Font Size
15px

Aku berhasil nebas lengan kanan Enzo sampai terputus dengan nggunakan pedangku. Lengan kanan Enzo yang sudah terputus pun layang dan jatuh ke tanah. Lalu Enzo pun berteriak kesakitan.

"Arrrgggghhhh lenganku!!!!!," teriak Enzo.

Darah pun ngalir deras dari bekas potongan di lengannya itu. Javier dan 3 orang ’subjek’ yang ngenakan armor elen pun terkejut lihat itu. Sentara 3 orang subjek yang miliki bola mata hitam pekat nampak terdiam saja dan tidak bereaksi apapun. Javier dan 6 orang ’subjek’ itu nampak sudah ngalami cukup banyak luka di tubuh reka. Bahkan armor elen yang dikenakan oleh Javier dan 3 orang ’subjek’ itu pun sudah ’rusak’. Beberapa bagian tubuh reka ada yang tidak terlindungi oleh armor itu, padahal sebelumnya armor itu lindungi seluruh tubuh reka. Itu karena Rid berhasil nembus armor elen milik reka dengan teknik miliknya dan lukai reka di bagian tubuh yang sudah tidak terlindungi oleh armor elen itu.

Selain itu, area sekitar hutan yang njadi tempat pertempuran reka ini sudah ngalami kerusakan yang sangat parah. Ada area hutan yang sudah hangus terbakar, ada juga area hutan yang masih terbakar dengan api yang sangat dahsyat dan ada juga area hutan yang keseluruhan objek di hutan tersebut telah mbeku sepenuhnya. Pertempuran yang dilakukan reka benar-benar mberikan dampak yang sangat besar pada hutan ini.

Sentara itu, setelah aku berhasil motong lengan kanan Enzo, aku pun langsung noleh ke arah Enzo dan ndekatinya. Aku lihat Enzo masih gangi lengannya yang sudah terpotong itu sambil rintih kesakitan.

"Sihir listrikmu itu benar-benar repotkan, Enzo. Jadi aku harus motong lenganmu itu agar kamu berhenti nggunakan sihir listrik itu untuk nyerangku," ucapku.

Enzo yang masih gang lengannya itu pun perlahan noleh ke arahku.

"Keparat kau, Rid!!. Kalian semua, bunuh dia!!," ucap Enzo.

Javier dan 6 orang ’subjek’ lainnya pun langsung lesat ke arahku dengan cepat. reka langsung nyerangku nggunakan sihir reka masing-masing tetapi aku langsung nghindari sihir itu.

"Sebenarnya aku ingin bertanya sesuatu kepadamu, Enzo, tapi kelihatannya masih ada beberapa orang yang ngganggu. Kalau begitu aku akan mbereskan orang-orang ini terlebih dahulu," ucapku.

Aku terus nghindari serangan-serangan yang dilakukan oleh reka sehingga mbuatku njauh dari tempat Enzo saat ini. Setelah nghindari serangan-serangan sihir yang di arahkan kepadaku, aku langsung lesat ke arah seorang ’subjek’ yang ngenakan armor elen.

"’Subjek’ yang ngenakan armor elen masih mpunyai ekspresi di wajah reka. Kelihatannya reka berbeda dengan ’subjek’ yang miliki bola mata berwarna hitam pekat. Sepertinya reka ini rupakan ’subjek’ yang nggunakan jantung Elf sebagai inti Mana reka sama seperti Javier dan juga Enzo yang baru saja aku sadari saat ini. Alasan dia tidak pernah nggunakan kekuatan penuhnya saat berada di akademi adalah karena dia tidak ingin kalau dia ketahuan sebagai ’subjek’. Jika reka rupakan ’subjek’ jantung Elf, itu berarti tubuh reka tidaklah sekuat ’subjek’ yang miliki bola mata berwarna hitam itu. Kalau begitu, serangan biasa saja sudah cukup untuk lukai reka, dan bahkan mbunuh reka," pikirku.

Lalu aku pun berhasil ndekati ’subjek’ itu yang rupakan seorang perempuan. Dia masih ngenakan armor elen tetapi ada beberapa bagian tubuhnya yang tidak terlindungi armor elen itu, salah satunya adalah perutnya. Aku pun bersiap untuk nyerangnya nggunakan pedangku.

~Flower Sword Art : Chaenoles Thorn Thrust~

Aku lancarkan serangan tusukan ke arah perempuan itu. Perempuan itu pun terkena seranganku dengan telak yang mbuat perutnya tertusuk oleh pedangku. Tusukan yang diakibatkan oleh pedangku ini mbuat perutnya itu berlubang. Dia pun muntahkan banyak darah dari mulutnya. Kemudian, karena efek dari seranganku ini, dia pun juga terhempas cukup jauh ke belakang.

