ucap Duke Louis sambil berjalan.

Duke Louis terus berjalan sampai akhirnya dia sudah berada dekat dengan kami berdua.

"Aku tahu kalau kamu sangat nyayangi ibundamu, Irene. Tetapi kamu tidak boleh maksa Rid untuk nyembuhkan ibundamu apabila Rid sudah bilang kalau dia tidak bisa nyembuhkan ibundamu. mang Rid adalah seorang pria yang kuat dan bisa diandalkan, bahkan dia juga bisa nggunakan sihir penyembuhan. Tetapi pastinya ada hal yang tidak bisa dia lakukan, salah satunya adalah nyembuhkan ibundamu. Jadi kamu tidak boleh maksanya, Irene," ucap Duke Louis.

Irene pun terdiam setelah ndengar perkataan Duke Louis. Tidak lama kemudian, Irene pun mulai berbicara kembali.

"Baik, ayahanda. Lalu Rid, aku minta maaf karena telah maksamu," ucap Irene.

"Iya, tidak apa-apa, Irene," ucapku.

Kemudian aku lihat ke wajah Irene. Wajahnya terlihat seperti sedang bersedih. Mungkin Irene berpikir kalau aku bisa nyembuhkan ibundanya itu. Maka dari itu, begitu Irene tahu kalau sebenarnya aku tidak bisa nyembuhkan ibundanya, Irene langsung sedih karena aku tidak bisa nuhi harapannya. Sepertinya Irene ingin sekali lihat ibundanya bisa sembuh secepatnya.

"Kamu tidak perlu bersedih begitu, Irene. Aku berjanji akan segera nyembuhkan ibundamu. Aku akan ncari Roh Api untuk nyembuhkan ibundamu," ucap Duke Louis.

"Baik, ayahanda," ucap Irene dengan wajah yang terlihat sedikit murung.

Sentara itu, aku sedikit bingung dengan apa yang dikatakan oleh Duke Louis.

"Roh Api ? Kenapa Roh Api, paman ?," tanyaku.

"Itu karena Roh Api miliki sihir api yang lebih panas daripada sihir api biasa. Roh Api yang kucari adalah Roh Api tingkat nengah ke atas, itu karena sihir api yang dimiliki reka bahkan lebih panas daripada sihir api tingkat tinggi yang dimiliki oleh ras selain ras Roh. Sihir api yang dimiliki reka pastinya bisa digunakan untuk ncairkan es yang ada pada jantung Arlet," ucap Duke Louis.

"Tetapi, ski Roh Api miliki sihir api yang lebih panas, apakah reka bisa ncairkan es pada jantung nona Duchess tanpa harus lukai dan mbakar tubuh nona Duchess ?," tanyaku.

"Aku mang bilang kalau Roh Api miliki sihir api yang lebih panas daripada sihir api biasa, tetapi aku tidak akan nggunakan sihir api itu kepada Arlet apabila aku telah ndapatkan Roh Api. Aku akan minta Roh Api yang aku dapatkan untuk mbuat sebuah Magic Crystal. Magic Crystal itu akan aku hancurkan lalu Magic Crystal yang telah hancur itu akan aku larutkan dalam sebuah minuman. Lalu minuman itu akan aku minumkan ke Arlet. Minuman yang tercampur dengan Magic Crystal dari Roh Api tingkat nengah bisa digunakan untuk ncairkan es yang nyelimuti jantung Arlet tanpa harus lukai dan mbakar tubuhnya. Cara penyembuhan orang yang nderita ’Frozen Sleep’ ini sudah diwariskan selama beberapa generasi di keluarga San Lucia," ucap Duke Louis.

"Begitu ya. Jadi itu alasan kenapa anda ncari Roh Api. Magic Crystal yang dibuat oleh Roh Api bisa digunakan untuk ncairkan es yang nyelimuti jantung nona Duchess," ucapku.

"Iya, tetapi ncari Roh Api itu sangat sulit. Aku ndapatkan informasi kalau para Roh tinggal disebuah negeri yang bernama ’Geestenland’. Negeri itu berada di tengah hutan ’Himnaskogur’. Hutan ’Himnaskogur’ berada sangat jauh dari kerajaan San Fulgen. Hal itulah yang mbuat aku sulit untuk ncari Roh Api," ucap Duke Louis.

