Font Size
15px

Caroline yang tiba-tiba lukku mbuatku terkejut. Tidak hanya aku saja, Ratu Kayana, nona Karina, komandan Asier, komandan Oliver dan sebagian orang yang berada di halaman parkir pun juga terkejut. Sentara Duke Remy, hakim Roswald dan sisanya hanya lihat saja tanpa mberikan ekspresi terkejut.

Setelah beberapa saat lukku, Caroline pun lepaskan pelukannya.

"Aku minta maaf karena tiba-tiba lukmu, kakak Rid. Aku hanya rasa lega setelah lihat kakak Rid baik-baik saja setelah terkena serangan tuan Duke Jas yang berubah njadi iblis. Sebelumnya aku sangat cemas karena mikirkan keadaan kakak Rid. Aku pikir kakak Rid akan terluka atau bahkan tewas setelah terkena serangan dari tuan Duke Jas yang dahsyat itu. Aku terus mikirkan itu karena kakak Rid terkena serangan itu akibat berusaha lindungiku," ucap Caroline.

"Sekarang kamu tidak perlu mikirkan tentang itu lagi, Carol. Aku mang terkena serangan itu karena lindungimu, tapi aku baik-baik saja ski terkena serangan itu. Coba kamu lihat keadaanku saat ini, apa ada luka di tubuhku ?," tanyaku.

Caroline lalu riksa tubuhku dengan teliti.

"Di tubuhmu tidak ada satupun luka, kakak Rid," ucap Caroline.

"Benar, karena itu kamu tidak perlu mikirkan tentang itu lagi," ucapku.

"Baik, kakak Rid. Maaf kalau terlambat ngatakan ini, tetapi aku ngucapkan terima kasih karena telah nyelamatkanku. Ini kedua kalinya kakak Rid nyelamatkanku," ucap Caroline.

"Sama-sama, Carol," ucapku.

"Maaf kalau tidak bisa mberi hadiah skipun kakak Rid sudah nyelamatkanku. Tetapi anggap saja kalau pelukan yang tadi aku berikan rupakan hadiah untuk kakak Rid. Yah skipun pelukan itu tidak akan cukup untuk dibilang sebagai hadiah," ucap Caroline.

"Kamu tidak perlu mberikanku hadiah hanya karena aku telah nyelamatkanmu. Aku nyelamatkanmu bukan karena ingin ndapatkan hadiah. Tetapi karena kamu telah mberikan hadiah sebuah pelukan, aku berterima kasih atas hadiahnya," ucapku.

"Sama-sama, kakak Rid," ucap Caroline.

Caroline pun tersenyum ke arahku. Sentara itu, Ratu Kayana terus lihat ke arah Caroline.

"Bagus sekali, Carol. Aku tidak nyangka kalau kamu dengan sendirinya ndekati Rid. Apa kamu tertarik dengannya ? Apa kamu suka dengannya ? Aku tidak masalah apabila kamu nyukai orang sepertinya, malah akan lebih baik lagi jika kamu bisa nikahinya," pikir Ratu Kayana dengan wajah yang antusias.

Setelah Ratu Kayana mikirkan tentang hal itu, Ratu Kayana langsung ngucapkan sesuatu.

"Hmmmm tetapi saat ini Carol masih berusia 11 tahun sedangkan Rid kemungkinan berusia sekitar 18-19 tahun. Perbedaan umurnya tidak terlalu jauh tapi terlalu dini bagi Carol untuk nikah. Aku baru akan nyetujuinya untuk nikah apabila dia sudah lulus dari akademi, jadi kemungkinan dia akan nikah di usia 21 tahun," ucap Ratu Kayana.

Ucapan Ratu Kayana itu terdengar oleh komandan Oliver.

"Apa yang anda katakan, Yang Mulia Ratu ? Anda ingin nikahkan putri Caroline dengan tuan muda Rid ? Bukankah anda tahu kalau saat ini tuan muda Rid sedang berpacaran dengan putri Irene ?," tanya komandan Oliver.

"Aku tahu itu. Tapi reka saat ini masih saling berpacaran saja, reka belum bertunangan sama sekali. Jadi masih ada kesempatan bagi Carol untuk bisa nikah dengan Rid, bahkan Chloe pun juga masih punya kesempatan. Kalaupun pada akhirnya Rid nikah dengan Irene, masih ada kesempatan bagi Carol dan Chloe untuk bisa njadi istri Rid yang lain. Lagipula di dunia ini, laki-laki dapat diperbolehkan untuk mpunyai banyak istri, bahkan perempuan saja dapat diperbolehkan untuk mpunyai banyak suami. Yah skipun laki-laki diperbolehkan untuk mpunyai banyak istri, aku tetap tidak ngizinkan suamiku untuk ncari istri baru," ucap Ratu Kayana.

