Font Size
15px

Disaat aku dan Irene sedang ngobrol, tiba-tiba nona Karina manggilku dari pintu masuk gedung lobi akademi.

"Rid!," ucap nona Karina dengan suara yang cukup keras.

ndengar itu, aku pun langsung noleh ke nona Karina. Nona Karina mberikan kode untuk nghampirinya dengan nggunakan tangan kanannya.

"Sepertinya nona Karina ingin aku nghampirinya, kalau begitu aku pergi nghampiri nona Karina dulu ya, Irene," ucapku.

"Iya," ucap Irene.

Aku pun bergegas nghampiri nona Karina.

"Maaf ngganggumu yang sedang bersraan, Rid," ucap nona Karina.

"Aku tidak sedang bersraan, nona. Ada apa manggilku ?," tanyaku.

"Ini, seragam baru dan pedang baru untukmu," ucap nona Karina.

Nona Karina lalu mberikanku sebuah seragam yang sudah dipacking rapi dan sebuah pedang. Aku pun nerima seragam dan pedang baru itu.

"Terima kasih, nona Karina," ucapku.

"Sama-sama, kalau begitu aku mau kembali ke tempatku tinggal dulu, aku rasa lelah setelah ngalami hal-hal yang di luar dugaan. Kamu lanjutkan saja bersra-sraan dengan Irene," ucap nona Karina.

"Sudah kubilang, aku tidak sedang bersra-sraan, nona," ucapku.

"Ahahah, ya sudah sampai jumpa, Rid," ucap nona Karina.

"Ya, sampai jumpa juga, nona," ucapku.

Lalu nona Karina pun pergi ninggalkan gedung lobi akademi untuk kembali ke tempatnya tinggal di gedung penginapan staf dan pengajar akademi. Setelah itu, aku pun kembali nemui Irene. Irene terlihat penasaran dengan sesuatu yang diberikan nona Karina kepadaku.

"Apa itu, Rid ?," tanya Irene.

"Ini seragam dan pedang baru untukku. Pedangku sebelumnya disita saat aku ditahan di penjara, sedangkan seragam yang ku pakai saat ini ngalami sobekan kecil di beberapa bagian. Aku sudah bilang kepada nona Karina kalau seragam ini masih bisa untuk diperbaiki, namun nona Karina bilang kalau beliau ingin mberikanku seragam baru. Ya sudah aku terima saja," ucapku.

"Begitu ya. Ngomong-ngomong, Rid, apa setelah ini kamu mau langsung kembali ke asramamu ?," tanya Irene.

"Sepertinya iya. skipun waktu sepertinya masih berada di sekitar pukul 6 sampai 7 malam jika lihat keadaan langit saat ini, tapi aku ingin langsung istirahat saja di asramaku. Aku harus bersiap-siap untuk pergi belajar di akademi lagi keesokan harinya. Apalagi, hari ini aku absen belajar di akademi akibat sidang yang harus aku jalani," ucapku.

"Begitu ya. Apa kamu tidak keberatan kalau aku mampir terlebih dahulu ke asramamu ? Kamu belum makan malam kan ? Aku akan mbuatkanmu makan malam terlebih dahulu sebelum kamu beristirahat. Tetapi kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa, aku tidak maksa," ucap Irene.

"Tentu saja aku mau, lagipula aku sudah 1 hari tidak makan masakanmu, Irene. Karena aku sering makan masakanmu saat berada di akademi ini, aku jadi nyukai masakan buatanmu. Masakan apapun yang kamu buat itu rasanya sangat enak. lihatmu yang begitu mahir dalam masak, aku sempat tidak percaya kalau kamu adalah putri dari seorang Duke," ucapku.

"Terima kasih atas pujiannya, Rid," ucap Irene.

Lalu Irene pun berbalik ke belakang. Dirinya saat ini sedang mbelakangiku. Aku tidak tahu Irene berbalik karena apa, mungkin ada seseorang yang ingin dia lihat. mang ada banyak orang di belakang Irene sebelumnya, namun orang-orang itu bukanlah orang yang aku kenal.

"Ngomong-ngomong, Irene, apa kamu lihat kemana perginya Charles, Chloe dan yang lainnya ?," tanyaku.

Irene yang sebelumnya mbelakangiku pun berbalik ke arahku lagi.

"Hmmm entahlah, kita sejak tadi sudah berpisah saat ndengarkan penjelasan nona Karina. Namun aku yakin kalau reka tidak terpisah jauh dari kita berdua tapi entah kenapa aku tidak lihat reka di sekitar kita," ucap Irene sambil lihat sekitarnya.

"Aku juga tidak lihatnya," ucapku.

Aku pun juga lihat ke sekitarku untuk ncari reka, namun aku tidak nemukan reka.

"Mungkin reka sudah kembali ke asrama atau pergi ke suatu tempat. reka pada awalnya berada di sekitar kita tetapi kita tidak lihat reka pergi karena sebelumnya kita berdua sedang berdebat tentang perjanjian di antara kita, Rid," ucap Irene.

"Aku pikir juga begitu. Sepertinya reka sudah kembali ke asrama, kalau begitu ayo kita kembali ke asrama juga," ucapki.

"Iya," ucap Irene.

