Font Size
15px

Keesokan paginya, di tempat latihan tahun kedua.

Kami seperti biasanya lakukan latihan pagi di tempat itu. Kami semua kecuali Chloe dan Charles sudah datang dan lakukan latihan di tempat itu. ski tidak ada Charles dan Chloe yang ikut latihan, reka terlihat tetap fokus dalam lakukan latihan. Aku takjub lihat reka yang tetap fokus dalam latihan skipun aku tahu kalau sebenarnya reka masih ngkhawatirkan Charles dan Chloe.

Saat yang lainnya sedang latihan, Irene pun nghampiriku.

"Apa semalam kamu berhasil nemui Chloe dan pangeran Charles, Rid ?," tanya Irene.

"Iya, aku berhasil nemui reka dan berbincang langsung dengan reka berdua. Aku juga mberikan reka sebuah saran kata-kata penghibur skipun sebelumnya aku belum pernah nghibur orang lain. Aku harap saran dan kata-kata yang aku ucapkan kepada reka dapat mbuat suasana hati reka njadi lebih tenang," ucapku.

"Aku yakin sebentar lagi suasana hati reka akan tenang, skipun untuk hari ini sepertinya belum karena reka berdua masih tidak ikut latihan," ucap Irene.

"Tidak, aku yakin reka akan datang untuk latihan hari ini. reka sepertinya terlambat karena reka harus bersiap-siap terlebih dahulu," ucapku.

"Kenapa kamu yakin kalau reka akan datang, Rid ? Apa semalam reka bilang kepadamu kalau reka akan datang untuk latihan ?," tanya Irene.

"Tidak, hanya intuisiku saja," ucapku.

Irene nampak bingung dengan apa yang aku katakan. Setelah itu, kami berdua pun kembali latihan. Beberapa nit kemudian, disaat kami masih sedang latihan, tiba-tiba terdengar suara pria dari arah lorong masuk nuju tempat latihan.

"Kelihatannya kalian sedang asik latihan, apa boleh kami berdua ikut bergabung dengan kalian ?," tanya pria tersebut.

Kami semua yang ndengar hal itu pun langsung noleh ke arah lorong masuk. Di lorong masuk, terlihat Charles dan Chloe yang sedang berdiri sambil gang senjata milik reka masing-masing. Noa dan yang lainnya pun terkejut setelah lihat Charles dan Chloe.

"Charles!, Chloe!," ucap Noa dan yang lainnya.

reka pun langsung bergegas nghampiri Charles dan Chloe. Sentara aku dan Irene hanya berjalan santai untuk nghampiri reka.

"Aku pikir tadi itu suara siapa, ternyata itu adalah kamu, Charles. Pantas saja suaranya terdengar familiar," ucap Noa.

"Apa kalian berdua sudah tidak apa-apa ?," tanya Julie.

"Iya, kami berdua sudah tidak apa-apa. Maaf telah mbuat kalian semua khawatir," ucap Chloe.

"Baguslah kalau kalian berdua sudah tidak apa-apa," ucap Lillian.

"Karena kamu sudah kembali latihan lagi, ayo kita latih tanding, Charles," ucap Noa.

"Baiklah, ayo kita latih tanding, Noa," ucap Charles.

Sentara itu, Irene terlihat nghampiri Chloe.

"Kamu sudah tidak apa-apa, Chloe ?," tanya Irene.

"Iya, aku sudah tidak apa-apa. Maaf karena sudah mbuatmu khawatir ?," tanya Chloe.

"Tidak perlu minta maaf," ucap Irene.

"Baiklah. Daripada itu, Aku kemarin tidak datang untuk latihan, mungkin saat ini aku sudah ngalami penurunan. Oleh karena itu, maukah kamu berlatih denganku, Irene ?," ucap Chloe.

"Baiklah," ucap Irene.

Disaat Charles dan Chloe sedang ngobrol dengan Noa dan Irene, aku pun lihat ke arah reka. Aku lalu teringat dengan pembicaraan antara aku dan reka berdua di danau akademi.

-

~Flashback~

"Bagaimana dengan alasan yang aku berikan ? Apakah alasan itu sudah cukup kuat untuk nguatkan pikiran kalian agar kalian tidak mpercayai kalau ayah kalian mungkin tidak terlibat dalam rencana pembunuhan itu ?," tanyaku.

"Aku tidak nyangka kalau kamu bisa kepikiran alasan seperti itu, bahkan aku saja tidak terpikirkan sama sekali," ucap Charles.

"Iya, aku juga tidak terpikirkan tentang itu," ucap Chloe.

"Jadi bagaimana tentang alasan yang aku berikan ?," tanyaku.

"Alasan ini sepertinya cukup kuat, tidak, bahkan sangat kuat agar bisa nguatkan pikiran kami berdua," ucap Charles.

