Beberapa nit kemudian.
Kami pun akhirnya tiba di kota San Lucia. Saat kami tiba di kota San Lucia, terlihat ada cukup banyak orang yang berdiri di sisi kanan dan kiri jalan yang kereta kuda kami lalui. Orang-orang itu lambaikan tangannya ke arah kereta kuda yang kami tumpangi. Selain lambaikan tangan, orang-orang itu juga manggil nama Irene dengan sebutan ’putri Irene’.
"Selamat datang kembali, putri Irene,"
"Putri Irene!," ucap orang-orang itu.
Orang-orang itu terus manggil nama Irene sentara Irene terlihat hanya diam saja tanpa nanggapi orang-orang yang manggil namanya itu. ski begitu, Irene terlihat tidak rasa risih dengan orang-orang yang manggil namanya itu. Sentara itu, aku penasaran apakah Irene sering ngalami hal seperti ini setiap dia datang atau pergi ke kota San Lucia ini. Aku pun mutuskan bertanya kepada Irene.
"Apa kamu selalu ngalami hal seperti ini setiap kamu datang ke kota San Lucia, Irene ?," tanyaku.
"Iya. Setiap aku datang ke kota ini untuk ngantarkan proposal bantuan dana kepada ayahandaku pun aku selalu disambut oleh reka," ucap Irene.
"Nona itu sangat populer di kota San Lucia ini, Rid. Dulu, ketika aku dan Lily nemani nona untuk berkeliling kota ini, selalu ada banyak orang yang nghampiri nona untuk nyapa dan berbicara dengannya. Para pedagang yang berjualan di kota ini bahkan sering mberikan barang dagangan reka kepada nona secara gratis disaat nona sedang lihat-lihat tempat para pedagang itu," ucap Leandra yang tiba-tiba ikut dalam pembicaraanku dan Irene.
"Itu benar. Walaupun nona jarang nanggapi reka dan milih untuk mperlihatkan ekspresi yang dingin, nona tidak pernah rasa risih dengan reka yang datang nghampirinya untuk nyapa atau ngobrol dengannya. Untuk para pedagang, ski nona jarang berbicara dan nanggapi reka, nona selalu nerima barang-barang yang diberikan secara gratis oleh para pedagang itu. Makanya tuan Duke selalu heran ketika lihat kami yang mbawa banyak barang dari kota San Lucia karena barang-barang yang kami bawa adalah barang yang diberikan secara gratis oleh para pedagang itu," ucap Lily.
"Begitu ya. Jadi Irene sangat populer di kota San Lucia," ucapku.
"Yah itu wajar saja kalau Irene bisa populer di kota San Lucia. Tuan Duke San Lucia yang rupakan ayah reka rupakan sosok pemimpin yang populer dan dicintai di wilayah San Lucia, jadi tidak heran kalau anaknya pun juga populer," ucap Chloe.
"Iya, penjelasanmu itu benar, Chloe," ucapku.
Kereta kuda kami pun terus laju di jalanan kota San Lucia untuk nuju kediaman Duke San Lucia. Para warga kota San Lucia yang berada di sisi kiri dan kanan jalan masih terus manggil nama Irene. Namun di antara banyaknya suara yang manggil nama Irene, aku ndengar beberapa suara yang manggil namaku.
"Tuan Rid!,"
"Selamat datang di kota San Lucia, tuan Rid," ucap suara-suara yang kudengar itu.
"Sepertinya selain nona, kamu juga njadi orang yang populer di kota ini, Rid," ucap Leandra.
Sepertinya Leandra juga ndengar suara-suara yang manggil namaku.
"Yah itu wajar saja. Kamu saat ini adalah pacar dari nona dan hubungan kalian itu sudah diketahui oleh seluruh orang di kerajaan ini. Kalau nona populer di kota ini, tentu saja kamu sebagai pacarnya akan populer juga," ucap Leandra.
"Yah aku sendiri juga tidak terlalu mperdulikan tentang hal itu," ucapku.
