Font Size
15px

Setelah shock lihat lengannya yang terputus, Javier langsung berteriak kesakitan.

"Arrrgggghhhh,"

Javier berteriak sambil gang lengannya yang telah terputus itu. Setelah nebas lengan Javier, aku secara perlahan berjalan ke arah Javier sambil tetap gang pedangku. Api masih berkobar dengan dahsyat di sekitar tempat ini. Tanah yang kupijaki pun juga terbakar yang mbuat kakiku juga ikut terbakar. Tetapi setiap kakiku terbakar oleh api itu, aku langsung nyembuhkannya dengan sihir penyembuhan. Tidak hanya kakiku saja, setiap bagian tubuhku yang mulai terbakar langsung aku sembuhkan dengan sihir penyembuhan.

Saat aku berjalan perlahan ke arah Javier, aku lihat potongan tubuh dari para ’subjek’ yang sedang terbakar di tanah. Beberapa potongan tubuh itu ada yang sudah hangus terbakar oleh api yang berasal dari sihir area milik Javier. Lalu, Javier yang sebelumnya sedang rintih kesakitan sambil gang lengannya yang terputus pun nyadari kalau aku sedang berjalan ke arahnya. Dia pun noleh ke arahku dengan wajah yang pucat.

"M-mau apa kau ??? J-jangan ndekat!," ucap Javier.

Javier terlihat panik dan berusaha njauh dariku tapi aku dengan cepat nghampirinya dan nusuk kakinya dengan pedangku agar dia tidak larikan diri.

"Arrrrrrggggghhhh," teriak Javier yang kesakitan.

Pedang itu nusuk kakinya hingga nembus ke dalam tanah lalu aku mbiarkan pedangnya tetap nusuk kakinya itu.

"Biasanya kamu rupakan orang yang sangat sombong dan arogan ketika berhadapan denganku. Tadi saja kamu dengan arogan berusaha mbunuhku. Tapi coba lihat sekarang, kenapa wajahmu njadi pucat seperti itu ?," tanyaku.

Javier tidak berkata apa-apa kepadaku dan hanya lihatku saja dengan wajah pucat.

"Aku sebenarnya berniat untuk bertanya kepada Enzo tentang rencana pembunuhan terhadapku, tetapi sepertinya tidak ada salahnya juga apabila aku nanyakan tentang ini kepada Javier," pikirku.

"Javier, ada sesuatu yang ingin kutanyakan kepadamu. Tetapi sebelum itu, aku harus ngubah tempat ini terlebih dahulu karena aku rasa tidak nyaman berlama-lama di tempat ini," ucapku.

Kemudian aku langsung nghentakkan kakiku ke tanah.

~Ice Magic : Full Frost~

Setelah nghentakkan kakiku ke tanah, dalam sekejap area di sekitarku yang sebelumnya terbakar oleh api langsung mbeku. Pepohonan, tanah, batu, bahkan api pun juga ikut mbeku. Begitupun juga dengan potongan tubuh para ’subjek’ yang sebelumnya terbakar tadi. Javier yang lihat itu pun langsung terkejut dengan wajah yang semakin pucat.

"A-apa-apaan ini ? B-bagaimana bisa kamu mbekukan seluruh area yang sedang terbakar ini ?," tanya Javier yang terkejut.

"Kelihatannya kamu tidak tahu ya kalau suatu sihir yang normalnya rupakan kelemahan dari sihir tertentu bisa lawan balik sihir itu. Seperti yang terjadi saat ini, normalnya sihir es akan ncair apabila terkena sihir api tetapi kenapa sihir area apimu bisa mbeku oleh sihir area esku ? Jawabannya mudah, karena sihir area es yang kugunakan saat ini lebih kuat dari sihir area apimu itu Sihir yang lebih kuat bisa lawan sihir yang rupakan kelemahannya. Jadi sihir area apimu bisa nghilang dan mbeku karena terkena sihir esku. Yah wajar jika kamu tidak ngetahui tentang ini, kamu kan bukan murid akademi jadi kamu tidak pernah mpelajari tentang hal ini. skipun sebenarnya kamu bisa mpelajari tentang hal ini di rumah tetapi sepertinya kamu tidak tertarik untuk mpelajari hal ini dan hanya fokus untuk ningkatkan kekuatanmu untuk mbalas dendam kepadaku," ucapku.