"Iya, aku juga berpikir kalau alasan ini bisa dipakai untuk nguatkan pikiran kami. Terima kasih atas alasan yang kamu berikan, Rid," ucap Chloe.

"Sama-sama, Chloe," ucapku.

"Jika pikiran kami sudah njadi lebih tenang, mungkin kami besok sudah bisa untuk berkumpul lagi dengan kalian. Mungkin juga kami sudah bisa ngikuti latihan pagi kembali," ucap Charles.

"Tidak perlu dipaksakan untuk ikut latihan pagi besok apabila pikiran kalian belum tenang. Jika kalian masih ingin nenangkan pikiran lagi, lakukan saja. Namun jangan terlalu lama untuk nenangkan pikiran kalian, teman-teman yang lainnya nanti akan sangat khawatir dengan kalian," ucapku.

"Baiklah, Rid," ucap Charles.

"Lalu, jika pikiran kalian sudah tenang dan kalian sudah bisa berkumpul lagi dengan yang lainnya, jangan beritahu kepada reka bahwa aku lah yang mbantu kalian berdua untuk nenangkan pikiran. Bilang saja kepada reka kalau kalian nenangkan pikiran kalian dengan cara kalian sendiri," ucapku.

"Baiklah, Rid. Tapi kenapa kamu tidak ingin kami mberitahu reka, Rid ? Apa alasannya ?," tanya Charles.

"Tidak ada alasan khusus. Aku hanya tidak ingin reka ngetahuinya saja," ucapku.

"Baiklah, Rid. Ngomong-ngomong, aku lupa untuk ngucapkan selamat kepadamu, Rid. Selamat karena telah njadi ketua Elevrad yang baru, Rid," ucap Charles.

"Selamat, Rid," ucap Chloe.

"Jadi kalian sudah ngetahuinya ya ?," tanyaku.

"skipun sepanjang hari ini kami tidak berbincang dan berkumpul dengan kalian, kami ngetahuinya dari ndengar obrolan pada murid di kelas. Saat jam pelajaran siang di kelas tadi, murid-murid yang lain sangat heboh mbahas kalau kamu telah njadi ketua Elevrad yang baru. Maka dari itu kami berdua bisa tahu tentang itu," ucap Charles.

"Masuk akal jika kalian bisa ngetahuinya karena hal itu. Terima kasih atas ucapan selamatnya," ucapku.

"Iya. Jadi untuk ke depannya, mohon bantuannya ya, ketua," ucap Charles.

"Jangan manggilku ketua saat kita sedang tidak njalankan tugas Elevrad," ucapku.

~Flashback berakhir~

-

Charles dan Noa pun mulai berjalan nuju area tengah tempat latihan untuk berlatih tanding, Chloe dan Irene pun juga sama. Saat Charles sedang berjalan nuju area tengah, Charles pun lewatiku. Ketika lewatiku, Charles pun berbicara dengan suara yang pelan.

"Terima kasih atas bantuan sebelumnya, ketua," ucap Charles.

"Sudah aku bilang jangan manggilku ketua saat kita sedang tidak njalankan tugas Elevrad," ucapku.

-

Pukul 7.30 pagi.

Charles dan Chloe pun tiba di kelas bersama dengan yang lainnya. Sama seperti saat di tempat latihan, Charles dan Chloe sudah mulai kembali seperti biasanya.

-

Pukul 12 siang.

Saat aku dan yang lainnya hendak pergi nuju kantin untuk makan siang, aku lihat nona Karina di pintu masuk nuju gedung tengah. Nona Karina terlihat seperti sedang nunggu seseorang di pintu masuk itu. Nona Karina sepertinya nyadari keberadaanku yang sudah berada dekat dengannya, nona Karina pun lalu noleh ke arahku. Ketika aku mau lewati nona Karina yang berada di pintu masuk gedung tengah, aku pun mutuskan untuk nyapa nona Karina terlebih dahulu.

"Selamat siang, nona. Kelihatannya nona sedang nunggu seseorang, siapa orang yang sedang nona tunggu ?," tanyaku.

"Kamu," ucap nona Karina.

"Aku ?," tanyaku yang sedikit terkejut.

"Iya," ucap nona Karina.

"mang benar nona Karina sedang nunggu seseorang tetapi aku tidak nyangka kalau orang yang ditunggu nona Karina adalah aku," pikirku.

"mangnya ada apa, nona ? Apa nona ada perlu denganku ?," tanyaku.

"Iya. Tetapi tenang saja, aku tidak akan lama karena kamu dan teman-temanmu sepertinya ingin segera makan siang,"

"Aku nunggumu karena aku hanya ingin mberikanmu ini," ucap nona Karina sambil mberikan sebuah benda kepadaku.

