Di halaman istana kerajaan, White Palace.
Terlihat kereta kuda yang ditumpangi oleh komandan Asier baru saja tiba di halaman istana dan langsung berhenti di area parkir untuk kereta kuda. Setelah kereta kuda itu berhenti, komandan Asier pun langsung turun dari kereta kuda itu. Komandan Asier terlihat ngenakan keja berwarna putih dengan jubah panjang yang lapisi seragamnya. Pada bagian depan keja yang dia pakai tepatnya di saku seragamnya, terdapat lambang serigala berwarna perpaduan putih dan biru. Pada bagian depan dan bagian belakang jubah panjang yang komandan Asier kenakan pun juga terdapat lambang serigala.
Setelah turun dari kereta kuda, komandan Asier pun langsung berjalan perlahan nuju pintu masuk istana kerajaan. Namun saat komandan Asier sedang berjalan nuju pintu masuk istana kerajaan, datang sebuah kereta kuda dari arah gerbang masuk wilayah istana. Kereta kuda itu terus laju dan tiba-tiba berhenti tepat di samping komandan Asier. Komandan Asier yang lihat kereta kuda itu berhenti pun nghentikan langkahnya. Lalu pintu kereta kuda itu pun terbuka. Terlihat seorang wanita berambut putih dan ngenakan kimono bermotif salju keluar dari kereta kuda itu. Wanita itu juga ngenakan jubah panjang yang lapisi kimononya itu. Pada bagian depan dan bagian belakang jubah panjangnya itu, terdapat lambang burung hantu berwarna putih seperti salju. Rambut putih yang dimiliki oleh wanita itu terlihat mirip dengan rambut komandan Asier dan juga keluarga San Lucia lainnya. Wanita itu terlihat mbawa sebuah katana di pinggangnya. Wanita itu lalu berjalan nghampiri komandan Asier.
"Lama tidak berjumpa, Asier," ucap wanita itu.
"Lama tidak berjumpa juga, kak Ivana," ucap komandan Asier.
Wanita yang nghampiri komandan Asier bernama Ivana Shirayuki Erald, yang rupakan komandan pasukan prajurit ’Snow Owl’.
"Bagaimana kabarmu, Asier ? Aku dengar kemarin kamu berhadapan dengan orang-orang yang berubah njadi iblis di gedung pengadilan. Apa kamu terluka ketika berhadapan dengan para iblis itu ?," tanya komandan Ivana.
"Kemarin aku ngalami beberapa luka ketika lawan para iblis itu, tetapi luka itu sudah pulih karena aku langsung pergi ke gereja Sancta Lux setelah nghabisi para iblis itu," ucap komandan Asier.
"Begitu ya, baguslah," ucap komandan Ivana.
"Ngomong-ngomong, kak Ivana, kamu sudah ndengar kabar tentang rencana pembunuhan Yang Mulia Ratu dan seluruh keluarga kita kan ? Bagaimana pendapatmu tentang itu ?," tanya komandan Asier.
"Hmmm pendapatku ya. nurutku, orang yang rencanakan hal itu adalah orang yang bodoh. Apa nurut reka, reka bisa mbunuh Yang Mulia Ratu dan seluruh keluarga kita hanya dengan sebuah subjek percobaan seperti itu ? mang aku baru ngetahui kalau reka mbuat subjek percobaan yang nggunakan jantung Elf dan sesuatu yang berhubungan dengan iblis untuk mbuat subjek percobaan iblis. Tetapi kamu sendiri tahu kan tentang kabar beberapa subjek percobaan itu ? Beberapa subjek percobaan jantung Elf dan iblis dapat dengan mudah dibunuh oleh Rid Archie seorang diri di hutan Hevea. Sentara, beberapa orang yang tiba-tiba berubah njadi iblis dapat dengan mudah dikalahkan oleh kamu, Yang Mulia Ratu, komandan Oliver dan juga Rid Archie di gedung pengadilan. Jika kita anggap orang-orang yang berubah njadi iblis itu miliki kekuatan yang sama dengan subjek percobaan iblis, maka itu berarti subjek percobaan itu sangat lemah. Mustahil reka bisa mbunuh Yang Mulia Ratu yang rupakan penyihir terkuat di kerajaan ini dan seluruh keluarga kita yang rupakan salah satu keluarga terkuat di kerajaan ini dengan subjek percobaan yang lemah itu. Tidakkah kamu setuju dengan hal itu, Asier ?," tanya komandan Ivana.
