"Kenapa kalian semua bisa ada disini ?," tanyaku yang sedikit terkejut.
reka semua yang kulihat itu adalah paman Bill, paman Dean, paman Isaac, Eric dan beberapa warga desa Aston. reka awalnya berada di bagian belakang kerumunan itu, namun saat reka hendak manggilku, reka semua maju hingga ke bagian depan kerumunan itu untuk nemuiku.
"Tentu saja kami semua datang kesini untuk nyemangatimu. Aku yakin kalau kamu tidak bersalah dalam insiden itu, Rid. Aku sudah lama ngenalmu, bahkan sejak kamu kecil. Jadi tidak mungkin kamu lakukan hal itu karena kamu adalah anak yang baik," ucap paman Bill.
"Itu benar, Rid. Kami semua datang kesini untuk mberikan semangat padamu dalam njalani sidang nanti," ucap paman Dean.
"skipun kami tidak bisa nonton langsung sidang nanti, setidaknya kami bersyukur bisa nemuimu dan nyemangatimu saat ini," ucap Eric.
"Aku tidak nyangka kalau kalian akan datang kesini. Terima kasih, kalian semua," ucapku.
Aku rasa rindu dengan reka karena sudah lama tidak lihat reka. Aku berniat untuk ngobrol lama dengan reka tapi beberapa prajurit mulai narik dan ndorongku agar aku tetap lanjutkan langkahku untuk masuk ke gedung pengadilan.
"Hei kau, siapa yang nyuruhmu untuk ngobrol, cepat jalan!," ucap prajurit itu.
"Iya, iya. Kalian semua, terima kasih karena telah datang untuk nyemangatiku. Aku pergi dulu," ucapku.
"Semangat, Rid, aku yakin kalau kamu tidak bersalah dalam kasus ini," ucap paman Dean.
"Itu benar, semangat, Rid," ucap Eric.
Aku pun tersenyum lalu berjalan kembali nuju gedung pengadilan. Saat aku sudah ncapai pintu depan gedung pengadilan, terlihat 2 orang prajurit sedang njaga pintu itu. 2 orang prajurit itu pun langsung mbuka pintu itu dan nyuruhku untuk masuk. Aku pun langsung masuk ke dalam gedung itu dengan dikawal oleh prajurit-prajurit yang ngelilingiku.
Sentara itu, ketika Rid sudah masuki gedung pengadilan, beberapa orang yang ndengar percakapan Rid dengan orang-orang dari desa Aston mulai ledeki orang-orang dari desa Aston tersebut.
"Hei kalian rakyat jelata, apa aku tidak salah dengar saat kalian bilang kalau anak itu tidak bersalah ? Sepertinya kalian itu buta ya ? padahal sudah jelas-jelas kalau anak itu diberitakan sudah mbunuh beberapa orang termasuk dengan putra Duke San Angela dan kalian masih bilang kalau dia tidak bersalah ?,"
"Sepertinya reka itu sudah sinting, yah wajar sih kalau reka seperti itu apalagi reka adalah rakyat jelata," ucap orang-orang itu.
"Apa yang barusan kau bilang ?," tanya Eric yang nampak marah.
"Tenang, Eric. Jangan terpancing emosi," ucap paman Bill.
"Tapi reka duluan yang mulai, paman," ucap Eric.
"Karena kalian sudah bertemu dengan si pembunuh itu, lebih baik sekarang kalian kembali ke desa kalian yang kumuh dan jangan pernah kembali lagi ke ibukota San Estella, karena keberadaan kalian mbuat udara di ibukota ini njadi tercemar," ucap orang yang ledek itu.
"Kau, keparat," ucap Eric yang langsung mukul orang itu.
Tidak hanya Eric, teman-temannya yang lain pun ikut mukul beberapa orang yang ledek itu. Kericuhan pun terjadi di antara kerumunan orang yang berkumpul di depan gedung pengadilan itu. Beberapa prajurit yang berjaga di depan gedung pengadilan itu pun langsung turun tangan untuk nghentikan kericuhan itu.
