Font Size
15px

Kepala Enzo pun terputus dari badannya dan layang di udara. Beberapa saat layang di udara, kepala Enzo pun jatuh ke tanah. Tubuhnya pun mulai tumbang dan terbaring di tanah. Darah segar ngalir deras dari leher yang sudah terpotong itu.

Dengan ini, Enzo telah dinyatakan tewas. Sangkar listrik yang terbuat dari sihir Enzo pun langsung nghilang setelah Enzo tewas.

Lalu, setelah nebas Enzo, aku lihat ke arah tubuhnya yang terbaring tanpa kepala.

"Dengan begini, berakhir sudah," ucapku.

Kemudian, aku lihat ke pakaian dan pedang yang kugunakan. Pakaian dan pedang yang aku gunakan saat ini terdapat banyak darah reka yang sudah aku bunuh. Darah reka pun juga ngenai beberapa bagian tubuhku.

"Sepertinya aku harus mbersihkan diri," ucapku.

~Water Magic : Small Rain~

Aku mbuat sebuah bola air berukuran sedang lalu aku nembakkan bola air itu ke atasku. Bola air itu pun ledak dan setelah itu rintik-rintik air yang cukup deras pun mulai jatuh mbasahiku. Air yang mbasahiku ini secara perlahan mulai nghilangkan darah yang terdapat di tubuh, pakaian dan pedangku. Beberapa nit kemudian, tubuh, pakaian dan pedangku pun sudah bersih seluruhnya. Setelah itu aku langsung ngeringkan tubuh dan pakaianku dengan perpaduan sihir api dan sihir angin. Saat aku sedang ngeringkan tubuh dan pakaianku, aku kepikiran dengan apa yang dikatakan oleh Enzo sebelumnya.

"Enzo tadi natapku dengan wajah yang sangat pucat. Dia terlihat panik dan berkata ’mata itu’. mangnya ada apa dengan mataku ?," pikirku.

Lalu aku lihat ke bawahku yang kebetulan terdapat genangan air yang muncul setelah aku mbersihkan tubuhku tadi. Saat aku lihat genangan air itu, muncul pantulan wajahku di genangan air itu. Aku pun lihat pantulan wajahku itu dengan serius.

"Hmmmm tidak ada apa-apa pada mataku, mataku terlihat normal seperti biasanya. Apa mungkin Enzo sedang berhalusinasi karena sangat panik yang mbuat dia lihat sesuatu di mataku ?," ucapku.

Beberapa saat kemudian, tubuhku yang sebelumnya basah terkena air pun sudah kering sepenuhnya. Lalu, aku lihat area sekitarku. Area hutan tempatku berada saat ini bisa dibilang tidak terlalu parah kerusakannya. skipun ada beberapa pohon yang rusak, setidaknya tidak separah area lain yang keseluruhan area hutannya telah hancur terbakar ataupun mbeku. Saat aku sedang mperhatikan area sekitarku, aku lihat sebuah pedang yang masih di pegang oleh tangan kanan Enzo yang sebelumnya telah terputus. Kemudian aku pun nghampiri pedang itu dan ngambilnya.

"Pedang ini, kelihatannya ini pedang asli," ucapku sambil lihat dan mperhatikan pedang itu.

Kemudian, aku ncoba untuk ngaliri sebuah sihir elen ke pedang itu. Aku milih untuk ngaliri pedang itu dengan sihir listrik sama seperti yang sebelumnya Enzo gunakan. Aku pun berhasil untuk ngaliri pedang itu dan pedang itu kini dialiri oleh sihir listrikku.

"Jika aku bisa ngaliri sebuah sihir kepada pedang ini, sepertinya pedang ini bukanlah sebuah senjata kontrak. Hmmm, ah benar juga, aku lupa kalau skipun senjata ini rupakan senjata kontrak, kontrak yang telah dijalin oleh pemiliknya akan langsung nghilang begitu pemiliknya mati. Karena itulah aku bisa ngaliri sihirku ke senjata ini,"

"Aku akan nganggap kalau senjata ini rupakan senjata kontrak. Karena senjata ini telah terputus kontrak dengan pemiliknya, berarti sekarang senjata ini bebas untuk dipakai siapa saja. Kalau begitu lebih baik aku nyimpannya di ~storage~, siapa tau senjata ini akan berguna nantinya. skipun aku tidak akan nggunakan senjata ini karena aku sudah miliki dua buah pedang peninggalan orang tuaku," pikirku.