Aku dan Irene pun langkah pergi ninggalkan gedung lobi akademi untuk nuju asrama. Namun saat aku dan Irene sedang berjalan, tiba-tiba ada seseorang yang manggilku.

"Rid!," ucap orang itu.

Suara orang itu terdengar seperti suara seorang pria. Aku pun langsung berhenti dan noleh ke arah asal suara itu. Ketika aku noleh, aku lihat senior Darryl, senior Klara dan senior Nichelle sedang berjalan nghampiriku.

"Senior Darryl, apa kamu baru saja manggilku ?," tanyaku.

"Iya, aku yang manggilmu barusan," ucap senior Darryl.

Ternyata yang manggilku adalah senior Darryl.

"Ada apa, senior ? Bahkan senior juga bersama senior Klara dan senior Nichelle," ucapku.

"Ada sesuatu yang harus aku, Klara dan Nichelle sampaikan kepadamu, Rid," ucap senior Darryl.

"Sesuatu yang harus disampaikan ? Apa itu ?," tanyaku.

"Kami bertiga ingin nyampaikan permintaan maaf kepadamu atas apa yang dilakukan Florian kepadamu, Rid," ucap senior Darryl sambil mbungkuk.

Tidak hanya senior Darryl saja, senior Klara dan senior Nichelle juga ikut mbungkuk. Aku pun terkejut lihat itu sentara Irene hanya terdiam saja.

"Aku tidak nyangka kalau Florian nyuruh Enzo untuk mbunuhmu. Aku juga tidak nyangka kalau Florian terlibat dalam rencana pembunuhan Yang Mulia Ratu dan seluruh keluarga San Lucia. Untuk itu, kami bertiga selaku teman dari Florian ingin nyampaikan permintaan maaf kepadamu, Rid. Kami minta maaf atas apa yang dilakukan Florian kepadamu. Kami juga minta maaf kepadamu, Irene, karena Florian terlibat dalam rencana pembunuhan keluargamu," ucap senior Darryl.

Senior Darryl, senior Klara dan senior Nichelle masih mbungkuk ke arah kami berdua.

"Kalian tidak perlu mbungkuk seperti itu, senior. Kalian juga tidak perlu minta maaf kepadaku. Kalian tidak salah sama sekali. Sekarang, tolong jangan mbungkuk lagi, senior," ucapku.

Senior Darryl, senior Klara dan senior Nichelle pun berdiri tegap kembali.

"Kalian tidak perlu minta maaf, senior. Lagipula kalian tidak bersalah, yang seharusnya disalahkan adalah senior Florian yang ingin mbunuhku. skipun kalian adalah temannya, kalian tidak perlu lakukan permintaan maaf wakili senior Florian. Biar senior Florian yang minta maaf sendiri jika ada kesempatan," ucapku.

"Itu benar, kalian tidak perlu minta maaf," ucap Irene.

"Tapi Rid, kami sebagai teman Florian rasa tidak enak atas perbuatan yang dia lakukan kepadamu. Kami takut kalau kami tidak minta maaf, hubungan kita ke depannya akan canggung," ucap senior Darryl.

"Kalian tidak perlu rasa begitu, senior. Pokoknya kalian tidak perlu minta maaf, senior. skipun kalian adalah teman senior Florian yang telah lakukan hal yang buruk kepadaku, aku sama sekali tidak akan rasa canggung kepada kalian ke depannya. Lagipula skipun kalian adalah teman dari senior Florian, kalian sama sekali tidak terlibat dalam rencana itu," ucapku.

"Baiklah, Rid. Kalau begitu kami tidak akan nyampaikan permintaan maaf lagi kepadamu dan juga Irene," ucap senior Darryl.

"Iya, tidak apa-apa, senior. Lagipula aneh rasanya ndapatkan permintaan maaf dari orang yang tidak bersalah," ucapku.

"Ahahah, dipikir-pikir benar juga ya. Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu ya, Rid, Irene, maaf telah ngganggu waktu kalian," ucap senior Darryl.

"Tidak apa-apa, senior, aku tidak rasa terganggu," ucapku.

"Aku juga," ucap Irene.

"Begitu ya, kalau begitu sampai jumpa, kalian berdua," ucap senior Darryl.

"Iya, sampai jumpa, senior," ucapku.

Lalu senior Darryl, senior Klara dan senior Nichelle pun pergi ninggalkan kami berdua.

"Ayo, Irene, kita jalan lagi untuk kembali ke asrama," ucapku.

"Iya," ucap Irene.

Karena reka bertiga telah pergi, kami pun lanjutkan langkah kami untuk pergi ke asrama.

Sentara itu, saat Rid dan Irene lanjutkan langkah reka nuju asrama, terlihat putri Alia yang berada cukup jauh di belakang Rid, sedang lihat ke arah Rid dan Irene. Putri Alia sedang lihat Rid dan Irene dengan tatapan yang sinis.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 284 : Pemberian Dari Nona Karina on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Dragon God Supreme cover
Similar genre

Dragon God Supreme

Seven Luan ·Action

Theordinaryyouthlackedtheexceptionaltalentsofhispeers,yethepossessedashockingheritage,bearingamysteriousbloodlineandharboringthespiritoftheEvilDrag...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.