-
Di dalam gedung pengadilan.
Saat aku baru saja masuki gedung itu, di dalam sana aku langsung disambut dengan sebuah ruangan yang sangat besar. Di depan ku saat ini ada banyak kursi yang berjejer yang sepertinya rupakan tempat bagi penonton yang ingin nonton sidang yang dilakukan di gedung pengadilan. Saat ini kursi itu belum diduduki oleh siapapun dan di ruang pengadilan itu juga masih sangat sepi karena masih ada 1 jam lagi sampai sidang pengadilanku dimulai. Lalu jauh di depan kursi penonton yang berjejer itu, tepatnya di bagian tengah ruang pengadilan ini, ada sebuah kursi yang sepertinya itu rupakan kursi untuk terdakwa yang akan ngikuti sidang itu. Lalu, di samping kiri dan kanan kursi itu, ada 3 buah kursi dan sebuah ja yang panjangnya lebihi panjang total 3 kursi tersebut. 3 buah kursi yang berada di samping kiri dan kanan dari kursi yang berada di tengah itu diatur nghadap ke arah kursi yang berada di tengah itu. Sedangkan kursi yang berada di tengah dan kursi-kursi para penonton diatur untuk nghadap ke depan ruang pengadilan. Sentara di bagian depan ruang pengadilan, ada sebuah dinding dan di dinding itu terdapat lambang timbangan besar. Di tengah lambang timbangan besar itu ada 3 buah huruf besar yang bertuliskan ’CSF’. Lalu di atas dinding berlambang itu, tepatnya di lantai 2 ruang pengadilan ini, ada sebuah kursi yang berukuran lumayan besar. Sepertinya kursi itu diperuntukkan untuk hakim yang mimpin sidang di ruang pengadilan ini.
Setelah itu, aku lihat ke samping kanan dan kiri kursi yang lumayan besar itu. Di samping kanan dan kiri kursi itu terdapat dinding dengan lambang yang sama dengan lambang yang ada di dinding di bawah kursi itu. Tetapi di samping dinding itu, aku baru nyadari kalau ada beberapa kursi juga yang berjejer di lantai 2. Kursi-kursi itu diarahkan nghadap ke sebuah kursi yang berada di tengah di lantai 1. Dan sepertinya di atasku ini juga terdapat kursi untuk penonton tapi sayangnya aku tidak bisa lihat kursi-kursi itu karena terhalang oleh langit-langit.
"Sebenarnya seberapa luas ruang pengadilan ini ?," pikirku.
Saat aku sedang mperhatikan ruang pengadilan ini, seorang prajurit pun nyuruhku untuk terus berjalan.
"Kenapa kamu berhenti ? cepat jalan terus!," ucap prajurit itu.
Karena ruang pengadilan masih sepi, aku diarahkan nuju sebuah pintu yang berada di bagian kanan dari pintu masuk gedung itu. Aku pun berjalan ke pintu itu dan ketika aku sudah ncapai pintu itu, seorang prajurit pun mbukakan pintu itu. Ternyata di dalam pintu itu adalah sebuah ruangan yang cukup luas.
"Sekarang masuklah ke ruangan itu sampai sidang pengadilan dimulai," ucap seorang prajurit yang ngawalku.
"Baiklah," ucapku.
Lalu aku pun masuki ruangan itu sedangkan para prajurit yang ngawalku tidak ikut bersamaku ke dalam ruangan itu.
"Kamu tunggulah di ruangan ini, sentara kami akan berjaga di luar. Jangan mbuat masalah, jika kamu mbuat masalah, kami akan langsung nindakmu," ucap prajurit.
"Baik, tuan," ucapku.
"Dan juga, aku yakin kamu pasti lapar. Makanlah ini sambil nunggu sidang dimulai," ucap prajurit itu sambil mberikanku sebuah kotak makanan.
