Diskusi yang dilakukan di halaman parkir gedung pengadilan pun telah selesai. ski begitu, diskusi ini akan tetap dilanjutkan keesokan harinya di tempat yang akan diinformasikan oleh Ratu Kayana. Diskusi yang akan berlangsung keesokan harinya, tentu saja akan dihadiri oleh banyak orang yang terlibat dalam kasus yang sedang terjadi, entah sebagai korban, pelaku atau sebagai saksi. Karena kasus yang sedang terjadi begitu besar, bahkan sampai libatkan dua orang Duke, diskusi tentang kasus ini mungkin akan terus berlangsung selama beberapa hari ke depan.
Aku tidak diwajibkan untuk ngikuti diskusi yang akan berlangsung besok atau beberapa hari ke depan karena statusku sebagai murid akademi dan aku harus fokus untuk belajar di akademi. Ratu Kayana bilang kalau misal beliau mbutuhkan penjelasan atau informasi dariku, beliau akan nyuruh nona Karina untuk ndapatkan informasi itu dariku, lalu nona Karina sendiri yang akan nyampaikan informasi itu ke Ratu Kayana. Jadi aku tidak perlu terlalu ikut campur dalam diskusi kasus ini.
Setelah diskusi di halaman parkir gedung pengadilan telah selesai dilaksanakan, kami semua pun ninggalkan halaman parkir dan pergi ke area depan gedung pengadilan. Terlihat ada banyak orang yang berada di depan gedung pengadilan. Saat lihat kami datang ke depan gedung pengadilan, beberapa orang mulai bergegas nghampiri kami. Namun para prajurit yang sedang bersiaga di tempat itu langsung nahan orang-orang itu agar tidak nghampiri kami. Orang-orang yang berusaha nghampiri kami terlihat mbawa alat tulis dan buku catatan kecil di tangan reka.
"reka itu, reka dari Diganta ya," ucap Ratu Kayana.
Lalu Ratu Kayana nghampiri para prajurit yang nahan orang-orang itu.
"Cukup, para prajurit, lepaskan reka. reka pasti ingin ndapatkan informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi di gedung pengadilan ini. Biarkan reka ndapatkan informasi dari kami," ucap Ratu Kayana.
"Tapi, jumlah reka cukup banyak, Yang Mulia Ratu. Kami takut kalau reka mungkin akan mbuat anda kerepotan. Dan juga, bisa saja salah satu dari reka ada yang nyamar sebagai anggota Diganta dan malah berniat untuk lukai anda," ucap salah satu prajurit.
"Kalian terlalu berlebihan, lagipula kalian tetap njadi pembatas antara aku dan reka agar reka semua tidak ndekatiku kan ? Jadi aku yakin kalau aku akan tetap aman ski ditanyain oleh orang-orang sebanyak itu," ucap Ratu Kayana.
"Baiklah kalau begitu, Yang Mulia Ratu," ucap prajurit itu.
Lalu para prajurit yang nahan orang-orang dari Diganta mulai lepaskan reka. Orang-orang itu pun dengan cepat langsung nghampiri Ratu Kayana. Namun reka langsung ditahan oleh beberapa prajurit untuk tidak terlalu dekat dengan Ratu Kayana. Orang-orang itu pun makluminya karena bagaimana pun keselamatan dan keamanan Ratu Kayana adalah hal nomor satu. Orang-orang itu tetap tertib skipun ditahan oleh beberapa prajurit agar tidak ndekati Ratu Kayana. Orang-orang itu pun mulai mberikan pertanyaan kepada Ratu Kayana. Ratu Kayana pun njawab pertanyaan dari reka satu persatu. Beliau juga njelaskan tentang apa yang terjadi di gedung pengadilan ini dan hasil sidang tentang insiden yang terjadi di hutan Hevea. lihat tenangnya Ratu Kayana dalam njelaskan dan njawab pertanyaan dari orang-orang Diganta itu, njelaskan bahwa kalau beliau benar-benar seorang Ratu dari kerajaan ini. skipun pakaian yang beliau gunakan saat ini tidak ncerminkan beliau sebagai seorang Ratu karena beliau ngenakan pakaian kasual saat datang ke gedung pengadilan. Yah itu wajar ngingat ndatangi gedung pengadilan untuk lihat sidang bukanlah acara formal untuk Ratu Kayana, jadi beliau tidak wajib ngenakan pakaian Ratu miliknya.