Javier pun terdiam ketika aku berkata seperti itu. Wajahnya masih terlihat pucat dan dia juga masih ringis kesakitan akibat pedangku yang masih nusuk di kakinya. Aku saat ini berdiri di hadapannya yang sedang terduduk dengan kaki tertusuk pedang.

"Karena aku sudah ngubah tempat ini, seperti yang aku bilang sebelumnya kalau ada sesuatu yang ingin kutanyakan kepadamu. Siapa yang nyuruhmu dan orang-orang itu untuk mbunuhku dan apa alasannya ?," tanyaku kepada Javier.

Javier terdiam sebentar dengan wajah pucatnya. Beberapa saat terdiam, dia pun mulai njawab pertanyaanku.

"A-aku tidak tahu," ucap Javier.

ndengar itu, aku langsung nembakkan sebuah sihir es dari jari tanganku ke arah pundak Javier. Tembakan sihir itu pun langsung nembus pundaknya dan mbuat pundaknya berlubang.

"Arrrrrrggggghhhh," teriak Javier yang kesakitan.

Javier pun langsung gangi pundaknya yang mulai ngeluarkan darah yang cukup banyak itu.

"Aku sebelumnya tidak pernah nginterogasi seseorang, jadi ini adalah pertama kalinya bagiku. Jadi aku minta maaf apabila terlalu berlebihan," ucapku.

Javier terus gangi pundaknya sambil lihat ke arahku.

"Katakan siapa yang nyuruhmu dan orang-orang itu untuk mbunuhku dan apa alasannya. Aku tahu kalau kamu ngetahui tentang itu, apalagi kamu rupakan putra dari seorang Marquess. Jika kamu tidak njawabnya, sepertinya kamu ingin aku lubangi beberapa bagian tubuhmu lagi," ucapku.

"A-aku tidak tahu," ucap Javier lagi.

Aku langsung nembakkan kembali sebuah sihir es. Kali ini aku nembakkan sihir es ke paha kanannya yang mbuat pahanya itu langsung berlubang. Javier pun berteriak kesakitan sambil gang pahanya itu.

"Aku tahu kalau dia berbohong karena aku bisa mbaca pikirannya saat ini. Dia mang tidak tahu tentang alasan pembunuhanku tetapi dia tahu tentang seseorang yang nyuruh reka untuk mbunuhku. Tetapi anehnya, nama orang itu tidak bisa kubaca dipikirannya, rasanya sepertinya nama orang itu terblokir agar aku tidak bisa ngetahuinya. mang terkadang aku tidak bisa mbaca pikiran seseorang, tetapi ini pertama kalinya aku ngalami sesuatu seperti ini. Untuk itulah, karena aku tidak bisa ngetahui namanya di pikirannya, aku berniat untuk mbuatnya ngatakan secara langsung lalui mulutnya," pikirku.

Aku bersiap untuk nembakkan sebuah sihir ke arah Javier lagi.

"Aku tahu kamu tahu sesuatu, Javier. Jawablah pertanyaanku dan aku tidak akan lubangi tubuhmu lagi. Setelah itu, mungkin aku juga akan mbiarkanmu pergi dari sini hidup-hidup," ucapku.

Javier yang sedang gangi pahanya dengan wajah pucat langsung noleh ke arahku. Wajahnya terlihat sedikit mulai cerah. Javier terlihat seperti sedang lihat secerca harapan.

"B-benarkah itu ?," tanya Javier.

"Iya. Jadi jawablah pertanyaanku," ucapku.

