Font Size
15px

Pukul 15.30, di gerbang Akademi.

Terlihat Charles dan senior Florian baru saja turun dari kereta kuda yang ditumpangi reka. reka berdua baru saja kembali dari istana kerajaan untuk nemui Yang Mulia Ratu dan Yang Mulia Raja..

"Kelihatannya baru kami saja yang sampai di akademi. Yah itu masuk akal soalnya kami hanya pergi ke istana kerajaan yang jaraknya tidak begitu jauh dari akademi. Jadi perjalanan yang kami lakukan cukup singkat dibanding reka yang pergi ke kediaman Duke ," pikir Charles.

Lalu Charles dan senior Florian pun nurunkan barang bawaan reka dari kereta kuda itu. reka mbawa banyak sekali barang yang sepertinya itu adalah oleh-oleh yang reka beli di ibukota San Estella.

"Terima kasih karena telah nemaniku ke istana kerajaan, Charles," ucap senior Florian.

"Sama-sama, senior," ucap Charles.

"Setelah ini kamu boleh kembali ke asramamu, Charles. Aku ingin mberikan proposal yang sudah ditandatangani ini ke nona Karina terlebih dahulu," ucap senior Florian.

"Baiklah, senior. Tetapi bagaimana dengan barang bawaanmu ini, senior ? Bukankah lebih baik kamu naruhnya di asramamu terlebih dahulu ?," tanya Charles.

"Aku akan naruh barang-barang ini di gerbang akademi terlebih dahulu. Barang-barang ini tidak akan hilang karena ada prajurit yang njaganya. Setelah mberikan proposal ini ke nona Karina, baru aku kembali kesini untuk mbawa barang-barangku ke asrama," ucap senior Florian.

"Begitu ya. Baiklah, senior, kalau begitu aku pergi dulu," ucap Charles.

"Iya," ucap senior Florian.

Charles pun pergi nuju asramanya sambil mbawa barang-barangnya. Lalu senior Florian pun mulai naruh barang-barangnya di gerbang akademi.

"Prajurit, aku ingin nitip barang-barangku disini," ucap senior Florian.

"Baik, tuan muda Florian. Tetapi bukankah lebih baik untuk naruhnya di asrama anda, tuan muda ? Kami akan mbantu mbawakannya apabila anda ingin mbawanya," ucap salah satu dari prajurit yang njaga gerbang akademi.

"Tidak perlu, nanti aku yang akan mbawanya sendiri. Aku titip disini terlebih dahulu karena aku sedang ada urusan," ucap senior Florian.

"Baik, tuan muda," ucap senior Florian.

Setelah itu, senior Florian pun berjalan untuk nemui nona Karina. Namun saat senior Florian sedang berjalan, tiba-tiba ada sebuah cahaya terang nyinari saku pakaiannya. Lalu senior Florian ngambil sesuatu dari saku pakaiannya itu. Sesuatu yang bersinar terang dari saku pakaiannya itu ternyata adalah kristal komunikasi. Kristal komunikasi yang bersinar terang nandakan kalau ada panggilan dari kristal komunikasi itu. Senior Florian pun langsung mbalas panggilan itu.

"Halo,"

"Ada perlu apa, ayahanda ?,"

"Apa ?!?!? Enzo telah tewas ?!?!," ucap senior Florian.

-

Disaat yang sama di kediaman Duke San Lucia.

Terlihat Irene dan senior Nadine tengah bersiap untuk naiki kereta kuda yang akan reka tumpangi untuk kembali ke akademi. Terlihat pula juga komandan Asier dan Duke Louis yang sedang ngantar kepergian reka.

"Hati-hati di jalan, Irene, Nadine," ucap Duke Louis.

"Iya," ucap Irene.

"Irene, jika nantinya kamu berkesempatan untuk datang berkunjung kesini lagi, jangan lupa untuk mbawa Rid bersamamu," ucap komandan Asier.

"Baik, kakak. Tetapi jika kesempatan itu tidak datang, kakak bisa nunggu saat kami berdua sudah njadi murid tahun keempat. Karena ujian terakhir di tahun keempat akan diadakan disini, jadi pastinya Rid akan datang kesini," ucap Irene.

