Font Size
15px

Setelah itu, para prajurit itu mulai lepaskan rantai yang ngikat tubuhku satu persatu. Setelah reka selesai lepaskan rantai yang ngikat tubuhku, kedua tanganku langsung diborgol oleh reka.

"Jangan berusaha lawan, lagipula dengan borgol ini kamu tidak akan bisa nggunakan sihir karena borgol ini dibuat dari material khusus untuk nyegel sihir. Jadi kalaupun kamu lawan, perlawananmu akan sia-sia," ucap salah satu prajurit itu.

"Kalaupun aku tidak diborgol, aku juga tidak akan lawan," ucapku.

"Aku tidak percaya kata-katamu itu. Sekarang ayo jalan untuk nuju gedung pengadilan kerajaan," ucap prajurit itu.

Sebelum aku berjalan pergi ninggalkan ruangan itu, aku lihat ke arah tuan tahanan.

"Sampai jumpai lagi, tuan. Kita mungkin akan bertemu lagi nanti," ucapku.

"Yah, jika kamu ndapatkan vonis hukuman mati, tentu saja kamu akan kembali kesini untuk nunggu waktunya kamu dihukum mati. Jadi kita pasti akan bertemu lagi," ucap tuan tahanan.

"Hahaha bukan itu maksudku. Maksudnya mungkin kita akan bertemu lagi nanti, di luar tempat ini," ucapku.

"Hahaha mana mungkin, aku sudah ndapatkan vonis seumur hidup di tempat ini jadi tidak mungkin aku keluar dari tempat ini," ucap tuan tahanan.

Saat kami sedang ngobrol, tiba-tiba prajurit yang berada di dekatku langsung mbentakku.

"Hei, aku nyuruhmu untuk jalan bukan ngobrol!. Sekarang cepat jalan!," ucap prajurit itu.

"Baiklah, baiklah," ucapku.

Lalu aku pun mulai pergi ninggalkan ruang tahanan itu secara perlahan.

"Aku harap kamu ndapatkan hasil yang bagus di pengadilan nanti, nak," ucap tuan tahanan.

Aku yang ndengar perkataan tuan tahanan pun langsung noleh ke arahnya. Aku pun langsung tersenyum ndengar itu.

"Terima kasih, tuan," ucapku.

Setelah ngatakan itu, aku terus berjalan keluar untuk ninggalkan ruang tahanan itu. Setelah aku berhasil keluar dari ruang tahanan itu, pintu ruang tahanan itu pun ditutup dan dikunci kembali. Ruang tahanan itu saat ini kembali hanya dihuni oleh tuan tahanan seorang diri.

Lalu setelah itu, karena aku ditahan di lantai B6 yang rupakan lantai paling bawah, aku pun berjalan kembali naiki setiap lantai untuk ncapai lantai 1. Cukup lama aku berjalan, aku pun telah tiba di lantai 1 gedung penjara ini. Disana sudah ada beberapa prajurit yang sedang bersiap. Sepertinya para prajurit itu ditugaskan untuk ngantarku untuk nuju gedung pengadilan.

"Sebelum kamu pergi, kamu akan kami sembuhkan terlebih dahulu," ucap salah satu prajurit di lantai itu.

Setelah itu, beberapa prajurit pun ngelilingiku dan langsung nyembuhkanku dengan sebuah sihir penyembuhan. Karena ada banyak prajurit yang nyembuhkanku, penyembuhanku pun selesai dengan cepat. Kali ini, tubuhku sudah pulih dari seluruh luka yang ku alami sebelumnya.

"Sekarang tubuhku jadi lebih baik. Seharusnya kalian langsung nyembuhkanku setelah aku dipukuli oleh tuan Duke kemarin, kenapa baru sekarang kalian nyembuhkanku ketika aku mau pergi ke gedung pengadilan ? Apa kalian takut kalau tindakan kalian yang suka nyiksa, mukuli dan mbiarkan para tahanan dipukuli oleh tamu yang datang akan ketahuan oleh pihak luar ?," tanyaku.

"Sudah, kamu jangan banyak tanya dan jangan banyak bicara!. Sekarang kami akan mbersihkan seluruh tubuhmu karena saat ini tubuhmu penuh dengan noda darah," ucap prajurit itu.

Setelah itu, beberapa prajurit itu pun nyiram tubuhku dengan sihir air. Dan kemudian, reka nggunakan sihir angin dan sihir api untuk ngeringkan tubuh dan pakaianku itu.

"Tubuhmu pun saat ini telah bersih. Sekarang waktunya kamu berangkat nuju ke gedung pengadilan," ucap prajurit itu.

