"Rencana kejahatan yang besar yang sedang dijalankan di kerajaan ini ?,"
"Apa yang dia bicarakan ?," ucap orang-orang yang datang untuk nonton sidang itu.
reka nampak bingung dengan apa yang diucapkan oleh nona Karina. Sentara itu, Duke Jas yang awalnya sedang duduk di kursinya, langsung bangun setelah lihat nona Karina yang datang dan nghentikan sidang itu.
"Apa-apaan ini, kepala akademi ? Anda tiba-tiba datang dan nghentikan jalannya sidang ini hanya untuk ngatakan kalau ada sebuah rencana kejahatan yang besar yang sedang dijalankan di kerajaan ini ? Tapi kenapa anda hanya mberikan sebuah batu kristal kepada Yang Mulia Hakim ? mangnya bukti apa yang bisa didapatkan dari batu kristal itu ? Atau anda hanya ngulur-ngulur waktu saja untuk nunda jalannya sidang ini ?," tanya Duke Jas.
"Lebih baik anda diam dulu, tuan Duke," ucap nona Karina.
Duke Jas yang ndengar hal itu pun nampak marah, dia lalu ncoba nghampiri nona Karina.
"Berani sekali anda nyuruh saya untuk diam padahal anda hanyalah seorang kepala akademi dan saya sendiri rupakan seorang Duke. Kedudukan saya lebih tinggi daripada anda," ucap Duke Jas.
"Silahkan berbanggalah dengan gelar anda sebagai Duke, tuan Duke, karena sebentar lagi gelar anda itu akan dicabut," ucap nona Karina.
"Apa kau bilang ?," tanya Duke Jas yang semakin marah.
Duke Jas berniat untuk nyerang nona Karina tapi nona Karina langsung nggunakan sihir tumbuhannya untuk mbuat tumbuhan yang ngikat pergerakan Duke Jas.
"Kau, beraninya kau lakukan ini!," ucap Duke Jas yang sedang terikat oleh tumbuhan yang berasal dari sihir nona Karina.
Orang-orang yang berada di ruang pengadilan itu nampak terkejut dengan apa yang dilakukan nona Karina, lalu para prajurit yang berjaga di ruang pengadilan itu pun terlihat sedang bersiap untuk nyerang nona Karina. Tetapi Ratu Kayana langsung nghentikan reka semua.
"Berhenti, kalian semua," ucap Ratu Kayana.
Para prajurit yang bersiap untuk nyerang nona Karina pun langsung noleh ke arah Ratu Kayana.
"Tetapi orang ini telah ngganggu jalannya sidang ini, Yang Mulia Ratu," ucap salah satu prajurit.
"Aku bilang berhenti! Kalian semua harus nuruti perkataanku," ucap Ratu Kayana yang nampak marah.
Ratu Kayana pun mulai ngeluarkan tekanan aura yang mbuat udara yang ada di ruangan itu nampak berat. Tekanan aura yang dikeluarkan oleh Ratu Kayana mbuat sebagian orang yang berada di ruang pengadilan itu kesulitan bernafas.
"Ya-yang Mulia Ratu, ke-kenapa anda mbiarkan wanita ini bertingkah seenaknya ?," tanya Duke Jas.
"Lebih baik saat ini anda diam saja, tuan Duke," ucap Ratu Kayana sambil natap tajam ke arah Duke Jas.
Duke Jas pun terkejut ketika Ratu Kayana natapnya dengan tatapan tajam. Sentara itu, nona Karina terus berjalan ke tengah ruang pengadilan itu sambil lewati para prajurit yang hanya terdiam lihatnya. Nona Karina terus berjalan sampai akhirnya dia berhenti di depan tempatku duduk saat ini. Lalu nona Karina lihat ke atas ke tempat duduk hakim Roswald. Hakim Roswald sejak tadi terus mperhatikan batu kristal itu tanpa mpedulikan tentang apa yang terjadi di ruang pengadilan itu.