-
Beberapa nit kemudian.
Kami pun telah tiba di sebuah kediaman yang sangat gah. Kediaman itu didominasi oleh warna putih dan biru. Halaman pada kediaman itu terlihat sangat luas dengan selimuti oleh hamparan salju berwarna putih. Kediaman yang sangat gah itu rupakan kediaman Duke San Lucia, yaitu Snow Palace. Setelah sampai di depan gerbang kediaman Duke San Lucia, kami pun langsung turun dari kereta kuda yang kami tumpangi. Murid-murid tahun keempat yang lain pun juga ikut turun dari kereta kuda yang reka tumpangi.
Setelah turun dari kereta kuda, kami langsung berjalan ke depan gerbang kediaman Duke San Lucia, terlihat ada banyak prajurit Duke San Lucia yang sedang njaga gerbang kediaman Duke San Lucia. Tidak hanya bagian gerbang saja, terlihat ada cukup banyak prajurit yang sedang berpatroli ngelilingi dinding bagian luar kediaman Duke San Lucia. Setelah kuingat lagi, aku juga lihat ada banyak prajurit Duke San Lucia yang sedang berpatroli dan berjaga di jalanan kota San Lucia yang kami lewati tadi. Para prajurit itu bukan hanya berasal dari ras manusia, tetapi juga ada dari ras lain seperti Demi-Human dan Elf. Sepertinya kota San Lucia saat ini sedang dalam penjagaan yang ketat. Ya, itu wajar saja karena seluruh anggota keluarga San Lucia yang kebanyakan tinggal di kota ini telah njadi target pembunuhan. Maka dari itu Duke San Lucia mutuskan untuk mperkuat penjagaan di kota San Lucia ini.
Disaat kami sedang berdiri di depan gerbang kediaman Duke San Lucia, tuan Alan dan beberapa pengajar terlihat sedang berbicara dengan para prajurit yang njaga gerbang kediaman Duke San Lucia. Tidak lama kemudian, para prajurit itu pun mbukakan gerbang kediaman Duke San Lucia dan mpersilahkan kami semua untuk masuk. Kami pun langsung masuk ke dalam wilayah kediaman Duke San Lucia setelah dipersilahkan masuk.
Kemudian, kami pun berjalan nyusuri jalan yang diselimuti salju untuk nuju bagian depan halaman kediaman Duke San Lucia. Setelah sampai di bagian depan kediaman Duke San Lucia, kami disambut oleh banyak orang di depan kediaman beliau.
"Selamat datang di Snow Palace," ucap orang-orang yang nyambut kami.
reka yang nyambut kami ada yang berpakaian seperti pelayan, prajurit Duke San Lucia dan ada juga yang berpakaian formal. reka yang nyambut kami tidak hanya berasal dari ras manusia saja, tetapi ada juga yang berasal dari ras lain seperti Demi-Human dan Elf. Aku lihat Leandra dan Lily sedang tersenyum ketika lihat ke arah orang-orang yang sedang nyambut kami. Sepertinya reka tersenyum karena ada orang tua reka di antara orang-orang yang nyambut kami.
Setelah orang-orang itu nyambut kami, Duke Louis pun langsung keluar dari dalam kediamannya bersama dengan komandan Mina untuk nyambut kami.
"Selamat datang di kediamanku, para murid San Fulgen Akademiya," ucap Duke Louis.
-
Setelah nyambut kami, Duke Louis langsung mpersilahkan kami untuk masuk ke dalam kediamannya. Saat kami sudah berada di dalam kediaman Duke Louis, Duke Louis nuntun dan mbawa kami ke sebuah pintu yang berada di dalam kediamannya. Duke Louis lalu mbuka pintu itu dan setelah itu kami langsung masuk ke dalam ruangan itu . Di ruangan itu terdapat banyak makanan dan minuman yang sudah disediakan di banyak ja.