Setelah itu, aku pun masukkan pedang itu ke ~Storage~.

"Kalau tidak salah ada beberapa senjata lagi yang cukup bagus untuk aku ambil, salah satunya pedang milik Javier. Kalau begitu aku akan ngambil senjata-senjata yang bagus itu," pikirku.

Kemudian, aku pun njelajahi area hutan itu lagi untuk ncari senjata-senjata yang nurutku miliki kualitas yang bagus lalu ngambilnya dan naruhnya di ~Storage~.

-

Beberapa nit kemudian, setelah naruh senjata-senjata itu di ~Storage~, aku kembali ke tempat dimana tubuh Enzo berada dan aku mulai mikirkan sesuatu untuk ke depannya.

"Setelah ini apa yang harus aku lakukan ? Pembunuhan yang aku lakukan ini tidak bisa ditutup-tutupi ngingat ada Enzo yang terbunuh. Awalnya aku berniat nuju kota San Angela bersama dengan Enzo, dan kemudian malah berakhir seperti ini. Jika aku nghilangkan jejak dan jasad Enzo, orang lain akan curiga ngingat aku pergi bersamanya,"

"Aku bisa saja manfaatkan para prajurit yang ngenakan pakaian bandit itu dan ngatakan kalau Enzo tewas oleh para bandit yang nyerang kereta kuda kami, tapi entah kenapa itu tidak cukup kuat untuk dijadikan alasan. Dan juga, tidak mungkin aku bilang kalau aku diserang oleh Enzo dan orang-orang ini tanpa adanya bukti yang kuat,"

"Ini cukup rumit, berbeda dengan saat aku diserang di hutan yang berada di dekat kediaman Duke San Minerva. Saat itu aku sedang sendirian dan langsung diserang oleh para prajurit itu. Jadi skipun aku sudah mbunuh reka, tidak akan ada yang tahu tentang itu kecuali orang yang sudah rintah reka. Jika saja tadi aku diserang saat sedang sendirian juga, tidak sedang naiki kereta kuda dan tidak pergi bersama Enzo, mungkin aku bisa tenang sama seperti yang terjadi di hutan San Minerva," pikirku.

Aku terus mikirkan solusi yang tepat untuk ngatasi masalah ini, tetapi aku tetap tidak nemukan solusinya.

"Aku tetap tidak nemukan solusi yang tepat. Ya sudahlah, aku hanya tinggal ’ngikuti arus’ saja. Daripada itu, aku masih kepikiran dengan apa yang dikatakan Enzo tentang alasan reka ingin mbunuhku. reka berniat untuk mbunuhku agar Irene kembali njadi peserta ’Matchmaking Battle’. Dengan kembalinya Irene njadi peserta acara itu, keluarga San Lucia yang biasanya tidak suka nghadiri acara semacam itu akan hadir juga. Dan di acara itulah reka berniat untuk mbunuh Yang Mulia Ratu dan seluruh keluarga San Lucia. Terlebih yang rencanakan ini rupakan Duke San Minerva, Duke San Angela dan satu orang lagi yang tidak diketahui. Aku jadi tahu alasan kenapa Duke San Minerva ngutus prajuritnya untuk mbunuhku saat di hutan San Minerva. Ini benar-benar tidak bisa dipercaya,"

"Aku ngerti alasan reka ingin mbunuh Yang Mulia Ratu pasti ada hubungannya dengan kepemimpinan Yang Mulia Ratu saat ini. Karena aku pernah bertemu langsung Yang Mulia Ratu, aku tahu kalau beliau rupakan orang yang baik dan beliau juga dicintai oleh rakyatnya. Tetapi, sepertinya ada beberapa bangsawan yang tidak nyukai kepemimpinan Yang Mulia Ratu dan reka berusaha untuk mbunuhnya dan ngambil posisinya. Tetapi aku tidak ngerti kenapa reka juga ingin mbunuh seluruh keluarga San Lucia,"

"skipun kerajaan San Fulgen terlihat damai dari luar, tetapi ternyata di dalamnya ada sesuatu seperti ini. Aku harus mberitahu tentang ini kepada reka semua yang terlibat, tetapi aku tidak tahu apakah reka akan mpercayaiku atau tidak. Dan juga, aku harus lakukan sesuatu agar rencana reka tidak berjalan dengan lancar. Dan satu-satunya hal yang bisa aku lakukan saat ini untuk nggagalkan rencana reka adalah agar tetap njadi pasangan Irene," ucapku.