"Ada apa, Yang Mulia ? Kenapa anda sejak tadi terus mperhatikan batu kristal itu ?," tanya nona Karina
"Tidak apa-apa. Aku hanya tidak percaya kalau aku bisa lihat benda ini lagi," ucap hakim Roswald.
"Kelihatannya anda pernah nggunakan benda itu sebelumnya ya, kalau begitu saya tidak perlu mberitahu cara penggunaannya terhadap anda," ucap nona Karina.
"Ya, aku mang pernah nggunakan benda ini. Kamu tadi bilang kalau di benda ini terdapat bukti sebuah rencana kejahatan yang besar kan ?," tanya hakim Roswald.
"Iya, Yang Mulia," ucap nona Karina.
"Kalau begitu aku akan mperdengarkan isi dari alat ini. Tetapi kelihatannya situasi di ruang pengadilan ini sedang tidak tenang," ucap hakim Roswald.
Hakim Roswald pun akhirnya nyadari kalau situasi di ruang pengadilan itu sedang tidak tenang. Itu karena Ratu Kayana yang terus ngeluarkan tekanan aura yang mbuat sebagian orang di ruangan itu njadi tidak nyaman dan kesulitan bernafas. Setelah hakim Roswald berkata seperti itu, nona Karina pun noleh ke arah Ratu Kayana.
"Yang Mulia Ratu, tolong hentikan tekanan aura anda itu karena tekanan aura anda itu ngganggu jalannya sidang ini," ucap nona Karina.
Setelah diberitahu oleh nona Karina, Ratu Kayana pun langsung nghentikan tekanan auranya itu.
"Maaf," ucap Ratu Kayana.
Setelah tekanan aura milik Ratu Kayana nghilang dari ruangan itu, situasi di tempat itu pun perlahan kembali njadi tenang.
"Sepertinya situasi sudah njadi tenang, kalau begitu aku akan mperdengarkan isi dari alat ini," ucap hakim Roswald.
Hakim Roswald kemudian nyalurkan Mananya ke batu kristal itu. Beberapa saat kemudian, batu kristal itu pun mulai ngeluarkan suara.
"Kamu kira ancamanku ini main-main ya, Enzo ? Cepat katakan siapa yang nyuruhmu untuk mbunuhku dan apa alasannya, jika tidak, kali ini kaki kirimu yang akan aku potong,"
Suara yang terdengar dari batu kristal itu adalah suaraku. Itu suaraku ketika aku sedang nginterogasi Enzo. Suara dari batu kristal itu mbuat orang-orang yang berada di tempat itu terkejut bahkan aku sendiri pun terkejut ketika ndengar suara dari batu kristal itu.
"Aku hanya diberitahu oleh nona Karina untuk ngaktifkan sebuah batu kristal yang diberikan kepadaku dengan nyalurkan sedikit Mana pada batu kristal itu, tetapi aku tidak diberitahu secara detail batu apa itu. Saat aku bilang kalau itu rupakan kristal komunikasi, nona Karina njawab kalau itu bukan kristal komunikasi. Aku mang tahu kalau nona Karina sepertinya sedang rencanakan sesuatu dengan mberikanku batu kristal itu, tapi aku tidak nyangka kalau batu kristal itu mpunyai fungsi seperti itu," pikirku.
Lalu orang-orang yang ndengar suara dari batu kristal itu pun saling berbicara.
"Ternyata benar kalau anak itulah yang mbunuh tuan muda Enzo,"
"Tapi tidakkah kamu dengar tadi kalau tuan muda Enzolah yang pada awalnya berniat untuk mbunuh anak itu ?," ucap orang-orang itu.
Lalu batu kristal itu pun terus ngeluarkan suara saat aku sedang nginterogasi Enzo.
"O-orang yang nyuruhku untuk mbunuhmu adalah senior Florian. Tidak hanya senior Florian, ayahandaku yang rupakan Duke San Angela juga nghubungiku lalu nyuruhku untuk mbunuhmu. Orang-orang yang ncegat dan nyerangmu tadi juga diperintah dari orang yang sama,"
Setelah ndengar itu, beberapa orang yang berada di ruang pengadilan itu pun mulai natap ke arah Duke Jas.