"B-baiklah. S-sebenarnya aku tidak tahu alasan kenapa aku dan orang-orang itu disuruh untuk mbunuhmu, a-aku berkata jujur tentang ini. Aku dan orang-orang itu hanya disuruh untuk mbantu tuan muda Enzo untuk mbunuhmu tanpa diberitahu alasannya. T-tentu aku mutuskan untuk ikut karena pada awalnya aku mang ingin mbalas dendam dan mbunuhmu, jadi aku langsung nyetujuinya tanpa bertanya alasannya. Untuk orang yang nyuruhku, orang itu adalah-," ucap Javier.

Sebelum Javier nyelesaikan perkataannya, tiba-tiba dia muntahkan banyak darah dari mulutnya. Aku sedikit terkejut lihat hal itu karena aku tidak lakukan serangan apapun yang mbuatnya muntah darah.

"Apa yang terjadi ? Saat dia ncoba ngatakan nama orang yang nyuruhnya, tiba-tiba dia langsung muntahkan banyak darah. Apa orang yang nyuruhnya telah nggunakan suatu sihir kepada Javier agar tidak mbocorkan namanya ?," pikirku.

Setelah muntahkan darah itu, Javier pun gangi lehernya.

"Haaaahhhh....Haaaaahhhh... a-apa-apaan ini," ucap Javier yang terengah-engah.

"Tidak hanya tidak bisa ngetahui namanya di pikirannya, tetapi aku juga tidak bisa ngetahui namanya lewat perkataannya. Sepertinya sia-sia saja aku nginterogasinya saat ini," pikirku.

Lalu aku lihat Javier yang masih terengah-engah, kemudian aku ncabut pedangku yang sebelumnya nusuk kakinya. Javier berteriak kesakitan kembali saat aku ncabut pedang itu dari kakinya. Dia pun langsung gangi kakinya itu.

"Sayang sekali, sepertinya aku tidak bisa ndapatkan jawaban dari pertanyaanku," ucapku.

"A-aku sudah njawab segala hal yang aku tahu. J-jadi tepati janjimu untuk mbiarkanku pergi hidup-hidup," ucap Javier.

"Aku tidak ndapatkan jawaban dari pertanyaan tentang siapa yang nyuruhmu untuk mbunuhku, jadi aku tidak akan nepati janjiku," ucapku.

"T-tunggu sebentar, t-tadi aku sudah bilang kan kalau yang nyuruhku itu adalah-," ucap Javier.

Tetapi sebelum dia nyelesaikan perkataannya, lagi-lagi dia muntahkan banyak darah dari mulutnya. Hal itu mbuatnya njadi sangat lemas saat ini.

"Aku tidak ngerti apa yang mau coba kamu ucapkan, aku tetap tidak ndapatkan jawaban dari pertanyaanku. Lagipula, skipun aku ndapatkan jawabannya, apa nurutmu aku akan mbiarkanmu pergi hidup-hidup ? Aku sudah bilang sebelumnya kalau aku akan nghabisi kalian semua agar kalian tidak nggangguku di masa depan nanti," ucapku.

Javier pun lihat ke arahku dengan ekspresi yang sangat terkejut. Wajahnya bertambah pucat lagi dan tubuhnya pun mulai getar. Kemudian, aku langsung ngaliri pedangku dengan sihir api yang sangat kuat. Javier yang lihat itu langsung berusaha untuk kabur njauh dariku. Tetapi dengan luka di kakinya saat ini, berdiri saja sudah sulit baginya. Lalu aku berjalan perlahan ndekati Javier. Javier yang lihatku langsung bergerak mundur njauhi.

"J-jangan ndekat. J-jika kamu mbunuhku, ayahku pasti akan mburumu. K-kamu tahukan kalau ayahku itu seorang Marquess ?," tanya Javier.

"Aku tahu soal itu karena tadi aku sempat nyinggungnya. Tetapi aku tidak peduli, aku akan tetap mbunuhmu. Jika kamu sudah bersiap untuk mbunuh seseorang, kamu juga harus bersiap untuk dibunuh balik oleh orang itu apabila rencana pembunuhanmu gagal," ucapku.