Selain nghampiri Ratu Kayana, orang-orang dari Diganta juga nghampiri Duke Remy, Duke Louis, komandan Oliver, nona Karina dan bahkan aku. ngingat sebelumnya aku disebut sebagai pelaku dalam insiden di hutan Hevea, masuk akal kalau reka ndatangiku untuk ndapatkan penjelasan dariku tentang apa yang terjadi sebenarnya. reka nanyaiku tentang apa yang sebenarnya terjadi di hutan Hevea, tentang sidang yang dilakukan di gedung pengadilan sebelumnya dan tentang para iblis yang tiba-tiba nyerang gedung pengadilan dan sekitarnya. reka ngetahui tentang iblis itu karena reka lihat adanya mayat para iblis di depan gedung pengadilan. Aku pun njawab semua pertanyaan reka, namun ada beberapa pertanyaan yang aku jawab ’tidak tahu’ skipun sebenarnya aku ngetahuinya. Aku njawab seperti itu karena aku berpikir kalau sepertinya bukan kewenanganku untuk njawab dan mberikan penjelasan detail kepada reka. Untunglah reka percaya dengan jawabanku skipun aku njawab ’tidak tahu’. Selain nanyakan tentang ketiga hal itu, reka juga nanyakan hal lain bahkan hal di luar topik insiden di hutan Hevea dan di gedung pengadilan. Salah satunya, reka nanyakan tentang hubunganku dengan Irene. Aku bingung harus njawab apa jadi aku jawab seadanya saja. ski aku sudah njawab pertanyaan reka, reka nanyaiku dengan pertanyaan baru dan semakin lama, aku semakin kerepotan dengan hal itu.
-
1 jam kemudian.
Orang-orang Diganta itu pun berhenti mberikanku pertanyaan. reka lalu ninggalkanku namun reka masih berada di depan gedung pengadilan.
"Haaaahhhh, akhirnya selesai juga. Aku tidak nyangka aku harus njawab pertanyaan reka selama 1 jam," ucapku.
"Bagaimana rasanya njadi orang terkenal, Rid ?," tanya nona Karina yang tiba-tiba datang nghampiriku.
"Apa nona Karina sedang ledekku ?," tanyaku.
"Ahahaha. Sudahlah, ambil ini," ucap nona Karina.
Nona Karina lalu lemparkan sesuatu kepadaku. Aku pun dengan sigap langsung nangkap sesuatu itu. Setelah aku tangkap, aku mperhatikan sesuatu itu yang ternyata adalah sebuah minuman yang dikemas dalam kemasan botol.
"Sebuah minuman ?," tanyaku yang bingung.
"Kamu pasti lelah setelah njawab pertanyaan reka kan ? Itu untukmu, kamu minum saja," ucap nona Karina.
Terlihat nona Karina juga gang botol minum yang sama dengan yang diberikan kepadaku. Beliau pun juga minum minuman dari botol itu.
"Terima kasih, nona Karina. Kalau begitu aku terima," ucapku.
"Iya," ucap nona Karina.
Setelah minum minuman yang diberikan nona Karina, aku pun ngobrol dengan nona Karina kembali.
"Aku pikir tadi nona Karina akan nggantikanku dalam njawab pertanyaan orang-orang Diganta itu," ucapku.
