Font Size
15px

30 nit kemudian, di seberang jalan yang berada di depan gerbang gedung pengadilan.

"Sepertinya sudah waktunya bagi kita untuk pulang," ucap paman Bill.

"Kamu benar, kepala desa. Lagipula kita juga sudah cukup lama ngobrol dan Rid juga harus langsung kembali ke akademi," ucap paman Dean.

"Sudah waktunya bagi kita untuk berpisah ya. Terima kasih ya karena telah datang untuk nyemangatiku dalam njalani sidang itu," ucapku.

"Sudah kubilang untuk tidak perlu dipikirkan, Rid. Lagipula kamu adalah bagian dari para penduduk desa Aston dan juga almarhum kakekmu dulunya juga suka mbantuku. Jadi untuk mbalas kebaikannya, aku harus mbantu cucunya," ucap paman Bill.

"Itu benar," ucap paman Dean.

"Begitu ya, pokoknya terima kasih, kalian semua," ucapku.

"Pertahankan prestasimu di akademi, Rid. Kamu sekarang sudah njadi murid terkuat di akademi kan ? Pertahankanlah prestasimu itu," ucap paman Bill.

"Itu benar, jangan sampai prestasimu itu turun, Rid," ucap paman Isaac.

"Dan juga pertahankan hubunganmu dengan putri dari tuan Duke San Lucia, Rid. Kapan lagi ada kesempatan untuk njadi pasangan dari putri seorang Duke, aku iri kepadamu," ucap Eric.

"Aku juga," ucap teman-teman Eric.

"Ahahaha, kita lihat saja kedepannya, Eric. Terima kasih ya atas dukungan kalian semua, aku akan lakukan yang terbaik," ucapku.

"Kalau begitu, kami pergi dulu ya, Rid. Kami harus pergi ke tempat kami naruh kereta kuda. Kami tidak bisa naruh kereta kuda di halaman parkir gedung pengadilan karena halaman parkir itu hanya ditujukan bagi orang-orang penting atau bangsawan. Tapi kami tidak masalah akan hal itu, lagipula jarak kami naruh kereta kuda juga tidak terlalu jauh dari gedung pengadilan," ucap paman Isaac.

"Begitu ya, hati-hati dalam perjalanannya ya, paman dan kalian semua," ucapku.

"Sampai jumpa, Rid," ucap paman Bill dan yang lainnya.

"Iya, sampai jumpa juga, kalian semua," ucapku.

Paman Bill dan warga desa Aston lainnya pun pergi ninggalkanku. Beberapa dari reka terus lambaikan tangannya kepadaku sambil berjalan pergi. Aku pun mbalas lambaian tangan reka. Setelah jarak antara reka dan aku sudah lumayan jauh, aku pun mutuskan untuk kembali ke depan gedung pengadilan. Saat sampai di depan gedung pengadilan, aku lihat nona Karina yang sedang berdiri sambil bersandar di dinding yang berada di samping pintu depan gedung pengadilan. Aku pun mutuskan untuk nghampirinya. Nona Karina terlihat ngetahui kalau aku sedang nghampirinya, beliau pun langsung lihat ke arahku.

"Bagaimana ? Apa kamu sudah ngobrol dengan orang-orang dari kampung halamanmu, Rid ?," tanya nona Karina.

"Sudah, nona," ucapku.

"Kalau begitu, apa kamu mau kembali ke akademi sekarang ?," tanya nona Karina.

"Apa aku bisa nanti saja kembali ke akademinya, nona Karina ? Soalnya tadi pa- maksudnya tuan Duke Louis mintaku untuk berbicara dengannya terlebih dahulu setelah berbicara dengan orang-orang dari kampung halamanku. Tuan Duke Louis bilang kalau beliau mau pergi ke gereja Sancta Lux terlebih dahulu, jadi aku disuruh nunggu terlebih dahulu sampai beliau kembali karena beliau ingin berbicara denganku," ucapku.

"Begitu ya. Baiklah, tidak apa-apa. Lagipula jarak gedung pengadilan ini dan akademi lumayan dekat, jadi kalaupun kita pulang saat malam hari, tidak akan makan waktu yang lama bagi kita untuk sampai di akademi," ucap nona Karina.

