Font Size
15px

Minggu terakhir di bulan April 1221.

Hari keberangkatan untuk nuju wilayah San Lucia pun telah tiba. Aku saat ini sedang berada di kamarku untuk ngemas pakaian dan barang-barang yang akan aku bawa untuk pergi ke wilayah San Lucia. Disaat aku sedang ngemas barang-barangku, tiba-tiba pintu kamarku diketuk dari luar.

*Tok *Tok *Tok

Aku tahu siapa yang ngetuk pintu kamarku dari luar, jadi aku langsung berbicara dengan orang yang ngetuk pintu kamarku.

"Ada apa, Irene ?," tanyaku.

"Aku sudah ngemas barang-barang yang ada di asramaku untuk aku bawa dan aku juga sudah mbawa tas yang berisi barang bawaanku kesini. Apa kamu masih lama untuk ngemas barang-barangmu, Rid ?," tanya Irene yang berada di luar kamarku.

"Tinggal sebentar lagi," ucapku.

"Baiklah. Aku akan nunggumu disini," ucap Irene.

"Oke," ucapku.

Aku lalu lanjutkan untuk ngemas barang-barangku. Setelah itu, aku langsung pergi keluar dari kamarku.

"Aku sudah selesai ngemas barang-barangku. Ayo kita pergi ke gerbang akademi, Irene," ucapku.

"Iya," ucap Irene.

Lalu aku dan Irene pun pergi keluar dari asramaku. Setelah kami berdua sudah keluar dari asramaku, kami lihat Charles dan Chloe yang secara kebetulan juga baru keluar dari asrama reka masing-masing.

"Charles, Chloe, kalian berdua sudah selesai ngemas barang-barang kalian ?," tanyaku.

"Iya, aku sudah ngemas barang-barangku," ucap Charles.

"Aku juga," ucap Chloe.

"Begitu ya. Kami berdua juga sudah ngemas barang-barang kami. Apa kalian berdua mau langsung pergi ke gerbang akademi ? Kalau iya, ayo kita bareng," ucapku.

"Iya, aku dan Chloe mang berniat ingin langsung pergi ke gerbang akademi begitu kita sudah selesai ngemas barang bawaan kita masing-masing. Kalau begitu, ayo kita bareng, Rid," ucap Charles.

"Iya," ucapku.

Kemudian, aku, Charles, Chloe dan Irene pun langsung pergi ninggalkan gedung asrama untuk nuju gerbang akademi.

Lalu, kami pun akhirnya sampai di gerbang akademi. Terlihat sudah banyak murid dengan barang bawaan reka masing-masing yang sudah nuhi gerbang akademi. Para murid yang nuhi gerbang akademi itu terdiri dari murid tahun pertama hingga murid tahun keempat seperti kami. Setelah sampai di gerbang akademi, kami langsung ncari teman-teman kami yang mungkin sudah datang ke gerbang akademi. Saat kami berempat sedang ncari teman kami, aku ndengar ada beberapa murid yang bersorak dan mberikan semangat kepadaku.

"Senior Rid, semangat untuk njalankan ujiannya,"

"Semangat, senior Rid," ucap para murid yang rupakan murid perempuan.

Dilihat dari lencana yang reka pakai dan cara reka manggilku dengan sebutan ’senior’, sepertinya reka adalah para murid juniorku. Terlihat ada cukup banyak murid perempuan yang nyemangatiku saat aku sedang berjalan di kerumunan murid-murid yang sedang berkumpul di gerbang akademi. Ini bukan pertama kalinya aku ngalami ini karena aku pun sering disapa atau diajak bicara oleh banyak murid perempuan sejak aku masih njadi murid tahun kedua. Kebanyakan yang nyapa dan ngajakku bicara adalah murid perempuan dan murid itu rupakan murid juniorku. Sepertinya popularitasku di akademi ini lebih tinggi dari yang aku kira karena aku selalu disapa dan diajak bicara oleh murid-murid di akademi ini. Tidak hanya di akademi ini saja, bahkan popuralitasku di kerajaan ini pun juga lebih tinggi dari yang aku duga karena para murid baru yang baru njadi murid di akademi ini pun langsung ngenali aku. Ini semua karena namaku dan fotoku sering dimuat dalam surat kabar yang diterbitkan oleh Diganta, karena itulah popuralitasku lebih tinggi dari yang aku kira.