"Saat itu aku juga sedang ditanyai oleh orang-orang Diganta, jadi aku tidak bisa nggantikanmu ketika kamu sedang ditanyai oleh reka. Lagipula, skipun aku sedang tidak ditanyai oleh orang-orang Diganta, aku tetap tidak mau nggantikanmu. Jika aku nggantikanmu, kamu tidak akan punya pengalaman dalam nghadapi pertanyaan-pertanyaan dari orang-orang seperti orang-orang Diganta itu. Aku yakin kedepannya kamu akan ngalami hal seperti ini lagi jadi kamu pasti juga akan ditanyai lagi oleh orang-orang seperti reka. Jadi hal ini bagus untuk nambah pengalamanmu," ucap nona Karina.
"Perkataan nona Karina benar juga," ucapku.
Saat aku sedang ngobrol dengan nona Karina, aku lihat ada beberapa orang yang lambai ke arahku dari sisi jalan yang berada tepat di depan gerbang gedung pengadilan. Aku ngenali semua orang yang lambai-lambaikan tangannya kepadaku itu.
"Nona Karina, boleh aku permisi sebentar ? Ada orang-orang yang ingin aku temui," ucapku.
"Baiklah," ucap nona Karina.
Lalu aku pun pergi ninggalkan nona Karina untuk nemui orang-orang itu. Saat sudah sampai di hadapan orang-orang itu, aku langsung berbicara dengan reka.
"Kalian, ternyata kalian masih ada disini ya," ucapku.
Orang-orang yang sedang kutemui ini adalah paman Dean, paman Bill, paman Isaac, Eric dan beberapa warga desa Aston lainnya.
"Tentu saja karena kami tidak akan pulang sampai hasil sidangmu diketahui, Rid," ucap paman Isaac.
"Kami sebelumnya nunggu di depan gedung pengadilan. Namun tiba-tiba ada banyak orang yang keluar dari gedung pengadilan dan setelah itu, ada beberapa iblis yang ngejar orang-orang yang keluar dari gedung pengadilan. Kami semua yang berada di depan gedung pengadilan pun panik dan berusaha nyelamatkan diri. Kami nyelamatkan diri dengan pergi keluar dari wilayah gedung pengadilan. Setelah situasinya sudah terkendali dan iblis-iblis itu sudah dikalahkan, kami mutuskan kembali ke gedung pengadilan," ucap paman Bill.
"Begitu ya, pantas saja kalian semua tidak terlihat di halaman parkir gedung pengadilan. Padahal beberapa orang berlindung di area itu. Tapi lihat kalian yang tidak terluka sedikitpun, aku bersyukur kalian baik-baik saja," ucapku.
"Bagaimana denganmu, Rid ? Bagaimana dengan hasil sidangnya ?," tanya paman Bill.
"Itu benar, Rid, kami penasaran dengan hasil sidangmu soalnya kami belum ndapatkan informasi tentang hal itu," ucap Eric.
"Kalian tidak perlu khawatir. Aku dinyatakan tidak bersalah dalam insiden itu, jadi aku saat ini telah bebas," ucapku.
"Syukurlah," ucap paman Bill.
"Syukurlah, Rid," ucap paman Dean.
Lalu beberapa dari reka pun mulai rangkulku. Kemudian aku pun ngobrol dengan reka semua sekaligus lepas rindu karena sudah lama tidak bertemu.
-
30 nit kemudian.
Disaat aku sedang ngobrol dengan orang-orang dari desa Aston, Ratu Kayana datang nghampiriku. Tidak hanya Ratu Kayana saja, beliau juga ditemani oleh Duke Remy, Duke Louis, nona Karina, Caroline, komandan Oliver dan beberapa prajurit yang berjaga di sekitar reka.
"Kelihatannya kamu sedang asik ngobrol ya, Rid," ucap Ratu Kayana.
"Yang Mulia Ratu ? Ah, maafkan saya, Yang Mulia Ratu, apa Yang Mulia Ratu ada perlu dengan saya ?," tanyaku.