"Terima kasih, nona Karina," ucapku.

"Tidak perlu berterima kasih. Lagipula kakak nyuruhku untuk ngantarmu kapanpun kamu siap untuk kembali ke akademi. Jadi mau kamu kembali sekarang atau nanti, tidak masalah untukku," ucap nona Karina.

"Nona Karina selalu nyebut Yang Mulia Ratu sebagai ’kakak’ saat anda sedang berbicara denganku ya. Padahal anda nampak berbicara dengan Yang Mulia Ratu dengan formal ketika sedang ada banyak orang," ucapku.

"Mana mungkin aku nyebut dia dengan ’kakak’ ketika sedang ada banyak orang. Aku nyebut dia ’kakak’ ketika sedang berbicara berdua denganmu karena kamu sudah tahu tentang hubunganku dengan Yang Mulia Ratu. Sudahlah, mari kita abaikan soal ini. Daripada itu, kamu bilang kalau kamu masih akan berbicara dengan tuan Louis, kan ?," tanya nona Karina.

"Iya, nona," ucapku.

"Kalau begitu aku mau berjalan-jalan ke luar gedung pengadilan terlebih dahulu. Jika kamu sudah berbicara dengan tuan Louis tetapi aku masih belum datang, kamu tunggu saja disini," ucap nona Karina.

"Baik, nona," ucapku.

"Kalau begitu, aku pergi dulu," ucap nona Karina.

"Hati-hati di jalan, nona," ucapku.

Lalu nona Karina pun pergi ke luar wilayah gedung pengadilan.

-

10 nit kemudian.

Aku lihat Duke Louis dan para prajuritnya baru saja kembali ke gedung pengadilan. Komandan wanita yang bernama Mina pun juga ada di rombongan tersebut. reka kembali ke gedung pengadilan dengan berjalan kaki, mungkin karena jarak gedung pengadilan dengan gereja Sancta Lux cukup dekat jadi reka tidak perlu naiki kereta kuda. Duke Louis sepertinya lihatku yang sedang nunggunya, beliau pun langsung nghampiriku.

"Apa kamu sudah nunggu lama, Rid ?," tanya Duke Louis.

"Tidak, paman. Apa paman sudah selesai riksa keadaan para prajurit paman ?," tanyaku.

"Iya, sudah. Beberapa dari reka awalnya terluka karena terkena serangan ~Dark Magic~, namun reka sudah disembuhkan oleh para Priest di gereja Sancta Lux," ucap Duke Louis.

"Begitu ya, syukurlah kalau reka sudah disembuhkan," ucapku.

"Iya," ucap Duke Louis.

Setelah itu, Duke Louis noleh ke belakang. Terlihat ada komandan Mina dan para prajuritnya yang sedang berada di belakang Duke Louis.

"Kalian semua tunggu di halaman parkir saja. Aku masih ada yang harus dibicarakan dengan Rid," ucap Duke Louis.

"Baik, tuan Duke. Kalian semua, ayo pergi," ucap komandan Mina.

"Baik, komandan," ucap para prajurit Duke San Lucia.

Komandan Mina dan para prajurit San Lucia pun pergi nuju halaman parkir gedung pengadilan.

"Nah sekarang, kita bisa ngobrol berdua, Rid," ucap Duke Louis.

"Apa yang mau paman bicarakan berdua denganku ?," tanyaku.

"Aku hanya ingin nyampaikan terima kasih karena kamu telah nyelamatkan seluruh keluargaku," ucap Duke Louis sambil sedikit mbungkuk.

Aku pun terkejut lihat Duke Louis yang lakukan itu.

"Angkat kepala anda, paman. Anda tidak perlu berterima kasih, lagipula aku tidak lakukan apa-apa," ucapku.