"Kalau mang begitu, maka saya akan nyuruh Elaina untuk ndapatkan hati tuan muda Rid juga. Putri saya tentu tidak akan kalah dalam lawan kedua putri anda, Yang Mulia Ratu," ucap komandan Oliver.

"Oh, coba saja kalau bisa, tuan Oliver," ucap Ratu Kayana.

Ratu Kayana dan komandan Oliver saling bertatapan seakan reka berdua mau saling bertarung. Sentara itu, komandan Asier yang sejak tadi ndengar reka berdua yang sedang berdebat pun mulai ikut berbicara.

"Permisi, Yang Mulia Ratu, komandan Oliver, kalian berdua sejak tadi terus berdebat tentang putri kalian yang mau kalian nikahkan dengan Rid. Saat ini, Rid tengah berpacaran dengan adik saya, Irene. Tentu saya berharap kalau hubungan Rid dan adik saya akan panjang hingga reka nikah. Setelah reka nikah, saya tidak keberatan apabila Rid nikah lagi dan ndapatkan istri baru skipun telah nikah dengan Irene. Tetapi permasalahannya, apakah Irene setuju apabila Rid ndapatkan istri baru dan apakah Rid mang mau untuk nikah lagi dan ndapatkan istri baru ? Jika Irene tidak setuju atau Rid tidak mau nikah lagi, bukankah sia-sia saja bagi kalian berdua untuk berdebat seperti itu ?," tanya komandan Asier.

Ratu Kayana dan komandan Oliver pun terdiam selama beberapa saat.

"Apa yang kamu katakan benar juga, Asier," ucap Ratu Kayana.

"Benar. ski kami maksa putri kami untuk ndapatkan hati tuan muda Rid, itu akan sia-sia saja apabila Rid tidak tertarik untuk nambah pasangan," ucap komandan Oliver.

"ski begitu, aku masih berharap kalau Rid mau nerima kedua putriku. Rid rupakan calon nantu ideal untukku karena aku belum nentukan calon nantu lain yang sehebat dengan Rid," ucap Ratu Kayana.

"Saya juga berpikir begitu, Yang Mulia Ratu," ucap komandan Oliver.

Ratu Kayana dan komandan Oliver pun renung, sentara komandan Asier hanya terdiam lihat reka berdua. Kemudian, hakim Roswald pun datang nghampiri reka bertiga dengan ditemani oleh Duke Louis.

"Yang Mulia Ratu...,Hmmm, apa yang terjadi dengan Yang Mulia Ratu, komandan Asier ?," tanya hakim Roswald yang bingung dengan Ratu Kayana yang sedang renung.

"Yang Mulia Ratu hanya sedang renung mikirkan masa depan kedua putrinya, Yang Mulia," ucap komandan Asier.

"Apakah komandan Oliver juga demikian ? karena beliau juga ikut renung," ucap hakim Roswald.

"Benar, Yang Mulia. Beliau juga sama seperti Yang Mulia Ratu, sedang renung mikirkan masa depan putrinya," ucap komandan Asier.

"Begitu ya. Hmmmmm... permisi, Yang Mulia Ratu, komandan Oliver, kita mang saat ini sudah ngalahkan para iblis yang nyerang gedung pengadilan dan sekitarnya, tetapi masih ada masalah dan kasus yang belum selesai, yaitu soal rencana pembunuhan Yang Mulia Ratu dan seluruh keluarga San Lucia. Tidak hanya itu, masih banyak kasus lain yang nimpa Duke San Angela, Duke San Minerva dan juga Marquess Marcelo," ucap hakim Roswald.

Setelah ndengar perkataan hakim Roswald, Ratu Kayana dan komandan Oliver pun kembali seperti biasa.

"Benar juga, ski kita sudah ngalahkan para iblis itu, masih ada kasus yang harus kita selesaikan," ucap Ratu Kayana.

"Sepertinya penyerangan iblis itu untuk mbuat kita lupakan dalam nyelesaikan kasus itu," ucap komandan Oliver.

"Kelihatannya begitu. Jadi apa yang ingin anda lakukan tentang kasus itu, tuan Roswald ?," tanya Ratu Kayana.

