Peace Hunter Chapter 272 : Julukan Baru

Novel: Peace Hunter Author: Rizdhan Updated:
Font Size
15px

"Singkatnya, Rid akan njadi incaran seluruh gereja pusat Sancta Lux dan Holy Kingdom itu sendiri," ucap nona Karina.

Ratu Kayana pun terdiam setelah ndengar penjelasan dari nona Karina. Beliau terlihat sedang mikirkan sesuatu.

"Sepertinya lebih baik untuk tidak minta Rid nyembuhkan orang-orang yang terkena serangan ~Dark Magic~, Yang Mulia Ratu. Jika mang apa yang dikatakan oleh kepala akademi adalah benar, itu pasti akan sangat repotkan Rid ke depannya. Mustahil bagi Rid untuk ngatasi ini apabila dia harus berurusan dengan gereja pusat Sancta Lux dan Holy Kingdom," ucap komandan Asier.

"Itu benar, Yang Mulia Ratu," ucap komandan Oliver.

Ratu Kayana masih terdiam sambil mikirkan sesuatu.

"Tentu apa yang saya jelaskan tadi hanyalah kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi apabila informasi tentang Rid yang bisa nyembuhkan luka yang diakibatkan oleh ~Dark Magic~ tersebar ke publik. Kemungkinan itu masih belum sepenuhnya akan terjadi. ski begitu, tidak ada salahnya kita waspada terhadap adanya kemungkinan itu," ucap nona Karina.

Ratu Kayana yang awalnya hanya terdiam pun mulai berbicara.

"Sepertinya anda benar, kepala akademi. ski kemungkinan itu belum pasti akan terjadi, tidak ada salahnya bagi kita untuk waspada. Selama ini Rid sudah kesulitan dalam nghadapi semua ini. Sebelumnya dia mau dibunuh oleh para prajurit tuan Darwin dan baru-baru ini dia mau dibunuh oleh orang-orang suruhan tuan Jas dan beberapa subjek. Jika aku mbiarkan informasi tentang Rid tersebar ke publik, Rid akan tambah kesulitan. Sebagai Ratu kerajaan ini, aku tidak boleh mbuat salah satu rakyatku kesulitan, apalagi rakyatku ini rupakan ’pahlawan akademi’ dan ’pahlawan kerajaan San Fulgen’,"

"Aku minta maaf Rid. Aku tidak jadi minta bantuanmu untuk nyembuhkan orang-orang yang terluka akibat terkena ~Dark Magic~. Ini semua untuk keselamatanmu karena kemungkinan yang dibilang oleh kepala akademi bisa saja terjadi," ucap Ratu Kayana.

"Tidak apa-apa, Yang Mulia Ratu. Anda tidak perlu minta maaf. Ngomong-ngomong, saya tahu kalau saya sebelumnya pernah dijuluki ’pahlawan akademi’ karena nyelamatkan Charles, Chloe, dan Caroline serta mbantu lawan orang-orang yang nyerang akademi, tetapi kenapa tiba-tiba saya dijuluki ’pahlawan kerajaan San Fulgen’ ?," tanyaku.

"Bukankah itu sudah jelas ? Karena kamu berhasil ngungkap rencana kejahatan terbesar yang sedang dijalankan di kerajaan ini, rencana untuk mbunuhku yang rupakan seorang Ratu dan seluruh keluarya San Lucia," ucap Ratu Kayana.

"Tapi saya tidak lakukan hal yang penting, Yang Mulia Ratu. Rencana reka dapat terungkap juga karena perkataan Enzo yang terekam oleh batu kristal yang dimiliki nona Karina. Jika tidak ada batu kristal itu, perkataan Enzo tentang rencana reka tidak dapat dibuktikan. Dan juga, bukti rekaman tentang rencana reka juga dikuatkan oleh bukti yang ditemukan oleh paman Louis dan kakak Asier. Jadi saya sama sekali tidak lakukan hal yang penting sampai harus dijuluki ’pahlawan kerajaan San Fulgen’," ucapku.