Sentara itu, Charles yang nyadari kalau ada banyak orang yang nyapa dan nyemangatiku pun langsung berbicara denganku.

"Seperti biasanya, setiap kamu berjalan kamu selalu narik perhatian banyak murid lain yang ada di sekitar, Rid. Yah apa boleh buat, lagipula kamu adalah orang paling populer di akademi ini, tidak, bahkan di kerajaan ini. Bahkan kepopuleranmu itu lebihiku dan Chloe yang rupakan pangeran dan putri di kerajaan ini. Jadi wajar saja kalau kamu narik perhatian banyak orang," ucap Charles.

"Apa kamu iri karena kepopuleranku lebih tinggi darimu, Charles ?," tanyaku.

"Tidak, aku tidak iri dengan hal semacam itu," ucap Charles.

"Iya, kamu tenang saja. Lagipula kamu masih tetap populer seperti biasanya," ucapku.

Aku ngatakan itu karena aku ndengar ada beberapa murid yang nyapa dan nyemangati Charles. Charles pun juga ndengar hal itu dan dia langsung lambaikan tangan kepada murid yang nyapa dan nyemangatinya.

"Tadi, aku bilang kalau aku tidak iri karena aku tidak peduli dengan hal seperti popularitas, Rid," ucap Charles.

"Begitu juga denganku. Ya sudah, lebih baik kita sekarang lanjut untuk ncari Noa dan yang lainnya," ucapku.

"Iya," ucap Charles.

Lalu kami lanjutkan berjalan untuk ncari Noa dan yang lainnya dikerumunan murid-murid yang ada di gerbang akademi. Tidak lama kemudian, kami pun nemukan Noa, Kotaro dan yang lainnya yang sedang berada di dekat sebuah kereta kuda yang terparkir di jalanan gerbang akademi.

"Jadi kamu sudah ada disini ya, Noa," ucapku.

"Iya, mungkin sejak 10 nit yang lalu. Apa kamu tadi ndatangi asramaku untuk manggilku, Rid ?," tanya Noa.

"Tidak, karena aku yakin kamu dan yang lainnya sudah ada disini," ucapku.

"Begitu ya," ucap Noa.

Lalu kami semua pun berkumpul di tempat itu sambil nunggu waktu keberangkatan nuju wilayah San Lucia.

-

20 nit kemudian.

Kami pun bersiap-siap karena sebentar lagi kami akan mulai berangkat nuju wilayah San Lucia. Kami riksa kembali barang-barang yang kami bawa agar tidak ada barang yang lupa kami bawa. Setelah itu, kami pun langsung naik ke kereta kuda yang sudah tercantum nama-nama murid yang akan naiki kereta kuda itu. Aku berada di kereta kuda yang sama dengan Irene, Charles, Chloe, Noa, Leandra dan Lily. Para murid yang lain mulai dari murid tahun pertama sampai tahun keempat pun juga mulai naiki kereta kuda yang tersedia di depan gerbang akademi. Beberapa nit kemudian, semua murid akademi pun telah naiki kereta kuda yang tersedia dan kereta kuda itu pun mulai bergerak nuju tujuannya masing-masing.

-

Kereta kuda yang kami tumpangi pun terus laju. Mulai dari jalanan ibukota San Estella, gerbang ibukota San Estella dan sekarang kereta kuda yang kami tumpangi sedang laju di jalanan yang nghubungkan ibukota San Estella dengan kota San Lucia.

"Aku tidak sabar untuk bertemu kembali dengan orang tuaku. Senjak aku njadi murid di akademi, aku tidak pernah bertemu dengan reka lagi karena murid akademi tidak boleh ninggalkan wilayah akademi kecuali murid akademi yang miliki kepentingan," ucap Leandra.

"Iya, aku juga, Lea. Aku juga tidak sabar untuk bertemu dengan orang tuaku," ucap Lily.

"Orang tua kalian itu bekerja untuk tuan Duke San Lucia kan, Leandra, Lily ?," tanya Chloe.

