Font Size
15px

"Sepertinya ada seseorang yang seharusnya tidak berada di ruangan ini," ucap pria itu.

Komandan Asier, komandan Ivana dan komandan Keira juga lihat ke arah yang pria itu lihat, yaitu ke arah nona Violetta.

"Maaf tuan, apa yang anda maksud itu adalah saya ?," tanya nona Violetta.

"Itu benar, mangnya siapa lagi ? Aku sudah ngenal orang-orang yang ada disini, kecuali kamu. reka yang ada di ruangan ini adalah para komandan prajurit seperti diriku. Makanya tadi aku berkata kalau ada seseorang yang seharusnya tidak berada di ruangan ini. Kamu itu siapa ?," tanya pria itu.

Setelah ndengar perkataan pria itu, nona Violetta pun langsung berdiri dari kursinya.

"Ah, maaf soal itu, tuan. Saya minta maaf juga, nona Keira, nona Ivana, karena saya belum mperkenalkan diri kepada kalian. Izinkan saya mperkenalkan diri terlebih dahulu, nama saya adalah Violetta. Saya adalah komandan prajurit baru yang ditunjuk langsung oleh Yang Mulia Ratu. Berbeda dengan kalian semua yang rupakan komandan prajurit yang njaga suatu wilayah di kerajaan San Fulgen, saya hanyalah komandan prajurit yang bertugas untuk njaga wilayah San Fulgen Akademiya," ucap nona Violetta.

"Kamu tidak perlu minta maaf kepada kami berdua. Aku sebelumnya berpikir kalau kamu mungkin tidak bisa mperkenalkan diri kepada kami karena kami adalah orang yang baru kamu temui. Sebagian orang biasanya seperti itu, reka tidak bisa langsung mperkenalkan diri dengan orang yang baru reka temui," ucap komandan Ivana.

"Saya bukan orang yang seperti itu, nona. Saya hanya nunggu waktu yang tepat untuk mperkenalkan diri yaitu saat semua komandan prajurit sudah berkumpul. Jadi ketika tuan Allister yang rupakan komandan terakhir datang ke ruangan ini, baru saya akan mperkenalkan diri," ucap nona Violetta.

"Begitu ya. Ngomong-ngomong, kamu sudah tahu tentang kami semua ya, bahkan kamu juga ngetahui nama kami," ucap komandan Ivana.

"Iya, nona. Saya sudah ngetahui tentang para komandan prajurit kerajaan San Fulgen. Pertama, Asier Erald San Lucia yang rupakan komandan prajurit ’Frost Wolf’, saya sudah ngenalnya sebelum dia njadi komandan prajurit. Kedua, nona Keira Rauch yang rupakan komandan prajurit ’Silver Peacock’. Ketiga, anda adalah nona Ivana Shirayuki Erald yang rupakan komandan prajurit ’Snow Owl’. Lalu terakhir, tuan Allister Laryea yang rupakan komandan prajurit ’Strom Leopard’," ucap nona Violetta.

Nona Violetta saat ini sedang lihat ke arah pria yang baru datang itu. Pria itu ternyata adalah Allister Laryea yang rupakan komandan prajurit ’Strom Leopard’ yang njaga dan ngawasi wilayah San Lucia. Setelah ndengar perkataan nona Violetta, komandan Ivana pun bertepuk tangan.

"Penjelasanmu benar, kamu mang sudah ngetahui tentang kami semua. Karena kamu sudah ngetahui tentang kami, sepertinya kami tidak perlu mperkenalkan diri lagi. Salam kenal ya, Violetta," ucap komandan Ivana.

"Iya, salam kenal juga, nona Ivana," ucap nona Violetta.

"Ngomong-ngomong, Violetta, apa namamu hanyalah Violetta saja ? Apa kamu tidak miliki nama keluarga ?," tanya komandan Ivana.

"Sebelumnya saya miliki nama keluarga, nona, tetapi ada suatu masalah di keluarga saya yang tidak bisa saya beritahu. Untuk saat ini, nama saya hanyalah Violetta," ucap nona Violetta.