"mang rencana itu dapat terungkap karena perkataan dari putra tuan Jas yang terekam dari batu kristal yang dimiliki oleh kepala akademi. Bukti rekaman itu juga dikuatkan dengan bukti-bukti yang ditemukan oleh tuan Louis dan Asier. Tetapi, rencana dan bukti-bukti itu dapat terungkap juga karena dirimu. Jika kamu tidak ngalahkan reka semua dan nginterogasi putra Marquess Marcelo dan juga putra tuan Jas, maka bukti rekaman itu tidak dapat kita miliki. Alasan tuan Louis dan Asier bergerak untuk ndapatkan bukti-bukti itu juga karena reka berdua ingin nolongmu yang sedang ditahan dan dituduh sebagai pelaku dalam insiden di hutan Hevea,"

"Andai saja kamu terbunuh dalam insiden itu, maka bukti rekaman tentang perkataan putra Marquess Marcelo dan putra tuan Jas serta bukti yang ditemukan oleh tuan Louis dan juga Asier tidak akan bisa kita miliki. Andai saja kamu terbunuh saat itu, kita semua tidak akan pernah tahu tentang rencana itu. Aku dah seluruh keluarga San Lucia akan terus njalani kehidupan dengan normal tanpa tahu kalau kita semua sedang njadi target yang akan dibunuh suatu saat nanti. Jadi semua ini dapat terungkap karenamu, Rid. Tidaklah berlebihan apabila njulukimu sebagai ’Pahlawan kerajaan San Fulgen’ karena kamu ncegah terjadinya pembunuhan di masa ndatang terhadap Ratu kerajaan ini dan seluruh keluarga San Lucia yang rupakan keluarga Duke tertua di kerajaan ini. Dengan terungkapnya rencana pembunuhan itu, kita semua jadi bisa waspada agar kami tidak njadi target pembunuhan reka," ucap Ratu Kayana.

"Begitu ya, saya tidak nyangka kalau apa yang saya lakukan akan mbuat dampak besar seperti ini. Tetapi tetap saja julukan ’pahlawan kerajaan San Fulgen’ bagi saya itu terlalu berlebihan," ucapku.

"Sudahlah kamu terima saja julukan itu, lagipula itu hanyalah sebuah julukan saja. Karena kamu sudah berkontribusi dalam ncegah terjadinya rencana itu, aku akan mberimu sebuah hadiah nanti. Aku mberikanmu hadiah karena kamu secara tidak langsung telah nyelamatkanku, jadi nanti tolong diterima ya, pahlawan," ucap Ratu Kayana.

"Baiklah, saya akan nerimanya nanti, Yang Mulia Ratu. Tetapi, tolong jangan nggoda saya dengan nyebut saya seperti itu, Yang Mulia Ratu," ucapku.

"Hahaha maaf," tawa Ratu Kayana.

"Selamat atas julukan barumu, tuan muda Rid," ucap komandan Oliver.

"Anda juga tolong jangan nggoda saya, komandan," ucapku.

Komandan Oliver pun tertawa, sentara nona Karina, Duke Remy, dan komandan Asier tersenyum lihatku.

"Sepertinya ayahandaku juga akan mberikanmu hadiah Rid, apalagi kamu ncegah terjadinya pembunuhan terhadap seluruh keluarga kami dengan terkuaknya rencana itu. Tetapi ngomong-ngomong, kalau saya tidak salah dengar tadi Yang Mulia Ratu bilang kalau Rid sebelumnya mau dibunuh oleh para prajurit Duke San Minerva, apa itu benar ?," tanya komandan Asier.

"Ya, itu benar," ucap Ratu Kayana.

"Saya baru ngetahui tentang itu," ucap komandan Asier.

"Saya juga, Yang Mulia Ratu," ucap komandan Oliver.

"Hanya aku dan kepala akademi saja yang tahu tentang itu, tentu saja dengan Rid juga. Alasan aku tidak mberitahu tentang adanya percobaan pembunuhan yang dilakukan para prajurit Duke San Minerva kepada Rid karena belum ada bukti kuat tentang percobaan pembunuhan itu, aku tidak mau disebut sebagai tukang fitnah dengan asal nyebarkan kabar tentang percobaan pembunuhan itu. Lagipula Rid juga berhasil mbunuh para prajurit Duke San Minerva yang berusaha mbunuhnya saat dia sedang lakukan ujian di wilayah Duke San Minerva," ucap Ratu Kayana.