"Tidak, tentu ini semua karenamu. Karena kamu berhasil mbunuh orang-orang yang berusaha mbunuhmu di hutan Hevea, aku jadi ngetahui kalau ternyata kedua Duke rencanakan pembunuhan terhadap seluruh keluargaku dan juga Yang Mulia Ratu. Jika saja kamu tidak berhasil mbunuh reka semua dan malah kamu yang terbunuh, aku tidak akan pernah tahu tentang rencana itu. Seluruh keluargaku dan Yang Mulia Ratu akan terus njalani hidup yang tenang tanpa ngetahui kalau sebenarnya kami semua sebentar lagi akan dibunuh. Jadi aku ngucapkan terima kasih karena kamu telah nyelamatkan seluruh keluargaku secara tidak langsung," ucap Duke Louis.

"Apa yang anda katakan sama persis dengan yang dikatakan oleh Yang Mulia Ratu, paman. Yang Mulia Ratu juga berkata seperti itu saat ngucapkan terima kasih kepadaku," ucapku.

"Begitu ya. Pokoknya aku ngucapkan terima kasih dan juga, aku bersyukur karena kamulah yang njadi pacar dari Irene, Rid. Jika yang njadi pacar Irene adalah orang lain, mungkin dia tidak akan selamat jika terjebak dalam rencana pembunuhan seperti yang terjadi di hutan Hevea. Aku tidak nyangka reka berniat untuk mbunuh kamu yang rupakan pacar Irene saat ini agar Irene bisa kembali ngikuti ~Matchmaking Battle~ dan setelah itu reka berniat mbunuh kami semua di acara itu," ucap Duke Louis.

"Iya, aku juga tidak nduga kalau reka berniat rencanakan hal itu, rencanakan untuk mbunuh seluruh keluarga San Lucia dan Yang Mulia Ratu. Tetapi setidaknya sekarang anda bisa sedikit tenang, paman. Karena Yang Mulia Ratu berniat mbatalkan acara itu dan Duke Jas, Duke Darwin dan Marquess Marcelo pun juga telah tewas. Yah ski situasinya belum aman karena mungkin masih ada dalang utama yang njalankan rencana itu," ucapku.

"Iya, kamu benar. Kalaupun acara ~Matchmaking Battle~ itu tetap diadakan, Irene juga tidak akan ngikuti acara itu. Karena saat ini Irene telah berpacaran denganmu," ucap Duke Louis.

Aku hanya tersenyum saja ndengar perkataan Duke Louis.

"Karena kamu telah nyelamatkan seluruh keluargaku, aku berniat untuk mberikanmu hadiah, Rid. Apa ada sesuatu yang kamu inginkan ?," tanya Duke Louis.

"Hadiah ? Sepertinya tidak perlu, paman. Tadi Yang Mulia Ratu juga berniat untuk mberiku hadiah dan sekarang paman yang ingin mberiku hadiah. Aku terlalu banyak ndapatkan hadiah. Hadiah uang yang aku terima dari Yang Mulia Ratu karena berkontribusi dalam lawan orang-orang yang nyerang akademi saja masih tersisa banyak. Jika aku ndapatkan hadiah uang lagi, aku bingung untuk apa aku makai uang-uang itu. Aku juga tidak miliki sesuatu yang aku diinginkan," ucapku.

"ski begitu, aku tidak tenang apabila tidak mberikanmu hadiah, Rid. Padahal kamu sudah nyelamatkan seluruh keluargaku, tetapi aku malah tidak mberikanmu hadiah. Pokoknya aku akan tetap mberikanmu hadiah, jadi kamu harus nerimanya," ucap Duke Louis.

"Ehh, tapi....," ucapku.

"Tidak ada tapi-tapi, aku akan tetap mberikanmu hadiah," ucap Duke Louis yang sedikit maksa.

"B-baiklah, paman. Kalau begitu bolehkah aku mikirkan tentang hadiahnya terlebih dahulu ?," tanyaku.

"Silahkan, pikirkan hadiah apa yang kamu inginkan," ucap Duke Louis.

Lalu aku pun mikirkan tentang hadiah apa yang aku inginkan. Tidak lama kemudian, aku pun tahu hadiah apa yang aku inginkan.

"Aku sudah tahu hadiah apa yang aku inginkan, paman," ucapku.

"Hadiah apa itu ?," tanya Duke Louis.