"Dengan ini, satu sudah beres," pikirku.

Setelah itu, Javier datang ke arahku dan ncoba nyerangku dengan pedang apinya.

"Matilah kau, keparat!," ucap Javier.

~Death Burning Slash~

Pedang Javier saat ini diselimuti sihir api yang sangat besar dan pekat. Lalu dia pun ngarahkan pedangnya itu ke arahku. Aku dengan cepat langsung nghindari serangan pedangnya itu. Pedangnya itu pun ngenai tanah dan-

*DUARRRRR

Setelah itu terjadi ledakan api yang sangat besar akibat serangan pedang itu. Ledakan api itu langsung mbakar apapun yang berada di sekitarnya.

"skipun kau berhasil nghindari serangan pedang ini. Tetapi aku yakin saat ini kau sudah mampus karena terkena ledakan api yang berasal dari serangan pedang ini," ucap Javier.

Setelah Javier ngatakan itu, aku dengan tiba-tiba muncul dari sampingnya.

"Kamu percaya diri sekali saat ngatakan itu," ucapku.

Javier pun langsung terkejut dan noleh ke arahku.

"Kau-," ucap Javier.

Belum sempat Javier nyelesaikan perkataannya, aku langsung nyerang Javier nggunakan pedangku.

~San Lucia Art : Freezing Air Slash~

Aku langsung nebas Javier tepat di perut dan dadanya. Tebasan itu mbuatnya berdarah tetapi darah itu langsung mbeku dan mbentuk bongkahan es yang nempel pada perut dan dada yang terkena tebasan itu.

"Arrrggggh,"

Javier pun berteriak kesakitan setelah terkena tebasan itu.

"Teknik ini sangat berbahaya juga jika digunakan dengan pedang asli yang tajam," pikirku.

Setelah itu, aku langsung berniat untuk nyerang Javier lagi.

"Sejak tadi, kamu selalu berteriak ’matilah kau’ ’matilah kau’ terus-nerus, itu mbuat telingaku sakit, Javier," ucapku.

Aku langsung ngayunkan pedangku ke tubuh Javier, tetapi tiba-tiba 5 orang ’subjek’ yang lain langsung nyerangku secara bersamaan. reka nggunakan senjata reka untuk nyerangku. Aku berhasil nahan beberapa dari senjata reka, tetapi ada beberapa juga senjata yang tidak bisa aku tahan sehingga serangan reka berhasil mbuatku terluka. Aku pun langsung mundur beberapa langkah ke belakang untuk njauh dari reka, sedangkan reka saat ini sedang bersama Javier yang masih terduduk sambil gang bongkahan es yang nempel pada tubuhnya.

"nahan semua serangan reka tanpa bantuan teknik keluarga San Fulgen dan keluarga San Lucia sangat sulit. Apa aku harus nggunakan teknik itu lagi ?," pikirku.

Aku langsung nyembuhkan luka yang didapat setelah terkena serangan reka. Lalu aku lihat ke arah Javier yang sedang lelehkan bongkahan es yang nempel pada tubuhnya dengan sihir apinya. Beberapa saat kemudian, es pada tubuhnya itu pun sudah leleh sepenuhnya. Lalu Javier pun mulai berdiri kembali.

"Kelihatannya bongkahan es itu tidak ada apa-apanya bagi sihirmu. Sepertinya aku harus mberikan bongkahan es yang sangat besar bagi tubuhmu itu atau mungkin lebih baik aku mbekukanmu sepenuhnya saja ?," tanyaku.

"Dasar keparat, aku tidak akan mbiarkanmu mbekukan tubuhku lagi. Aku akan mbakar tubuhmu sampai njadi abu," ucap Javier.

Javier lalu nancapkan pedang apinya ke tanah yang berada di bawah.

~Wahai api yang mbakar segalanya, ubahlah tempat ini njadi tempat yang dipenuhi oleh api yang mbara~

~Fla Magic : Burning Hell~

Tiba-tiba, tanah yang berada di sekitar tempat ini langsung terbakar oleh api yang mbara. Pepohonan dan bebatuan pun juga ikut terbakar. Selain itu, udara yang berada di sekitar tempat ini juga njadi panas. Aku pun mperhatikan area sekelilingku yang telah dipenuhi oleh api. Lalu aku lihat ke arah kakiku yang sedang terbakar karena nginjak tanah yang terbakar itu.

"Sihir area ya," pikirku.

Setelah itu, aku pun mperhatikan Javier dan 5 orang ’subjek’ yang masih tersisa. Sama seperti Javier yang nggunakan sihir ini, kelihatannya sihir area ini juga tidak berpengaruh kepada reka.