"Jadi kamu bahkan berhasil mbunuh para prajurit Duke San Minerva yang berusaha untuk mbunuhmu ya, tuan muda Rid. Kamu benar-benar hebat," ucap komandan Oliver.

"Saya tidak hebat sama sekali, komandan Oliver. Dengan mbunuh banyak orang seperti para prajurit Duke San Minerva, orang-orang suruhan Duke San Angela, Enzo, Javier dan lainnya, bukankah itu mbuat saya njadi seorang pembunuh ? Apa hebatnya njadi seorang pembunuh ?," tanyaku.

"mang benar kalau kamu telah mbunuh orang-orang itu, tapi orang-orang yang kamu bunuh adalah orang-orang yang berusaha untuk mbunuhmu, bukan orang tidak bersalah. nurutku mbunuh orang seperti reka tidak njadikanmu seorang pembunuh yang harus ditakuti, lagipula kamu hanya mbela diri. Kamu tetap hebat karena berhasil mbunuh reka semua, tuan muda Rid," ucap komandan Oliver.

"Begitu ya, terima kasih atas penjelasannya, komandan," ucapku.

"Tidak masalah,’ ucap komandan Oliver.

"Baiklah, mari kita sudahi obrolan ini. Sebelumnya aku sudah bilang kalau aku tidak jadi untuk minta bantuan Rid dalam nyembuhkan orang-orang yang terluka karena terkena serangan ~Dark Magic~. Dan aku mutuskan untuk rahasiakan tentang Rid yang bisa nyembuhkan luka akibat terkena serangan ~Dark Magic~. Apa kalian yang berada disini bersedia untuk rahasiakan tentang ini bersamaku ?," tanya Ratu Kayana.

"Kami bersedia, Yang Mulia Ratu," ucap nona Karina, Duke Remy, komandan Oliver, dan komandan Asier.

"Bagus, jangan sampai kalian nyebarkan tentang rahasia ini kepada siapapun. skipun kalian nyebarkan tentang rahasia Rid, kemungkinan besar tidak akan ada yang mpercayai kalian apalagi kalian tidak miliki bukti kuat selain perkataan kalian sendiri kalau Rid bisa lakukan itu, tetapi aku harap kalian tetap njaga rahasia ini,"

"Rid bebas untuk mberitahu tentang kemampuannya ini kepada siapapun sedangkan kalian tidak boleh mberitahu kepada orang lain skipun orang itu adalah orang terdekat kalian. Apa kalian paham ?," tanya Ratu Kayana.

"Paham, Yang Mulia Ratu," ucap nona Karina, Duke Remy, komandan Oliver dan komandan Asier.

"Bagus kalau kalian paham. Daripada itu, aku mang ndapatkan info dari tuan Oliver kalau kalian berdua ada di dalam gedung ini, tapi aku juga ndapatkan informasi kalau Marquess Marcelo yang sudah berubah njadi iblis juga berada di dalam gedung ini. Tetapi sejak tadi aku tidak lihat kalau dia nghampiri kita atau ncoba nyerang kita, apa itu berarti dia sudah dikalahkan oleh kalian berdua ?," tanya Ratu Kayana kepada nona Karina dan Duke Remy.

"Hanya kepala akademi saja yang ngalahkannya, Yang Mulia Ratu. Saya tidak mbantu ngalahkannya karena saya tidak sadarkan diri setelah diserang oleh Marquess Marcelo," ucap Duke Remy.

"Itu benar, Yang Mulia Ratu. Saya sudah ngalahkan Marquess Marcelo," ucap nona Karina.

"Begitu ya. Jadi kalian berdua sebelumnya babak belur karena lawan Marquess Marcelo. Bagaimana dengan iblis lainnya yang berada di gedung ini ?," tanya Ratu Kayana.

"Sebelum saya lawan Marquess Marcelo, saya sempat ngalahkan beberapa iblis yang ada di gedung ini," ucap Duke Remy.

"Saya juga, Yang Mulia Ratu. Bisa dibilang, Marquess Marcelo adalah iblis terakhir yang sudah dikalahkan di gedung ini karena setelah saya berhasil ngalahkannya, tidak ada iblis lain yang berusaha nyerang," ucap nona Karina.

