1 jam pun telah berlalu sejak pertama kali orang-orang suruhan para Duke nyerang Rid di hutan Hevea. Saat ini, Rid masih terus lawan orang-orang yang berusaha mbunuhku itu.
~San Lucia Art : Great Freezing Air Slash~
Aku nyerang 5 orang yang berpakaian seperti bandit dengan teknik keluarga San Lucia. 5 orang itu terkena serangan itu dengan telak yang mbuat reka langsung tumbang seketika dengan bongkahan es besar yang nempel di tubuh reka. Bongkahan es itu nempel di hampir seluruh tubuh reka yang mbuat reka seperti terjebak di dalam bongkahan es. Setelah aku berhasil numbangkan reka, aku ndengar Javier sedang rapalkan sebuah mantra.
~Oh api yang agung, jatuhkanlah puing-puing apimu yang mbara untuk nghancurkan lawan-lawanku~
~Fla Magic : teorite Fireworks~
Javier ngangkat tangannya ke atas dan dari tangannya itu muncul sebuah bola api yang sangat besar. Bola api itu pun ditembakkan ke atas. Setelah bola api itu sudah luncur cukup jauh di atas, bola api itu langsung ledak seperti sebuah kembang api. Bola api yang besar itu pun hancur dan berubah njadi serpihan-serpihan bola api yang mulai jatuh ke tanah. Serpihan-serpihan itu pun juga mulai jatuh ke tempatku berada.
"Dia nggunakan teknik itu ya," pikirku.
Aku pun bersiap nggunakan pedangku untuk motong serpihan-serpihan yang mau jatuh ke arahku itu. Saat aku bersiap untuk motong serpihan itu, tiba-tiba Enzo lesat ke arahku dengan cepat. Enzo nggunakan sihir listriknya untuk ningkatkan kecepatannya. Setelah berhasil ndekatiku, Enzo pun bersiap untuk nyerangku nggunakan pedangnya yang sudah dialiri oleh sihir listrik. Aku dengan cepat langsung nahan pedangnya itu nggunakan pedangku.
*CLANG
Benturan pun terjadi saat kedua pedang kami saling bersentuhan. Enzo terus ningkatkan kekuatannya untuk nekanku. Sihir listrik yang berada di pedang Enzo pun mulai rambat ke pedangku dan juga mulai rambat ke tubuhku. Aku pun mulai tersengat oleh sihir listrik yang berasal dari pedang milik Enzo. Semakin lama aku nahan pedangnya itu dengan pedangku, tubuhku perlahan mulai rasakan sakit akibat sihir listriknya itu.
"Aku terkejut kalau kamu masih bisa nahan pedangku ini. Padahal aku yakin kalau tubuhmu sudah sangat kesakitan saat ini," ucap Enzo.
"Sihir listrik lemahmu ini tidak akan bisa mbuatku kesakitan, Enzo," ucapku.
"Begitu ya. Kalau begitu biar aku tingkatkan sihir listriknya," ucap Enzo.
~Magic Boost 5x~
Enzo pun ningkatkan kekuatan pada sihir listriknya. Sihir listrik itu semakin kuat dan mbuat seluruh tubuhku sangat kesakitan.
"Bagaimana sekarang ? Aku yakin kalau seluruh tubuhmu sudah rasa kesakitan yang parah dan setelah itu tubuhmu akan mati rasa yang mbuatmu tidak bisa bergerak," ucap Enzo.
Setelah ningkatkan kekuatan listriknya, Enzo pun lihat ke atas.
"Serpihan itu sudah mulai untuk nghujani tempat ini, kalau begitu tugasku untuk mperlemahmu sudah selesai. Matilah sekarang, Rid!," ucap Enzo.
~Power Boost 5x~
Dia nguatkan kekuatan fisiknya dengan sihir peningkatan dan nghempaskanku dalam adu pedang ini dan mbuatku terhempas cukup jauh ke belakang. Setelah nghempaskanku, Enzo langsung lesat pergi njauh dari tempat ini. Tidak lama kemudian, serpihan-serpihan api yang berasal dari sihir Javier pun mulai nghujani tempat ini.