Setelah aku ngatakan itu, tiba-tiba ada banyak orang yang datang ke tempatku.

"Apa-apaan ini ? Apa yang terjadi disini ?," tanya salah satu orang itu.

Kemudian orang itu lihat ke arah jasad Enzo yang tidak miliki kepala.

"T-tuan muda Enzo ?!?!," ucap orang itu.

Orang itu dengan cepat langsung nghampiri tubuh Enzo. Dia mperhatikan jasad Enzo, selain tanpa kepala, tubuh Enzo juga telah kehilangan lengan kanan dan kaki kanannya. Orang itu pun lihat ke sekitarnya dan dia nemukan kepala, lengan kanan dan kaki kanan Enzo. Kemudian orang itu langsung noleh ke arahku.

"Kau!, berani sekali kau mbunuh tuan muda Enzo. Apa kau tidak tahu kalau dia rupakan putra dari seorang Duke ?!," ucap orang itu yang mulai marah.

"Sepertinya anda salah sangka, tuan. Bukan saya yang mbunuh, Enzo," ucapku.

"Jika bukan kau, lalu siapa ?!?!," tanya orang itu.

Kemudian, seorang wanita datang nghampiri kami berdua.

"Apa yang sebenarnya terjadi disini, komandan Luka ? Anda bilang kalau prajurit anda sedang mbasmi monster di tempat ini, tapi tidak terlihat satupun mayat monster di tempat ini," ucap wanita itu.

Wanita itu ngenakan jubah panjang dan di jubahnya itu terdapat lambang serigala kecil.

"Lambang itu sama seperti lambang yang dikenakan kakak Asier. Wanita itu berasal dari pasukan ’Frost Wolf’ ya," pikirku.

"Kamu serius berbicara seperti itu disaat seperti ini ? Apa kamu tidak lihat ini ? Ini rupakan jasad tuan muda Enzo. Tuan muda Enzo sudah dibunuh secara sadis oleh seseorang. Jika kamu mang ingin ncari mayat monster itu, cari saja sana. Aku yakin mayat monster itu juga sudah hancur ngingat ada beberapa area hutan ini yang juga sudah hancur," ucap orang itu.

Wanita itu pun terdiam, setelah itu dia lihat ke jasad Enzo.

"Daripada itu, kau, karena kau telah mbunuh tuan muda Enzo, aku Luka Saric sebagai komandan dari prajurit Duke San Angela, aku mutuskan untuk mbunuhmu saat ini juga. Kalian semua, bersiap untuk mbunuhnya," ucap komandan Luka.

Beberapa orang yang ngenakan seragam yang sama dengan komandan Luka pun mulai ndekat ke arahku. Kelihatannya orang-orang itu rupakan prajurit Duke San Angela yang dipimpin oleh komandan Luka. Lalu komandan Luka dan para prajuritnya pun mulai ngepungku. reka semua terlihat sudah bersiap dengan gang senjata reka masing-masing.

"Tunggu sebentar, apa yang anda lakukan, komandan Luka ? Bagaimana bisa anda berencana mbunuhnya sedangkan belum ada bukti kuat apakah benar dia mbunuhnya atau tidak. Lagipula, jika benar dia bersalah, anda tidak berhak untuk nghukumnya langsung, biar pengadilan kerajaan yang nghukumnya," ucap wanita itu.

"Kamu berisik sekali, Sara," ucap komandan Luka.

"Jika anda bersikeras untuk lakukan itu, maka saya akan nganggap kalau anda langgar aturan dan hukum kerajaan ini. Anda bisa terkena hukuman jika tetap bersikeras langgar," ucap wanita itu.

"Tch, sialan. Kalian semua, turunkan senjata," ucap komandan Luka.

Komandan Luka dan para prajuritnya pun nurunkan senjata reka tetapi reka masih ngepungku saat ini.

"Sekarang biar saya yang ambil alih ini. Saya akan nanyakan sesuatu terlebih dahulu kepadanya," ucap wanita itu.

"Terserah kau saja," ucap komandan Luka.

Lalu wanita itu pun berjalan ndekat ke arahku.

"Halo, perkenalkan namaku adalah Sara Veldavana, aku adalah wakil komandan pasukan ’Frost Wolf’. Kamu itu Rid Archie kan ?," tanya wakil komandan Sara.