"Hmmm begitu ya. Tolong beritahu dimana anda ngalahkan Marquess Marcelo, kepala akademi. Saya ingin lihat sendiri tubuhnya yang sudah dikalahkan. Saya juga ingin berkeliling di dalam gedung ini untuk mastikan sendiri kalau semua iblis yang ada di gedung ini sudah dikalahkan," ucap Ratu Kayana.

"Baik, Yang Mulia Ratu. Saya akan ngantar anda," ucap nona Karina.

Lalu nona Karina pun ngantar Ratu Kayana nuju tempat nona Karina ngalahkan Marquess Marcelo. Aku, komandan Asier, komandan Oliver dan Duke Remy pun juga ngikuti Ratu Kayana. Sesampainya di tempat Marquess Marcelo, kami pun terkejut ketika lihat keadaan tubuh Marquess Marcelo yang miliki luka tebasan besar dari perut hingga dadanya. Selain itu, bagian tubuh yang berada di sekitar luka tebasan itu pun leleh. Kondisi Marquess Marcelo benar-benar sangat ngenaskan.

"Ternyata benar kalau Marquess Marcelo sudah dikalahkan. Kalau begitu aku ingin riksa seluruh gedung ini. Kalian semua ikut aku," ucap Ratu Kayana.

"Baik, Yang Mulia Ratu," ucapku, nona Karina, Duke Remy, komandan Asier dan komandan Oliver.

Kami semua pun mulai riksa seluruh gedung pengadilan untuk ncari apakah ada iblis yang masih hidup ada tidak.

-

30 nit kemudian.

Kami sudah nelusuri seluruh gedung pengadilan dan tidak nemukan adanya iblis yang masih hidup. Hanya ada beberapa iblis yang sudah tumbang tergeletak di lantai.

"Sepertinya semua iblis yang ada di dalam gedung ini sudah dihabisi. Iblis yang berada di luar gedung pengadilan pun juga sudah dihabisi," ucap Ratu Kayana.

"Iblis yang pergi ke luar wilayah gedung pengadilan pun juga sepertinya sudah dihabisi, Yang Mulia Ratu. Karena komandan Oliver sudah rintahkan banyak prajurit untuk ngejar iblis yang pergi ke luar wilayah gedung pengadilan. Saya tadi juga lihat Mina yang rupakan komandan dari prajurit milik ayahanda pergi keluar dengan lompati pagar. Sepertinya ayahanda saya nyuruhnya untuk mbantu para prajurit yang berada di luar wilayah gedung pengadilan. Dengan adanya Mina yang mbantu, saya yakin para iblis itu sudah dihabisi juga," ucap komandan Asier.

"Begitu ya. Dengan begitu, kita bisa nganggap kalau kita sudah ngalahkan semua iblis yang tiba-tiba nyerang di tempat ini. Kalau begitu, sekarang lebih baik kita keluar dan berkumpul dengan yang lainnya," ucap Ratu Kayana.

"Baik, Yang Mulia Ratu,’ ucap kami berlima.

Lalu kami berenam pun berjalan pergi ninggalkan gedung pengadilan.

"Ngomong-ngomong, Yang Mulia Ratu. Bagaimana dengan keadaan putri Caroline ? Tadi saya lihat kalau putri Caroline datang untuk lihat sidang dengan ditemani oleh komandan Oliver. Jika komandan Oliver ada disini, lalu siapa yang nemaninya ?," tanya nona Karina.

"Izinkan saya untuk njawab, Yang Mulia Ratu," ucap komandan Asier.

"Silahkan, Asier," ucap Ratu Kayana.

"Putri Caroline saat ini sedang dilindungi oleh ayahanda saya dan wakil komandan saya, kepala akademi. Sebelumnya Mina juga ikut lindunginya, tetapi karena tadi saya lihat kalau Mina pergi ke luar wilayah gedung pengadilan, itu berarti hanya ayahanda saya dan wakil komandan saya yang njaganya. Tetapi tidak hanya reka berdua saja yang njaga putri Caroline. Saat ini putri Caroline ada di area aman yang berada di halaman parkir gedung pengadilan yang terletak di sebelah kiri gedung pengadilan. Ada banyak prajurit yang njaga area itu dan dipimpin langsung oleh Yang Mulia Roswald. Putri Caroline dipastikan aman di area itu," ucap komandan Asier.