"Hmmm begitu ya," ucapku.

Setelah itu aku terdiam sambil mikirkan sesuatu.

"Agar bisa ncairkan es pada jantung nona Duchess setidaknya dibutuhkan sihir api yang lebih panas ya, setidaknya tingkat kepanasannya sama dengan sihir api yang dimiliki oleh Roh Api tingkat nengah. Aku miliki beberapa sihir api yang miliki tingkat kepanasan yang sama dengan sihir api yang dimiliki oleh Roh Api. Sebelumnya aku tidak pernah nggunakan sihir itu karena sihir itu cukup berbahaya. Tetapi sihir itu bukanlah sihir penyembuhan, lainkan sihir serangan. Jadi apabila aku nggunakan sihir itu kepada nona Duchess, pastinya tubuh nona Duchess akan terluka dan terbakar,"

"Sentara itu, sihir api penyembuhan yang aku miliki saat ini hanyalah ~Healing Fire Blanket~, tetapi tingkat kepanasan pada api ini tidak cukup untuk ncairkan es yang nyelimuti jantung nona Duchess. Ini benar-benar mbuatku bingung," pikirku.

Kemudian aku jamkan mataku selama beberapa saat dan setelah itu, aku mbuka mataku kembali.

"Kenapa aku harus bingung ? Jika aku tidak miliki sihir penyembuhan dengan tingkat kepanasan yang lebih tinggi, aku hanya perlu mbuatnya sendiri. Aku akan nggabungkan ~Healing Fire Blanket~ milikku dengan sihir apiku yang miliki tingkat kepanasan yang sama dengan sihir api milik Roh Api. Dengan ini, mungkin aku bisa ncairkan es yang nyelimuti nona Duchess," pikirku.

Setelah berhasil mikirkan itu, aku pun langsung berbicara kepada Duke Louis.

"Mungkin saat ini aku bisa ncairkan es yang nyelimuti jantung nona Duchess, paman," ucapku.

Duke Louis dan Irene langsung terkejut setelah ndengar perkataanku.

"Apa kamu yakin, Rid ? Kamu tidak perlu maksakan diri jika mang kamu belum bisa nyembuhkan Arlet," ucap Duke Louis.

"Tidak, paman. Aku tidak maksakan diri," ucapku.

"Apa kamu serius, Rid ? Kamu benar-benar bisa ncairkan es yang nyelimuti jantung ibundaku dan nyembuhkan beliau ?," tanya Irene.

Wajah Irene terlihat sangat berharap kepadaku.

"Iya, kali ini aku benar-benar yakin," ucapku.

"Begitu ya," ucap Irene.

Irene nampak tidak bisa nahan senyumannya saat ngatakan itu. Kemudian, aku kembali ndekati Duchess Arlet dan bersiap untuk nggunakan sihirku kepada beliau.

"Kalau begitu aku akan langsung mulai sekarang. Tetapi sebelum itu, paman Louis, aku minta tolong kepada anda untuk nenangkan para prajurit anda yang mungkin nanti akan datang kesini. Karena sihir yang aku gunakan ini lumayan kuat, mungkin para prajurit anda bisa rasakan sihir ini dan akan langsung bergegas ke ruangan ini untuk riksanya," ucapku.

"Baiklah. Aku akan nenangkan reka apabila reka datang kesini," ucap Duke Louis.

"Terima kasih, paman. Kalau begitu aku akan langsung mulai untuk nyembuhkan nona Duchess," ucapku.

Kemudian, aku ngarahkan kedua tanganku ke arah dada kiri Duchess Arlet.

"Tangan kanan untuk ~Healing Fire Blanket~, tangan kiri untuk ~Fla Inferno~. Dengan kedua tangan ini, aku nggabungkan kedua sihir ini njadi sebuah sihir yang baru," ucapku.

