Keesokan paginya, di tempat latihan tahun kedua.
Irene, Charles dan yang lainnya tetap berlatih di tempat latihan itu skipun tidak ada Rid yang ikut latihan bersama reka. reka saling berlatih tanding dengan yang lainnya, salah satunya Irene yang saat ini sedang berlatih tanding dengan Chloe. Namun ada yang berbeda dari Irene kali ini. Irene sering kali lamun skipun saat ini dia sedang berlatih tanding dengan Chloe. Akibatnya, Irene sering kali terkena serangan Chloe. Salah satu serangan yang ngenai Irene adalah serangan anak panah yang di arahkan Chloe ke kepala Irene. Normalnya Irene bisa nghindari serangan anak panah itu sepenuhnya dengan mudah, namun karena Irene sempat lamun, hal itu mbuatnya tidak bisa nghindari serangan anak panah itu sepenuhnya. Serangan anak panah itu pun berhasil nggores pipinya dan mbuat pipinya itu berdarah.
"Kamu kenapa, Irene ? Kamu hari ini sering lamun, kemarin pun juga begitu," ucap Chloe.
"Tidak apa-apa, Chloe. Mungkin aku hanya sedang kepikiran sesuatu saja," ucap Irene sambil nyembuhkan luka di pipinya dengan sihir penyembuhan.
"Kelihatannya kamu sedang kepikiran tentang Rid ya," ucap Chloe.
"Iya, kamu benar," ucap Irene.
"Kamu tidak perlu khawatir, Irene. Kemarin, ibundaku bilang kalau hari ini beliau akan datang ke sidang pengadilan Rid. Mungkin Ibundaku akan mbantu Rid nantinya," ucap Chloe.
"Ayahandaku dan kakakku juga bilang kalau reka ingin datang ke sidang pengadilan itu dan mbantu Rid agar bisa terhindar dari hukuman. Tapi yang mbuatku bingung adalah bagaimana cara reka untuk mbantu Rid sedangkan reka tidak terlibat langsung dalam insiden itu," ucap Irene.
"Yah kamu ada benarnya, sepertinya sulit untuk mbantu Rid apabila tidak ada saksi yang terlibat langsung dan ngatakan kalau Rid tidak bersalah. Tapi aku yakin reka yang ingin mbantu Rid pasti punya suatu cara, jadi kamu tenang saja, Irene," ucap Chloe.
"Baiklah," ucap Irene.
Sentara itu, Noa saat ini tengah berlatih tanding dengan Charles. Namun, tiba-tiba Noa ingin nyudahi latihan ini skipun belum ada dari reka yang kalah.
"Kita sudahi saja latihan kali ini, Charles. Aku tidak bisa fokus dalam latihan ini karena terpikir terus tentang Rid," ucap Noa.
"Hahaha, sepertinya kamu juga ya. Baiklah, kalau begitu kita sudahi latihan hari ini," ucap Charles.
Charles dan Noa pun nyudahi latihan reka hari ini. Tidak hanya reka berdua saja, tetapi yang lainnya pun juga nyudahi latihan reka. Setelah itu, reka pun bergegas pergi dari tempat latihan untuk kembali ke asrama. Namun saat reka telah keluar dari gedung lobi akademi, reka bertemu dengan nona Violetta yang sedang duduk di pinggiran air mancur yang berada di depan gedung lobi akademi. Nona Violetta yang lihat kehadiran reka pun langsung nyapa reka.
"Halo, kalian," ucap nona Violetta.
"Halo juga, nona," ucap reka semua.
"Tumben sekali lihat nona Violetta pagi-pagi begini," ucap Charles.
"Aku setiap pagi selalu olahraga di sekitar akademi. Mungkin kamu berkata seperti itu karena baru pertama kali lihatku di pagi hari seperti ini, pangeran," ucap nona Violetta.
"Tidak perlu manggilku dengan sebutan ’pangeran’, nona," ucap Charles.
"Baiklah. Apa kalian semua baru saja latihan pagi ? Karena aku lihat masing-masing dari kalian sedang mbawa senjata," tanya nona Violetta.
"Iya, kami baru saja selesai lakukan olahraga di tempat latihan murid akademi, nona," ucap Charles. "Begitu ya. Ngomong-ngomong, kenapa wajah kalian nampak tidak bersemangat seperti itu ? Padahal kalian baru saja lakukan latihan yang juga rupakan bagian dari olahraga. Harusnya saat ini kalian jadi bersemangat. Apa ada yang sedang kalian pikirkan yang mbuat kalian tidak bersemangat seperti itu ?," tanya nona Violetta.