"Pertama-tama, mari kita mulai dengan saling berdiskusi terlebih dahulu," ucap hakim Roswald.

-

Beberapa nit kemudian.

Saat ini kami sedang lakukan diskusi di halaman parkir gedung pengadilan. Sebagian besar orang yang sebelumnya berlindung di halaman parkir gedung pengadilan sudah pergi ninggalkan area gedung pengadilan. Beberapa dari reka ada yang pergi ke gereja Sancta Lux untuk ngobati luka reka dan sisanya pergi ke tempat tinggal reka masing-masing. Jadi saat ini bisa dibilang kalau halaman parkir gedung pengadilan dalam keadaan yang lumayan sepi karena hanya ada kami dan beberapa prajurit yang njaga tempat diskusi kami.

Kami lakukan diskusi dengan duduk di sebuah kursi dan terdapat ja panjang di hadapan kami. Kursi dan ja panjang itu adalah benda buatan yang terbuat dari sihir milik Ratu Kayana. Orang-orang yang duduk di kursi untuk berdiskusi adalah aku, Duke Remy, Duke Louis, nona Karina, komandan Asier, komandan Oliver, wakil komandan Sara, hakim Roswald dan juga Ratu Kayana. Caroline juga ikut duduk di kursi yang berada di sebelahku ski kelihatannya dia tidak akan ikut dalam diskusi kali ini.

"Mina belum kembali kesini, ayahanda ?," tanya komandan Asier.

"Belum. Tadi Mina bilang lewat kristal komunikasi kalau dia sudah ngalahkan iblis yang berada di luar area gedung pengadilan. Dan dia juga bilang kalau dia dan para anak buahnya akan langsung pergi ke gereja Sancta Lux karena beberapa anak buahnya ada yang terkena serangan ~Dark Magic~. Mungkin dia akan kembali kesini setelah nyembuhkan beberapa anak buahnya itu," ucap Duke Louis.

"Begitu ya," ucap komandan Asier.

Sentara itu, hakim Roswald yang sedang gang beberapa dokun dan bukti yang didapatkan pun mulai berbicara.

"Sekarang, mari kita langsung mulai saja diskusinya. Pertama-tama, tuan Duke Remy, apa anda tidak ngetahui atau terlibat dalam rencana yang dijalankan oleh tuan Duke Jas dan tuan Duke Darwin ? Saya nanyakan hal ini karena selama ini anda lumayan dekat dengan tuan Duke Jas dan tuan Duke Darwin, jadi saya curiga kalau mungkin anda juga terlibat dalam rencana itu," ucap hakim Roswald.

"Saya bersumpah kalau saya tidak terlibat dalam rencana yang dijalankan oleh reka berdua, Yang Mulia. Saya sendiri terkejut ketika ngetahui kalau reka berdua rencanakan sesuatu yang gila sepertibitu. mang sebelumnya saya lumayan dekat dengan reka berdua, malah saya juga ikut nuduh tuan Louis sebagai pelaku pembunuhan para Elf yang mayatnya ditemukan di wilayah San Lucia. Saya ikut nuduh tuan Louis karena reka berdua lah yang pada awalnya nuduh tuan Louis. Karena saya lumayan dekat dengan reka berdua jadinya saya percaya dengan perkataan reka untuk nuduh tuan Louis. Tapi ternyata rekalah pelaku utama dalam pembunuhan para Elf itu. reka mbunuh para Elf itu dan ngambil jantung para Elf itu untuk digunakan sebagai bahan subjek percobaan. Selain itu, reka juga mbuang jasad para Elf itu di wilayah San Lucia agar orang-orang yang berada di wilayah San Lucia khususnya tuan Louis selaku Duke San Lucia lah yang dicurigai telah mbunuh para Elf itu,"

"Saya tahu apa yang saya lakukan dengan nuduh tuan Louis adalah suatu kesalahan. Untuk itu saya ingin minta maaf kepada tuan Louis karena telah nuduh anda sebagai pelaku pembunuhan para Elf. Saya juga bersedia nerima hukuman atas kesalahan saya itu," ucap Duke Remy.

Kami pun terdiam ndengar perkataan Duke Remy. Kemudian kami lihat ke arah Duke Louis yang sedang terdiam sambil terus lihat ke arah Duke Remy. Duke Louis terlihat sedang mikirkan sesuatu. Tidak lama kemudian, Duke Louis pun mulai berbicara.