~Fire Magic : Hellfire Healing Cloak~

Aku ngeluarkan sihir api dari kedua tanganku. Sihir api yang kukeluarkan itu langsung nyelimuti tubuh Duchess Arlet. Api yang nyelimuti tubuh Duchess Arlet terlihat seperti sebuah jubah. Aku terus ngeluarkan sihir apiku itu ke arah Duchess Arlet. Disaat yang sama, aku lihat aura pada jantung milik Duchess Arlet. Aura pada jantung miliknya masih berwarna perpaduan putih dan biru. Tetapi aku lihat aura berwarna putih dan biru itu secara perlahan mulai nghilang. Begitu ngetahui kalau sihir yang kugunakan ini berhasil ncairkan es pada jantung Duchess Arlet, aku pun langsung ningkatkan kekuatan pada sihir itu.

-

Sentara itu, di depan pintu ruangan tempat Rid dan yang lainnya berada.

Komandan Mina terlihat masih berjaga di depan pintu ruangan itu. Setelah itu, tiba-tiba komandan Mina rasakan sesuatu yang mbuatnya terkejut.

"Sihir apa ini ? Aura sihir ini terasa sangat kuat," ucap komandan Mina.

Komandan Mina lalu lihat ke arah pintu ruangan tempat Rid dan yang lainnya berada.

"Sihir ini berasal dari dalam ruangan tempat nona Duchess berada," ucap komandan Mina.

Tidak hanya komandan Mina saja yang rasakan sihir itu. Para prajurit, para murid dan para pengajar yang berada di ruang murid juga rasakan sihir itu karena aura sihir itu sangat kuat.

"Sihir apa ini ?!,"

"Aura sihir ini terasa sangat kuat ?!,"

"Siapa yang nggunakan sihir sekuat ini di kediaman Duke ?!," ucap orang-orang di ruang jamuan.

Beberapa prajurit yang rasakan sihir itu pun langsung bergegas nuju sumber sihir itu berasal. reka bergegas nuju ruangan tempat Rid dan yang lainnya berada. Ketika reka sudah berada dekat dari ruangan itu, reka lihat komandan Mina yang sedang lihat ke arah pintu ruangan itu.

"Komandan Mina," ucap para prajurit itu.

"Kalian, kenapa kalian datang kesini ?," tanya komandan Mina.

"Kami rasakan sihir yang kuat yang berasal dari ruangan itu. Komandan juga rasakannya kan ?," tanya salah satu prajurit itu.

"Iya, aku juga rasakannya," ucap komandan Mina.

"Kenapa komandan tidak langsung masuk ke dalam ruangan itu ? Aku dengar tuan Duke dan putri Irene sedang berada di dalam ruangan itu, bisa saja reka sedang dalam bahaya," ucap prajurit itu.

"Kamu tidak perlu panik begitu. Kalian diam saja disini, aku akan ngeceknya sendiri," ucap komandan Mina.

"Baik, komandan," ucap prajurit itu.

Komandan Mina lalu ndekati pintu itu lalu ngetuknya.

*Tok *Tok *Tok

"Tuan Duke, apa anda baik-baik saja di dalam ?," tanya komandan Mina.

"Aku baik-baik saja, Mina. Kamu tidak perlu khawatir," ucap Duke Louis dari balik pintu itu.

"Saya dan beberapa prajurit rasakan adanya sihir yang kuat dari dalam ruangan tempat tuan Duke berada. Kami khawatir tentang itu, saat ini kami semua sudah berkumpul di depan pintu," ucap komandan Mina.

"Kamu tidak perlu khawatir, Mina. Kami semua yang ada di dalam ruangan ini baik-baik saja. Bilang kepada para prajuritmu juga untuk tidak perlu khawatir," ucap Duke Louis.

"Baik, tuan Duke," ucap komandan Mina.

Komandan Mina lalu bergerak njauh dari pintu itu secara perlahan. Kemudian dia noleh ke arah para prajuritnya.

"Tuan Duke baik-baik saja, kalian tidak perlu khawatir," ucap komandan Mina.

"Tetapi, kom-," ucap prajurit itu.

"Aku bilang kalian tidak perlu khawatir," ucap komandan Mina.

Prajurit itu terlihat masih khawatir dengan tuan Duke tetapi perkataannya langsung dipotong oleh komandan Mina.

"Baik, komandan," ucap prajurit itu.

-

Kembali ke ruangan tempat Duchess Arlet berada.