"A-apa ? T-tidak mungkin, aku tidak mungkin nyuruh anakku untuk lakukan pembunuhan," ucap Duke Jas yang masih terikat oleh tumbuhan.
Tidak hanya itu, orang-orang itu juga natap ke arah Duke Darwin karena senior Florian rupakan anak dari Duke Darwin. Duke Darwin yang sebelumnya sedang duduk tenang di kursinya, langsung berdiri setelah ndengar suara yang berasal dari batu kristal itu. Wajahnya terlihat pucat dan gelisah.
"T-tidak, itu pasti fitnah. Tidak mungkin anakku lakukan hal itu," ucap Duke Darwin.
Tapi suara dari batu kristal itu tidak berhenti sampai disitu saja. Suara yang keluar dari batu kristal itu tetap berlanjut sampai akhirnya suara yang keluar dari batu kristal itu mberi tahu sesuatu yang sangat nghebohkan.
"Ayahandaku ngincar mon dimana keluarga San Lucia dan Yang Mulia Ratu datang bersamaan ke acara itu. I-itu karena beliau ingin mbunuh seluruh keluarga San Lucia dan juga Yang Mulia Ratu secara bersamaan di acara itu,"
Setelah ndengar suara dari bola kristal itu, semua orang yang berada di ruangan itu pun sangat terkejut. reka semua sangat terkejut, kecuali nona Karina dan Ratu Kayana yang kemungkinan reka sudah ndengar isi dari percakapan itu lebih dulu.
"Apa yang sebenarnya terjadi ?,"
"Tuan Duke San Angela berniat untuk mbunuh Yang Mulia Ratu dan seluruh keluarga San Lucia ?,"
"Aku tidak nduga kalau tuan Duke San Angela berencana untuk lakukan hal itu," ucap orang-orang yang hadir di ruang pengadilan itu.
Wajah Duke Jas pun semakin pucat ketika semua orang mulai natap ke arahnya dan mulai mbicarakannya.
"Ti-tidak, aku tidak berniat untuk lakukan itu, aku bersumpah," ucap Duke Jas..
Setelah Duke Jas berkata seperti itu, tiba-tiba Duke Louis yang sebelumnya sedang duduk di kursinya langsung berdiri dan mulai langkah nuju ke arah Duke Jas.
"Apa maksud anda , tuan Jas ? Anda berniat untuk mbunuh seluruh keluarga saya ?," tanya Duke Louis yang tampak marah.
Duke Louis saat ini tengah berdiri di hadapan Duke Jas dan sedang narik kerah pakaiannya.
"T-tidak tuan Louis, saya bersumpah kalau saya tidak berniat untuk lakukannya," ucap Duke Jas.
"Sudahlah, anda tidak perlu berbohong lagi, buktinya sudah jelas kalau anda berniat untuk mbunuh seluruh keluarga saya karena yang ngatakan hal itu adalah anak anda sendiri," ucap Duke Louis.
Lalu Duke Louis bersiap untuk mukul wajah Duke Jas tetapi komandan Asier dengan sigap langsung ncegahnya.
"Hentikan, ayahanda," ucap komandan Asier.
"Lepaskan, Asier, apa kamu tidak dengar kalau dia berusaha untuk mbunuh keluarga kita. Aku sebelumnya sudah nduga kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan acara ~Matchmaking Battle~ dan ternyata dugaanku benar kalau di acara itu dia berniat untuk mbunuh kita dan bahkan juga dengan Yang Mulia Ratu," ucap Duke Louis.
"Aku tahu, ayahanda, aku juga ikut ndengarkan tadi. Tapi saat ini lebih baik kita tenang terlebih dahulu," ucap komandan Asier.
"Apa yang dikatakan komandan Asier itu benar, tuan Duke San Lucia," ucap hakim Roswald yang tiba-tiba ikut berbicara.