"Baiklah, saya akan maafkan anda, tuan Remy. Tolong jangan lakukan perbuatan seperti itu lagi dengan nuduh orang tanpa bukti," ucap Duke Louis.

"Terima kasih banyak, tuan Louis. Saya berjanji kalau saya tidak akan ngulangi perbuatan itu lagi," ucap Duke Remy.

"Untuk hukuman atas perbuatan anda, saya tidak miliki wewenang untuk mberikan anda hukuman. Saya serahkan itu kepada Yang Mulia Roswald dan Yang Mulia Ratu. ski reka berdua tidak mberikan anda hukuman pun saya tidak keberatan dan akan nghormati keputusan reka," ucap tuan Louis.

Lalu hakim Roswald terdiam beberapa saat, setelah itu dia mulai berbicara kembali.

"Hukuman untuk tuan Duke Remy bisa kita kesampingkan terlebih dahulu. Bagaimana nurut anda, Yang Mulia Ratu ?," tanya hakim Roswald.

"Saya terserah apa kata anda saja, tuan Roswald," ucap Ratu Kayana.

"Baiklah, Yang Mulia Ratu. Karena tuan Duke Remy ngaku kalau dia tidak ngetahui dan terlibat dalam rencana tuan Duke Jas dan tuan Duke Darwin, maka untuk saat ini tuan Duke Remy dinyatakan tidak bersalah. Namun untuk mbuktikan kalau tuan Duke Remy mang benar-benar tidak bersalah, kami harus riksa kediaman tuan Duke Remy terlebih dahulu untuk mastikan kalau tuan Duke Remy benar-benar tidak bersalah. Anda tidak keberatan kan, tuan Duke Remy ?," tanya hakim Roswald.

"Saya tidak keberatan, Yang Mulia. Silahkan periksa seluruh kediaman saya," ucap Duke Remy.

"Kalau begitu, izinkan saya untuk riksa kediaman anda secepatnya, tuan Duke Remy," ucap hakim Roswald.

"Silahkan, Yang Mulia," ucap Duke Remy.

"Yang Mulia Ratu, saya minta Yang Mulia Ratu untuk ngerahkan pasukan ’Snow Owl’ untuk riksa kediaman tuan Duke Remy. Karena pasukan ’Snow Owl’ rupakan pasukan yang berjaga dan ngawasi wilayah timur kerajaan San Fulgen yaitu wilayah San Quentine, maka keputusan yang tepat adalah ngerahkan pasukan ’Snow Owl’ untuk riksa kediaman tuan Duke Remy," ucap hakim Roswald.

"Yah, anda benar. Karena kediaman tuan Remy berada di dalam wilayah pengawasan reka maka sudah sepantasnya untuk nugaskan reka. Kalau begitu, tuan Oliver, tolong hubungi Ivana dan minta dia serta para prajuritnya untuk riksa kediaman dari tuan Remy. Periksa seluruh kediaman Duke Remy dan cari dokun atau bukti-bukti ncurigakan yang berkaitan dengan tuan Jas, tuan Darwin, subjek percobaan atau apapun itu. Jika para prajurit tuan Remy nahan dan larang para prajurit ’Snow Owl’ untuk riksa kediaman tuan Remy, bilang kepada para prajurit tuan Remy kalau yang ngutus prajurit ’Snow Owl’ untuk riksa kediaman Duke Remy adalah aku sendiri. Jika reka masih larang skipun sudah diberitahu kalau aku sendiri yang ngutus para prajurit ’Snow Owl’, bilang kepada Ivana untuk langsung maksa masuk saja. Aku ngizinkan para prajurit ’Snow Owl’ untuk lakukan tindakan tegas kepada para prajurit tuan Remy yang terus larang para prajurit ’Snow Owl’ untuk riksa kediaman tuan Remy," ucap Ratu Kayana.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 273 : Tuduhan Duke Remy on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

On the Path to the Great Dao cover
Similar genre

On the Path to the Great Dao

Pig Nerd ·Action

【Fromtheauthorof''!】Mygrandfatherisverypeculiar.Everyday,helightsincenseforhimselfandeatscandlesinfrontofhisownancestraltablet.Thevillagersareallte...

Elven Invasion cover
Similar genre

Elven Invasion

Respro ·Action

MagicvsScience HumanvsElves EarthvsForestia MortalvsGod ThisisataleinwhichGoddessLunainordertosaveherplanetandcivilizationstartsainvasiononEarth,Wi...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.