Font Size
15px

30 nit kemudian.

"Aku rasa kita sudah ngobrol cukup lama. Mari kita sudahi obrolan kali ini, Rid. Lagipula kamu harus segera kembali ke akademi," ucap Duke Louis.

"Baik, paman," ucapku.

"Terima kasih karena sudah mau ngobrol denganku, Rid," ucap Duke Louis.

"Tidak perlu berterima kasih, paman. Aku yang seharusnya berterima kasih karena paman sudah mberikanku hadiah. Apalagi paman nyetujui usulanku untuk mberikan hadiah itu ke kampung halamanku," ucapku.

"Tidak perlu dipikirkan soal itu. Oh iya, ngomong-ngomong, aku sudah mberitahukan Nadine soal kamu yang dinyatakan tidak bersalah dalam insiden yang terjadi di hutan Hevea. Aku juga mberitahu kalau kamu akan pulang ke akademi saat sore atau malam ini. Aku yakin Nadine sudah mberitahukan tentang hal ini kepada Irene. Mungkin saat ini Irene sedang nunggu kepulanganmu di gerbang akademi," ucap Duke Louis.

"Aku tidak yakin kalau Irene akan nunggu kepulanganku," ucapku.

"Kenapa tidak ? Kamu kan adalah pacarnya Irene. ski Irene yang sekarang sering nunjukkan sifat dan ekspresi yang dingin, dia masih peduli dengan orang-orang yang penting baginya. Karena kamu adalah pacarnya Irene saat ini, sudah pasti dia juga peduli denganku dan pastinya dia akan nunggu kepulanganmu," ucap Duke Louis.

"Yah, tidak mungkin aku bilang kalau aku dan Irene itu hanya pura-pura pacaran saja. Karena kami hanya pura-pura, tidak mungkin Irene akan nunggu kepulanganku. Tetapi ada kemungkinan juga kalau dia akan nunggu kepulanganku agar orang lain tetap nyangka kalau kami berdua benar-benar pacaran," pikirku.

"Yah, anda ada benarnya, paman. Mungkin Irene akan nunggu kepulanganku," ucapku.

"Lebih baik kamu sekarang langsung pulang ke akademi, Rid. Jika kamu terlambat pulang, kasian Irene yang sedang nunggu kepulanganmu karena dia harus nunggu lama," ucap Duke Louis.

"Aku mang berniat untuk pulang setelah ngobrol dengan anda, paman. Namun aku masih harus nunggu nona Karina terlebih dahulu karena beliau sedang pergi ke luar gedung pengadilan. Aku nunggu beliau karena aku akan pulang ke akademi bersama beliau," ucapku.

"Hmmm begitu ya," ucap Duke Louis.

"Anda sendiri bagaimana, paman ? Apa setelah ini anda akan pulang ke kediaman anda ?," tanyaku.

"Tidak, aku masih akan berada di gedung pengadilan ini. Aku tidak mungkin pulang ke kediaman terlebih dahulu sebelum Yang Mulia Ratu pulang. Setelah ini aku akan berkumpul terlebih dahulu dengan para prajuritku yang berada di halaman parkir untuk ndiskusikan sesuatu lalu setelah itu aku akan nemui Yang Mulia Ratu kembali," ucap Duke Louis.

"Begitu ya. Sepertinya anda masih punya sesuatu yang harus dibicarakan dengan Yang Mulia Ratu ya, paman," ucapku.

"Iya. Karena kami berdua rupakan target yang harus dibunuh oleh reka, aku dan Yang Mulia Ratu harus rencanakan sesuatu untuk ke depannya," ucap Duke Louis.

"Karena kemungkinan masih ada dalang utama yang njalankan rencana itu, situasinya masih belum aman ya," ucapku.

"Iya. Ngomong-ngomong, aku minta maaf, padahal tadi aku sudah bilang kalau aku akan ngakhiri obrolan ini, tetapi kita masih saja ngobrol," ucap Duke Louis.

"Tidak apa-apa, paman. Lagipula nona Karina juga belum kembali, jadi belum waktunya untukku kembali ke akademi," ucapku.

"Ya sudah. Kalau begitu, aku ingin pergi nemui para prajuritku dulu, Rid. Sampai jumpa," ucap Duke Louis.