Aku pun nerima kotak itu dengan kedua tanganku yang sedang terborgol.
"Terima kasih, tuan, tapi bagaimana caranya aku makan ini dengan kedua tangan yang terborgol seperti ini ?," tanyaku.
"Itu bukan urusanku, yang penting aku sudah mberikanmu makanan. Sekarang aku akan nutup dan ngunci pintunya," ucap prajurit itu.
Prajurit itu pun langsung nutup dan ngunci pintu tersebut. Sentara itu, aku langsung berjalan ke bagian tengah ruangan tersebut. Di ruangan itu terdapat tempat duduk, jadi aku milih duduk di tempat duduk itu. Lalu aku pun mperhatikan kotak makan itu dan mbuka isi kotak makanan itu. Di dalam kota makanan itu, terdapat nasi dengan lauk-lauknya yang lengkap.
"Aku kira makanan yang diberikan prajurit itu adalah makanan yang tidak layak untuk dimakan, karena saat di penjara sebelumnya, reka selalu mberikan makanan yang tidak layak, jadi aku ngira kalau reka akan mberikan makanan yang sama tapi ternyata tidak. Aku mang sangat lapar saat ini tapi sepertinya ini bukan saatnya untuk maka. Lagipula aku tidak bisa makan dengan nyaman dengan keadaan kedua tanganku saat ini," ucapku.
Aku pun langsung nutup kembali kotak makanan itu.
-
Beberapa nit kemudian.
Pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka. Saat pintu terbuka, datang 3 orang yang aku kenal ke ruangan itu. 3 orang itu rupakan Duke San Angela, Marquess Marcelo dan komandan Luka.
"Ada perlu apa anda datang kemari, tuan Duke ? Apa anda ingin mukul saya lagi ?," tanyaku.
"Aku datang kesini untuk lihat kondisimu dan nampaknya kondisimu sangat baik saat ini, berbeda dengan saat di penjara," ucap Duke Jas.
"Itu karena para prajurit yang telah nyembuhkan saya," ucapku.
"reka nyembuhkanmu hanya karena kamu mau njalani sidang, jika kamu tidak njalani sidang, reka akan tetap mbiarkanmu dengan kondisi seperti itu," ucap Duke Jas.
"Saya tahu soal itu. reka lakukan itu untuk nutupi kalau reka sebenarnya suka mukul tahanan yang berada disana. Jadi jika suatu tahanan datang untuk nghadiri sidang, reka akan nyembuhkan tahanan itu terlebih dahulu agar pihak luar tidak ngetahui kalau sebenarnya reka suka lakukan kekerasan terhadap para tahanan," ucapku.
"Kamu ternyata pintar juga," ucap Duke Jas.
"Saya akan anggap itu sebagai pujian, tuan Duke," ucapku.
"Karena aku sudah lihat kondisimu, sekarang aku mau pergi. Aku tidak sabar nantikan sidang nanti, apalagi saat Yang Mulia Hakim njatuhkan vonis hukuman mati terhadapmu, Rid Archie," ucap Duke Jas.
"Lebih baik anda tidak nantikan sidang nanti, tuan Duke. Karena seperti yang saya bilang sebelumnya, bisa saja malah anda yang akan divonis ndapatkan hukuman mati," ucapku.
"Jaga bicaramu dengan tuan Duke, keparat!," ucap komandan Luka yang tiba-tiba marah.
Duke Jas pun lihatku dengan tatapan tajam.
"Kamu masih saja berhalu seperti itu. Sayang sekali karena kamu sedang berada di tempat ini dan sebentar lagi sidang juga akan dimulai, jadi aku tidak bisa mukulimu lagi seperti saat itu. Saat itu aku juga berhenti mukulimu karena ada bangsawan bodoh itu,"
"Kita pergi sekarang tuan Marcelo, Luka. Tidak perlu emosi dengan apa yang dia katakan, lagipula sebentar lagi dia akan mati," ucap Duke Jas.