"Iya, mang ada, nona. Kami sedang berpikir tentang teman kami yang njadi pelaku dalam insiden yang diberitakan di surat kabar kemarin," ucap Charles.
"Ah tentang temanmu itu ya. mang surat kabar yang beredar kemarin itu benar-benar mberitakan hal yang nghebohkan. Aku tidak nyangka kalau temanmu itu akan mbunuh putra dari seorang Duke," ucap nona Violetta.
"Rid tidak mungkin lakukan itu, ini pasti suatu kesalahan," ucap Chloe.
"Aku ngerti kalau kalian ncoba untuk tidak percaya tentang surat kabar itu karena pelaku yang diberitakan dalam surat kabar itu adalah teman kalian," ucap nona Violetta.
"Rid bukan hanya sekedar teman biasa, dia itu teman dekat kami. Bahkan dia sering ngajari suatu teknik atau sihir yang belum kami kuasai," ucap Charles.
"Begitu ya, kalian benar-benar mperdulikan teman kalian itu," ucap nona Violetta.
"Tentu saja, nona," ucap Charles.
Nona Violetta pun tersenyum.
"Ah ngomong-ngomong, aku punya suatu kabar yang mungkin kabar baik untuk kalian. Kemarin, nona Karina pergi ninggalkan akademi, apa kalian tahu soal itu ?," tanya nona Violetta.
Charles dan yang lainnya pun saling berpandangan. reka semua pun nggelengkan kepala sebagai pertanda kalau reka tidak tahu.
"Tidak, nona. Kami tidak tahu tentang hal itu, kenapa nona Karina pergi ninggalkan akademi ?," ucap Charles.
"Kemarin nona Karina bilang kalau dia pergi ninggalkan akademi untuk mbantu mbebaskan teman kalian itu. Sampai mbuat nona Karina untuk turun tangan sendiri, sepertinya teman kalian itu rupakan murid kesayangan nona Karina ya," ucap nona Violetta.
reka yang ndengar tentang hal itu pun terkejut.
"Bahkan nona Karina juga ikut untuk mbantu mbebaskan Rid ?," tanya Charles.
"Iya, apa yang kukatakan saat ini bukanlah kebohongan. Jadi kalian saat ini bisa sedikit lebih tenang karena kepala akademi sendiri yang turun tangan untuk mbebaskan teman kalian itu," ucap nona Violetta.
-
Pukul 8 pagi, di kelas A tahun kedua.
skipun saat ini seharusnya sudah dimulai jam pelajaran, tetapi suasana kelas itu masih sangat ramai karena belum hadirnya tuan Alan di kelas itu. reka yang ada di kelas itu terus mbicarakan tentang insiden yang libatkan Rid dan Enzo.
"Aku masih tidak percaya kalau Rid lakukan hal itu,"
"Kelihatannya saja dia yang baik tapi ternyata dia adalah seorang pembunuh,"
"Kasian sekali tuan muda Enzo," ucap murid-murid yang lain.
Sentara itu, Charles dan yang lainnya hanya diam saja dan tidak nanggapi reka.
"reka terus mbicarakan tentang Rid dan beberapa dari reka bahkan njelekkan Rid. Apa harus kita biarkan saja, Charles ?," tanya Noa.
"Jika kita ribut nanti situasinya akan tambah gaduh, lebih baik biarkan saja reka," ucap Charles.
"Baiklah, ngomong-ngomong, jam berapa sidang pengadilan Rid dimulai ?," tanya Noa.
"Jam 10," ucap Charles.
"Jam 10 ya, sayang sekali kita tidak bisa hadir untuk nonton sidang pengadilan itu," ucap Noa.
"Sudahlah tidak usah cemas, Noa. Lagipula Rid pasti akan bebas nanti, apalagi ada nona Karina yang ikut untuk mbantu mbebaskan Rid," ucap Charles.
Setelah Charles ngatakan itu, tiba-tiba ada seorang murid yang ndengar perkataan Charles.
"Apa ? Apa aku tidak salah dengar, pangeran ? Kamu bilang kepala akademi akan mbantu untuk mbebaskan Rid ? Mana mungkin hal itu bisa terjadi. Rid itu sudah mbunuh putra dari seorang Duke, hukuman mati adalah hal yang sudah pasti akan dia dapatkan. skipun ada banyak orang yang mbantunya, tapi itu tidak akan rubah apapun," ucap murid itu.
Setelah murid itu nyelesaikan perkataannya, tiba-tiba terdengar suara kencang di kelas itu.