"Begitu ya. Terima kasih karena telah njawab pertanyaan saya, komandan Asier," ucap nona Karina.

"Sama-sama, kepala akademi," ucap komandan Asier.

"Aku tadi juga lihat Caroline berada di area itu saat aku berada di atas. Kita akan pergi ke area itu untuk berkumpul dengan reka semua," ucap Ratu Kayana.

-

Kami terus berjalan ninggalkan gedung pengadilan. Setelah sampai di luar gedung pengadilan, kami langsung bergerak ke kanan untuk nuju area aman yang berada di halaman parkir. Setelah kami sampai di area itu, reka semua yang berada di area itu pun langsung terkejut ketika lihat kami.

"Itu Yang Mulia Ratu, ada juga komandan Asier dan komandan Oliver bersamanya,"

"Jika reka datang kesini, apa itu berarti semua iblis itu sudah dikalahkan ?," ucap orang-orang itu.

Lalu hakim Roswald pun datang nghampiri kami dan mulai berbicara dengan Ratu Kayana.

"Yang Mulia Ratu serta komandan Oliver dan komandan Asier, jika kalian datang kesini, apa itu berarti semua iblis yang nyerang gedung ini sudah dikalahkan ?," tanya hakim Roswald.

"Iya, itu benar, tuan Roswald. Semua iblis yang nyerang di gedung ini dan di sekitarnya sudah berhasil dikalahkan," ucap Ratu Kayana.

Komandan Oliver dan komandan Asier pun ngangguk.

"Terima kasih atas informasinya, Yang Mulia Ratu," ucap hakim Roswald.

"Sama-sama, tuan Roswald," ucap Ratu Kayana.

Kemudian, hakim Roswald noleh ke arah kerumunan yang berkumpul di halaman parkir gedung pengadilan.

"Kalian semua dengar ? Yang Mulia Ratu bilang bahwa semua iblis yang nyerang gedung pengadilan dan area sekitarnya sudah berhasil dikalahkan. Itu berarti kita semua sudah aman dan kita tidak perlu untuk terus berlindung di area ini," ucap hakim Roswald.

Setelah ndengar perkataan hakim Roswald, orang-orang yang berkumpul di halaman parkir gedung pengadilan pun rasa tenang dan lega.

"Akhirnya para iblis itu sudah berhasil dikalahkan,"

"Seperti yang diharapkan dari komandan Asier dan komandan Oliver, reka berdua pasti bisa ngalahkan iblis-iblis itu. Selain itu, Yang Mulia Ratu pasti juga ikut ngalahkan iblis-iblis itu,"

"Dengan begini, kita bisa tenang dan tidak takut diserang oleh iblis-iblis itu," ucap orang-orang itu.

Lalu reka pun bersorak atas kalahnya para iblis yang nyerang gedung pengadilan ini. Saat reka sedang bersorak, aku lihat Caroline berlari keluar dari kerumunan orang yang bersorak itu. Caroline berlari nuju ke arah kami.

"Sepertinya Caroline ingin berlari nghampiri Yang Mulia Ratu yang ada di depan kami. Kelihatannya Caroline sangat senang lihat ibunya kembali. Makanya dia berlari untuk nghampiri ibunya," pikirku saat lihat Caroline yang sedang berlari.

"Carol...," ucap Ratu Kayana.

Ratu Kayana pun juga lihat Caroline yang berlari ke arahnya. Beliau lalu rentangkan kedua tangannya seolah sedang bersiap untuk nangkap Caroline yang berlari ke arahnya. Tetapi, Caroline mang berlari ke arah Ratu Kayana, tetapi dia tidak nghampiri Ratu Kayana dan malah berlari lewatinya. Hal itu pun mbuat Ratu Kayana terkejut dan beliau pun langsung noleh ke belakang untuk lihat siapa yang sebenarnya ingin dihampiri Caroline.

Caroline terus berlari dan ketika dia sudah berada tepat di depanku, tiba-tiba dia langsung lompat dan lukku. Aku pun terkejut lihat Caroline yang tiba-tiba lukku. Begitupun dengan Ratu Kayana, nona Karina, komandan Asier dan komandan Oliver yang juga lihat hal itu.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 272 : Julukan Baru on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.