"Iya, sampai jumpa juga, paman," ucapku.

Duke Louis pun pergi ninggalkanku untuk nuju halaman parkir. Sentara aku masih bersandar di dinding luar gedung pengadilan sambil nunggu kembalinya nona Karina. Sesekali aku lihat orang-orang yang berada di depanku. Ada dari reka yang sedang ngobrol, sedang lihat-lihat keadaan di sekitar gedung pengadilan dan ada juga yang sedang lihat mayat para iblis yang berada di depan gedung pengadilan. Awalnya mayat iblis itu tersebar, ada yang berada di dalam gedung pengadilan, di luar gedung pengadilan dan di luar wilayah gedung pengadilan. Namun mayat-mayat yang tersebar itu kini sudah dikumpulkan di depan gedung pengadilan. Banyak orang yang saat ini sedang lihat atau motret gambar para mayat iblis itu dengan nggunakan alat bernama ’kara’. Di kerumunan orang yang lihat mayat para iblis itu, aku lihat Duke Remy yang sedang lihat mayat para iblis itu sambil berbicara dengan para prajurit miliknya yang ada di sekelilingnya. Saat ini, aku milih untuk terus lihat ke arah Duke Remy karena aku rasa kalau beliau sejak tadi terus lihat ke arahku.

-

15 nit kemudian.

Nona Karina pun kembali sambil mbawa sebuah tas yang terbuat dari kain. Beliau pun langsung nghampiriku.

"Apa itu, nona ?," tanyaku.

"Ini barang belanjaku," ucap nona Karina.

"Anda masih sempat-sempatnya belanja ketika situasi di gedung pengadilan sedang seperti ini ?," tanyaku.

"Kebetulan kebutuhan barang-barangku sudah nipis. Jadi mumpung saat ini aku sedang berada di luar akademi, aku sekalian saja mbeli barang-barang untuk kebutuhanku," ucap nona Karina.

Aku hanya terdiam sambil terus lihat ke arah tas belanjaan milik nona Karina.

"Ngomong-ngomong, apa kamu sudah berbicara dengan tuan Louis, Rid ?," tanya nona Karina.

"Sudah, nona. Sekitar 15 nit yang lalu aku baru selesai berbicara dengan beliau," ucapku.

"Kalau begitu, apa sudah saatnya bagi kita untuk kembali ke akademi ?," tanya nona Karina.

"Iya, nona, lagipula aku juga sudah tidak miliki keperluan lagi di gedung ini. Bagaimana dengan nona sendiri ?," tanyaku.

"Aku juga tidak miliki keperluan. Kalau begitu, ayo kita segera kembali ke akademi. Tetapi sebelum itu, kita pamit dulu dengan Yang Mulia Ratu. Yang Mulia Ratu saat ini sedang berada di dalam gedung pengadilan, ayo kita pergi ke dalam," ucap nona Karina.

"Baik, nona," ucapku.

Setelah itu, aku dan nona Karina pun pergi ke dalam gedung pengadilan.

-

Di dalam gedung pengadilan, tepatnya di ruangan khusus terdakwa.

Terlihat Ratu Kayana dan komandan Oliver sedang berada di ruangan itu. Yang Mulia Ratu sedang terduduk di kursi itu sambil renung, sentara komandan Oliver sedang berdiri di hadapannya.

"Anda tidak perlu terlalu mikirkan soal itu terlebih dahulu, Yang Mulia Ratu. Mungkin dokun itu hanya dokun palsu saja dan dokun itu digunakan untuk njebak Raja Albert," ucap komandan Oliver.

"Aku juga mikirkan tentang kemungkinan itu, tetapi aku juga mikirkan kalau bisa saja dokun itu adalah dokun asli yang njelaskan kalau suamiku juga terlibat dalam rencana pembunuhanku dan seluruh keluarga San Lucia," ucap Ratu Kayana.

"Apa lebih baik saya nghubungi Raja Albert sekarang agar anda bisa ngkonfirmasi tentang hal itu kepada beliau ?," tanya komandan Oliver.

"Tidak perlu, tuan Oliver. Jika aku nghubunginya sekarang lewat kristal komunikasi dan nanyakan tentang hal itu, suamiku mungkin akan langsung larikan diri jika ternyata apa yang tercantum di dokun itu adalah benar. Aku akan ngkonfirmasinya sendiri setelah pulang nanti jadi anda tidak perlu nghubunginya," ucap Ratu Kayana.