"Itu benar juga, tetapi bisa saja Rid tidak ngikuti ujian terakhir itu. Bagaimana jika dia ngambil ujian khusus yaitu lawan salah satu dari komandan prajurit San Fulgen seperti aku lalu dia berhasil nyelesaikan ujian khusus itu dan langsung lulus dari akademi," ucap komandan Asier.

"Hmmm benar juga. Jika Rid ngikuti ujian itu, aku yakin Rid bisa nyelesaikan ujian itu," ucap Irene.

"Kamu yakin sekali ya dengan pacarmu itu, padahal jika dia ngikuti ujian itu, dia harus lawan salah satu dari komandan prajurit San Fulgen. lawan komandan prajurit itu sangat sulit bagi murid akademi," ucap komandan Asier.

"Itu karena aku telah mperhatikan Rid selama ini. Rid tidak pernah kalah saat bertarung dengan lawannya. Tidak hanya para murid, bahkan dia juga pernah bertarung dengan para penyerang yang nyerang akademi sebelumnya dan dalam pertarungannya itu dia selalu nang tanpa ngalami luka yang parah. Karena hal itu, aku tidak bisa mbayangkan bagaimana Rid bisa kalah," ucap Irene.

"Kalau begitu, jika Rid ngikuti ujian khusus itu dan akulah yang terpilih untuk lawannya. nurutmu, siapa yang akan nang ?," tanya komandan Asier.

"Bukan maksudku untuk rehkanmu, kak, tapi aku yakin kalau Rid lah yang akan nang," ucap Irene.

"Hatiku jadi sakit ndengar adikku sendiri bicara seperti ini. Ya sudahlah, jika kamu seyakin itu kepada Rid, aku semakin yakin kalau Rid adalah orang yang bisa diandalkan dan cocok dengan dirimu. Titipkan salamku kepadanya ketika kamu bertemu dengan Rid," ucap komandan Asier.

"Baik," ucap Irene.

Lalu Irene dan senior Nadine mulai naiki kereta kuda itu.

"Kalau begitu aku pamit dulu, kakak, ayahanda," ucap Irene.

"Iya, sampai jumpa, Irene," ucap Duke Louis dan komandan Asier.

"Kakak Asier, tuan Duke, saya juga pamit," ucap senior Nadine.

"Iya, sampai jumpa, Nadine," ucap Duke Louis dan komandan Asier.

Kereta kuda itu mulai bergerak secara perlahan. Lalu kereta kuda itu pun bergerak keluar dari kediaman Duke San Lucia. Sentara itu, komandan Asier dan Duke Louis terus lihat ke arah kereta kuda yang terus laju njauh dari kediaman Duke.

"Irene sepertinya telah berubah ya," ucap Duke Louis.

"Iya. Setelah ngalami suatu kejadian di masa kecilnya yang dimanfaatkan oleh para bangsawan yang lain dan juga setelah ibunda ngalami kondisi seperti ini, Irene cenderung bersikap dingin dengan orang yang ada di sekitarnya. Tetapi, kelihatannya saat ini dia telah berubah. Yah skipun wajahnya masih suka masang ekspresi yang dingin, tetapi aku tahu kalau sikapnya tidak sedingin dulu. Mungkin dia telah berubah senjak bertemu dengan Rid. Sepertinya kita harus berterima kasih kepada Rid jika kita bertemu dengannya lagi," ucap komandan Asier.

"Iya, kamu benar, Asier. Nah sekarang ayo kita masuk ke dalam, lagipula kereta kuda yang ditumpangi reka juga sudah njauh," ucap Duke Louis.

"Baik, ayahanda," ucap komandan Asier.

Saat komandan Asier bersiap untuk kembali ke dalam kediaman, tiba-tiba sebuah sinar terang muncul di saku pakaiannya. Sinar terang itu berasal dari kristal komunikasi yang nerima panggilan dari seseorang. Komandan Asier pun ngambil kristal itu dari sakunya dan langsung njawab panggilan itu.

"Halo,"

"Iya, ada apa ?,"

"Hmm Rid ? Ah benar juga, aku ndengar kabar kalau dia saat ini sedang pergi ke kota San Angela untuk ngantar sebuah proposal. Apa kamu bertemu dengannya, Sara ?,"

"Apa kamu bilang ?!?! Kamu sedang tidak bercanda kan ?!?!," ucap komandan Asier saat njawab panggilan itu.