*BAAAMMMM
Suara itu sangat kencang dan mbuat semua murid yang ada di kelas itu terkejut. reka semua lalu noleh ke asal suara kencang tersebut. Suara tersebut berasal dari tempat duduk Irene. Suara kencang itu diakibatkan dari Irene yang mukul ja tempat duduknya itu secara tiba-tiba. Leandra yang juga terkejut pun langsung bertanya kepada Irene tentang alasan dia lakukan itu.
"A-ada apa, nona ?," tanya Leandra.
"Tidak ada apa-apa," ucap Irene.
Setelah Irene mukul janya itu, situasi kelas yang sebelumnya ramai pun njadi sunyi. Murid-murid tidak lagi saling ngobrol dan mbicarakan tentang Rid. Lalu beberapa saat kemudian, tuan Alan pun datang ke kelas.
"Selamat pagi, semua. Tumben sekali kalian njadi sunyi, biasanya saat aku datang kalian masih ramai," ucap tuan Alan.
Semua murid yang ada di kelas itu hanya terdiam dan tidak nanggapi tuan Alan.
"Yah, aku tahu kenapa kalian njadi seperti ini. Kalian njadi seperti ini gara-gara surat kabar yang beredar kemarin. Kelas ini telah kehilangan Enzo dan mungkin saja akan kehilangan Rid juga nantinya tergantung dengan hasil sidang pengadilan nanti. Aku tahu kalian njadi seperti ini karena sedang mikirkan reka berdua. Aku pun juga sama, terlebih reka berdua adalah murid di kelasku. Aku rasa berduka atas apa yang nimpa reka berdua," ucap tuan Alan
-
Disaat yang sama, di penjara San Sabaneta.
Saat ini aku sedang ngobrol dengan tahanan yang satu ruangan denganku. Sebelumnya aku sempat nanyakan nama dari tahanan itu tapi dia tidak mau mberitahukannya. Aku tidak tahu kenapa tetapi aku juga tidak mau maksanya. Oleh karena itu, aku saat ini manggilnya dengan sebutan ’tuan tahanan’.
"Ngomong-ngomong, tuan. Apa pendapatmu tentang Duke San Minerva ? Aku sebelumnya sudah mberitahukanmu kalau Duke San Minerva juga terlibat dalam rencana pembunuhan Yang Mulia Ratu kan ? Nah, aku ingin minta pendapatmu apakah Duke San Minerva rupakan orang yang terlihat baik di luar ?," tanyaku.
"Duke San Minerva itu sama seperti Jas. reka sama-sama licik. reka suka njebak orang lain agar mau nuruti perkataan reka. Benar begitu, bukan ?," ucap tuan tahanan.
Ucapan terakhirnya itu terdengar seperti sebuah pertanyaan, tapi sepertinya pertanyaan itu bukan ditujukan untukku. Dan benar saja, tiba-tiba ada tahanan lain yang ikut berbicara. Tahanan itu berasal dari ruangan di samping kami dan dia ikut berbicara dengan suara yang cukup keras agar bisa terdengar oleh kami.
"Itu benar. Duke San Minerva itu sama brengseknya dengan Duke San Angela. Ah seharusnya aku tidak perlu makai gelar Duke ketika mbicarakan reka. Yah pokoknya reka berdua itu bersifat sama. Sesuai pertanyaanmu tadi, reka itu orang yang terlihat baik di luar untuk njebak seseorang lalu setelah itu reka akan nunjukan diri reka yang sebenarnya. Aku tidak heran jika Duke itu juga ikut dalam rencana untuk mbunuh Yang Mulia Ratu," ucap tahanan itu.
Tahanan yang ikut berbicara itu terdengar seperti seorang lelaki dari suaranya.
"Begitu ya. Lalu bagaimana dengan Duke San Lucia ?," tanyaku.
"Hmmm kenapa kamu nanyakan tentang ayah dari pacarmu sendiri ?," tanya tuan tahanan.
"Aku hanya penasaran dengan pandanganmu terhadap para Duke, tuan," ucapku.
"Oh begitu. Hmmm Duke San Lucia ya, aku pikir beliau rupakan seorang Duke yang baik sebab tidak ada rumor atau hal buruk yang nimpanya sejauh ini. Sebenarnya ada satu, beliau disebut sebagai dalang pembunuhan orang-orang dari ras Elf yang berasal dari kerajaan Seleria. Mayat ras Elf itu ditemukan dalam keadaan tidak miliki jantung. Alasan beliau disebut sebagai dalang dalam insiden itu karena mayat-mayat itu selalu ditemukan di wilayah San Lucia. Karena insiden itu, kerajaan Seleria mutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan kerajaan San Fulgen. Tetapi aku pikir itu hanyalah jebakan yang dibuat seseorang untuk njatuhkan reputasi beliau," ucap tuan tahanan.