"Baik, Yang Mulia Ratu," ucap komandan Oliver.

*Tok *Tok *Tok

Saat Ratu Kayana dan komandan Oliver sedang ngobrol, terdengar suara ketukan pintu. Ketukan pintu itu berasal dari pintu ruangan terdakwa yang terhubung dengan ruang pengadilan. Ratu Kayana dan komandan Oliver yang ndengar suara ketukan itu pun langsung noleh ke pintu itu.

"Masuk," ucap Ratu Kayana.

Setelah Ratu Kayana ngatakan itu, pintu itu pun perlahan terbuka. Saat pintu itu terbuka, terlihat Rid, nona Karina dan juga Caroline tengah berdiri di depan pintu yang terbuka itu.

"Jadi anda ada disini ya, Yang Mulia Ratu. Tadi kami ncari anda di ruang pengadilan dan sekitarnya, tapi kami tidak nemukan anda. Kebetulan ada putri Caroline di ruang pengadilan dan dia bilang kalau anda ada di ruangan ini," ucap nona Karina.

"Kepala akademi dan juga Rid, ada perlu apa datang kesini ?," tanya Ratu Kayana.

"Saya dan Rid ingin kembali ke akademi sekarang, jadi kami ingin pamit dengan anda, Yang Mulia Ratu," ucap nona Karina.

"Begitu ya. Ya sudah, jika kalian berdua ingin kembali ke akademi, kalian kembali saja. Aku sudah nyiapkan sebuah kereta kuda yang terparkir di halaman parkir gedung ini beserta supir dan prajurit yang ngawal. Kalian bisa nggunakan kereta kuda itu untuk kembali ke akademi," ucap Ratu Kayana.

"Terima kasih, Yang Mulia Ratu," ucap nona Karina.

"Aku juga berterima kasih, kepala akademi, Rid, karena telah mbantu nguak rencana kejahatan di kerajaan ini. Aku sebelumnya sudah bilang kalau akan mberikan hadiah kepada Rid. Kali ini, aku juga akan mberikan hadiah kepada anda, kepala akademi," ucap Ratu Kayana.

"Tidak perlu, Yang Mulia Ratu. Saya tidak ingin repotkan anda," ucap nona Karina.

"Tidak, aku tidak repot sama sekali. Lagipula sudah sepantasnya bagiku untuk mberikan hadiah kepada rakyat kerajaan ini yang telah berkontribusi untuk kerajaan ini. Jadi aku mohon kamu terima hadiah yang akan aku berikan nanti. Aku akan mberimu sejumlah besar uang," ucap Ratu Kayana.

"Baiklah, Yang Mulia Ratu. Saya akan nerimanya," ucap nona Karina.

"Lalu Rid, aku juga akan mberikanmu hadiah uang, kamu tidak keberatan kan ?," tanya Ratu Kayana.

"Sebenarnya saya sedikit keberatan dengan hadiah uang itu, Yang Mulia Ratu," ucapku.

Ratu Kayana yang ndengar itupun sedikit terkejut.

"mangnya kenapa ?," tanya Ratu Kayana.

"Sebelum itu, saya ingin bertanya, Yang Mulia Ratu. Bolehkah jika hadiah untuk saya itu diberikan kepada orang lain ?," tanyaku.

"Kepada orang lain ? mangnya kamu ingin mberikan hadiah itu kepada siapa ?," tanya Ratu Kayana.

"Sebenarnya saya berniat untuk mberikan hadiah yang saya dapatkan kepada orang-orang di desa Aston yang rupakan kampung halaman saya. Oleh karena itu saya keberatan dengan hadiah uang itu karena saya lebih ingin hadiah kebutuhan pokok agar bisa diberikan kepada orang-orang di kampung halaman saya. Sebelumnya, tuan Duke Louis juga berniat mberikan saya hadiah, namun saya juga minta untuk mberikan hadiah itu kepada orang-orang di kampung halaman saya. Apa boleh, Yang Mulia Ratu ?," tanyaku.