"Tapi aku ingin nanyakan satu hal terlebih dahulu. skipun aku nginginkan hadiah ini, tetapi apa tidak apa-apa kalau hadiah ini tidak diberikan kepadaku lainkan kepada orang lain ?," tanyaku.

"Hadiahnya bukan untukmu, tetapi untuk orang lain ? mangnya kamu ingin mberikan hadiah ini kepada siapa ?," tanya Duke Louis.

"Aku ingin mberikan hadiah ini kepada para warga yang berada di desa Aston, kampung halamanku. Aku ingin paman mberikan hadiah berupa kebutuhan pokok kepada warga disana," ucapku.

"Untuk para warga di desa Aston ya, desa itu berada di wilayah San Minerva bukan ?," tanya Duke Louis.

"Iya. Apa mungkin tidak bisa ya, paman ? Karena anda rupakan Duke San Lucia, jadi anda tidak bisa mberikan kebutuhan pokok ke wilayah yang berada di luar wilayah anda seperti San Minerva," ucapku.

"Tidak, itu bisa dilakukan, Rid. Lagipula kebutuhan pokok yang diberikan itu hanyalah sebuah hadiah yang sekali diberikan dan bukanlah sebuah pemberian rutin, jadi tidak masalah skipun aku yang rupakan Duke San Lucia mberikan kebutuhan pokok ke desa Aston yang berada di wilayah Minerva. Namun permasalahannya, apa kamu yakin soal itu, Rid ? Hadiah ini seharusnya diberikan kepadamu, tetapi kamu malah minta untuk diberikan ke orang lain," ucap Duke Louis.

"Ya, aku yakin, paman. Ini sebagai balas budi kepada reka karena reka semua telah baik kepadaku, bahkan setelah almarhum kakekku ninggal. Jadi aku mutuskan untuk mberikan reka hadiah yang sebelumnya ditujukan kepadaku. skipun kehidupan warga di desa Aston lumayan bercukupan, reka pasti akan tetap senang apabila ndapatkan hadiah itu," ucapku.

"Begitu ya. Yah asalkan kamu setuju dan senang dengan hadiah yang kuberikan, itu sudah cukup. Aku tidak peduli kamu ingin mberikan hadiah ini kepada siapa. Kalau begitu, aku akan mberikan hadiah berupa kebutuhan pokok kepada para warga di kampung halamanmu, Rid. Aku akan mberikannya paling lambat seminggu dari hari ini," ucap Duke Louis.

"Terima kasih, paman," ucapku.

"Tidak perlu berterima kasih. Lagipula ini adalah hadiah untukmu karena kamu telah nyelamatkan seluruh keluargaku," ucap Duke Louis.

Aku pun tersenyum ndengar itu. Setelah itu, aku dan Duke Louis pun kembali ngobrol.

Sentara itu, tidak jauh dari lokasi Rid dan Duke Louis, terlihat Duke Remy baru saja kembali bersama para prajuritnya. Lalu setelah itu Duke Remy pun mulai berbicara dengan para prajuritnya. Sesekali Duke Remy lirik ke arah Rid dan Duke Louis.

"Apa yang sedang reka bicarakan ? Karena jarakku cukup jauh dari reka berdua, aku tidak bisa ndengar apa yang reka bicarakan," pikir Duke Remy.

Duke Remy berusaha untuk ndengar percakapan Rid dan Duke Louis, namun beliau tetap tidak bisa ndengar percakapan itu.

"Ya sudahlah kalau mang aku tidak bisa ndengar percakapan reka. Daripada itu, saat Yang Mulia Ratu nghampiri Rid Archie yang sedang ngobrol dengan banyak orang sebelumnya, aku ndapatkan informasi yang narik. Jadi Rid Archie berasal dari salah satu desa di wilayah San Minerva yang bernama desa Aston ya," pikir Duke Remy sambil tersenyum.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 279 : Hadiah Dari Duke Louis on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Elven Invasion cover
Similar genre

Elven Invasion

Respro ·Action

MagicvsScience HumanvsElves EarthvsForestia MortalvsGod ThisisataleinwhichGoddessLunainordertosaveherplanetandcivilizationstartsainvasiononEarth,Wi...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.