"Tidak ada, aku hanya penasaran dengan siapa kamu ngobrol karena kamu terlihat asik ngobrol dengan reka. Siapa reka, Rid ?," tanya Ratu Kayana.
"Biar saya perkenalkan, Yang Mulia Ratu, reka adalah teman-teman dan tetangga saya ketika saya masih tinggal di Desa Aston. Lalu beliau adalah kepala desa di desa Aston, namanya paman Bill," ucapku sambil gang pundak paman Bill.
"Salam hormat, Yang Mulia Ratu," ucap paman Bill sambil mbungkuk mberi hormat.
Orang-orang dari desa Aston lainnya pun juga ikut mbungkuk untuk mberi hormat.
"Sudah-sudah, kalian tidak perlu mbungkuk untuk mberi hormat," ucap Ratu Kayana.
Lalu paman Bill dan yang lainnya pun nuruti perkataan Ratu Kayana.
"Desa Aston ya, suatu desa yang berada di wilayah San Minerva. Desa itu rupakan salah satu dari desa-desa yang dipimpin oleh Viscount Ivan. Jadi kamu berasal dari desa Aston ya, Rid," ucap Ratu Kayana.
"Iya, Yang Mulia Ratu," ucapku.
"Ternyata anda tahu tentang desa kami ya, Yang Mulia Ratu. Saya cukup terkejut padahal desa kami hanyalah desa yang kecil," ucap paman Bill.
"Sebagai Ratu dari kerajaan ini, sudah kewajiban bagiku untuk ngetahui seluruh wilayah di kerajaan ini hingga ke desa-desanya," ucap Ratu Kayana.
"Begitu ya, saya minta maaf karena telah rehkan pengetahuan anda, Yang Mulia Ratu," ucap paman Bill sambil mbungkuk.
"Sudah, tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, Rid, apa kamu sudah selesai ngobrol dengan reka ? Jika kamu sudah selesai, kepala akademi akan ngantarmu untuk kembali ke akademi. Tapi jika belum, kamu selesaikan saja obrolanmu terlebih dahulu, lagipula kamu sudah lama tidak berjumpa dengan reka kan ?," tanya Ratu Kayana.
"Baik, Yang Mulia Ratu. Saya masih ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengan reka, bolehkah saya minta tambahan waktu untuk berbicara dengan reka ?," tanyaku.
"Aku sih tidak keberatan, bagaimana dengan anda, kepala akademi ?," tanya Ratu Kayana.
"Saya juga tidak keberatan," ucap nona Karina.
"Kepala akademi juga bicara begitu. Bicaralah terlebih dahulu dengan reka sampai kamu puas, Rid, karena setelah kamu kembali ke akademi, kamu mungkin akan mbutuhkan waktu yang lama agar bisa bertemu dengan reka kembali," ucap Ratu Kayana.
"Baik, Yang Mulia Ratu," ucapku.
"Kalau begitu aku permisi dulu karena masih ada beberapa urusan yang harus diselesaikan di sekitar gedung pengadilan. Maaf kalau aku telah ngganggu pembicaraan kalian," ucap Ratu Kayana.
"Tidak apa-apa, Yang Mulia Ratu, anda tidak perlu minta maaf," ucapku.
"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu," ucap Ratu Kayana.
"Silahkan, Yang Mulia Ratu," ucapku sambil mbungkuk.
Paman Bill dan orang-orang desa Aston lainnya juga ikut mbungkuk. Sentara Ratu Kayana dan yang lainnya pergi kembali nuju area gedung pengadilan. Disaat Ratu Kayana dan yang lainnya pergi nuju area gedung pengadilan, Duke Louis keluar dari rombongan Ratu Kayana dan pergi nghampiriku.
"Paman Louis ? Kenapa anda kesini ? bukannya anda tadi pergi bersama Yang Mulia Ratu ?," tanyaku.