"Baik, tuan Duke," ucap Marquess Marcelo dan komandan Luka.
reka bertiga pun bergegas pergi ninggalkan ruangan ini. Ketika reka sudah ninggalkan ruangan ini, pintu pun ditutup dan dikunci kembali.
-
Beberapa nit setelah Duke San Angela pergi, pintu ruangan itu kembali terbuka. Lalu datang 2 orang yang masuk ke dalam ruangan ini. Aku pun terkejut lihat kedatangan kedua orang itu.
"Kakak Rid," ucap Caroline.
Salah satu orang yang datang ke ruanganku itu adalah Caroline.
"Carol ? kenapa kamu bisa datang kesini ?," tanyaku.
"Aku lihat surat kabar yang mberitakan tentang kakak Rid yang terlibat dalam suatu insiden. Di surat kabar itu bilang kalau kakak Rid akan njalani sidang pengadilan di hari ini. Karena aku sedang luang makanya aku datang kesini untuk nonton sidang kakak Rid," ucap Caroline.
"Padahal kamu tidak perlu repot-repot datang kesini, bahkan sampai ngajak komandan Oliver," ucapku.
Dan satu orang lagi yang datang ke ruanganku adalah komandan Oliver. Sepertinya beliau diperintah untuk njaga Caroline makanya beliau juga ikut datang.
"Lama tidak berjumpa, tuan muda Rid," ucap komandan Oliver.
"Lama tidak berjumpa juga, komandan. Ngomong-ngomong, kenapa komandan Oliver tiba-tiba manggil saya dengan sebutan ’tuan muda’. Saya bukanlah bangsawan jadi saya tidak pantas dipanggil dengan panggilan ’tuan muda’," ucapku.
"Anggap saja itu sebagai panggilan kehormatanku kepadamu, tuan muda Rid. Aku nghormatimu karena kamu telah njadi pahlawan saat insiden penyerangan akademi. Apalagi kamu juga berhasil nyelamatkan pangeran Charles, putri Chloe dan juga putri Caroline," ucap komandan Oliver.
"Saya tidak pantas ndapatkan panggilan kehormatan itu, komandan Oliver. Apalagi sekarang saya rupakan seorang pelaku pembunuhan yang telah mbunuh beberapa orang termasuk putra seorang Duke," ucapku.
"Aku yakin kalau kakak Rid tidak lakukan itu, itu adalah kesalahan kan ?," tanya Caroline.
"Tidak, Carol. mang akulah yang sudah mbunuh reka semua. Itu bukanlah suatu kesalahan," ucapku.
"Tidak mungkin, aku masih tidak mpercayai itu," ucap Caroline.
"Jika mang benar kamu yang sudah mbunuh reka, pasti kamu punya alasan kenapa kamu sampai mbunuh reka, tuan muda Rid," tanya komandan Oliver.
"Sesuai yang anda katakan, komandan, saya mang punya alasan kenapa saya mbunuh reka. Saat sidang nanti, saya berniat untuk mberitahu alasan saya mbunuh reka ski sepertinya tidak akan ada yang percaya dengan alasan saya," ucapku.
"Aku akan mpercayai apapun yang dikatakan oleh kakak Rid," ucap Caroline.
"Jika putri Caroline berkata seperti itu, maka aku juga akan mpercayai apa yang akan kamu katakan nanti," ucap komandan Oliver.
"Kalian berdua padahal belum lama ngenalku, tapi kalian dengan mudahnya berkata akan mpercayaiku. Apa kalian tidak curiga kalau mungkin saja aku berbohong soal alasan yang akan aku katakan nanti ?," tanyaku.
"Jangan rehkan insting orang tua sepertiku, tuan muda Rid. Aku bisa ngetahui orang-orang yang pantas dipercayai atau tidak," ucap komandan Oliver.