Duke Louis yang ndengar komandan Asier sedang dihubungi seseorang pun penasaran dengan apa yang dibicarkan komandan Asier dengan orang itu.

"Ada apa, Asier ? Aku dengar kamu tadi mbicarakan tentang Rid ?," tanya Duke Louis.

"Iya, ayah. Aku mang sedang mbicarakan tentang Rid dengan wakilku. Ada sesuatu yang terjadi dengan Rid," ucap komandan Asier.

"Sesuatu yang terjadi dengan Rid ? Apa itu ? Apa yang terjadi dengan, Rid ?," tanya komandan Asier.

"Aku ndapatkan kabar kalau Rid sedang ditahan karena telah mbunuh putra dari Duke San Angela," ucap komandan Asier.

"Apa ?!?!," ucap Duke Louis yang terkejut.

-

Malam harinya, sekitar pukul 8 malam di gerbang akademi.

Terlihat ada 3 kereta kuda yang baru saja tiba di gerbang akademi. Kereta kuda itu pun mulai nurunkan penumpangnya masing-masing.

"Irene!," ucap Chloe yang baru saja turun dari kereta kudanya.

Begitu dia lihat Irene dia langsung nyapanya.

"Chloe ?," ucap Irene.

"Kebetulan sekali kita sampai berbarengan ya," ucap Chloe yang langsung nghampiri Irene.

"Iya. Bagaimana dengan perjalananmu ? Apakah ada masalah ?," tanya Irene.

"Tidak ada masalah apa-apa. Bagaimana denganmu ?," tanya Chloe.

"Aku juga sama," ucap Irene.

"Begitu ya. Kita sudahi dulu obrolan kita kali ini, aku mau nurunkan barang bawaanku terlebih dahulu," ucap Chloe.

"Baiklah, aku juga sama," ucap Irene.

Lalu Irene dan Chloe mulai nurunkan barang bawaan reka masing-masing dari kereta kuda. Setelah nurunkan barang bawaan reka, reka berdua pun mulai berjalan untuk kembali ke asrama. Tetapi, saat reka hendak berjalan kembali ke asrama, ada seseorang yang manggil reka.

"Halo Chloe, Irene, kebetulan sekali ya kita tiba berbarengan," ucap senior Vanina.

Irene dan Chloe pun noleh ke belakang.

"Senior Vanina ? Jadi kereta kuda yang satunya lagi ditumpangi oleh kamu dan putri Alia ya, senior. Dan apa-apaan barang bawaan yang kamu bawa itu ?," tanya Chloe.

Chloe lihat senior Vanina sedang mbawa barang yang sangat banyak. Barang-barang itu bahkan sudah bisa untuk dibawa nggunakan kedua tangan senior Vanina.

"Yah kebetulan ada banyak barang narik yang ingin aku beli di kota San Quentine, jadi barang-barang ini rupakan barang yang sudah berhasil ku beli. Ada juga oleh-oleh untuk kalian loh," ucap senior Vanina.

"Begitu ya, kelihatannya senior Vanina benar-benar nikmati perjalanan kali ini," ucap Chloe.

-

Di asrama murid akademi.

Terlihat Chloe yang sudah mau masuk ke dalam asramanya, sedangkan Irene masih berada di depan pintu asramanya.

"Kalau begitu aku masuk ke asramaku duluan ya, Irene. Selamat malam," ucap Chloe.

"Iya, selamat malam juga, Chloe," ucap Irene.

Lalu Chloe pun masuk ke dalam asramanya, sentara Irene masih berdiri di depan pintu asramanya. Kemudian, Irene pun lihat ke asrama Rid.

"Kelihatannya Rid belum pulang, aku juga tidak rasakan auranya di dalam. Mungkin dia telat untuk pulang karena sedang jalan-jalan di kota San Angela terlebih dahulu," pikir Irene.

Lalu Irene pun berniat untuk masuk ke dalam asramanya. Saat dia hendak mbuka kunci pintu asramanya, tiba-tiba dia ndengar suara seseorang yang manggilnya.

"Irene!," ucap suara itu.

