Font Size
15px

"Ternyata yang nggunakan sihir tanaman itu adalah anda ya, tuan Duke Remy," ucap nona Karina.

Duke Remy terus berjalan nghampiri nona Karina sambil lihat Marquess Marcelo yang sedang berontak agar bisa lepas dari lilitan sihir tanaman milik Duke Remy.

"Anda juga bisa nggunakan sihir tanaman kan, kepala akademi ? Kalau begitu sepertinya kita akan cocok," ucap Duke Remy.

"Apa saat ini anda sedang nggoda saya, tuan Remy ? Jika nona Arnett ndengar hal ini, saya yakin beliau akan sedih," ucap nona Karina.

"Aku hanya bercanda. Mana mungkin aku mbuat Arnett bersedih," ucap Duke Remy.

"Saya terkesan lihat anda masih bisa bercanda dalam keadaan seperti ini," ucap nona Karina.

"Sebagian besar orang sudah panik karena adanya kejadian ini. Tentu saja reka panik karena beberapa orang yang berada di ruang pengadilan ini tiba-tiba berubah njadi iblis. Tapi kita tidak boleh ikut panik seperti reka, kepala akademi. Setidaknya orang seperti kita harus nenangkan situasi yang sedang terjadi saat ini," ucap Duke Remy.

"Anda ada benarnya," ucap nona Karina.

"Aku masih tidak nyangka kalau tuan Jas dan tuan Darwin rencanakan sesuatu yang jahat dengan berniat untuk mbunuh Yang Mulia Ratu dan seluruh keluarga San Lucia. Kenapa bisa reka rencanakan hal seperti itu ?," tanya Duke Remy.

"Entahlah, saya juga tidak tahu. Karena sebelumnya sidang masih belum selesai, saya yakin Yang Mulia berniat untuk nanyakan tentang motif reka dalam rencanakan itu tetapi seperti yang anda lihat, tuan Jas dan tuan Darwin tiba-tiba berubah njadi iblis dan mbuat sidang ini terpaksa dihentikan. Bukan hanya reka berdua saja yang njadi iblis, beberapa orang yang berada di ruangan ini pun juga ikut njadi iblis salah satunya adalah Marquess Marcelo yang juga rupakan salah satu orang yang rencanakan untuk mbunuh Yang Mulia Ratu dan seluruh keluarga San Lucia," ucap nona Karina.

"Iya, aku juga tidak nyangka kalau reka tiba-tiba berubah njadi iblis. Saat lihat tuan Jas dan tuan Darwin berubah njadi iblis, aku jadi mbayangkan bagaimana jadinya jika nona Harriet dan nona Claret lihat itu. reka pasti akan sangat terkejut," ucap Duke Remy.

"Iya, saya jadi kasihan dengan nona Claret dan nona Harriet," ucap nona Karina.

"Ngomong-ngomong, aku pernah ndengar kalau ras lain selain ras iblis bisa berubah njadi iblis apabila minum darah dari ’iblis berdarah murni’. Jika reka bisa berubah njadi iblis, apa itu berarti reka telah minum darah dari ’iblis berdarah murni’ ? Kalau mang begitu, apa itu berarti ada ’iblis berdarah murni’ yang sedang bersembunyi di kerajaan ini ?," tanya Duke Remy.

"Sepertinya ini bukan saatnya bagi kita untuk nebak-nebak seperti itu, tuan Remy. Saya, tuan Louis dan Yang Mulia Roswald tadi juga sempat nebak-nebak tentang reka yang tiba-tiba berubah njadi iblis, tetapi Yang Mulia Ratu langsung negur kami dan berkata kalau lebih baik saat ini kita segera nghabisi para iblis itu. skipun Yang Mulia Ratu belum tahu tingkatan para iblis ini, Yang Mulia Ratu tidak mau kalau kerajaan ini didatangi oleh para Malaikat karena adanya iblis-iblis ini. Jika kerajaan ini didatangi oleh para Malaikat, kerajaan ini bisa bernasib sama dengan kerajaan Framtida," ucap nona Karina.

"Anda ada benarnya, kepala akademi. Ngomong-ngomong, tadi aku lihat Yang Mulia Ratu lesat ke luar gedung pengadilan ini. Apa yang sedang beliau lakukan ?," tanya Duke Remy.