"Apa yang kamu katakan ada benarnya, kak Ivana. Namun ada kemungkinan kalau reka masih nyembunyikan kartu as reka untuk rencana ini. Jika reka rencanakan pembunuhan terhadap Yang Mulia Ratu dan seluruh keluarga kita, reka pasti yakin kalau reka bisa lakukan itu. Maka dari itu, ayahanda tetap waspada dan berhati-hati terhadap rencana reka. Ayahanda bahkan nyuruh seluruh keluarga San Lucia untuk tinggal sentara di kota San Lucia. Yah skipun ada beberapa dari bagian dari keluarga itu yang nolak," ucap komandan Asier.
"Kamu ada benarnya, mungkin reka masih nyembunyikan kartu as. Tapi aku masih tetap berpikir kalau orang yang rencanakan rencana ini adalah orang yang bodoh," ucap komandan Ivana.
"Yah pokoknya kita harus lebih hati-hati saja ke depannya, kak Ivana. Ngomong-ngomong, apa kak Ivana diperintahkan oleh ayahanda untuk njaga keluarga San Lucia yang tinggal di wilayah San Quentine ?," tanya komandan Asier.
"Iya, aku diperintah oleh tuan Louis untuk njaga keluarga San Lucia yang masih tinggal di wilayah San Quentine. Tapi aku sudah bilang ke tuan Louis kalau aku tidak mungkin bisa njaga reka setiap saat, karena aku harus njalankan tugasku untuk njaga keseluruhan wilayah San Quentine. Jika terjadi apa-apa dengan reka, itu salah reka sendiri karena tidak pindah sentara ke kota San Lucia. Bagaimana denganmu ? Apakah kamu juga diperintah hal yang sama ?," tanya komandan Ivana.
"Iya, aku juga diperintah hal yang sama oleh ayahanda, aku diperintah untuk njaga keluarga San Lucia yang masih tinggal di wilayah San Angela. Aku juga respon sama seperti yang kamu katakan, kak Ivana," ucap komandan Asier.
"Begitu ya, jadi kita diperintah hal yang sama," ucap komandan Ivana.
Lalu komandan Ivana lihat ke sekitarnya.
"Ah, aku lupa kalau kita datang kesini karena Yang Mulia Ratu ngundang kita, tetapi kita malah asik ngobrol disini. Lebih baik kita berbicara sambil berjalan masuk ke dalam istana saja, Asier," ucap komandan Ivana.
"Baik," ucap komandan Asier.
Lalu komandan Asier dan komandan Ivana pun berjalan nuju pintu masuk istana kerajaan. reka berjalan sambil berbicara tentang suatu hal.
"Bagaimana kabar paman dan bibi, kak Ivana ?," tanya komandan Asier.
"reka berdua baik-baik saja. Namun terkadang ibunda terlihat tidak baik-baik saja. Beliau sepertinya sedang mikirkan tentang kampung halamannya yaitu negeri Kaminari," ucap komandan Ivana.
"Negeri Kaminari ya, aku dengar di negeri itu saat ini masih ngalami perang saudara," ucap komandan Asier.
"Iya. Perang saudara di negeri Kaminari sudah berlangsung bahkan sejak ibundaku masih tinggal di negeri itu. Lalu kemudian beliau larikan diri bersama dengan teman-teman dan keluarganya dari negeri itu dan sampai di kerajaan San Fulgen. Setelah itu, beliau bertemu dengan ayahanda dan kemudian nikah. Namun, ski beliau sudah larikan diri dari negeri itu, beliau terkadang masih mikirkan negeri itu yang rupakan kampung halamannya. Mungkin beliau ndengar suatu kabar yang nyebutkan kalau dalam dua tahun ini, perang saudara yang berlangsung di negeri Kaminari bertambah dahsyat. Mungkin kabar itu lah yang mbuat beliau terus kepikiran dengan kampung halamannya," ucap komandan Ivana.
"Begitu ya, yah itu wajar jika beliau terus mikirkan tentang kampung halamannya jika kampung halamannya sedang berada dalam situasi seperti itu," ucap komandan Asier.
"Ya, kamu benar. Daripada itu, bagaimana keadaan Irene, Asier ? Apa kamu sudah bertemu dengannya ?," tanya komandan Ivana.