"Kalian semua, silahkan dinikmati makanan dan minuman yang kami sediakan. Tidak perlu sungkan, kalian boleh makan sebanyak yang kalian mau," ucap Duke Louis.
Setelah ndengar perkataan Duke Louis, para murid tahun keempat yang sudah berada di ruangan itu pun langsung nyantap makanan dan minuman yang telah disediakan. Tidak hanya para murid saja, para pengajar pun juga ikut nyantap makanan dan minuman yang telah disediakan. Sentara itu, Duke Louis terlihat sedang nghampiri dan ngobrol dengan beberapa pengajar seperti tuan Alan. Setelah ngobrol dengan tuan Alan dan beberapa pengajar lainnya, Duke Louis pergi nghampiri Charles dan Chloe yang saat ini sedang berada cukup jauh dariku. Charles dan Chloe saat ini sedang berada di bagian depan ruangan ini, sedangkan aku sedang berada di bagian belakang ruangan ini. Charles dan Chloe terlihat sedang asik ngobrol dengan Duke Louis. Aku tidak tahu apa yang sedang reka bicarakan, mungkin reka sedang mbicarakan sesuatu yang bersifat pribadi. Aku rasa tidak perlu untuk mbaca pikiran reka hanya untuk tahu apa yang sedang reka bicarakan.
Kemudian, setelah lihat ke arah Charles, Chloe dan Duke Louis, aku lihat ke sekeliling ruangan ini. Lalu di bagian kanan ruangan ini, aku lihat Leandra dan Lily sedang berbicara dengan 2 orang Elf pria dan wanita serta 2 orang Demi-Human pria dan wanita. Elf pria dan Demi-Human pria terlihat ngenakan seragam prajurit Duke San Lucia, sentara Elf wanita dan Demi-Human wanita terlihat ngenakan seragam pelayan. Dilihat dari wajah reka, reka nampak masih muda. Sepertinya reka adalah orang tua dari Leandra dan Lily. Alasanku berpikir begitu karena Leandra dan Lily terlihat sangat asik ngobrol dengan reka. Sesekali aku lihat Leandra dan Lily sedang tersenyum dan tertawa ketika ngobrol dengan reka. Apalagi wajah dua orang Elf itu sedikit mirip dengan Leandra dan wajah dua orang Demi-Human itu sedikit mirip dengan Lily, jadi wajar kalau aku berpikir seperti itu.
Aku terus lihat ke arah Leandra dan Lily yang sedang berbicara dengan orang tua reka. Saat aku sedang lihat ke arah reka, aku jadi teringat dengan kenanganku dengan para warga desa Aston yang telah tewas dan kenanganku dengan ndiang kakekku. Tetapi aku tidak terlalu terhanyut dalam kenangan itu dan kembali fokus untuk lihat ke arah reka yang sedang ngobrol.
"Orang tua ya.....," ucapku dengan suara yang pelan.
Setelah aku ngatakan itu, tiba-tiba muncul sebuah ingatan baru di dalam pikiranku. Di ingatan itu, aku seperti lihat seorang pria dan wanita. Tetapi aku tidak bisa lihat keseluruhan bentuk tubuhnya dan juga wajahnya. Pria dan wanita itu terlihat seperti sebuah siluet dalam ingatanku. Aku pun sedikit terkejut dengan ingatan yang tiba-tiba muncul ini.
"Ingatan apa ini ? Sebelumnya aku tidak pernah ngingat ada kejadian seperti ini. Apa mungkin aku lupa tentang kejadian ini ? Dan juga, siapa siluet seorang pria dan wanita yang ada di ingatanku itu ?," pikirku yang masih terkejut.
Saat aku sedang mikirkan tentang ingatan itu, tiba-tiba ada seseorang yang gang tanganku. Hal itu mbuatku sedikit terkejut dan mbuatku lupakan tentang apa yang sedang aku pikirkan tadi. Setelah itu, aku langsung lihat ke arah seseorang yang sedang gang tanganku. Orang yang gang tanganku ternyata adalah Irene.