"Kalau aku, aku hanya rasa kalau kakak Rid mang orang yang dapat dipercaya, itu saja," ucap Caroline.
"Terima kasih karena telah mpercayaiku, kalian berdua. Ngomong-ngomong, apa kamu datang kesini bersama Yang Mulia Ratu, Carol ?," ucapku.
"Ah ibundaku bilang kalau beliau akan datang kesini. Tapi tadi beliau sedang ada urusan jadi beliau nyuruhku untuk pergi duluan ke gedung pengadilan ini," ucap Caroline.
"Begitu ya," ucapku.
Setelah itu, Caroline mperhatikan seluruh ruangan ini dan dia lihat ada kotak makan yang ada di sampingku.
"Kakak Rid, itu kotak makan punyamu ?," tanya Caroline.
"Iya, saat aku disuruh nunggu di ruangan ini, aku diberi kotak makan ini oleh salah satu prajurit. Prajurit itu nyuruhku untuk makan makanan dari kotak makan itu tetapi dengan kondisi tanganku yang terborgol seperti ini, aku tidak bisa makan makanan itu dengan nyaman," ucapku.
"Kalau begitu biar aku saja yang nyuapimu," ucap Caroline.
"Tidak perlu, Carol. Aku tidak mau repotkanmu," ucapku.
"Tidak apa-apa. Lagipula kakak Rid belum makan kan ? anggap saja ini sebagai balas budi karena kakak Rid telah nyelamatkanku saat insiden penyerangan akademi beberapa waktu lalu. skipun balas budi itu tidak akan lunas hanya karena aku nyuapimu makan. Yah pokoknya aku akan nyuapimu jadi kamu duduk saja yang tenang, kakak Rid," ucap Caroline.
"Baiklah kalau kamu bilang begitu," ucapku.
Lalu Caroline pun ngambil kotak makan itu lalu mbukanya dan mulai nyuapiku. Saat aku sedang disuapi oleh Caroline, komandan Oliver ngajakku berbicara.
"Aku dengar kalau Elaina telah bergabung dengan Elevrad dan kamu juga saat ini rupakan wakil ketua Elevrad, tuan muda Rid. Apakah Elaina telah banyak repotkanmu saat dia ngerjakan tugas-tugas Elevrad itu, tuan muda Rid ?," tanya komandan Oliver.
"Tidak, komandan. Elaina tidak repotkan saya, justru saya yang banyak repotkannya karena mintanya mbantu untuk ngerjakan beberapa tugas," ucapku.
"Jika nanti kamu dibebaskan dari hukuman ini dan kembali ke akademi, buatlah dia agar ngerjakan banyak tugas lagi. Aku tidak masalah apabila kamu terus repotkannya dengan tugas-tugas itu. Dengan hal itu bisa mbuatnya ndapatkan banyak pengalaman khususnya di bidang administrasi. Pengalaman ini tidak bisa didapatkan kakaknya karena kakaknya bukanlah anggota Elevrad sewaktu dia masih di akademi," ucap komandan Oliver.
"Baiklah, komandan. Jika saya kembali ke akademi nanti, saya akan mberikan banyak tugas kepadanya sesuai yang anda minta," ucapku.
Beberapa saat kemudian, aku pun telah nghabiskan makanan yang ada di kotak makan itu. Karena Elaina dan komandan Oliver sudah cukup lama berada di ruangan ini, reka berdua pun lalu mutuskan untuk pergi.
"Kalau begitu, aku pergi dulu, kakak Rid. Semangat untuk sidang pengadilannya nanti," ucap Caroline.
"Iya, terima kasih, Carol," ucapku.
reka berdua pun pergi ninggalkan ruangan ini dan setelah itu, pintu ruangan ini pun kembali ditutup dan dikunci kembali.
-
Beberapa nit kemudian, pintu ruangan ini pun kembali terbuka kembali.
"Kelihatannya aku hari ini kedatangan cukup banyak pengunjung," pikirku.