"Aku terakhir kali bertemu Irene saat dia dan Nadine berkunjung ke Snow Palace untuk ngajukan proposal bantuan dana untuk turnan dan festival akademi. Saat itu, Irene baik-baik saja, kak Ivana. Saat ini pun aku yakin kalau Irene juga baik-baik saja. Apalagi saat ini dia sudah miliki pasangan. Pasti pasangannya itu akan selalu mastikan agar Irene baik-baik saja," ucap komandan Asier.
"Pasangan Irene, Rid Archie ya. Aku tidak pernah bertemu dengannya dan aku juga tidak pernah lihatnya ketika bertarung secara langsung. Namun jika lihat sepak terjang dia yang selalu muncul di surat kabar, aku sangat yakin kalau dia itu orang yang kuat. Irene beruntung sekali bisa ndapatkan pasangan seperti dia," ucap komandan Ivana.
"Iya, kamu benar, kak Ivana," ucap komandan Asier.
"Bagaimana dengan kamu sendiri, Asier ? Kapan kamu akan ndapatkan pasangan ?," tanya komandan Ivana.
"Hmmm entahlah, bagaimana dengan kak Ivana sendiri ? Kamu kan juga belum mpunyai pasangan," ucap komandan Asier.
"Aku tidak terlalu mikirkan tentang itu saat ini," ucap komandan Ivana.
"Kalau begitu aku juga," ucap komandan Asier.
"Kamu lebih baik segera ndapatkan pasangan, Asier. Kamu itu bagian dari keluarga utama di keluarga San Lucia. Suatu saat, kamu yang akan njadi Duke selanjutnya nggantikan tuan Louis. Jika kamu njadi Duke namun kamu tidak miliki pasangan, San Lucia tidak akan miliki Duchess. Sedangkan aku hanyalah berasal dari keluarga cabang, jadi mau aku punya pasangan atau tidak itu tidak masalah untukku," ucap komandan Ivana.
"Yah, kak Ivana ada benarnya. Mungkin aku harus mikirkan tentang itu mulai saat ini," ucap komandan Asier.
"Itu bagus, Asier. Lalu, Asier, bagaimana keadaan nona Arlet ?," tanya komandan Ivana.
Komandan Asier nampak terdiam sejenak lalu setelah itu dia pun mulai njawab pertanyaan itu.
"Beliau masih ’tertidur’, kak Ivana," ucap komandan Asier.
"Begitu ya, maafkan aku karena telah nanyakan tentang ini," ucap komandan Ivana.
"Tidak apa-apa, kak Ivana. Lagipula kamu hanya ingin nanyakan kabarnya," ucap komandan Asier.
Lalu komandan Asier dan komandan Ivana pun terus langkah nuju pintu masuk istana kerajaan. Ketika reka berdua sudah berada di pintu masuk istana, terlihat ada beberapa prajurit yang nunggu reka. Beberapa prajurit itu terlihat mberi hormat kepada komandan Asier dan komandan Ivana. Lalu setelah itu, salah satu dari prajurit itu pun mulai berbicara.
"Selamat datang di White Palace, komandan Asier dan komandan Ivana. Komandan Oliver sudah mberitahu kami untuk nyambut kalian dan ngantarkan kalian ke ruang pertemuan. Silahkan ikuti kami," ucap prajurit itu.
"Baik," ucap komandan Asier dan komandan Ivana.
Lalu komandan Asier, komandan Ivana dan para prajurit itu pun langkah masuk ke istana kerajaan.
Setelah cukup lama berjalan, reka sampai di depan pintu suatu ruangan. Pintu itu terlihat berukuran lebih besar daripada pintu biasanya.
"Disini ruangannya, komandan Asier, komandan Ivana," ucap salah satu prajurit.
Lalu beberapa prajurit pun mulai mbuka pintu itu. Saat pintu itu terbuka, terlihat di ruangan itu ada ja besar yang berbentuk bulat dengan kursi-kursi yang ngelilingi ja itu. Di ja itu juga terdapat beberapa makanan dan minuman. Terlihat sudah ada dua orang yang sedang duduk di kursi pada ja itu.
"Silahkan masuk, komandan Asier, komandan Ivana," ucap prajurit itu.
Lalu komandan Asier dan komandan Ivana pun masuk ke dalam ruangan itu.
