Font Size
15px

20 nit kemudian.

Kereta kuda yang ditumpangi senior Florian dan Charles sedang berhenti di depan gerbang sebuah istana gah yang keseluruhan warna istana itu didominasi oleh warna putih. Istana itu rupakan istana kerajaan San Fulgen, White Palace. Seorang prajurit yang ngawal kereta kuda itu terlihat sedang lapor kepada para prajurit yang njaga gerbang istana tersebut. Perlu diketahui, anggota Elevrad yang bertugas ngantarkan proposal juga ditemani oleh 2 orang prajurit kerajaan yang ikut naiki kereta kuda. Nona Karina lah yang ngusulkan hal ini agar para anggota Elevrad yang ngantarkan proposal tersebut bisa aman sampai tujuan reka masing-masing. Setelah prajurit itu lapor kepada prajurit yang njaga gerbang, prajurit itu pun langsung kembali naiki kereta kuda.

"Buka gerbangnya!," ucap prajurit itu kepada rekan-rekannya.

Gerbang istana kerajaan itu pun terbuka. Sebelum kereta kuda itu hendak laju masuk ke dalam istana. Para prajurit itu neriakkan sesuatu.

"Selamat datang kembali, pangeran Charles!," ucap para prajurit yang njaga gerbang itu.

Charles pun lihat reka dari jendela kereta kuda dan lambaikan tangan kepada reka.

"Sepertinya para prajurit sangat senang lihat kamu kembali kesini lagi, Charles," ucap senior Florian.

"skipun aku kembali kesini hanya untuk nemanimu ngantarkan proposal, senior. Setelah itu, aku harus kembali ke akademi," ucap Charles.

"Jika kamu mau nginap disini dan kembali besok, aku tidak masalah akan hal itu," ucap senior Florian.

"Aku tidak akan begitu, senior. Sesuai aturan, anggota yang ditunjuk untuk ngantar dokun harus kembali saat sore atau malam harinya. Jadi aku akan ngikuti aturan itu," ucap Charles.

"Baiklah kalau begitu. Ngomong-ngomong, karena jarak White Palace dengan San Fulgen Akademiya lumayan dekat, kita jadi hanya rlukan 20 nit saja untuk sampai kesini. Sedangkan yang lainnya, sepertinya reka masih berada di perjalanan," ucap senior Florian.

"Sepertinya begitu. Aku harap tidak ada masalah apapun dalam perjalanan reka," ucap Charles.

".....Aku harap juga begitu," ucap senior Florian.

Setelah masuk ke dalam wilayah istana kerajaan, kereta kuda yang ditumpangi senior Florian dan Charles pun berhenti di tempat parkir yang diperuntukkan untuk tamu kerajaan yang mau berkunjung. Setelah itu, senior Florian dan Charles pun keluar dari kereta kuda itu dan reka pun berjalan untuk masuki istana kerajaan. Ketika reka sampai di depan pintu istana kerajaan, terlihat Caroline sedang nunggu reka disana.

"Selamat datang di White Palace," ucap Caroline.

-

1 jam kemudian.

Kereta kuda yang ditumpangi Irene dan senior Nadine terus laju nuju kota San Lucia. Tiba-tiba, salju mulai turun di sepanjang jalan yang dilalui reka. Suhu dan udara pun perlahan njadi dingin.

"Sepertinya sebentar lagi kita akan sampai di kota San Lucia. Tuan sopir dan para prajurit sekalian, tolong kenakan mantel kalian karena semakin kita masuki wilayah San Lucia, suhu akan semakin dingin," ucap senior Nadine.

"Baiklah, nona Nadine. Tapi apa nona Nadine dan nona Irene tidak apa-apa hanya ngenakan pakaian akademi seperti itu ?," tanya salah satu prajurit itu.

"Kami berdua berasal dari kota San Lucia. Jadi suhu dingin seperti ini sudah biasa bagi kita. Setidaknya suhu di wilayah San Lucia tidak sedingin suhu di pegunungan Orokho," ucap senior Nadine.

"Tidak sedingin di pegunungan Orokho ya, padahal bagi kami berdua suhu disini saja sudah cukup dingin," ucap prajurit itu.

Sentara itu, Irene sejak tadi hanya lihat ke arah luar jendela. Dia terlihat tidak tertarik untuk ngobrol dengan para prajurit itu ataupun dengan senior Nadine. Senior Nadine yang heran karena Irene hanya lihat ke luar jendela pun langsung bertanya ke Irene.

"Ada apa, Irene ? Kelihatannya kamu sedang mikirkan sesuatu karena sejak tadi kamu hanya lihat ke luar jendela saja," ucap senior Nadine.

"Tidak ada apa-apa, Nadine. Cuma entah kenapa aku rasa gelisah tapi aku tidak tahu penyebabnya apa," ucap Irene.

"Mungkin karena kamu sudah lama tidak kembali ke Snow Palace makanya kamu jadi gelisah," ucap senior Nadine.

"Mungkin iya," ucap Irene.

"Kamu tidak perlu gelisah seperti itu. Lagipula sebentar lagi kamu bisa bertemu dengan nona Arlet lagi," ucap Nadine.

"Iya, kamu benar," ucap Irene.

Kereta kuda itu pun terus laju nuju kota San Lucia.

-

Sentara itu, disaat yang sama.

Kereta kuda yang ditumpangi oleh Rid dan Enzo mulai masuki hutan Hevea untuk nuju kota San Angela.