Aku terus ngeluarkan sihir apiku dan ngarahkannya ke tubuh Duchess Arlet. Aku lihat aura berwarna perpaduan putih dan biru pada jantung Duchess Arlet sudah 50% nghilang. Setelah ngetahui itu, aku secara perlahan mulai jamkan kedua mataku. Aku jamkan mataku selama beberapa detik. Setelah itu, aku secara cepat langsung mbuka kedua mataku. Alasan aku jamkan mataku sebelumnya adalah agar aku bisa fokus untuk ningkatkan kekuatan sihirku. Dan setelah mataku terbuka, aku pun rasakan kalau kekuatan sihirku bertambah lebih kuat dari sebelumnya.

Kemudian, aku kembali lihat ke arah jantung Duchess Arlet. Aura berwarna perpaduan putih dan biru pada jantung Duchess Arlet mulai nghilang lebih cepat dari sebelumnya.

"Tinggal sedikit lagi," pikirku.

Sentara itu, Irene terlihat khawatir ketika lihat tubuh ibundanya yang diselimuti api yang berasal dari sihir api milik Rid. Irene bukan khawatir karena api yang nyelimuti tubuh ibundanya bisa saja lukai ibundanya, tetapi Irene khawatir karena dia takut kalau ibundanya masih tetap tidak bisa disembuhkan. Setelah cukup lama lihat ke tubuh ibundanya yang terbaring, Irene kemudian lihat ke wajah Rid. Irene terlihat sangat terkejut ketika lihat ke arah wajah Rid.

"Mata itu.....," ucap Irene.

Sentara itu, aura berwarna perpaduan putih dan biru pada jantung Duchess Arlet sudah nghilang sebanyak 90%. Aku terus ningkatkan kekuatan sihirku agar aura itu bisa secepatnya nghilang.

92%.

94%.

96%.

98%.

100%.

Aura berwarna perpaduan putih dan biru pada jantung Duchess Arlet pun telah sepenuhnya nghilang. Itu berarti jantung Duchess Arlet tidak lagi diselimuti oleh es yang mbeku. Setelah ngetahui itu, aku pun langsung nghentikan dan nghilangkan sihir api yang ku arahkan kepada Duchess Arlet. Irene dan Duke Louis terlihat terkejut ketika lihat aku yang mulai nghilangkan sihir api yang aku gunakan.

"Kenapa kamu nghilangkan sihir apimu, Rid ? Apa kamu sudah selesai untuk nyembuhkan ibundaku ?," tanya Irene.

"Iya, aku sudah selesai," ucapku sambil jamkan mata.

Setelah ngatakan itu, aku mulai ngambil nafas panjang dan mulai nghembuskannya. Aku lakukan itu sambil jamkan mata.

"Lalu bagaimana hasilnya ?," tanya Irene.

"Kamu tidak perlu khawatir. Aku telah berhasil ncairkan es yang nyelimuti jantung ibundamu," ucapku sambil secara perlahan mbuka mataku.

Irene tidak bereaksi dengan perkataanku. Justru malah dia terlihat fokus untuk lihat wajahku.

"Mata Rid berubah kembali seperti biasa. Apa yang sebelumnya kulihat itu hanyalah sebuah ilusi ? Apa aku salah lihat ?," pikir Irene.

Aku bingung lihat Irene yang tidak bereaksi dan hanya terdiam sambil natap wajahku. Aku pun mutuskan untuk berbicara kepadanya.

"Ada apa, Irene ? Kenapa kamu terdiam ?," tanyaku.

Irene yang sedang terdiam pun mulai berbicara kembali setelah aku berbicara kepadanya.

"Tidak apa-apa, Rid," ucap Irene.

Sentara itu, disaat Rid dan Irene sedang berbicara, Duchess Arlet yang sedang terbaring di tempat tidur secara perlahan mulai mbuka matanya.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 324 : Hellfire Healing Cloak on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Mercenary’s War cover
Similar genre

Mercenary’s War

Just Like Water ·Action

GaoYangwasamilitaryenthusiast,anordinaryone,wholovedknives,guns,andadventure. Inanaccident,GaoYangfoundhimselfinAfrica,whereheunfortunatelyexperien...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.