"Baiklah, jika kamu mau seperti itu. Aku ngizinkannya," ucap Ratu Kayana.

Beliau njawab pertanyaanku secara langsung tanpa berpikir terlebih dahulu.

"Benarkah itu, Yang Mulia Ratu ?," tanyaku.

"Iya, lagipula itu kemauanmu sendiri. Tugasku hanya mberimu hadiah atas kontribusimu, soal hadiah itu mau kamu apakan itu terserah kamu, yang terpenting kamu senang dan puas dengan hadiah yang aku berikan. Tetapi kamu yakin kan tentang ini ? Kamu tidak akan berubah pikiran lagi ?," tanya Ratu Kayana.

"Tidak, Yang Mulia Ratu," ucapku.

"Baiklah, aku akan rintahkan para prajuritku nanti untuk mberikan kebutuhan pokok kepada orang-orang di kampung halamanmu yang senilai dengan hadiah uang yang sebelumnya ingin kuberikan. Karena aku harus mbeli kebutuhan pokoknya terlebih dahulu, mungkin kebutuhan pokok itu tidak dapat diberikan dengan lebih cepat. Tetapi aku jamin kebutuhan itu akan diberikan paling lambat saat malam tahun baru," ucap Ratu Kayana.

"Terima kasih, Yang Mulia Ratu," ucapku.

"Tidak perlu berterima kasih. Ya sudah itu saja yang ingin aku sampaikan, kalian ingin kembali ke akademi kan ? Hati-hati di jalan," ucap Ratu Kayana.

"Iya, Yang Mulia Ratu. Kalau begitu kami pamit," ucap nona Karina.

"Kami pamit, Yang Mulia Ratu," ucapku.

"Iya. Tolong sampaikan salamku kepada Charles dan juga Chloe ya, Rid," ucap Ratu Kayana.

"Baik, Yang Mulia Ratu. Komandan Oliver, Carol, aku pamit dulu," ucapku.

"Iya, hati-hati, tuan muda Rid. Sampaikan salamku kepada pangeran Charles dan putri Chloe serta kepada putriku, Elaina," ucap komandan Oliver.

"Baik, komandan," ucapku.

"Sampaikan salamku juga kepada kakak Charles dan kakak Chloe, kakak Rid. Sampai nanti, kakak Rid," ucap Caroline.

"Iya, sampai nanti, Carol," ucapku.

Setelah ngucapkan salam perpisahan, aku dan nona Karina pun pergi ninggalkan ruangan itu. Lalu aku dan nona Karina berjalan nyusuri ruangan pengadilan untuk nuju pintu keluar gedung pengadilan.

"Entah kenapa Yang Mulia Ratu terlihat aneh," ucapku.

"Aneh kenapa, Rid ?," tanya nona Karina.

"Yang Mulia Ratu terlihat murung, apa nona tidak mperhatikannya ?," tanyaku.

"Tidak, mungkin dia murung karena sedang miliki banyak pekerjaan, apalagi setelah munculnya kasus itu," ucap nona Karina.

"Sepertinya begitu," ucapku.

Lalu aku dan nona Karina pun keluar dari gedung pengadilan. Setelah sampai di luar, aku lihat Duke Remy dan para prajuritnya sedang berjalan ngarah ke pintu gedung pengadilan. Kami pun saling berpapasan.

"Kepala akademi, anda mau kemana ?," tanya Duke Remy.

"Saya mau kembali ke akademi, tuan Remy. Saya juga ngajak Rid untuk kembali," ucap nona Karina.

"Begitu ya. Kalau begitu, hati-hati ya. Aku ngucapkan terima kasih kembali karena anda tadi sudah nyelamatkanku," ucap Duke Remy.

"Sudahlah, tidak perlu berterima kasih, tuan Remy," ucap nona Karina.

"Sudah sewajarnya untuk ngucapkan terima kasih kepada orang yang telah mbantu, kepala akademi. Aku juga ngucapkan terima kasih atas apa yang kamu lakukan tadi, Rid Archie," ucap Duke Remy.

"Sama-sama, tuan Duke Remy," ucapku.

"Kalau begitu, kalian silahkan lanjutkan langkah kalian untuk kembali ke akademi. Aku minta maaf karena telah ngganggu waktu kalian. Aku ada perlu dengan Yang Mulia Ratu, jadi aku permisi dulu. Sampai jumpa," ucap Duke Remy.