"Aku juga berpikir begitu. Karena skipun beliau dituduh seperti itu, orang-orang yang tinggal di wilayah San Lucia seperti para bangsawan ataupun rakyat biasa tidak percaya akan hal itu. reka percaya kalau bukan Duke San Lucia lah yang lakukan hal itu. Itu nandakan kalau Duke San Lucia begitu dicintai oleh orang-orang di wilayah San Lucia. Seorang bangsawan yang banyak dicintai khususnya dari kalangan rakyat biasa itu mbuktikan kalau bangsawan itu rupakan bangsawan yang baik. Jadi aku yakin Duke San Lucia itu rupakan orang yang baik," ucap tahanan lainnya yang ikut bersuara.
Tahanan ini berbeda dengan tahanan yang mberikan pendapatnya tentang Duke San Minerva. Tahanan ini juga seorang laki-laki dari suaranya.
"Nah kamu sudah dengar sendiri kan. Kamu beruntung karena mpunyai calon rtua yang baik," ucap tuan Tahanan.
"Calon rtua ya," ucapku.
"Yah itu benar juga sih karena saat ini aku rupakan pacarnya Irene, skipun hanya pura-pura," pikirku.
"Apa ada yang mau kamu tanyakan lagi, nak ?," tanya tuan tahanan.
"Aku masih ada satu pertanyaan lagi, tuan. Bagaimana pendapatmu tentang Duke San Quentine dan Raja Albert ?," tanyaku.
"Duke San Quentine dan Raja Albert ya. Aku rasa reka bisa dikategorikan sebagai orang yang baik. Karena aku juga tidak ndengar sesuatu yang buruk tentang reka dan juga reka juga dicintai oleh orang-orang. Bagaimana dengan pendapat kalian ?," tanya tuan tahanan kepada tahanan yang lainnya.
"Aku setuju, aku juga tidak pernah ndengar sesuatu yang buruk tentang reka,"
"Aku juga," ucap tahanan-tahanan yang lain.
"Nah reka juga sependapat denganku," ucap tuan tahanan.
"Begitu ya, terima kasih semuanya karena telah njawab pertanyaanku," ucapku.
"Sama-sama, nak," ucap tuan tahanan dan tahanan yang lainnya.
"Sebelumnya aku berpikir kalau orang yang tidak bisa disebutkan oleh Javier dan Enzo kemungkinan adalah Raja Albert atau Duke San Quentine. Tapi setelah ngetahui tentang reka dari tuan tahanan dan tahanan yang lain, sepertinya orang itu bukan salah satu dari reka berdua. Jadi siapa sebenarnya orang yang tidak bisa disebutkan itu ?," pikirku.
Saat aku sedang mikirkan tentang itu, tiba-tiba seorang tahanan lain mulai berbicara. Tahanan itu rupakan seorang perempuan dari suaranya.
"Tidak....Duke San Quentine, bukanlah seperti yang kalian pikirkan," ucap tahanan perempuan itu dengan terbata-bata.
Tahanan perempuan itu terdengar seperti sedang ketakutan saat berbicara tentang Duke San Quentine.
"Apapun yang terjadi....Kamu jangan pernah mpercayai Duke San Quentine.....Karena dia itu-," ucap tahanan perempuan itu.
Namun sebelum tahanan itu sempat nyelesaikan perkataannya, beberapa prajurit yang ngawasi ruang tahanan di lantai ini pun datang dan langsung mbentak.
"Siapa yang mperbolehkan kalian untuk saling berbicara seperti ini ?!," bentak salah satu dari prajurit itu.
Situasi di tempat ini pun langsung sunyi dan para tahanan tidak saling berbicara lagi.
"Gara-gara kehadiran para prajurit itu, aku jadi tidak tahu kelanjutan dari apa yang diucapkan tahanan perempuan itu. ’Karena dia itu-’ apakah itu maksudnya ’Karena dia itu sangat berbahaya’ ?," pikirku.
Para prajurit yang datang ke lantai ini pun mulai bergerak untuk nyusuri tiap ruang tahanan di lantai ini. Lalu sebagian dari prajurit itu berhenti tepat di depan pintu ruang tahananku. Prajurit itu pun mbuka kunci dan pintu ruang tahanan. Setelah itu para prajurit itu pun mulai masuk ke ruang tahananku.
"Kami datang kesini untuk njemputmu, Rid Archie, karena sudah waktunya bagimu untuk njalani sidang pengadilan," ucap salah satu dari prajurit itu.
Aku pun tersenyum ndengar perkataan prajurit itu.
"Jadi sudah waktunya ya," ucapku
-Bersambung
Reviews
All reviews (0)