"Beliau pergi ke luar gedung pengadilan untuk ngejar tuan Darwin yang sebelumnya beliau hempaskan ke luar gedung pengadilan. Beliau ingin mbunuh tuan Darwin di luar gedung pengadilan. Alasannya karena jika beliau mbunuh Duke Darwin di dalam gedung ini, beliau takut kalau gedung ini akan hancur karena beliau berniat untuk nggunakan sihir yang kuat untuk mbunuh tuan Darwin," ucap nona Karina.

"Begitu ya, Yang Mulia Ratu saat ini sedang berusaha untuk mbunuh tuan Darwin. Kalau begitu, kita juga lebih baik segera mbunuh Marquess Marcelo yang sudah berubah njadi iblis," ucap Duke Remy.

"Iya," ucap nona Karina.

Duke Remy dan nona Karina mulai berjalan nuju Marquess Marcelo yang sedang terlilit oleh sihir tanaman milik Duke Remy. Marquess Marcelo terus berontak dan berusaha mbebaskan diri dari lilitan tanaman itu. lihat Marquess Marcelo yang berusaha mbebaskan diri, Duke Remy nguatkan lilitan pada sihir tanamannya. Tidak hanya itu, Duke Remy juga nambahkan beberapa tanaman baru untuk lilit tubuh Marquess Marcelo. Marquess Marcelo terus mberontak dan berusaha mbebaskan diri. Sentara itu, nona Karina terus berjalan ndekati Marquess Marcelo sambil gang pedangnya. Nona Karina terlihat sudah bersiap untuk nebas tubuh Marquess Marcelo.

"Aku pernah ndengar kalau kulit bagian dalam pada ras iblis itu sangat kuat. Kalau begitu, aku akan nggunakan banyak Mana pada pedangku untuk bisa motong tubuh dari ras Iblis," pikir nona Karina.

Nona Karina lalu nyalurkan banyak Mana pada pedangnya. Kemudian, setelah Mana yang ngalir di pedangnya sudah tercukupi, nona Karina pun bersiap untuk nebas leher dari Marquess Marcelo yang sedang terlilit. Namun, ketika nona Karina sedang bersiap untuk motong leher dari Marquess Marcelo, tiba-tiba Marquess Marcelo ngeluarkan ~Dark Magic~ dari mulutnya. ~Dark Magic~ dari mulutnya itu diarahkan tepat ke lantai yang berada di bawahnya. ~Dark Magic~ yang diarahkan ke lantai itu pun nimbulkan ledakan yang cukup besar.

"Apa ?!?!," ucap nona Karina yang terkejut.

Namun nona Karina dengan cepat langsung mundur ke belakang untuk nghindari ledakan itu. Nona Karina mundur ke belakang ke tempat Duke Remy berada.

"Anda tidak apa-apa, kepala akademi ?," tanya Duke Remy.

"Iya, untungnya saya sempat untuk nghindar," ucap nona Karina.

Setelah reka ngobrol seperti itu, tiba-tiba Marquess Marcelo keluar dari ledakan itu dan lesat dengan cepat ke arah reka bedua. Kemudian, Marquess Marcelo langsung nyerang Duke Remy dengan cakarnya yang tajam dan diselimuti oleh ~Dark Magic~ itu. Duke Remy pun terkena serangan itu dengan telak tepat di perutnya. Nona Karina pun terkejut lihat Duke Remy yang tiba-tiba terkena serangan Marquess Marcelo. Duke Remy lalu terhempas nghantam beberapa dinding yang berada di belakangnya hingga hancur. Duke Remy terhempas hingga ke ruangan lain yang berada di gedung ini.

"Tuan Remy!!," teriak nona Karina.

Setelah nona Karina berteriak seperti itu, tiba-tiba Marquess Marcelo langsung nyerang nona Karina dengan serangan yang sama dengan yang digunakan kepada Duke Remy. Nona Karina nyadari tentang serangan itu dan langsung nghindari serangan itu. Tapi serangan itu sangatlah cepat sehingga mbuat nona Karina tidak bisa nghindari serangan itu dengan sepenuhnya. Serangan itu berhasil nggores pinggang nona Karina. Nona Karina pun terkejut setelah ngetahui kalau serangan itu masih bisa nggoresnya.