Duke Louis pun noleh ke arah hakim Roswald.
"Yang Mulia," ucap Duke Louis.
"Aku harap kalian semua tenang terlebih dahulu karena apa yang dibicarakan di batu kristal ini masih belum selesai," ucap hakim Roswald.
Orang-orang yang berada di ruang pengadilan itu pun mulai tenang kembali setelah diperintah oleh hakim Roswald. Lalu suara yang keluar dari batu kristal itu terus berlanjut.
"Selain itu, bukan hanya ayahandaku yaitu Duke San Angela saja yang terlibat dalam rencana ini. Duke San Minerva juga terlibat, dan juga orang yang mbuat para ’subjek’ ini yaitu-,"
Setelah itu, terdengar suara Enzo yang muntah darah dan kemudian suara dari batu kristal itu pun berhenti.
"Kelihatannya percakapan yang terdengar di batu kristal itu sudah berakhir," ucap hakim Roswald.
Setelah suara dari batu kristal itu berhenti, orang-orang di ruang pengadilan itu mulai heboh kembali.
"Sebelum tuan Enzo sempat ngatakan orang yang terakhir, sepertinya tuan Enzo sudah tewas lebih dulu,"
"Aku benar-benar tidak nyangka kalau tuan Duke San Angela dan tuan Duke San Minerva rencanakan untuk mbunuh Yang Mulia Ratu dan seluruh keluarga San Lucia,"
"Daripada itu, apa yang dimaksud dengan ’subjek’ yang tadi dibicarakan oleh tuan muda Enzo ?,"
"Setelah ndengar percakapan dari bola kristal tersebut, sepertinya anak itu tidak bersalah dalam insiden ini,"
"Itu benar, karena anak itu lah yang sejak awal ingin dibunuh oleh tuan muda Enzo. Anak itu terpaksa mbunuh tuan muda Enzo sebagai aksi pembelaan diri,"
"Tapi aku tidak nyangka kalau anak itu bisa selamat. Di surat kabar sebelumnya, katanya anak itu sudah mbunuh banyak orang di hutan Hevea selain tuan muda Enzo. Jika ndengar percakapan dari batu kristal itu, bukankah itu berarti orang-orang yang dia bunuh itu rupakan orang-orang yang berniat untuk mbunuhnya ? Aku tidak nyangka dia masih selamat setelah lawan banyak orang yang berusaha mbunuhnya," ucap orang-orang itu.
Orang-orang itu mulai saling berbicara setelah ndengar percakapan dari batu kristal itu. Sentara itu, Duke Jas dan Duke Darwin terlihat gelisah. Wajah reka berdua semakin pucat.
"A-apa yang dibilang di batu kristal itu pasti hanyalah sebuah kebohongan. Itu fitnah yang dibuat oleh orang lain untuk mojokan kami," ucap Duke Jas.
"I-itu benar. Tidak mungkin kami sebagai seorang Duke tega rencanakan sesuatu seperti itu. Aku yakin percakapan yang terjadi di batu kristal itu adalah rekayasa yang dibuat oleh kepala akademi itu dan anak itu. reka berniat untuk njelekkan kami," ucap Duke Darwin.
Aku dan nona Karina tidak nanggapi perkataan reka dan milih untuk diam.
"Tuh kan, kalian lihat. reka berdua saja terdiam. reka tidak berusaha nyangkal perkataan tuan Darwin yang berkata kalau itu adalah hasil rekayasa reka. Maka itu sudah pasti kalau reka lah yang rekayasa itu. Kelihatannya reka mbuat sihir ilusi yang ditanamkan di batu kristal itu dan mbuat suara yang keluar dari batu kristal itu terdengar seperti suara putraku, Enzo," ucap Duke Jas.
Sebagian orang yang berada di ruang pengadilan itu rasa kalau perkataan Duke Jas ada benarnya. Orang-orang itu pun mulai bimbang untuk ndukung siapa.