"Jadi dia rupakan wakil komandannya kakak Asier ya," pikirku.

"Itu benar, nona. Saya tidak nyangka kalau saya akan dikenal oleh orang sepenting nona," ucapku.

"Aku yakin seluruh kerajaan ini sudah ngenalmu setelah insiden penyerang di akademi itu, apalagi komandan Asier sering kali mbahas tentangmu. Daripada itu, skipun kamu sedang dikepung seperti ini, kamu terlihat sangat tenang ya," ucap wakil komandan Sara.

"Itu karena saya yakin kalau saya tidak berbuat salah, nona. Makanya saya masih bisa bersikap tenang," ucapku.

"Begitu ya. Aku ingin nanyakan sesuatu kepadamu, apa benar kalau kamu yang mbunuh tuan muda Enzo yang rupakan putra dari Duke San Angela ?," tanya wakil komandan Sara.

"Tidak, nona. Saya tidak mbunuhnya," ucapku.

"Kau pembohong," ucap komandan Luka yang tiba-tiba ikut berbicara.

"Jika mang saya yang mbunuh Enzo, seharusnya tubuh dan pedang saya saat ini telah bermandikan oleh darahnya. Tetapi bisa dilihat saat ini kalau tubuh dan pedang saya tidak terkena sedikitpun oleh suatu darah. Dan juga coba saja anda periksa pedang yang saya bawa ini. Ini rupakan pedang milik akademi, apa nurut anda pedang ini bisa digunakan untuk mbunuh seseorang hingga tubuhnya terpotong-potong ?," tanyaku.

Komandan Luka pun terdiam.

"Jadi kamu tidak mbunuh tuan muda Enzo ya. Kalau begitu, apa kamu tahu penyebab sebenarnya tuan muda Enzo bisa tewas seperti ini ? Dan juga, kenapa kamu dan tuan muda Enzo bisa berada di hutan ini, bukankah kalian berdua itu rupakan murid San Fulgen Akademiya ?," tanya wakil komandan Sara.

"Aku sudah nduga kalau aku akan ditanya seperti ini, sepertinya aku harus nggunakan alasan itu," pikirku.

"Saya akan nceritakan kenapa Enzo bisa tewas seperti ini. Pada awalnya, saya dan Enzo berniat untuk pergi ke kota San Angela untuk ngantarkan sebuah proposal ke kediaman Duke San Angela. Itulah yang mbuat saya dan Enzo bisa berada di luar akademi saat ini. Lalu saat saya berada di jalan yang berada di dalam hutan Hevea, tiba-tiba kereta kuda kami diserang oleh sekelompok bandit. Sopir dan kedua prajurit yang ikut bersama kami sudah tewas lebih dulu oleh para bandit itu. Kemudian saya dan Enzo mutuskan untuk lawan para bandit itu. Tapi karena jumlah para bandit itu sangat banyak, kami pun dikeroyok oleh para bandit itu sehingga mbuat kami terpisah. Setelah itu, saya berhasil ngalahkan para bandit yang nyerang saya dan berniat pergi untuk mbantu Enzo. Tetapi saat saya nghampiri Enzo, dia sudah tewas dengan kondisi seperti itu. Kemudian saya pun langsung mburu dan mbunuh para bandit yang mbunuh Enzo," ucapku.

"Begitu ya. Ngomong-ngomong, saat kamu berada di hutan ini, kamu lihat sangkar listrik berukuran besar kan ? Apa kamu tahu siapa yang mbuat sangkar listrik itu ?," tanya wakil komandan Sara.

"Sangkar listrik itu dibuat oleh salah satu bandit yang nyerang kami agar kami tidak bisa larikan diri, nona," ucapku.

"Jadi sangkar listrik itu dibuat oleh salah satu bandit yang nyerangmu ya. Jadi apa yang terjadi di dalam sangkar listrik itu adalah pertarungan yang kalian lakukan dalam lawan para bandit itu. Tetapi kenapa komandan Luka mberikan penjelasan yang berbeda ? Komandan Luka bilang kalau di dalam sangkar listrik itu, telah terjadi pembasmian monster yang ada di hutan itu. Jadi siapa sebenarnya yang telah berbohong ?," tanya wakil komandan Sara.

"Tentu saja anak itu yang berbohong, apa yang aku jelaskan kepadamu tadi adalah kebenaran," ucap komandan Luka.