*DUARRR *DUARRR *DUARRR *DUARRR
Suara dentuman yang terjadi akibat serpihan api yang nghantam tanah itu pun terdengar dengan keras. Serpihan api itu nghancurkan apapun yang dihantamnya seperti pepohonan, bebatuan dan rerumputan. Bahkan 5 orang yang sudah tumbang dengan bongkahan es yang nempel pada tubuhnya pun juga terkena hantaman serpihan api itu dan mbuat tubuh reka langsung terbakar dengan hebat. Seluruh area hutan yang dihujani serpihan api itu pun langsung terbakar dan rusak total.
Sentara itu, Enzo saat ini sedang berada di tempat yang sama dengan Javier. reka berdua sedang lihat area hutan yang terbakar hebat karena hantaman serpihan-serpihan api itu. Tidak hanya reka berdua saja, saat ini di dekat reka juga ada 3 orang ’subjek’ yang ngenakan armor elen. ’Subjek’ ini terdiri dari 2 laki-laki dan 1 perempuan. Serta 3 orang ’subjek’ lainnya yang miliki bola mata hitam pekat dan tidak miliki ekspresi di wajah reka. Subjek ini juga terdiri dari 2 laki-laki dan 1 perempuan.
"Dengan ini sudah bisa dipastikan kalau rakyat jelata itu sudah mampus. Mustahil dia bisa selamat setelah terkena serangan itu dengan telak apalagi sebelumnya kamu juga sempat lemahkannya tuan muda, Enzo," ucap Javier.
"Iya, aku juga yakin kalau dia sudah mati. Tetapi kita juga ngalami kerugian besar hanya untuk mbunuhnya. 31 prajurit dan 2 ’subjek’ yang terlibat untuk mbunuhnya malah berhasil dibunuh oleh Rid. Aku harap ayahku tidak akan marah setelah ngetahui tentang kerugian ini," ucap Enzo.
"Aku yakin beliau tidak akan marah tentang hal ini karena kita juga sudah nyelesaikan tugas ini," ucap Javier.
"Aku harap begitu," ucap Enzo.
Saat reka sedang fokus lihat area hutan yang terbakar hebat itu, tiba-tiba muncul sesuatu yang lesat dengan cepat ke arah reka.
~Flower Sword Art : Sword Dance In The Flower Garden~
Aku lesat ke arah reka dengan cepat dan langsung nebas reka secara bertubi-tubi dengan cepat. reka tidak sempat bereaksi dan terkena telak tebasanku itu. Tidak ada satupun dari reka yang tumbang akibat terkena seranganku itu karena kebanyakan dari reka nggunakan armor elen dan sisanya rupakan ’subjek’ yang miliki ciri-ciri seperti ras Iblis, tetapi tebasanku mberikan cukup banyak luka pada tubuh reka yang mbuat reka terkejut sehingga tidak bisa bergerak untuk beberapa saat.
"Rid?!?! Bagaimana bisa kamu masih hidup ?!?!," tanya Enzo yang terkejut sambil gang luka di perutnya.
"Apa nurutmu serangan seperti itu sudah cukup untuk mbunuhku, Enzo ?," tanyaku.
Aku pun bersiap untuk nyerang Enzo yang masih gang perutnya yang terluka tetapi tiba-tiba 3 orang ’subjek’ yang miliki bola mata berwarna hitam pekat langsung nyerangku. Sepertinya reka tidak terpengaruh sedikitpun oleh tebasan tadi. reka nggunakan serangan sihir elen untuk nyerangku tetapi aku bisa nghindari serangan itu dengan mudah.
"Beraninya kau nyerangku lagi, keparat," ucap Javier yang tiba-tiba lesat ke arahku.
~Great Burning Punch~
Dia berusaha mukulku dengan sebuah pukulan tangannya yang diselimuti oleh api. Pukulan tangan itu terlihat lebih besar daripada pukulan tangannya yang biasanya. Saat pukulan itu hendak ngenaiku, aku dengan cepat bergerak ke samping Javier untuk nghindari pukulannya itu. Setelah itu, aku langsung ncengkeram wajah Javier nggunakan tanganku dan langsung mbantingnya ke tanah sampai tanah itu hancur.
"Urrrghhhh,"
Javier pun muntahkan sejumlah darah dari mulutnya. Setelah mbanting Javier ke tanah, aku langsung nyembuhkan tanganku yang terbakar akibat nyentuh tubuhnya. Saat aku selesai nyembuhkan tanganku, aku lihat Enzo sedang ngarahkan pedangnya yang dialiri sihir listrik ke atas nggunakan tangan kanannya.