Dan benar saja, setelah pintu itu terbuka, datang 2 orang yang masuk ke dalam ruangan ini. Kedatangan kedua orang itu mbuatku terkejut.
"Kakak Asier dan paman Louis ?," tanyaku.
2 orang yang datang ke ruanganku itu adalah komandan Asier dan Duke San Lucia, Duke Louis.
"Aku tidak nyangka kalau kamu manggilku dengan sebutan ’paman’, Rid," ucap Duke Louis.
"Bukannya paman yang bilang sendiri untuk manggil anda ’paman’ ketika paman datang ke akademi setelah insiden penyerangan akademi terjadi ?," tanyaku.
"Ah benar juga, aku lupa soal itu," ucap Duke Louis.
"Kelihatannya kamu baik-baik saja, Rid," ucap komandan Louis.
"Yah, setidaknya saat ini aku sedang baik-baik saja. Ngomong-ngomong, kenapa kalian berdua datang kesini ?," tanyaku.
"Itu karena kami berdua ingin nonton sidang ini dan juga kami berdua ingin mbebaskanmu dari hukuman yang mungkin akan kamu terima di sidang ini," ucap komandan Asier.
"mbebaskanku ? bukankah itu sulit jika tidak ada bukti yang kuat ?," tanyaku.
"mang. Kemarin, aku nyuruh beberapa anak buahku untuk pergi ke hutan Hevea dan ncari barang-barang ncurigakan yang mungkin tertinggal di hutan itu setelah insiden itu terjadi. reka terus ncari barang-barang itu hingga saat ini. Aku berharap barang-barang yang tertinggal itu masih bisa ditemukan sebelum sidang ini berakhir agar setidaknya kita miliki bukti kuat tentang apa yang sebenarnya terjadi di hutan itu,"
"Bagaimana denganmu Rid ? Apa kamu miliki bukti yang kuat kalau kamu tidak bersalah dalam insiden itu, karena kamu sendiri yang terlibat langsung dalam insiden itu ?," tanya komandan Asier.
"Aku tidak mpunyai bukti yang bisa dipercayai oleh semua orang. Bukti yang kupunya hanyalah bukti perkataan yang kudengar sendiri dari orang-orang yang aku bunuh itu. Tentu bukti seperti ini akan lemah, sebab jika aku berbicara tentang ini, sebagian orang mungkin tidak akan percaya dan nganggap ini sebagai kebohongan belaka," ucapku
"Kamu benar, tapi bukti perkataan itu bisa dianggap sebagai kebenaran jika orang yang ngatakan itu sedang terpengaruh oleh sihir pikiran yang mbuat dia harus ngatakan kebenaran. Tapi sepertinya pengadilan ini tidak nggunakan tode seperti itu," ucap komandan Asier.
"Begitu ya," ucapku.
"ski begitu, kamu tidak perlu khawatir, Rid. Selain Asier, aku juga sedang ngumpulkan bukti-bukti yang ncurigakan. mang aku tidak ngumpulkan bukti tentang insiden yang terjadi itu tapi aku sedang ngumpulkan bukti tentang aktivitas-aktivitas ncurigakan yang dilakukan Duke San Angela. Aku telah rintahkan beberapa anak buahku untuk nyusup ke tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh Duke San Angela. Jika bukti tentang suatu aktifitas ncurigakan sudah ditemukan, kita bisa nyeret Duke San Angela untuk njalani sidang pengadilan juga. Jika itu terjadi, banyak orang akan berpikir kalau mungkin saja insiden yang terjadi di hutan Hevea rupakan bagian dari aktifitas ncurigakan yang dilakukan Duke San Angela, karena beberapa prajurit Duke San Angela sampai lakukan aktivitas di hutan Hevea yang bukan rupakan wilayah tugas reka. Aku berharap bukti-bukti itu dapat ditemukan sebelum sidang ini selesai. Jadi pokoknya kamu tenang saja," ucap Duke Louis.