"Begitu ya. Ya sudah, kamu silahkan duduk kembali," ucap komandan Ivana.

"Baik, nona," ucap nona Violetta.

"Kamu juga, tuan Allister. Silahkan duduk," ucap komandan Ivana.

Namun, komandan Allister terlihat masih tetap berdiri di tempatnya saat ini. Dia tidak langkahkan kakinya untuk pergi duduk di kursi yang telah disediakan.

"Aku mang sudah ndengar kalau ada komandan prajurit baru yang ditunjuk oleh Yang Mulia Ratu. Tetapi komandan prajurit yang baru itu hanya ditugaskan untuk njaga wilayah akademi saja. Tanggung jawabnya tidak sebesar kita yang njaga suatu wilayah di kerajaan ini. Maka dari itu tadi aku bilang kalau ada seseorang yang seharusnya tidak berada di ruangan ini. Itu karena aku tidak ngakuimu sebagai komandan yang baru. Seseorang yang ditugaskan untuk njaga wilayah kecil seperti akademi bukanlah seorang komandan prajurit," ucap komandan Allister sambil lihat ke arah nona Violetta.

Nona Violetta hanya diam saja ndengar perkataan komandan Allister.

"Tolong jangan mbuat keributan, tuan Allister. Violetta sudah secara sah njadi salah satu komandan seperti kita. Yang Mulia Ratu sendiri yang nunjuknya dan pastinya Violetta datang kesini juga karena diundang oleh Yang Mulia Ratu sendiri. Apa anda keberatan dengan keputusan Yang Mulia Ratu ?," tanya komandan Ivana.

"Aku tidak keberatan dengan keputusan Yang Mulia Ratu yang nunjuk dia untuk njaga akademi. Tetapi sampai diberi gelar sebagai komandan hanya untuk njaga akademi, bukankah itu berlebihan ? Kamu setuju kan, Ivana ? Sebagai sesama komandan yang paling senior di antara komandan yang aktif saat ini, apa kamu tidak rasa resah dengan dirinya yang diberi gelar komandan hanya untuk njaga wilayah kecil ?," tanya komandan Allister.

"Aku tidak keberatan sama sekali. Lagipula itu adalah keputusan yang dibuat oleh Yang Mulia Ratu. Dan juga, aku bukanlah orang yang selalu mbesar-besarkan hal kecil seperti ini, tuan Allister. Lebih baik sekarang kamu duduk di kursi yang disediakan dan tunggulah Yang Mulia Ratu dengan tenang," ucap komandan Ivana.

"Kamu tidak berhak nyuruhku, Ivana. Aku ini lebih tua darimu," ucap komandan Allister.

"Lebih baik kamu turuti perkataanku selagi aku masih nggunakan kata-kata, tuan Allister," ucap komandan Ivana.

Terlihat komandan Ivana sedang gang katana yang berada di pinggang kirinya dengan tangan kirinya. Katana itu sedang dikeluarkan secara perlahan dari sarungnya oleh komandan Ivana. Komandan Keira yang berada disamping komandan Ivana terlihat terkejut dengan apa yang sedang dilakukan komandan Ivana. Sentara, komandan Asier dan nona Violetta terlihat tegang dengan perseteruan komandan Ivana dan komandan Allister.

"Oh, apa jika aku tidak nuruti perkataanmu, selanjutnya kamu akan makai kekerasan ? Apa nurutmu kamu bisa lawanku ?," tanya komandan Allister.

"Entahlah, lagipula kita berdua tidak pernah bertarung sebelumnya, jadi hasilnya tidak ada yang tahu. Ini terakhir kalinya aku nggunakan kata-kata, tuan Allister. Cepatlah duduk di kursi yang disediakan," ucap komandan Ivana.

Komandan Allister pun tersenyum setelah ndengarkan perkataan komandan Ivana.

"Aku tidak akan nuruti perkataanmu," ucap komandan Allister.