"Silahkan duduk di kursi yang telah disediakan dan dimohon untuk nunggu kedatangan komandan Oliver dan Yang Mulia Ratu ke ruangan ini. Kalau begitu, kami semua izin pergi ninggalkan ruangan ini terlebih dahulu," ucap prajurit itu.
"Iya, terima kasih ya," ucap komandan Asier.
"Sama-sama, komandan Asier," ucap prajurit itu.
Lalu para prajurit yang ngantar komandan Asier dan komandan Ivana pun mulai pergi ninggalkan ruangan itu. Pintu ruangan itu pun ditutup kembali.
Komandan Asier dan komandan Ivana pun mulai duduk di kursi yang disediakan.
"Lama tidak berjumpa, nona Ivana," ucap seorang wanita.
Wanita itu rupakan salah satu dari dua yang sudah berada di ruangan ini sebelum datangnya komandan Asier dan komandan Ivana. Komandan Ivana lalu lihat ke arah wanita yang berbicara dengannya.
"Ah, nona Keira, lama tidak berjumpa juga," ucap komandan Ivana.
Wanita yang berbicara dengan komandan Ivana adalah komandan prajurit ’Silver Peacock’, komandan Keira.
"Asier juga, lama tidak berjumpa," ucap komandan Keira.
"Iya, lama tidak berjumpa juga, nona Keira," ucap komandan Asier.
Kemudian, komandan Keira dan komandan Ivana pun saling ngobrol. Sentara komandan Asier lihat ke arah satu orang lagi yang sudah berada di ruangan itu. Orang itu adalah seorang wanita dan dia sedang mbaca sebuah buku di ruangan itu. Komandan Asier rasa kalau dia ngenal wanita itu. Dia pun terus lihat ke arah wanita itu.
"Violetta ?," tanya komandan Asier.
Komandan Asier benar, wanita yang sedang mbaca buku itu adalah nona Violetta. Nona Violetta yang sedang mbaca buku pun sedikit terkejut ketika ndengar namanya dipanggil. Nona Violetta lalu noleh ke arah orang yang manggilnya.
"Ah, Asier ya," ucap nona Violetta.
"Iya, ini aku. Ternyata benar kalau kamu adalah Violetta. Lama tidak berjumpa, Violetta. Terakhir kita bertemu saat duel waktu itu ya," ucap komandan Asier.
"Iya, ternyata kamu masih ngingatnya. Lama tidak berjumpa juga, Asier. Aku minta maaf karena tidak nyapamu lebih dulu karena sejak tadi aku fokus untuk mbaca buku," ucap nona Violetta.
"Tidak apa-apa, Violetta. Daripada itu, kenapa kamu ada disini ?," tanya komandan Asier.
"Aku diperintah oleh komandan Oliver untuk datang kesini. Saat ini, aku adalah komandan prajurit yang njaga akademi," ucap nona Violetta.
"Aku sudah ngetahui kalau akademi saat ini mpunyai komandan yang bertugas untuk mimpin para prajurit yang njaga akademi. Tetapi aku tidak nyangka kalau komandan itu adalah kamu,"
"Kamu sudah lama sekali tidak terlihat atau terdengar kabarnya sejak duel waktu itu, kemana saja kamu selama ini ?," tanya komandan Asier.
"Ceritanya panjang, Asier," ucap nona Violetta.
Lalu komandan Asier dan nona Violetta pun saling ngobrol. Tidak lama kemudian, pintu ruangan itu pun terbuka kembali. Komandan Asier, nona Violetta, komandan Keira dan komandan Ivana pun lihat ke arah pintu yang terbuka itu. Terlihat beberapa prajurit sedang ngantar seorang pria dengan postur tinggi dan besar ke dalam ruangan itu. Pria itu miliki luka seperti luka tebasan di wajahnya. Pria itu kemudian masuk ke dalam ruangan itu.
"Sepertinya kalian semua sudah datang ya," ucap pria itu.
Pria itu terus langkah masuk ke dalam ruangan. Pria itu pun terus mperhatikan seisi ruangan itu sambil berjalan. Kemudian dia lihat ke arah komandan Ivana, komandan Keira, komandan Asier sampai ke arah nona Violetta. Ketika pria itu lihat ke arah nona Violetta, pria itu tiba-tiba nghentikan langkahnya.
"Sepertinya ada seseorang yang seharusnya tidak berada di ruangan ini," ucap pria itu.
-Bersambung
Reviews
All reviews (0)