Aku lalu lihat benda yang diberikan oleh nona Karina, ternyata benda itu adalah sebuah kristal komunikasi.

"Kristal komunikasi ?," tanyaku.

"Iya, kristal komunikasi itu aku berikan kepadamu agar aku dapat nghubungimu dengan mudah. Lagipula sekarang kamu sudah njadi ketua Elevrad yang baru. Pastinya nanti aku akan selalu ada perlu denganmu," ucap nona Karina.

"Nona Karina benar juga. Kalau begitu terima kasih karena telah mberikan kristal komunikasi ini, nona," ucapku.

"Iya, sama-sama, Rid. Kalau begitu aku pergi dulu, aku juga ingin istirahat," ucap nona Karina.

"Baik, nona," ucapku.

Nona Karina lalu pergi ninggalkan pintu masuk gedung tengah, sentara kami masuki pintu masuk gedung tengah untuk nuju kantin.

-

Malam harinya, pukul 7 malam.

Setelah aku dan Irene baru saja selesai makan malam di asramaku, terdengar suara ketukan dari depan pintu asramaku.

"Sepertinya kamu kedatangan tamu, Rid," ucap Irene.

"Sepertinya begitu. Biar aku saja yang ngecek tamu tersebut, kamu tetap disini saja, Irene," ucapku.

"Baiklah," ucap Irene.

Aku lalu lihat ke arah pintu itu untuk rasakan aura orang yang ngetuk pintu itu. Aura dari orang yang ngetuk pintu asramaku rupakan aura dari orang yang aku kenal. Karena orang itu adalah orang yang aku kenal dan bukanlah orang yang ncurigakan, aku pun langsung nuju pintu asramaku lalu mbukanya. Setelah aku mbuka pintu asramaku, aku lihat senior Nadine yang sedang berdiri di depan pintu asramaku.

"Selamat malam, Rid," ucap senior Nadine.

"Selamat malam, senior Nadine. Ada perlu apa datang ke asramaku ?," tanyaku.

"Aku hanya ingin nyampaikan pesan dari tuan Duke kalau beliau sudah ngirimkan hadiah berupa barang kebutuhan pokok ke desa Aston, desa tempatmu berasal," ucap senior Nadine.

"Barang-barangnya sudah dikirim ? Padahal beliau bilang kalau pengiriman paling lambatnya itu seminggu, namun dalam 2 hari sejak beliau bilang ingin ngirimkan barang itu, beliau langsung ngirimkannya," ucapku.

"Beliau bilang kalau beliau tidak ingin lama-lama dalam ngirimkan barang itu. Apalagi barang itu rupakan hadiah yang kamu minta saat beliau nawarkan hadiah karena telah nyelamatkan keluarga San Lucia. Maka dari itu beliau dengan cepat langsung ngirimkan barang-barang itu begitu barang-barang itu sudah tersedia," ucap senior Nadine.

"Begitu ya. Tolong sampaikan terima kasihku kepada paman Louis, senior Nadine. Sampaikan kepada beliau kalau aku berterima kasih karena beliau telah ngirimkan barang-barang kebutuhan pokok ke desa tempatku berasal," ucapku.

"Baiklah, aku akan sampaikan ke beliau. Kalau begitu aku pergi dulu, Rid, karena hanya itu saja yang ingin aku sampaikan. Selamat malam, Rid," ucap senior Nadine.

"Iya, selamat malam juga, senior Nadine," ucapku.

Senior Nadine lalu pergi berjalan ninggalkan asramaku dan nuju tangga untuk turun ke bawah.

-

Seminggu kemudian.

njelang pergantian tahun, suasana dan situasi di akademi masih tetap damai seperti biasanya. Tidak ada penyerangan ataupun sesuatu yang ncurigakan yang terjadi. Itu semua berkat nona Violetta dan para prajuritnya yang njaga akademi. Sejak adanya nona Violetta dan tambahan prajurit yang njaga akademi, tidak ada penyerangan ataupun sesuatu ncurigakan yang terjadi di akademi. Para murid pun bisa terus fokus untuk belajar dan berlatih di akademi.

-

Sentara itu, pada malam hari di gedung penjara San Sabaneta.

Di depan gedung penjara San Sabaneta, terlihat ada 3 orang yang sedang berjalan perlahan ndekati gedung penjara San Sabaneta. Ketiga orang itu rupakan orang-orang yang familiar, karena ketiga orang itu adalah Raja Albert, Duchess Claret dan juga Duchess Harriet. reka bertiga terlihat ngenakan kacamata di mata reka, serta reka juga mbawa senjata milik reka masing-masing. Dilihat dari situasinya, sepertinya reka berniat untuk nyerang penjara San Sabaneta.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 304 : Pesan Dari Duke Louis on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.