Setelah ndengar perkataan komandan Allister, komandan Ivana dengan cepat langsung ncabut seluruh katananya dari sarungnya dan dengan cepat langsung lesat ke arah komandan Allister. Komandan Allister bersiap nghadapi komandan Ivana yang lesat ke arahnya. Komandan Allister terlihat tidak mbawa dan nggunakan senjata satupun, dia bersiap nghadapi komandan Ivana hanya dengan nggunakan tangan kosong. Lalu reka berdua pun sudah berada dalam jarak yang berdekatan dan bersiap untuk nyerang. Namun saat reka berdua bersiap untuk nyerang, tiba-tiba reka berdua terbaring nghantam lantai dengan sangat keras hingga mbuat lantai yang berada di bawah reka itu retak. Darah pun keluar dari mulut dan hidung reka berdua karena hantaman itu.

reka berdua terus terbaring di lantai tanpa bisa bergerak sedikitpun. reka seperti sedang tertimpa beban yang sangat berat yang mbuat reka tidak bisa bergerak.

"Kekuatan ini.....," pikir komandan Allister.

"Jangan bilang.....," pikir komandan Ivana.

Komandan Allister dan komandan Ivana berusaha keras untuk noleh ke arah yang sama. reka berdua berusaha keras untuk noleh ke arah pintu ruangan itu. Ketika reka berdua telah noleh ke pintu itu, terlihat Ratu Kayana yang sedang berdiri bersama dengan komandan Oliver yang berada di belakangnya.

"Yang Mulia Ratu ?!?!," ucap komandan Ivana dan komandan Allister yang terkejut ketika lihat Ratu Kayana.

Komandan Asier, komandan Keira dan nona Violetta pun juga terkejut dengan kehadiran Ratu Kayana.

-

Beberapa saat sebelumnya.

Ketika komandan Asier, komandan Keira dan nona Violetta sedang fokus lihat perseteruan komandan Ivana dan komandan Allister, reka tidak nyadari kalau Ratu Kayana telah tiba di ruangan itu bersama dengan komandan Oliver. Ratu Kayana yang lihat komandan Ivana dan komandan Allister mulai saling nyerang pun langsung nggunakan sihir gravitasinya untuk nghentikan reka.

-

Kembali ke saat ini.

Ratu Kayana sedang berdiri di pintu ruangan itu sambil lihat ke arah komandan Ivana dan komandan Allister yang sedang terbaring di lantai. Sentara komandan Ivana dan komandan Allister terlihat terkejut dan sedikit takut, karena saat ini Ratu Kayana tengah lihat ke arah reka berdua dengan wajah yang marah.

"Aku rintahkan kalian untuk datang kesini karena ada sesuatu yang ingin aku bahas, tetapi kalian malah mau bertarung di ruangan ini. Kalian berdua tahu sendiri kan apa efeknya jika kedua orang sekuat komandan prajurit sampai bertarung ? Apalagi dengan sihir yang dimiliki kalian, pertarungan kalian pastinya akan ngakibatkan munculnya badai salju hebat di istana ini. Apa kalian mau nghancurkan istana ini dengan badai salju yang kalian buat itu ?," tanya Ratu Kayana.

Ratu Kayana terus lihat ke arah komandan Ivana dan komandan Allister dengan wajah yang marah. Sentara, komandan Ivana dan komandan Allister hanya diam sambil nahan sakit karena tekanan sihir gravitasi yang diciptakan oleh Ratu Kayana.

"Saat ini moodku sedang sangat buruk karena banyak masalah yang terjadi baru-baru ini. Ditambah, sekarang kedua komandan prajurit milikku malah mau saling bertarung," ucap Ratu Kayana.

*Haaaahhhh

Ratu Kayana baru saja nghela nafasnya dengan panjang.

"Ini semua benar-benar repotkan," ucap Ratu Kayana.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 293 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 2 on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Dragon God Supreme cover
Similar genre

Dragon God Supreme

Seven Luan ·Action

Theordinaryyouthlackedtheexceptionaltalentsofhispeers,yethepossessedashockingheritage,bearingamysteriousbloodlineandharboringthespiritoftheEvilDrag...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.