"Bagaimana rasanya terbakar oleh apiku ini, keparat ? Kamu bisa rasakannya kan ? Karena kedua kakimu saat ini sudah terbakar, dan setelah itu seluruh tubuhmu lah yang akan terbakar sampai njadi abu," ucap Javier.

"Aku ngakui kalau sihirmu ini sangatlah berbahaya. Jika orang lain terkena sihir areamu ini, reka pasti akan langsung terbakar sampai hangus. Tetapi itu tidak berlaku untukku, karena aku masih bisa nahan sihir area ini," ucapku.

"Kita lihat saja seberapa kau bisa bertahan dalam sihir area ini," ucap Javier.

Setelah Javier ngatakan itu, aku dengan cepat langsung lesat ke arah reka.

~Flower Sword Art : Sword Dance In The Flower Garden~

Kemudian, aku langsung nebas reka semua dengan tebasan bertubi-tubi secara beruntun. reka semua pun langsung terluka cukup parah setelah terkena serangan itu.

"Arrgggghh,"

Javier pun berteriak kesakitan lalu dia pun terduduk sambil gang perutnya yang berdarah setelah terkena tebasanku itu.

"Aku sudah bilang kan kalau aku bisa nahan sihir area ini ? Buktinya aku masih bisa nyerang kalian di sihir area ini," ucapku.

"Kau keparat!," ucap Javier.

Kemudian kelima ’subjek’ yang tersisa pun mulai lompat ngelilingiku dan bersiap nyerangku secara bersamaan. Aku nyadari hal itu dan langsung lompat juga untuk bersiap nyerang reka.

"Aku sudah bosan berurusan dengan kalian. Aku tidak tahu kalian ini rupakan orang yang sukarela njadi ’subjek’ percobaan atau orang yang dipaksa njadi ’subjek’ percobaan. Apapun itu, aku minta maaf karena lakukan hal ini kepada kalian," ucapku.

Sebelum reka berlima sempat nyerangku, aku dengan cepat langsung nyerang reka berlima.

~Secret Sword Art : Dragon Slayer Technique : Full Moon Slash - Dragon Neck Slasher~

Aku nebas reka dengan berputar layaknya nyerupai sebuah bulan penuh. Karena reka berlima yang ngelilingiku berada di dalam jangkauan tebasan itu, reka berlima pun terkena tebasan itu dengan telak. Tebasan itu mbuat anggota tubuh reka terpotong. Ada dari reka yang kepalanya terpotong, badannya terpotong dan kedua lengannya terpotong. reka berlima langsung terjatuh dan tumbang seketika dengan anggota tubuh yang sudah terpotong dan darah reka pun berceceran di sekitar tempat ini. Tubuh dan pedangku pun juga terkena ceceran darah reka.

Javier yang lihat kejadian itu pun sangat terkejut.

Tubuhnya mulai getar dengan hebat. Dia lihat Rid yang bermandikan darah dengan dikelilingi oleh 5 orang ’subjek’ yang sudah tewas dengan anggota tubuh yang sudah terpotong. Apalagi, sihir api area yang masih nyelimuti tempat ini mbuat pemandangan yang dilihat Javier semakin ngerikan. Javier terlihat sangat ketakutan saat lihat pemandangan itu.

"A-apa-apaan kau ini ?! reka berlima itu adalah orang yang njadi subjek percobaan, seharusnya reka itu lebih kuat dari manusia biasa. Bagaimana bisa kau mbunuh reka semua semudah itu ?! S-siapa kau sebenarnya ?! A-apakah kau ini adalah mon-," ucap Javier.

Belum sempat Javier nyelesaikan perkataannya, aku dengan cepat langsung lesat ke arah Javier dan nebasnya. Tebasan itu ngenai lengan kanannya dengan telak. Lengan kanannya itu pun terputus dari badannya. Javier lihat lengannya yang terputus itu layang di udara sampai akhirnya terjatuh ke tanah.

"...ster," ucap Javier yang shock setelah lihat lengannya telah terputus.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 249 : Penyerangan di Hutan Hevea part 4 on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Sword God Reborn cover
Similar genre

Sword God Reborn

InkQuillWrites ·Action

Reincarnationistiresome.Thistime,IwillsurelyattaintheUltimateoftheSwordandfindeternalrest.“SwordGodReborn”Throughcountlessreincarnations,Ilivedagai...

On the Path to the Great Dao cover
Similar genre

On the Path to the Great Dao

Pig Nerd ·Action

【Fromtheauthorof''!】Mygrandfatherisverypeculiar.Everyday,helightsincenseforhimselfandeatscandlesinfrontofhisownancestraltablet.Thevillagersareallte...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.