"Terima kasih, kakak Asier, paman Louis. Kalian berdua bahkan rela lakukan ini untuk bisa mbebaskanku," ucapku.
"Kami berdua lakukan ini karena jika kamu tidak dibebaskan dan tetap ndapatkan hukuman, seseorang nanti akan sedih," ucap Duke Louis.
-
Waktu pun berlalu dan sekarang waktu telah nunjukkan hampir pukul 10 pagi. Itu berarti, sebentar lagi sidang pengadilan akan dimulai.
Pintu ruangan tempatku nunggu pun terbuka dan di balik pintu itu ada seorang prajurit yang terlihat sedang nungguku untuk keluar.
"Rid Archie, sudah waktunya bagimu untuk njalani sidang pengadilan," ucap salah satu dari prajurit itu.
"Baiklah," ucapku.
Kemudian, aku pun berjalan nuju pintu itu untuk keluar dari ruangan ini. Setelah keluar dari ruangan itu, aku diarahkan oleh para prajurit untuk berjalan secara perlahan di ruang pengadilan itu. Aku lihat ruang pengadilan itu saat ini telah dipenuhi oleh orang-orang. Orang-orang yang duduk di bangku penonton pun mulai lihat ke arahku. reka lihatku dengan tatapan tajam dan beberapa dari reka mulai neriakiku
"Pembunuh!,"
"Pembunuh!,"
"Pembunuh!," teriak orang-orang itu.
Tidak ada satupun dari reka yang ndukungku. Sepertinya semua orang yang ada disini mihak Duke San Angela. Tetapi aku tidak mperdulikan teriakan itu dan tetap berjalan perlahan. Aku berjalan lewati reka sambil dikawal oleh beberapa prajurit. Di bagian depan tempat duduk penonton yang ada di lantai 1, tepatnya di bagian kanan, aku lihat ada Caroline, komandan Oliver, komandan Asier dan Duke San Lucia yang tengah duduk disana. reka berempat pun lihat ke arahku dan aku pun juga lihat ke arah reka dengan tersenyum. Tidak hanya itu, di sisi lain bagian depan tempat duduk penonton itu, tepatnya di bagian kiri, aku lihat ada Duke San Angela, Marquess Marcelo dan komandan Luka. Tidak hanya itu, aku juga lihat ada Duke San Minerva dan juga Duke San Quentine. Duke San Angela, Marquess Marcelo dan komandan Luka lihatku dengan tatapan tajam, sentara Duke San Minerva dan Duke San Quentine hanya lihatku dengan tatapan biasa.
Lalu aku terus berjalan di tengah lewati bangku penonton itu. Sampai akhirnya aku berhenti di sebuah kursi yang ada di bagian tengah ruang pengadilan itu, salah seorang prajurit yang ngawalku nyuruhku untuk duduk di kursi tersebut. Aku pun langsung duduk di kursi tersebut sentara para prajurit yang ngawalku mulai berbaris di belakangku. Saat aku duduk, aku pun mperhatikan keseluruhan ruang pengadilan itu. Ternyata ruang pengadilan ini miliki 3 lantai. Di lantai 2 dan lantai 3 bangunan itu dipenuhi oleh orang-orang yang ingin nonton sidang ini. Orang-orang itu natap ke bawah dengan tatapan yang tajam. Lalu orang-orang yang berada di lantai 2 dan 3 itu pun mulai berteriak ’pembunuh!’ dan diikuti oleh orang-orang yang berada di lantai 1. Situasi di ruang pengadilan itu sangat gaduh dengan adanya suara teriakan orang-orang itu.
Saat aku sedang terfokus dengan suara teriakan-teriakan itu, aku lalu lihat ke arah kursi yang berukuran cukup besar yang berada di hadapanku. Karena kursi itu ada di lantai 2, aku harus ngarahkan kepalaku sedikit ke atas agar bisa lihat kursi itu. Lalu aku terkejut karena sudah ada seseorang yang duduk di kursi tersebut.