"Aku kesini hanya untuk nyampaikan sesuatu saja. Setelah kamu berbicara dengan teman dan tetanggamu, bisakah kamu luangkan waktu untuk berbicara denganku ? Setelah ini aku akan pergi ke gereja Sancta Lux untuk lihat keadaan para prajuritku tapi setelah itu aku akan kembali kesini, jika kamu sudah selesai bicara dengan reka namun aku belum kembali ke gedung pengadilan, bisakah kamu nungguku ?," tanya Duke Louis.
"Baiklah, paman, aku akan nunggu anda dan luangkan waktu untuk berbicara dengan anda," ucapku.
"Terima kasih, Rid," ucap Duke Louis.
"Sama-sama, paman," ucapku.
"Kalau begitu, aku permisi dulu. Aku harus nyusul Yang Mulia Ratu," ucap Duke Louis.
"Silahkan, paman," ucapku.
Lalu Duke Louis pun pergi nyusul Ratu Kayana, sentara aku lanjutkan pembicaraanku dengan orang-orang dari Desa Aston. Saat sudah nyusul rombongan Ratu Kayana, Duke Louis langsung nghampiri Ratu Kayana dan ngobrol dengannya.
"Permisi, Yang Mulia Ratu, bolehkan saya izin pergi untuk riksa keadaan beberapa prajurit saya yang saat ini sedang berada di gereja Sancta Lux ?," tanya Duke Remy.
"Gereja Sancta Lux ? Ah benar juga, anda bilang kalau beberapa prajurit anda terluka setelah lawan iblis yang keluar dari wilayah gedung pengadilan," ucap Ratu Kayana.
"Iya, Yang Mulia Ratu," ucap Duke Louis.
"Baiklah, jika anda ingin pergi kesana, aku ngizinkannya, tuan Louis," ucap Ratu Kayana.
"Terima kasih, Yang Mulia Ratu. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Duke Louis.
"Iya," ucap Ratu Kayana.
Duke Louis pun pergi ninggalkan rombongan Ratu Kayana. Ratu Kayana pun lihat ke arah Duke Louis yang pergi. Setelah itu dia noleh ke orang-orang yang berada di belakangnya.
"Apa ada dari kalian yang miliki urusan yang sama seperti tuan Louis ? Aku tidak keberatan mbiarkan kalian pergi apabila kalian miliki urusan," ucap Ratu Kayana.
"Saya, Yang Mulia Ratu. Saya minta izin untuk pergi ncari para prajurit saya. Saya sejak tadi belum nemukan reka dan saya juga tidak tahu reka ada dimana. Saya khawatir apabila reka terluka tanpa sepengetahuan saya," ucap Duke Remy sambil ngangkat tangannya.
"Silahkan, tuan Remy, aku ngizinkannya," ucap Ratu Kayana.
"Terima kasih, Yang Mulia Ratu," ucap Duke Remy.
"Iya," ucap Ratu Kayana.
Duke Remy lalu pergi ninggalkan rombongan.
"Ada lagi ? Kepala akademi dan tuan Oliver, apa kalian tidak miliki urusan ?," tanya Ratu Kayana.
"Saya tidak miliki urusan, Yang Mulia Ratu. Tapi kalau diizinkan, bolehkah saya riksa sekitar gedung pengadilan ini ? Saya hanya ingin lihat-lihat saja," ucap nona Karina.
"Baiklah, lagipula saat ini diskusi juga sedang dihentikan. Jika anda mau lihat-lihat, silahkan saja, kepala akademi," ucap Ratu Kayana.
"Baik, Yang Mulia Ratu. Kalau begitu, saya permisi," ucap nona Karina.
"Iya," ucap Ratu Kayana.
Lalu nona Karina pun pergi ninggalkan rombongan.
"Kalau saya tidak miliki urusan, Yang Mulia Ratu. Saya akan nemani anda saja," ucap komandan Oliver.
"Baiklah. Aku berencana untuk pergi ke dalam gedung pengadilan untuk riksa dengan detail tentang kerusakan yang terjadi di dalam gedung itu," ucap Ratu Kayana.