~Listrik yang nyengat, sengatlah lawan-lawanku dengan sengatan listrikmu yang tanpa henti~
~Electric Magic : Electric Rain~
Enzo nembakkan sebuah sihir listrik dari pedangnya ke atas. Lalu tiba-tiba sihir itu dengan cepat langsung nghujaniku. Aku dengan cepat langsung nghindari sihir listrik yang nghujaniku itu. Aku pun berhasil nghindari serangan listrik itu tapi sihir listrik itu langsung nghujaniku lagi. Aku kembali nghindari sihir listrik itu tapi setelah itu sihir listrik itu kembali nghujaniku. Situasi ini terjadi terus nerus. Dan disaat yang sama, Javier sudah bangkit kembali dan nyerangku dengan tebasan apinya.
"Matilah, keparat,"
~Great Burning Slash~
Tidak hanya Javier, para ’subjek’ yang lain juga nyerangku dengan serangan sihir elen yang dahsyat. Serangan itu ngarah kepadaku dengan cepat dan secara bersamaan. Setelah itu, muncul ledakan yang sangat besar yang terjadi akibat benturan banyak serangan sihir elen yang dilakukan oleh reka.
-
30 nit kemudian, di tempat Irene dan senior Nadine.
Irene dan senior Nadine saat ini tengah berada di depan kediaman yang sangat gah. Kediaman itu didominasi oleh warna biru dan putih. Di halaman kediaman itu, banyak hamparan salju berwarna putih yang nutupi tanah di halaman itu. skipun tanah di kediaman itu ditutupi oleh hamparan salju, tetapi di kediaman itu banyak pepohonan dan bunga-bunga yang tetap tumbuh untuk mpercantik kediaman itu. Kediaman itu rupakan kediaman Duke San Lucia, Snow Palace.
Setelah turun dari kereta kuda yang ngantar reka, Irene dan senior Nadine pun langsung masuk ke dalam kediaman itu. Di depan kediaman itu terlihat ada seseorang yang nunggu reka.
"Kakak Asier, apa yang kamu lakukan disini ?," tanya Irene.
Ternyata yang nunggu Irene dan senior Nadine di kediaman itu rupakan komandan Asier yang juga rupakan kakak Irene.
"Aku saat ini sedang ndapatkan libur jadi aku mutuskan untuk pulang kesini. Aku dengar kalau kamu dan Nadine akan datang kesini, makanya aku nunggu kalian berdua disini," ucap komandan Asier.
"Lama tidak berjumpa, kak Asier," ucap Nadine.
"Lama tidak berjumpa juga, Nadine. Ngomong-ngomong, Irene, kenapa kamu tidak mbawa Rid kesini ?," tanya komandan Asier.
"Hanya aku dan Nadine yang disuruh untuk datang kesini untuk ngantarkan proposal, jadi Rid tidak bisa ikut," ucap Irene.
"Begitu ya, sayang sekali," ucap komandan Asier.
"Lagipula Rid saat ini sedang pergi ke kota San Angela untuk pergi nemui Duke San Angela untuk ngantarkan proposal juga," ucap Irene.
"Rid pergi ke kota San Angela ?," tanya komandan Asier.
"Iya," ucap Irene.
"Sayang sekali, aku ndapatkan libur hari ini. Jika aku tidak libur hari ini, mungkin aku bisa nemuinya di kota San Angela karena wilayah San Angela rupakan wilayah penjagaan pasukanku. Ngomong-ngomong, dengan siapa Rid pergi ke kota San Angela ? lihat kalian berdua datang kesini, pastinya Rid juga ditemani seseorang untuk pergi kesana," ucap komandan Asier.
"Rid pergi ke kota San Angela bersama dengan Enzo, putra dari Duke San Angela," ucap Irene.
"Putra Duke San Angela ?," tanya komandan Asier.
"Iya," ucap Irene.
Komandan Asier pun terdiam seperti sedang mikirkan sesuatu.
"Ada apa, kakak ?," tanya Irene.
"Tidak ada apa-apa. Ngomong-ngomong, ayo masuk, ayahanda sudah nunggu di dalam," ucap komandan Asier.