"Irene ? Ada apa, Irene ?," tanyaku.
"Apa kamu bisa ikut aku sebentar, Rid ?," tanya Irene.
"Baiklah," ucapku tanpa banyak bertanya.
Irene lalu berjalan pergi sambil gang tanganku untuk mbawaku pergi ke tempat yang dia tuju. Kami berdua pergi ke bagian belakang ruangan ini tanpa disadari oleh para murid dan pengajar yang sedang nyantap makanan yang tersedia. Irene lalu mbawaku pergi nuju sebuah pintu yang ada di bagian belakang ruangan ini. Di depan itu terdapat beberapa prajurit yang berjaga. Begitu lihat Irene yang sedang nuju pintu yang sedang reka jaga, para prajurit itu pun langsung bertanya kepada Irene.
"Putri Irene, anda mau pergi kemana ? Sesi jamuannya masih belum selesai," ucap salah satu prajurit itu.
"Aku ingin pergi ngunjungi Ibundaku. Tolong izinkan aku lewat," ucap Irene.
"Baiklah, putri Irene," ucap prajurit itu.
Para prajurit yang njaga pintu itu pun langsung mpersilahkan Irene untuk lewati pintu itu. Setelah itu, Irene terus mbawaku berjalan di lorong kediaman itu sampai akhirnya kami berdua sampai ke sebuah pintu yang sepertinya berada di tengah-tengah lorong yang baru saja kami lalui. Kemudian, Irene langsung mbuka pintu itu dan masuk ke dalam ruangan yang ada dibalik pintu itu. Aku pun juga ikut masuk ke dalam ruangan itu. Setelah masuk ke dalam ruangan itu, aku pun lihat dan mperhatikan ke sekeliling ruangan itu. Ruangan itu nampak bersih dan rapi. Kemudian, aku lihat ke arah tempat tidur yang ada di ruangan itu. Di tempat tidur tersebut, ada perempuan dewasa yang berparas cantik dan miliki rambut berwarna putih seperti salju dengan panjang rambut sebahu. Perempuan itu terlihat seperti sedang dalam keadaan tertidur. skipun aku belum bertemu dengan perempuan ini, tetapi aku langsung tahu siapa beliau. Beliau adalah ibunda dari Irene, Duchess Arlet Erald San Lucia.
Irene yang baru masuk ke dalam ruangan ini langsung berjalan nuju bagian samping tempat tidur itu. Di bagian samping tempat tidur itu terlihat ada beberapa kursi, Irene pun langsung duduk di salah satu kursi itu. Kemudian, Irene langsung gang tangan dari ibundanya itu.
"Ibunda, aku pulang," ucap Irene.
Aku bisa lihat ada raut kesedihan di wajah Irene skipun hanya sedikit.
"Irene.....," ucapku.
"Kali ini, aku datang bersama dengan seseorang, ibunda. Seseorang yang datang bersamaku ini adalah orang yang hebat. Orang ini, mungkin saja bisa nyembuhkan ibunda dan mbuat ibunda terbangun dari tidur panjang," ucap Irene.
Aku sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan Irene. Irene bilang kalau dia datang bersama adenfan seseorang yang hebat yang mungkin bisa nyembuhkan ibundanya. Orang hebat yang dimaksud oleh Irene pastinya adalah aku.
"Irene, jadi alasan kamu mbawaku kemari adalah untuk-," ucapku.
Tetapi Irene langsung motong perkataanku sebelum aku nyelesaikannya.
"Itu benar, Rid. Alasan aku mbawamu kemari adalah untuk nyembuhkan ibundaku. Aku mang belum tahu apakah kamu bisa nyembuhkan beliau atau tidak. Tetapi jika kamu bisa, aku mohon kepadamu, Rid. Tolong sembuhkan ibundaku dan bangunkan beliau dari tidur panjangnya," ucap Irene.
-Bersambung
Reviews
All reviews (0)