"Sampai jumpa, tuan Remy," ucap nona Karina.

Duke Remy dan para prajuritnya pun berjalan masuki gedung pengadilan. Aku dan nona Karina pun berjalan kembali nuju halaman parkir gedung pengadilan. Sesampainya di halaman parkir, aku dan nona Karina berjalan nuju kereta kuda yang disiapkan oleh Ratu Kayana.

"Kelihatannya kereta kudanya yang itu," ucap nona Karina sambil nunjuk salah satu kereta kuda yang ada di halaman parkir gedung itu.

Kereta kuda itu terlihat wah, berbeda dengan kereta kuda yang biasanya digunakan untuk ngantar orang biasa. Kami pun langsung nuju kereta kuda itu. Saat kami berdua sedang nuju kereta kuda itu, aku lihat Duke Louis sedang ngobrol dengan para prajuritnya di salah satu sisi di halaman parkir itu. Duke Louis pun lihatku yang sedang berada di halaman parkir itu. Setelah itu beliau terlihat berbicara kembali dengan para prajuritnya lalu kemudian beliau pun nghampiriku dan nona Karina

"Apa kalian sudah mau pulang, Rid, kepala akademi ?," tanya Duke Louis.

"Iya, tuan Louis," ucap nona Karina.

"Iya, paman," ucapku.

"Kalau begitu, hati-hati ya. Tolong sampaikan salamku kepada Irene dan juga Nadine ya, Rid," ucap Duke Louis.

"Baik, paman," ucapku.

"Sampai jumpa, Rid, kepala akademi," ucap Duke Louis.

"Sampai jumpa juga, paman," ucapku.

"Iya, sampai jumpa juga, tuan Louis," ucap nona Karina.

Lalu setelah itu, Duke Louis pun pergi ninggalkan kami berdua dan kembali nghampiri para prajuritnya.

"Kelihatannya kamu sangat akrab dengan tuan Louis sampai manggil beliau dengan sebutan ’paman’. Tetapi ketika banyak orang, kamu tidak manggil beliau dengan sebutan ’paman’," ucap nona Karina.

"Ya itu sama seperti anda yang manggil kakak anda dengan ’Yang Mulia Ratu’ ketika sedang ada banyak orang," ucapku.

Kami berdua pun terus berjalan nuju kereta kuda yang kami tuju. Saat kami sudah berada dekat dengan kereta kuda itu, terlihat dua orang prajurit kerajaan dan satu orang yang terlihat seperti sopir sedang berdiri di samping kereta kuda itu. lihat kami berdua yang datang, ketiga orang itu pun langsung nghampiri kami.

"Kepala akademi dan Rid Archie, kami bertiga diperintahkan oleh Yang Mulia Ratu untuk ngantar kalian kembali ke akademi," ucap salah satu dari kedua prajurit itu.

"Iya, aku sudah diberitahu tadi oleh Yang Mulia Ratu. Apa kita boleh berangkat sekarang ?," tanya nona Karina.

"Baik, nona," ucap reka bertiga.

Lalu sopir kereta kuda itu pun mulai naiki kereta kuda itu dan bersiap untuk ngantar kami. Sentara dua orang prajurit itu mulai naiki kuda reka masing-masing dan bersiap untuk ngawal kami.

"Ayo kita segera naik, Rid," ucap nona Karina.

"Baik, nona," ucapku.

Aku dah nona Karina pun langsung naik ke kereta kuda itu.

"Apa sudah siap untuk berangkat, nona ?," tanya sopir kereta kuda itu.

"Iya, berangkat sekarang juga," ucap nona Karina.

"Baik, nona," ucap sopir itu.

Lalu kereta kuda itu perlahan mulai bergerak lalu laju ninggalkan gedung pengadilan. Kereta kuda ini pun mulai nyusuri jalan-jalan ibukota San Estella untuk nuju San Fulgen Akademiya.

Di perjalanan nuju akademi, nona Karina terus lihat ke arahku. Aku yang rasa bingung kenapa nona Karina terus lihat ke arahku pun mulai nanyakannya.

"Ada apa, nona ? Kenapa anda terus lihat ke arahku ?," tanyaku.

"Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang mperhatikan seragam akademi yang kamu kenakan. Apa seragammu ngalami kerusakan ? Jika iya, aku akan mberikan satu buah seragam yang baru," ucap nona Karina.

Lalu aku pun lihat dan mperhatikan seragam yang aku kenakan secara keseluruhan.

"Ada sedikit robek dibagian tertentu, nona. Tapi ini masih bisa diperbaiki," ucapku.

"Tidak perlu, aku akan mberikanmu seragam yang baru. Bagaimana dengan pedang akademi milikmu ?," tanya nona Karina.

"Pedang akademi milikku disita saat aku dipenjara, nona," ucapku.

"Begitu ya, kalau begitu aku juga akan mberikanmu pedang akademi yang baru," ucap nona Karina.

"Terima kasih, nona," ucapku.

"Iya," ucap nona Karina.

-

20 nit kemudian.

Kereta kuda yang kami tumpangi pun telah sampai di gerbang akademi. Kereta kuda yang kami tumpangi pun berhenti tepat di depan gerbang akademi. Setelah kereta kuda itu berhenti, aku pun langsung turun dari kereta kuda itu. Aku pun terus mperhatikan dinding dari gerbang akademi itu.

"Akhirnya aku kembali kesini lagi setelah ngalami berbagai hal yang tidak nyenangkan," ucapku.

Setelah itu, aku pun lihat ke arah gerbang akademi. Aku begitu terkejut karena di gerbang akademi itu terlihat ada banyak orang. reka semua terlihat sedang nunggu kepulanganku.

"Rid!!,"

"Akhirnya kamu kembali, Rid!!,"

"Kami sudah nunggu lama untuk nyambut kepulanganmu!," teriak orang-orang itu.

Aku lihat ada Charles, Chloe dan yang lainnya juga berada di kerumunan orang-orang itu. reka juga berteriak manggil namaku. Aku tidak heran apabila Charles, Chloe dan teman-temanku datang untuk nyambutku. Tetapi aku tidak nyangka kalau banyak murid lain yang datang untuk nyambutku.

"Kamu sangat populer ya, Rid. Bahkan ada banyak yang nyambut kepulanganmu," ucap nona Karina yang tiba-tiba berada di sampingku.

"Apa nona Karina yang rencanakan ini ?," tanyaku.

"Tidak, aku tidak rencanakan apa-apa. Bukannya itu wajar kalau ada banyak murid yang nyambut kedatanganmu ? Lagipula kamu rupakan wakil ketua Elevrad dan kamu juga penang turnan akademi sebelumnya, jadi wajar kalau ada banyak orang yang nyambut kepulanganmu karena kamu sangatlah populer di akademi ini," ucap nona Karina.

"Hmmm begitu ya," ucapku.

ski nona Karina bilang kalau beliau tidak rencanakan ini, aku masih rasa curiga dan terus lihat ke arahnya.

"Berhenti lihat ke arahku, Rid," ucap nona Karina yang sadar kalau aku terus lihat ke arahnya.

Sentara itu, di tengah kerumunan orang yang sedang nyambut kepulangan Rid di gerbang akademi, terlihat seseorang sedang berlari sambil nerobos kerumunan orang itu. Orang itu terus berlari dan nerobos sampai akhirnya dia berhasil keluar dari kerumunan orang itu untuk berlari ke luar gerbang akademi.

Sentara aku yang sedang lihat ke arah nona Karina, rasakan kalau ada seseorang yang sedang berlari ke arahku. Aku pun langsung noleh ke arah orang yang berlari itu. Saat aku noleh, aku lihat kalau orang yang sedang berlari ke arahku ternyata adalah Irene.

"Irene ?," ucapku yang terkejut.

Setelah aku ngatakan itu, tiba-tiba Irene langsung lompat dan lukku hingga mbuat aku terjatuh.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 280 : Kembalinya Rid ke Akademi on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Marvel-ous Ninjutsu cover
Similar genre

Marvel-ous Ninjutsu

Pewpewcachoo ·Action

IdonotownanythingfromMarvelorNaruto.Ijustenjoybothuniverses. Socontentwarningfirst,thisisafanficofhotsteaminggarbage.Ihopeyouenjoyit.Iwillmostlikel...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.