"Serangannya cepat sekali, bahkan lebih cepat dari serangan yang dilancarkan tuan Darwin kepada kakak Kayana sebelumnya. Tidak ngherankan kalau aku tidak bisa bereaksi ketika dia nyerang tuan Remy dan juga tidak bisa nghindari serangannya barusan," pikir nona Karina.

Kemudian, Marquess Marcelo kembali berusaha nyerang nona Karina dengan cepat. Namun saat serangan yang dilancarkan Marquess Marcelo hampir ngenai nona Karina, nona Karina dengan cepat nghentakkan kakinya ke lantai yang ada di bawahnya.

~Plant Magic : Dance of Growing Tree~

Setelah itu, tiba-tiba muncul sebuah batang pohon di lantai yang berada di bawah Marquess Marcelo. Batang pohon itu berusaha untuk nusuk Marquess Marcelo tetapi Marquess Marcelo dengan cepat langsung nghindari batang pohon itu. Marquess Marcelo pun gagal nyerang nona Karina. Tetapi skipun Marquess Marcelo sudah nghindari batang pohon itu, batang-batang pohon yang lain terus bermunculan setiap Marquess Marcelo berpindah ke tempat lain. Batang-batang pohon yang berusaha untuk nusuk Marquess Marcelo tidak hanya berasal dari batang pohon yang baru muncul di bawah lantai tempat dia berpijak, tetapi batang pohon lain yang sudah muncul sebelumnya juga ikut untuk nusuk Marquess Marcelo. Batang pohon lain yang sudah muncul bergerak liuk-liuk ngejar Marquess Marcelo kemanapun dia pergi.

Marquess Marcelo tahu kalau sepertinya akan sia-sia saja untuk terus nghindari batang pohon itu karena barang pohon itu akan terus bermunculan dan bertambah banyak. Marquess Marcelo pun langsung nyerang batang-batang pohon itu nggunakan ~Dark Magic~ untuk setidaknya ngurangi batang-batang pohon yang mau nyerangnya. Namun skipun dia sudah nyerang dan nghancurkan batang-batang pohon itu dengan ~Dark Magic~, batang-batang pohon yang mau nyerangnya itu masihlah banyak. Marquess Marcelo pun terlihat kesulitan untuk ngatasi batang-batang pohon yang terus muncul dan berusaha nyerangnya. Disaat Marquess Marcelo sedang fokus untuk nyerang batang-batang pohon yang ingin nyerangnya, tiba-tiba nona Karina lesat dengan cepat ke sisi belakang Marquess Marcelo dan bersiap nyerangnya nggunakan pedangnya.

"skipun kamu mpunyai gerakan yang cepat dan reflek yang cepat dalam nghindari serangan. Reflek itu hanya berlaku kepada serangan yang berada dalam jangkauan matamu saja. Jika serangan yang dilayangkan kepadamu berada di titik buta dari jangkauan matamu, maka kamu tidak akan sempat untuk nghindarinya. Kali ini, berakhirlah sudah," ucap nona Karina.

~Plant Sword Art : Loranthus Slash~

Nona Karina nebas Marquess Marcelo tepat di lehernya. Tebasan dari pedang itu berhasil nembus kulit luar dari leher Marquess Marcelo dan bersiap untuk motong kulit dalam dari leher Marquess Marcelo dan keseluruhan lehernya. Namun ketika pedang itu sedang berusaha untuk motong kulit dalam dari leher Marquess Marcelo, tiba-tiba pedang itu terhenti dan mbuat nona Karina gagal dalam motong keseluruhan leher Marquess Marcelo.

"ski aku sudah nggunakan cukup banyak Mana pada pedangku saat nebasnya, tapi kulit bagian dalamnya masih sangatlah kuat. Apa mungkin kulit bagian dalam tiap iblis itu miliki ketebalan yang berbeda-beda untuk bisa nembusnya ?," pikir nona Karina.