"Apa yang saya ceritakan juga rupakan kebenaran. Jika anda tidak percaya, silahkan anda periksa di area hutan ini dan anda akan nemukan orang-orang yang berpakaian bandit yang telah tewas," ucapku.

"Begitu ya. Kalian semua, coba periksa dan cari orang-orang yang berpakaian bandit itu," ucap wakil komandan Sara kepada para prajuritnya.

"Baik, wakil komandan," ucap para prajurit ’Frost Wolf’.

Tetapi saat reka hendak pergi untuk ncari orang-orang itu, komandan Luka langsung nghentikan reka.

"Tidak perlu, biar para prajuritku saja yang ncari reka. Lagipula jumlah prajurit Duke yang kubawa lebih banyak dengan prajurit ’Frost Wolf’ disini. Kamu tidak keberatan kan, wakil komandan Sara ?," tanya komandan Luka.

"Baiklah, kalian semua tetap di posisi kalian saat ini," ucap wakil komandan Sara.

"Baik, wakil komandan," ucap para prajurit ’Frost Wolf’.

Setelah itu, para prajurit Duke pun langsung Berkeliling untuk ncari orang-orang itu.

-

Beberapa nit kemudian.

Para prajurit Duke itu kembali sambil mbawa beberapa mayat dengan kondisi anggota tubuh yang utuh dan yang tidak utuh. Setelah itu, reka pun langsung letakkan mayat-mayat itu di tanah.

"Kami sudah berkeliling ke seluruh hutan, komandan. Tapi kami tidak nemukan adanya mayat ataupun orang yang berpakaian bandit. Sebaliknya, kami malah nemukan mayat beberapa prajurit Duke San Angela yang ditugaskan untuk mbasmi monster di hutan ini. Silahkan anda lihat sendiri, komandan," ucap salah satu dari prajurit itu.

Komandan Luka pun riksa mayat-mayat itu dengan teliti.

"Ini benar, reka mang para prajuritku. Bisa terlihat jelas dari seragam yang reka pakai. Kamu lihat sendiri kan, wakil komandan Sara ? Aku tidak berbohong soal itu, aku mang ngutus para prajuritku untuk lakukan pembasmian di hutan ini. Sebaliknya, anak inilah yang berbohong. Sudah pasti dia lah yang mbunuh tuan muda Enzo dan juga para prajurit yang aku tugaskan ini," ucap komandan Luka.

Setelah komandan Luka ngatakan itu, semua orang yang ada disitu pun langsung lihat ke arahku.

"Aku yakin kalau para prajurit yang aku bunuh itu masih ngenakan pakaian bandit. Hmm jadi begitu ya, alasan kenapa dia nghentikan para prajurit ’Frost Wolf’ dan milih untuk ngutus para prajuritnya sendiri untuk ncari mayat itu adalah untuk ngganti pakaian yang dikenakan oleh prajurit yang tewas itu. Dengan ngganti seragam para prajurit itu, itu mbuat alasan yang kupakai terdengar seperti sebuah kebohongan. Sudah kuduga kalau percuma saja nggunakan alasan ini. Tidak, skipun aku nggunakan alasan yang bagus dengan bukti yang kuat, reka pasti akan tetap nggunakan suatu cara untuk mojokkanku seperti ini. Para prajurit Duke itu adalah orang-orang yang ngawasi area luar hutan ketika penyerangan terhadapku sedang berlangsung. Itu berarti reka secara tidak langsung juga terlibat dalam rencana untuk mbunuhku," pikirku.

"Bagaimana Rid Archie, apa kamu punya bantahan atau alasan lain terkait hal ini ?," tanya wakil komandan Sara.

Aku pun terdiam ndengar perkataan wakil komandan Sara.

"Jika tidak ada, aku akan nahanmu dan mbawamu ke penjara kerajaan San Fulgen yang berada di ibukota San Estella. Kamu akan ditahan sentara disana sampai pengadilan mutuskan hukuman apa yang akan kamu dapatkan," ucap wakil komandan Sara.

"Jadi aku sudah terkena jebakan reka ya. Ini benar-benar repotkan," pikirku.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 252 : Jebakan Prajurit Duke on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Supreme Magus cover
Similar genre

Supreme Magus

Legion20 ·Action

DerekMcCoywasamanthatsincefromyoungagehadtofacemanyadversities.Oftenforcedtosettlewithsurvivingratherthaliving,hadfinallyfoundhisplaceintheworld,un...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.