"Iya, itu benar. Orang tua kami bekerja sebagai pekerja, dan bukan sebagai budak skipun pada awalnya kami dibeli sebagai budak. Tidak hanya orang tua kami saja, orang-orang dari ras selain ras Manusia yang bekerja di kediaman tuan Duke juga berkerja sebagai pekerja dan reka semua ndapatkan upah dari tuan Duke," ucap Leandra.

Lily pun ngangguk setuju.

"mang tuan Duke San Lucia adalah orang yang sangat baik dan beliau juga nginginkan kesetaraan dengan ras lain. Karena tindakan beliau yang mpekerjakan ras lain selain ras Manusia dan mberikan reka upah, Ibunda kami jadi terinspirasi dengan tindakan yang dilakukan tuan Duke San Lucia. Keputusan Ibunda kami dalam nghapuskan sistem perbudakan di kerajaan ini dan nggantinya dengan sistem pekerja bagi ras manusia ataupun ras yang bukan manusia adalah berkat inspirasi yang beliau dapatkan ketika lihat tindakan tuan Duke San Lucia," ucap Charles.

"Iya, beliau mang sangat baik. Putri beliau pun juga sangat baik," ucap Leandra sambil lihat ke arah Irene.

Irene juga lihat ke arah Leandra tetapi Irene tidak ngatakan apa-apa kepada Leandra.

-

1 jam kemudian.

Kereta kuda yang kami tumpangi masih laju di jalan penghubung antara ibukota San Estella dengan kota San Lucia. Saat kereta kuda masih laju, tiba-tiba Charles, Chloe dan yang lainnya seperti rasakan sesuatu.

"Suhu dan udaranya mulai njadi dingin, sepertinya kita sudah mulai masuki bagian tengah wilayah San Lucia. Bagi kalian yang tidak tahan dengan suhu dingin ini, segera pakai jaket atau pakaian tebal yang kalian bawa karena saat di bagian tengah wilayah San Lucia nanti, tepatnya di kota San Lucia, udaranya akan lebih dingin dari ini," ucap Charles.

Charles pun langsung makai jaket yang dia bawa. Selain jaket, dia juga makai sarung tangan di kedua tangannya. Chloe, Noa, Leandra dan Lily pun juga makai jaket dan sarung tangan seperti Charles. Hanya Irene saja yang tidak terlihat makai jaket dan sarung tangan.

Setelah itu, Chloe yang sudah selesai makai jaket dan sarung tangan pun rasa bingung dengan Leandra dan Lily yang juga makai jaket dan sarung tangan.

"Leandra, Lily, kenapa kalian juga ikut makai jaket dan sarung tangan ? Bukankah kalian sebelumnya pernah tinggal di kediaman tuan Duke San Lucia yang berada di kota San Lucia sebelum kalian njadi murid akademi ?," tanya Chloe.

"mang kami berdua sebelumnya pernah tinggal di kediaman tuan Duke. Tetapi, skipun kami pernah tinggal di kediaman tuan Duke sebelum njadi murid akademi untuk nemani nona, kami masih belum terbiasa dengan suhu dingin ini. Benarkan, Lily ?," tanya Leandra.

"Itu benar, kami masih belum terbiasa dengan suhu dingin ini. Maka dari itu kami selalu ngenakan jaket atau pakaian tebal saat bekerja dan saat tinggal di kediaman Duke. Para pekerja yang lain yang belum terbiasa dengan suhu dingin di wilayah San Lucia pun juga ngenakan jaket dan pakaian tebal. Untungnya tuan Duke tidak mpermasalahkan kami semua yang ngenakan jaket atau pakaian tebal ketika sedang bekerja," ucap Lily.

"Iya, itu benar," ucap Leandra.

"Begitu ya. Aku pikir kalian sudah terbiasa dengan suhu dingin di wilayah San Lucia, makanya aku bingung kenapa kalian juga ikut makai jaket dan sarung tangan, aku minta maaf," ucap Chloe.

"Tidak perlu minta maaf, putri Chloe. Lagipula wajar kalau putri Chloe berkata seperti itu karena putri Chloe belum tahu," ucap Leandra.