Javier terus natapku sambil bergerak mundur njauhiku.

"Aku dengar kalau kamu pernah mbakar seorang pengajar yang ngajarimu sihir. Bukan hanya seorang pengajar saja tapi banyak pengajar yang kamu bakar oleh sihir apimu itu. Mungkin hanya itu saja yang diberitakan atau dirumorkan tetapi aku yakin kamu pasti pernah mbakar lebih banyak orang dengan sihir apimu itu. Oleh karena itu, aku akan mbuatmu rasakan rasanya terbakar oleh sihir apimu sendiri," ucapku.

Setelah itu, aku langsung ngayunkan pedangku yang sudah dialiri sihir api ke tubuh Javier.

"H-hentik-," ucap Javier.

Belum sempat Javier nyelesaikan perkataannya, dia langsung terkena tebasan pedang api itu.

~Great Burning Slash~

Tebasan pedang api itu ngenai Javier dengan telak yang mbuat seluruh tubuhnya langsung terbakar.

"Arrrrggggghhhhhh panasssss!!!!!!!,"

Javier pun berteriak kesakitan.

"Panassssss, tolong padamkan arrrggghhhhh!!,"

Dia terus berteriak kesakitan dengan kencang. Tetapi teriakan kencangnya itu tidak berlangsung lama, teriakan itu lama-kelamaan njadi pelan sampai akhirnya tidak terdengar lagi. Javier pun tewas dengan tubuh yang telah hangus terbakar.

"Bagaimana rasanya terbakar oleh sihir apimu sendiri ?," tanyaku.

-

Beberapa saat kemudian, di tempat Enzo berada.

Enzo sedang gangi lengannya yang terputus setelah ditebas oleh Rid. Dia masih ringis kesakitan sambil gangi lengannya itu.

"Sialan kau, Rid. Beraninya kau motong lenganku. Aku ingin sekali mbunuhmu saat ini tetapi dengan kondisiku yang seperti ini, sepertinya aku tidak bisa. skipun begitu, aku yakin saat ini kau sudah mati karena dikepung oleh para ’subjek’ itu," ucap Enzo.

"Apa kamu sedang berbicara tentangku, Enzo ?," tanyaku yang tiba-tiba muncul dari balik pepohonan yang telah hangus terbakar.

Enzo dengan cepat langsung noleh ke arahku. Wajahnya terlihat sangat terkejut.

"Rid ?!?! Bukankah kau saat ini sedang lawan Javier dan orang-orang itu ? Bagaimana bisa kau ada disini ?," tanya Enzo dengan wajah terkejut.

"Kenapa aku bisa ada disini ? karena aku sudah mbunuh Javier dan orang-orang itu. Jika kamu ncari Javier, aku bawakan dia untukmu," ucapku.

Aku langsung lempar tubuh Javier yang telah hangus terbakar ke samping Enzo. Aku sengaja mbawa tubuhnya itu agar bisa diperlihatkan ke Enzo. Enzo yang lihat tubuh Javier yang sudah hangus terbakar pun terkejut. Wajahnya sangat pucat.

"B-bagaimana bisa kamu dengan mudahnya mbunuh reka semua ? Bahkan tidak ada luka satupun yang ada pada tubuhmu," ucap Enzo.

"Soal bagaimana aku bisa mbunuh reka semua itu tidak penting. Aku datang kesini karena seperti yang aku bilang sebelumnya kalau aku ingin nanyakan sesuatu kepadamu. Sebelumnya aku sudah nginterogasi Javier tetapi aku tidak ndapatkan jawaban dari pertanyaanku. Jadi sekarang waktunya bagiku untuk nginterogasimu, Enzo," ucapku.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 250 : Great Burning Slash on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Dragon God Supreme cover
Similar genre

Dragon God Supreme

Seven Luan ·Action

Theordinaryyouthlackedtheexceptionaltalentsofhispeers,yethepossessedashockingheritage,bearingamysteriousbloodlineandharboringthespiritoftheEvilDrag...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.