"Baik," ucap Irene.
Irene dan senior Nadine pun masuk ke kediaman itu. Bagian dalam kediaman itu juga terlihat gah. Warna dinding juga didominasi oleh warna putih dan warna biru. Beberapa saat berjalan di dalam kediaman itu, reka pun sampai di suatu ruangan yang lumayan besar. Di ruangan itu ada Duke San Lucia yang nunggu kedatangan reka.
"Kalian sudah datang ya, Nadine, Irene," ucap Duke Louis.
"Terima kasih atas sambutannya, tuan Duke," ucap senior Nadine.
"Seperti biasa, kamu selalu bersikap formal, Nadine. Padahal aku ini adalah pamanmu sendiri. Yah daripada itu, selamat datang kembali, Nadine," ucap Duke Louis.
"Terima kasih, tuan," ucap senior Nadine.
"Lalu, Irene, selamat datang kembali," ucap Duke Louis.
"Iya, aku pulang, ayahanda," ucap Irene.
Duke Louis pun tersenyum lihat Irene.
"Aku tahu kalian datang kesini untuk mberikan proposal bantuan dana kepadaku. Tetapi sebelum itu, Irene, kamu harus pergi nyapa ibundamu terlebih dahulu," ucap Duke Louis.
"Baik, ayahanda," ucap Irene.
Duke Louis pun berjalan ninggalkan ruangan itu untuk pergi ke tempat lain dengan ditemani oleh komandan Asier, senior Nadine dan Irene. Lalu setelah beberapa saat berjalan, reka sampai di depan suatu ruangan. reka pun langsung masuk ke dalam ruangan itu. Di dalam ruangan itu, terdapat sebuah tempat tidur. Di tempat tidur tersebut, ada seorang wanita berparas cantik yang sedang tidak sadarkan diri. Wanita tersebut rupakan Duchess Arlet, yang juga rupakan ibunda Irene. Irene yang lihat ibundanya itu langsung ndekati tempat tidur itu.
"Aku pulang, ibunda," ucap Irene.
-
Disaat yang sama di kediaman Duke San Quentine.
Saat ini, Duke Remy dan putri Alia terlihat sedang berbicara berdua di salah satu ruangan di kediaman itu. Tidak terlihat senior Vanina di ruangan itu, sepertinya dia berada di tempat lain di kediaman itu.
"Apa belum ada kabar satupun dari Duke yang lain ataupun dari Enzo, ayahanda ?," tanya putri Alia.
"Belum ada satupun," ucap Duke Remy.
"Seharusnya saat ini reka semua sudah nyerang dan mbunuh Rid. Jika reka belum mberikan kabar sama sekali, mungkinkah reka saat ini masih belum mbunuh Rid ?," tanya putri Alia.
"Itu mungkin saja. Aku sudah nduga kalau Rid akan mberikan perlawanan dalam lawan reka. Lagipula aku tahu kalau dia itu kuat," ucap Duke Remy.
"Bagaimana jika reka gagal untuk mbunuh Rid dan malah rekalah yang berakhir dibunuh Rid ?," tanya putri Alia.
"Aku mang bilang kalau Rid mampu mberikan perlawanan ketika lawan reka tetapi aku tidak yakin kalau Rid dapat mbunuh reka semua. skipun begitu, aku juga sudah nyiapkan suatu rencana apabila Rid mang mampu untuk mbunuh reka semua. Kamu tidak perlu khawatir, Alia," ucap Duke Remy.
"Baiklah, ayahanda," ucap putri Alia.
Lalu, Duke Remy pun naruh tangan kanannya di dagunya dan beliau terlihat sedang mikirkan sesuatu.
"Apapun yang terjadi, rencana ini harus berhasil dan aku harus rebut kerajaan ini agar njadi milikku. Semua ini demi ’Nona’ yang telah mbantuku sejauh ini," pikir Duke Remy.
-
Disaat yang sama di hutan Hevea.
Pertempuran yang terjadi di hutan itu masih berlangsung. Akan tetapi, saat ini terjadi suatu kejadian yang mbuat reka yang masih bertahan di pertempuran itu sangat terkejut. Itu karena, lengan kanan Enzo baru saja terputus dari badannya setelah ditebas oleh Rid dengan nggunakan pedangnya.
-Bersambung
Reviews
All reviews (0)