"Itu benar. Selain itu, tidak hanya kami saja yang belum terbiasa dengan suhu dingin di wilayah San Lucia, banyak para penduduk asli di wilayah San Lucia yang juga belum terbiasa dengan suhu dingin ini. Hanya ada sedikit orang yang sudah terbiasa dengan suhu dingin ini dan kebanyakan dari orang itu adalah anggota keluarga San Lucia. Contohnya seperti nona, dia tidak makai jaket ataupun sarung tangan karena dia sudah terbiasa dengan suhu dingin ini. Mungkin ’terbiasa’ bukanlah kata yang tepat, lebih tepatnya nona miliki ketahanan terhadap suhu dingin ini. Itu karena seluruh anggota keluarga San Lucia, tepatnya seluruh anggota ’asli’ keluarga San Lucia miliki ketahanan terhadap suhu atau udara dingin," ucap Lily.

"Iya, aku sudah tahu tentang kemampuan keluarga San Lucia yang miliki ketahanan terhadap suhu dingin. Kalau begitu, apa kamu juga rupakan anggota ’asli’ keluarga San Lucia, Rid ?," ucap Chloe yang tiba-tiba bertanya kepadaku.

Aku tahu alasan kenapa Chloe bertanya seperti itu kepadaku. Itu karena saat ini aku tidak makai jaket dan sarung tangan skipun suhu dan udara di tempat ini mulai dingin.

"Tidak, aku bukan anggota ’asli’ keluarga San Lucia karena rambutku tidak berwarna putih. Seluruh anggota ’asli’ keluarga San Lucia itu miliki rambut berwarna putih seperti salju, Chloe," ucapku.

"Iya, kamu benar juga. Tetapi kenapa kamu tidak makai jaket dan sarung tangan, Rid ? Apa kamu tidak rasakan kalau suhu di tempat ini mulai berubah njadi dingin ?," tanya Chloe.

"Aku tidak rasakan dingin sedikitpun. Bisa dibilang, tubuhku juga miliki ketahanan terhadap suhu dingin skipun mungkin tidak sebagus ketahanan yang dimiliki anggota ’asli’ keluarga San Lucia. Kalian tidak perlu khawatir kepadaku, kalau aku sudah rasa dingin, aku akan langsung makai jaket dan sarung tangan yang sudah aku bawa untuk berjaga-jaga," ucapku.

"Hmmm ya sudah kalau begitu, Rid," ucap Chloe.

Kemudian, kami lanjutkan untuk ngobrol di dalam kereta kuda yang kami tumpangi, sentara kereta kuda yang kami tumpangi terus laju.

-

2 jam kemudian.

Kereta kuda yang kami tumpangi masih terus laju di jalan penghubung antara ibukota San Estella dengan kota San Lucia. Lalu tidak lama kemudian, kami lihat ada sebuah kota besar yang berada di depan kereta kuda kami dengan jarak sekitar kurang lebih 1 kiloter. Kota itu diselimuti oleh salju yang cukup banyak, bahkan salju terlihat numpuk di atas atap tiap bangunan yang ada di kota itu. Kota yang diselimuti salju itu rupakan kota yang njadi tujuan kami, yaitu kota San Lucia.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 322 : Menuju Kota San Lucia on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Sword God Reborn cover
Similar genre

Sword God Reborn

InkQuillWrites ·Action

Reincarnationistiresome.Thistime,IwillsurelyattaintheUltimateoftheSwordandfindeternalrest.“SwordGodReborn”Throughcountlessreincarnations,Ilivedagai...

On the Path to the Great Dao cover
Similar genre

On the Path to the Great Dao

Pig Nerd ·Action

【Fromtheauthorof''!】Mygrandfatherisverypeculiar.Everyday,helightsincenseforhimselfandeatscandlesinfrontofhisownancestraltablet.Thevillagersareallte...

Data-Driven Daoist cover
Trending now

Data-Driven Daoist

CatVI ·Action

Theycalledhimtrash—untilhestartedtreatingtheDaolikeaDataset.Whendemonsslaughterhisnewfamily,computerscientistJohan—nowrebornasYuHan—survivesbypurew...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.