"Tidak. Apa yang dibicarakan di batu kristal ini adalah percakapan yang asli, aku bisa njamin itu," ucap hakim Roswald.
Duke Jas dan Duke Darwin pun terkejut ndengar perkataan hakim Roswald.
"Kenapa anda bisa dengan mudahnya berkata seperti itu, Yang Mulia ? Apa anda tidak rasa aneh dengan batu kristal itu ? Mana ada batu kristal yang bisa rekam suara dari suatu percakapan yang sudah berlalu," ucap Duke Jas.
"Tentu saja ada, Duke Jas. Batu kristal ini adalah contohnya. Sepertinya anda tidak tahu tentang batu kristal ini, jadi aku akan njelaskannya. Batu kristal ini rupakan benda yang bisa rekam suatu suara dari suatu kejadian. Cara penggunaanya yaitu dengan masukan sedikit mana ke dalam batu kristal ini saat mau rekam suara tersebut. Setelah dimasukan sedikit mana pada batu kristal ini, batu kristal ini pun njadi bisa rekam suara yang terjadi di sekitarnya. Untuk nghentikan perekaman suara, tinggal masukkan sedikit mana lagi ke dalam batu kristal tersebut. Lalu untuk ndengarkan rekaman suara di batu kristal ini, pengguna harus terus nyalurkan Mananya sampai suara di batu kristal ini berhenti. Itulah yang aku lakukan tadi, aku terus nyalurkan Mana ke batu kristal ini sampai suara di batu kristal ini berhenti. Batu kristal ini juga miliki fitur untuk motong rekaman yang dianggap tidak penting atau nghapus rekaman sepenuhnya dan ngganti dengan rekaman yang baru, tetapi aku tidak akan njelaskan tentang ini lebih lanjut," ucap hakim Roswald.
"Pemilik batu kristal ini seharusnya mpunyai 2 buah batu kristal yang sama. Jika salah satu batu kristal digunakan untuk rekam, rekaman suara tersebut akan terdengar juga di batu kristal yang satu lagi. Jadi aku nduga kalau kepala akademi mberikan batu kristal itu kepada anak bernama Rid Archie dan mbiarkan anak bernama Rid Archie itu rekam kejadian yang terjadi di hutan Hevea. Karena kepala akademi juga miliki satu batu kristal lagi, dia tidak perlu khawatir dengan nasib batu kristal yang dipegang oleh Rid Archie. Tetapi jika kepala akademi sudah nyiapkan hal ini, apa itu berarti kalau kepala akademi sudah tahu kalau akan ada sesuatu yang nimpa anak bernama Rid Archie itu ?," pikir hakim Roswald.
Setelah ndengar perkataan hakim Roswald, Duke Jas pun terkejut, begitupun dengan Duke Darwin.
"Ke-kenapa anda tahu tentang benda itu, Yang Mulia ?," tanya Duke Jas.
"Bukankah aku sudah bilang sebelumnya kalau aku pernah nggunakan benda ini ? Benda ini rupakan benda yang dibuat oleh para Dwarf yang berada di kerajaan Dwarf. Aku pernah ncoba nggunakannya dulu saat aku ngunjungi kerajaan Dwarf. Bisa dibilang, benda ini rupakan salah satu benda termahal yang dijual di kerajaan Dwarf. Aku tidak nyangka kalau kepala akademi San Fulgen mpunyai benda ini, darimana anda bisa ndapatkan benda semahal ini ?," tanya hakim Roswald kepada nona Karina.
Nona Karina pun tersenyum setelah ndapat pertanyaan dari hakim Roswald.
"Anda tidak perlu tahu saya ndapatkan benda itu darimana, Yang Mulia. Daripada nanyakan soal itu, lebih baik anda mikirkan tentang apa yang harus dilakukan kepada dua orang Duke itu. Tidak, maksud saya adalah dua orang ’mantan’ Duke itu," ucap nona Karina.
-Bersambung
Reviews
All reviews (0)