Lalu beberapa prajurit yang ditugaskan untuk ngantarku pun langsung ndekatiku dan ngelilingiku. Aku pun berjalan ninggalkan gedung penjara itu sambil dikelilingi oleh prajurit itu. Setelah sampai diluar gedung, aku lihat beberapa kereta kuda yang terparkir di depan gedung tersebut. Kelihatannya kereta kuda itu yang akan ngantarkan kami untuk nuju gedung pengadilan. Dan benar saja, aku dituntun untuk berjalan ke arah kereta kuda yang terparkir itu. Lalu aku diarahkan ke kereta kuda yang berada di tengah dari banyaknya kereta kuda yang berbaris itu. Kemudian, seorang prajurit pun mbukakan pintu kereta kuda tersebut dan nyuruhku untuk langsung masuk ke dalam kereta kuda tersebut. Aku pun nuruti perkataan prajurit itu dan langsung masuk ke dalam kereta kuda tersebut. Setelah aku sudah berada di dalam kereta kuda tersebut, 4 orang prajurit pun masuk untuk njagaku di dalam kereta kuda tersebut. Sentara, para prajurit yang lain naiki kereta kuda lain yang tersisa. Setelah semua prajurit yang ngantarku sudah naiki kereta kuda masing-masing, salah seorang prajurit yang ikut naiki kereta kuda yang sama denganku pun lihat ke luar dari jendela kereta kuda itu. Prajurit itu lihat ke arah kereta kuda yang berada di posisi paling depan. Saat lihat ke arah kereta kuda itu, terlihat prajurit itu ngangguk sekali dan kemudian prajurit itu pun kembali ke posisi duduknya semula.

"Kita berangkat sekarang," ucap prajurit itu yang sebelumnya sempat lihat ke luar itu.

Setelah dia ngatakan itu, kereta kuda yang berada di posisi depan secara perlahan mulai berjalan. Karena kereta kuda yang berada di posisi depan sudah berjalan, kereta kuda yang aku naiki pun juga ikut berjalan dan ngikuti kereta kuda yang ada di depannya. Rombongan kereta kuda ini pun mulai berjalan nuju gedung pengadilan.

-

10 nit kemudian.

Kami pun telah sampai di gedung pengadilan. Karena jarak penjara San Sabaneta dengan gedung pengadilan lumayan dekat, perjalanannya tidak rlukan waktu yang lama. Saat sampai di gedung pengadilan, terlihat ada banyak orang yang sedang berkerumun di depan gedung itu. Rombongan kereta kuda yang digunakan untuk ngantarku pun narik perhatian orang-orang itu. Orang-orang itu pun nengok ke arah rombongan kereta kuda yang sedang berjalan lewati reka. Rombongan kereta kuda ini sedang berjalan nuju tempat parkir yang ada di halaman gedung pengadilan untuk makirkan kereta-kereta kuda ini. Setelah sampai di tempat parkir halaman gedung ini, rombongan kereta kuda ini pun berhenti dan para prajurit yang ada di kereta kuda yang lain mulai keluar dari kereta kuda itu. Prajurit yang telah keluar itu mulai bergerak ndekat ke arah kereta kuda yang aku tumpangi. Salah seorang dari prajurit itu pun mbukakan pintu kereta kuda yang ku tumpangi. Lalu keempat prajurit yang naik kereta kuda bersamaku mulai narikku agar segera keluar dari kereta kuda itu. Lalu aku pun berhasil keluar dari kereta kuda itu.

Saat aku telah keluar dari kereta kuda itu, orang-orang yang sebelumnya terus mperhatikan rombongan kereta kuda yang ku tumpangi pun mulai gaduh. reka ndadak heboh setelah lihatku turun dari kereta kuda itu.

"Itu dia orangnya,"

"Jadi dia si pembunuh putra dari Duke San Angela,"

"Aku masih tidak nyangka kalau dia hanyalah seorang murid akademi,"

"ski begitu, dia itu adalah pembunuh. Tidak peduli apapun dia," ucap orang-orang itu.

Beberapa dari orang itu ada yang neriakkan kata-kata ’matilah kau, pembunuh’ terhadapku dan sebagian lainnya neriakkan kata-kata ’bebaskan dia’ terhadapku. Sepertinya orang-orang yang berkumpul itu terpisah njadi 2 kubu, ada yang ndukung agar aku dihukum mati dan ada yang ndukung agar aku dibebaskan.

"Aku ngerti kalau ada orang yang mbenciku karena aku telah mbunuh Enzo yang rupakan putra Duke, tapi aku tidak nyangka kalau ada yang ndukungku agar aku bisa dibebaskan. Apa reka yang ndukungku itu adalah suruhan dari seseorang ?," pikirku.

Kemudian, aku dan para prajurit yang ngawalku terus berjalan nuju pintu depan gedung pengadilan. Akses untuk nuju pintu depan gedung pengadilan saat ini telah tertutup oleh orang-orang yang berkumpul itu, tapi para prajurit yang ngawalku dengan cepat langsung minggirkan reka semua untuk mbuka jalan agar aku bisa lewat. Orang-orang itu pun langsung mundur ke belakang setelah dipaksa oleh prajurit-prajurit itu, aku pun bisa berjalan dengan mudah untuk nuju pintu depan gedung pengadilan. Aku terus berjalan sembari diiringi teriakan dari orang-orang itu. Namun, saat aku sedang fokus berjalan, aku ndengar ada seseorang yang manggil namaku.

"Rid!!,"

Suara orang yang manggilku itu terdengar sangat familiar. Aku pun langsung noleh ke arah asal suara itu. Lalu aku pun lihat wajah-wajah yang tidak asing di mataku.

"Kalian, Kenapa kalian semua bisa ada disini ?," tanyaku yang sedikit terkejut.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 258 : Menuju Gedung Pengadilan Kerajaan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Elven Invasion cover
Similar genre

Elven Invasion

Respro ·Action

MagicvsScience HumanvsElves EarthvsForestia MortalvsGod ThisisataleinwhichGoddessLunainordertosaveherplanetandcivilizationstartsainvasiononEarth,Wi...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.