Irene tahu kalau suara itu berasal dari luar asrama karena tidak ada satu orang pun di lorong asrama tempat dia berdiri saat ini. Irene pun langsung lihat ke luar asrama dan Irene lihat ada senior Nadine yang sedang berdiri di bawah tepatnya di halaman asrama. Kemudian Irene pun mbalas panggilan yang dilakukan oleh senior Nadine.

"Ada apa, Nadine ?," tanya Irene.

"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu, bisakah kamu turun ke sini ?," tanya senior Nadine.

"Baiklah," ucap Irene.

Kemudian, Irene pun langsung turun untuk nemui senior Nadine. Tidak berselang lama, Irene pun berhasil nemui senior Nadine dan kali ini reka berdua sedang bertatapan muka.

"Ada apa, Nadine ?," tanya Irene.

"Aku baru saja ndapatkan kabar dari tuan Duke Louis. Sebelumnya aku tidak mbawa kristal komunikasi saat pergi ke San Lucia karena kristal komunikasinya kutinggalkan di asramaku, jadi aku baru ndapatkan kabar ini saat aku kembali ke asramaku. Tuan Duke Louis mberikan kabar tentang Rid," ucap senior Nadine.

"Kabar tentang Rid ? Tunggu, kenapa ayahandaku tiba-tiba mberikan kabar tentang Rid ? Apa Rid datang ke San Lucia ?," tanya Irene.

"Bukan, tuan Duke Louis ndapatkan kabar ini dari kakak Asier dan kakak Asier ndapatkan kabar ini dari wakil komandan pasukannya yang berpatroli di wilayah San Angela. Duke Louis mberitahuku kalau ada sesuatu yang terjadi dengan Rid saat Rid sedang nuju kota San Angela," ucap senior Nadine.

"Ada sesuatu yang terjadi dengan Rid ? Katakan padaku, Nadine, apa yang terjadi dengan Rid ?," tanya Irene.

-

Keesokan harinya.

Seluruh wilayah kerajaan San Fulgen dihebohkan dengan beredarnya surat kabar yang diterbitkan oleh ’Diganta’. Surat kabar itu muat berita tentang ’Insiden Pembunuhan Putra Duke San Angela’ dan ’Insiden Pembantaian di Hutan Hevea’. Kedua berita yang dimuat oleh surat kabar itu mbuat heboh semua orang yang mbacanya. Terlebih karena pelaku yang terlibat dalam kedua insiden itu rupakan seorang yang dijuluki ’pahlawan’ dalam insiden penyerangan akademi beberapa waktu lalu, yaitu Rid Archie. Surat kabar itu juga njelaskan kalau Rid Archie saat ini tengah ditahan di penjara terbesar dan terketat di kerajaan San Fulgen yang berada di ibukota San Estella, yaitu penjara San Sabaneta karena insiden itu. Rid Archie akan ditahan di tempat itu sampai sidang pengadilan kerajaan mutuskan hukuman apa yang pantas diterimanya. Sidang pengadilan itu akan dilaksanakan keesokan harinya yaitu di hari Senin. ski begitu, dengan kejahatan yang dia lakukan, terlebih sampai mbunuh putra seorang Duke yang rupakan bangsawan tingkat atas, hukuman yang akan diterima oleh Rid Archie sudah dapat diprediksi. Hukuman yang akan Rid Archie terima nantinya kemungkinan besar adalah hukuman mati.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 253 : Kabar Tentang Rid on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Pokémon Court cover
Similar genre

Pokémon Court

Sounding Stream ·Action

SootopolisCity,atraditionalTrainerfoughtabattleagainstWallace,therepresentativeof...Readmore SootopolisCity,atraditionalTrainerfoughtabattleagainst...

Top-tier Unruly Master cover
Trending now

Top-tier Unruly Master

Be Qin Sanchi ·Other

WhenDingFanopenedhiseyesagain,everythingbeforehimhadchanged.ACultivatorrebornonEarth,hefoundhimselfinthedespisedbodyofadisgracedheir.Fistsstrikinga...

Tycoon War God cover
Trending now

Tycoon War God

Once Young ·Other

Inhispreviouslife,LinMuwasthetopassassinonEarth.HeaccidentallytraversedtotheEternalImmortalRealm,where,overthespanofeighthundredyears,hecultivatedf...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.