"Kalau begitu saya ikut, Yang Mulia Ratu," ucap komandan Oliver.
Lalu Ratu Kayana, komandan Oliver dan yang lainnya pun pergi ke dalam gedung pengadilan. Saat sudah sampai di dalam gedung pengadilan, Caroline mutuskan untuk lihat-lihat bagian dalam gedung pengadilan, jadi dia berpisah dengan Ratu Kayana. Sentara Ratu Kayana dan komandan Oliver, saat ini sedang berada di tengah ruangan pengadilan, tepatnya di tempat yang terdapat kursi untuk terdakwa. Saat Ratu Kayana dan komandan Oliver sedang riksa tempat itu, tiba-tiba muncul cahaya terang dari saku pakaian milik komandan Oliver. Ratu Kayana yang lihat cahaya itu langsung noleh ke arah komandan Oliver.
"Sepertinya ada yang nghubungi saya lewat kristal komunikasi, Yang Mulia Ratu. Saya minta izin untuk nerima panggilan ini," ucap komandan Oliver.
"Iya," ucap Ratu Kayana.
Lalu komandan Oliver pun nerima panggilan dari kristal komunikasi itu, sentara Ratu Kayana tetap fokus lihat-lihat dinding atau objek yang rusak di ruang tengah gedung pengadilan itu.
Beberapa nit kemudian, komandan Oliver pun nghampiri Ratu Kayana untuk mberikan laporan.
"Yang Mulia Ratu, saya baru ndapatkan laporan dari Asier," ucap komandan Oliver.
"Asier ? Jadi yang nghubungi anda barusan adalah Asier ya," ucap Ratu Kayana.
"Iya, Yang Mulia Ratu," ucap komandan Oliver.
"Laporan apa yang Asier berikan ?," tanya Ratu Kayana.
"Saat Asier datang ke kediaman tuan Jas, dia tidak nemukan nona Claret di kediaman itu. Dia dan pasukannya sudah ncari ke seluruh ruangan yang ada di kediaman itu namun dia tetap tidak dapat nemukannya. Bahkan para prajurit tuan Jas juga tidak tahu kemana perginya nona Claret," ucap komandan Oliver.
"Hmmmm, kemana perginya beliau ya ? Apa mungkin beliau sudah tahu kalau rencana suaminya sudah terkuak dan beliau mutuskan pergi larikan diri ?," tanya Ratu Kayana.
"Mungkin seperti itu, Yang Mulia Ratu. Sepertinya nona Claret juga terlibat dalam rencana itu, jika beliau tidak terlibat, seharusnya beliau tidak perlu larikan diri," ucap komandan Oliver.
"Sepertinya begitu," ucap Ratu Kayana.
"Lalu, ada satu laporan lagi yang diberikan oleh Asier, Yang Mulia Ratu. Tetapi saya tidak tahu apakah saya harus laporkan ini atau tidak," ucap komandan Oliver.
"Katakan saja, tuan Oliver. mangnya apa isi laporan itu sampai anda sendiri tidak tahu harus laporkan laporan itu atau tidak ?," tanya Ratu Kayana.
"Karena laporan ini berisi tentang suami anda, Yang Mulia Ratu, yaitu Raja Albert," ucap komandan Oliver.
"Suamiku ? Apa isi laporan tersebut ?," tanya Ratu Kayana.
"Setelah Asier tidak nemukan nona Claret di kediamannya, Asier dan pasukannya fokus untuk ncari bukti atau dokun ncurigakan di kediaman itu. Lalu dia nemukan salah satu dokun dan dia pun mulai mbacanya. Di dokun itu, tercantum kalau suami anda yaitu Raja Albert, juga terlibat dalam rencana pembunuhan anda dan seluruh keluarga San Lucia," ucap komandan Oliver.
"Apa ?!?!," ucap Ratu Kayana yang terkejut.
-Bersambung
Reviews
All reviews (0)