"Sejak kapan orang itu ada disana ?," pikirku.
Orang yang duduk itu adalah seorang pria yang ngenakan kacamata. Usianya tidak terlalu tua, mungkin sekitar 30 tahun. Pria itu saat ini sedang natapku lalu kemudian dia mulai natap ke penonton yang berada di lantai 2 dan 3.
"Kalian semua, diam!," ucap pria itu.
Suara yang dikeluarkan pria itu cukup keras karena suaranya terdengar di seluruh ruangan pengadilan itu. Setelah pria itu nyuruh orang-orang itu untuk diam, orang-orang itu pun nurut dan langsung diam. Suasana di ruang pengadilan itu pun njadi sunyi.
"Karena sidang sudah mau dimulai, aku harap tidak ada dari kalian yang berisik atau mbuat gaduh,"
"Sebelum mulai sidang ini, izinkan aku untuk mperkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku adalah Roswald Clentine, aku adalah hakim agung di Court of San Fulgen ini dan aku lah yang akan mimpin sidang kali ini. Kalau begitu, mari kita mulai sidangnya," ucap hakim Roswald.
Baru beberapa saat setelah sidangnya dimulai, tiba-tiba pintu depan ruang pengadilan terbuka dengan cukup kencang. Seluruh orang yang berada di ruangan itu pun noleh ke arah pintu depan itu, kecuali bagi reka yang berada di lantai 2 dan 3 karena reka tidak bisa lihat ke arah pintu depan yang berada di lantai 1.
Saat aku lihat ke arah pintu depan itu, aku pun langsung tersenyum. Karena orang yang mbuka pintu depan ruang pengadilan itu dan mulai langkah masuk ke dalam adalah nona Karina. Tidak hanya nona Karina, Ratu Kayana pun juga bersamanya.
"Kelihatannya kita tidak terlambat ya," ucap nona Karina.
"Tidak, Kari- maksudku kepala akademi. Kita ini sudah terlambat beberapa detik karena sidangnya sudah dimulai," ucap Ratu Kayana.
reka yang hadir di ruangan itu pun langsung terkejut. Tetapi reka tidak terkejut dengan kedatangan nona Karina, lainkan karena kedatangan Ratu Kayana. Saat reka semua sedang terkejut dengan kedatangan Ratu Kayana, nona Karina pun berjalan perlahan di tengah bangku penonton yang berada di lantai 1. Nona Karina terus berjalan hingga nuju ke tempatku berada. Namun saat nona Karina sudah mau nghampiriku, para prajurit yang berbaris di belakangku pun langsung ncegahnya.
"Apa yang ingin kau lakukan ? Apa kau tidak lihat kalau sidangnya sudah dimulai ?," tanya salah satu prajurit itu.
"Jadi sidangnya sudah dimulai ya. Kalau begitu aku minta maaf karena telah ngganggu jalannya sidang ini. Tetapi ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepada Yang Mulia," ucap nona Karina.
Nona Karina lalu ngambil sesuatu dari saku pakaiannya. Nona Karina lalu bersiap untuk lempar sesuatu itu.
"Tangkap ini, Yang Mulia," ucap nona Karina.
Nona Karina lalu lempar sesuatu itu ke arah hakim Roswald. Hakim Roswald pun nangkap sesuatu itu dengan sempurna nggunakan tangan kanannya. Dia lalu lihat sesuatu yang dia tangkap itu yang ternyata adalah sebuah batu kristal berukuran sedang.
"Alat ini kan....," ucap hakim Roswald.
"Alat itu rupakan bukti kalau ada suatu rencana kejahatan yang besar yang sedang dijalankan di kerajaan ini. Dan insiden yang terjadi di hutan Hevea, adalah bagian dari rencana kejahatan yang besar itu," ucap nona Karina.
-Bersambung
Reviews
All reviews (0)