Ketika pedang yang dipegang oleh nona Karina masih nancap di leher Marquess Marcelo, Marquess Marcelo langsung bersiap nyerang nona Karina nggunakan ~Dark Magic~ dari mulutnya. Nona Karina yang lihat hal itu dengan cepat langsung nyentuh dada dari Marquess Marcelo dengan tangan kanannya. Setelah itu, tiba-tiba sebuah batang pohon muncul dari telapak tangan kanan nona Karina. Batang pohon itu langsung nusuk dada Marquess Marcelo dan mbuatnya terpental nghantam dinding yang berada di belakangnya.

Tak lama kemudian, Marquess Marcelo pun langsung bangkit kembali setelah terpental nghantam dinding. Lalu nona Karina mperhatikan tubuh dari Marquess Marcelo. Di dada Marquess Marcelo terdapat lubang yang muncul akibat serangan batang pohon yang baru saja dilancarkan oleh nona Karina. Namun lubang pada dada Marquess Marcelo tidak nembus hingga ke belakang tubuhnya karena serangan batang pohon barusan tidak berhasil nembus kulit bagian dalam dari dada Marquess Marcelo dan hanya nembus kulit bagian luar.

Lalu nona Karina mperhatikan leher dari Marquess Marcelo. Terdapat luka tebasan yang cukup besar di lehernya itu akibat tebasan yang dilancarkan oleh nona Karina. Dan di luka tebasan di lehernya itu, terdapat beberapa tumbuhan kecil yang mulai tumbuh.

"Tumbuhan yang muncul di tubuhnya itu akan terus nghisap Mananya sampai habis dan setelah itu dia akan mati. Tapi entah butuh berapa lama bagi tumbuhan itu untuk bisa nghisap Mananya sampai habis. Aku tidak boleh berlama-lama dalam lawannya. Sepertinya aku harus nggunakan teknik itu," pikir nona Karina.

Nona Karina bersiap untuk nyerang Marquess Marcelo kembali dengan pedangnya. Saat nona Karina sedang gang pedangnya, tiba-tiba muncul sebuah cairan yang lumuri pedangnya itu. Lalu nona Karina nghentakkan kakinya kembali dan mbuat batang-batang pohon muncul kembali di lantai dan kembali nyerang Marquess Marcelo. Marquess Marcelo pun kembali berusaha nghindari dan nyerang batang-batang pohon itu. Saat Marquess Marcelo terus nghindari dan nyerang batang-batang pohon yang muncul itu, tiba-tiba nona Karina lesat dengan cepat ke sisi samping dari Marquess Marcelo dan langsung nyerang Marquess Marcelo nggunakan pedangnya.

~Plant Sword Art Secret Technique : Manchineel Death Slash~

Nona Karina nebas tubuh Marquess Marcelo dengan telak. skipun tidak bisa motong tubuh dari Marquess Marcelo hingga njadi 2, tapi tebasan yang dilakukan oleh nona Karina berhasil mbuat tubuh Marquess Marcelo ngalami luka tebasan yang sangat besar. Luka tebasan itu manjang dari perut hingga dadanya dan darah pun ngucur deras dari luka tebasan itu. Tidak hanya itu, bagian tubuh yang terkena tebasan itu pun secara perlahan mulai leleh dan bagian tubuh yang leleh itu mulai nyebar ke bagian tubuh yang lainnya. Marquess Marcelo pun langsung jatuh terbaring di lantai setelah terkena serangan itu.

Sentara itu, nona Karina yang lihat Marquess Marcelo sudah terbaring di lantai dan tidak bergerak lagi pun naruh kembali pedangnya di pinggangnya. Batang-batang pohon yang sebelumnya telah muncul di lantai untuk nyerang Marquess Marcelo pun sudah nghilang kembali dan hanya nyisakan lubang-lubang di lantai tempat munculnya batang-batang pohon itu.

"Aku terpaksa nggunakan teknik ini untuk segera nghabisi iblis itu. Karena jika aku tidak nggunakan teknik ini, aku takut tidak bisa nahan diri dan mbuat gedung ini ditumbuhi banyak pohon. Jika seperti itu, aku bisa dimarahi oleh kakak Kayana," ucap nona Karina.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 265 : Manchineel Death Slash on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.