"Hutan Hevea ya. Sesuai namanya, seluruh pohon yang berada di hutan ini rupakan pohon karet," pikirku.

"Hutan ini cukup luas. Butuh sekitar 15 sampai 20 nit untuk bisa lewati hutan ini," ucap salah satu prajurit yang njelaskan.

"Begitu ya. Terima kasih atas infonya, tuan. Ini pertama kalinya aku datang ke kota San Angela jadi ini juga pertama kalinya aku lewati hutan ini," ucapku.

"Tidak masalah, tuan Rid," ucap prajurit itu.

"Tuan Rid ? Tuan tidak perlu manggilku seperti itu, lagipula aku hanyalah murid biasa dan bukanlah seorang keturunan bangsawan. Jika tuan manggil Enzo seperti itu, itu wajar karena Enzo rupakan keturunan bangsawan dan dia juga rupakan putra seorang Duke, sedangkan aku bukan," ucapku.

"Setelah surat kabar yang beredar sebelumnya mberitahu kalau anda rupakan ’pahlawan’ dari insiden penyerangan akademi, reputasi Anda njadi ningkat hingga hampir setara dengan reputasi para bangsawan tingkat atas, atau bahkan lebih reka. Di kerajaan ini, sudah sepantasnya untuk nggunakan panggilan hormat kepada para bangsawan atau orang yang miliki reputasi yang tinggi. Oleh karena itu, saya juga nggunakan panggilan hormat kepada anda, tuan Rid," ucap prajurit itu.

"Begitu ya. Ya sudah senyaman anda saja, tuan. Aku tidak akan mpermasalahkannya," ucapku.

Lalu kereta kuda itu pun terus laju untuk lewati hutan itu. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba kereta kuda kami ngalami guncangan yang cukup hebat. Lalu kereta kuda kami pun berhenti ndadak di tengah jalan yang berada di hutan itu.

"Apa yang terjadi ?," tanya prajurit itu.

reka terlihat tengah bersiaga dengan bersiap gang senjata reka.

"Sepertinya roda kereta kuda ini ngalami kerusakan. Saya akan turun terlebih dahulu untuk riksanya lalu setelah itu saya akan langsung mperbaikinya," ucap sopir kereta kuda itu.

Sopir itu pun turun dari kereta kuda itu.

"Kalau begitu kita berdua juga ikut turun untuk ngawasi sekitar. Tuan Enzo dan tuan Rid dimohon untuk tetap berada disini, jikalau anda juga ingin keluar, mohon untuk tidak jauh-jauh dari kereta kuda," ucap prajurit itu.

"Baik," ucapku dan Enzo.

Lalu prajurit itu dan satu rekannya pun ikut turun dari kereta kuda.

-

10 nit kemudian.

Roda pada kereta kuda yang kami tumpangi masih belum selesai diperbaiki.

"Aku bosan berada di dalam, aku akan keluar untuk nikmati udara hutan. Bagaimana denganmu, Rid ?," tanya Enzo.

"Aku akan disini saja," ucapku.

"Kalau begitu, aku keluar dulu," ucap Enzo.

"Baiklah," ucapku.

Enzo pun keluar dari kereta kuda itu dan dia pun mulai berjalan-jalan di sekitar tempat itu.

"Jangan jauh-jauh dari kereta kuda, tuan Enzo. Aku dengar di hutan ini terkadang ada serangan bandit ataupun hewan liar bahkan rumornya ada monster juga di hutan ini," ucap prajurit itu.

"Tenang saja, aku tidak akan jauh-jauh. Tetapi kalau mang ada serangan seperti itu, aku yakin kalau aku bisa ngatasinya," ucap Enzo.

Lalu Enzo pun nyadari kalau ada beberapa orang yang ngintip dari balik pohon di sekitar tempat reka berada.

"Sepertinya reka sudah bersiap ya, kalau begitu....." pikir Enzo.

"Lakukan sekarang," ucap Enzo.

Apa yang dikatakan Enzo mbuat kedua prajurit itu terkejut. reka terkejut karena tiba-tiba Enzo berkata seperti itu disaat tengah tidak ada siapapun di sekitarnya, dia juga berkata seperti itu saat tidak lihat ke arah kedua prajurit itu. Lalu tiba-tiba sekelompok orang mulai bermunculan di sekitar tempat itu. Sekelompok orang itu langsung nyerang kereta kuda yang ditumpangi Rid dengan sihir reka. Dari banyaknya sihir yang dilancarkan ke kereta kuda itu, ada satu sihir api yang sangat besar yang ngarah ke kereta kuda itu.

~Fla Magic : Fla Emperor~

Sebuah bola api yang sangat besar ngarah ke kereta kuda itu disertai sihir-sihir yang lainnya. Kereta kuda itu pun terkena semua serangan sihir itu dengan telak. Serangan itu langsung ledakkan dan nghancurkan seluruh kereta kuda itu. Sentara itu, kedua prajurit yang berada di sekitar kereta kuda itu pun terhempas setelah kereta kuda itu ledak. Sentara, sopir kereta kuda yang sebelumnya sedang mperbaiki roda, langsung njauh dari kereta kuda setelah orang-orang itu muncul untuk nghancurkan kereta kuda.

"Fyuh hampir saja, aku pikir aku akan terkena ledakan sihir itu juga. Untungnya aku sempat untuk nghindar," ucap sopir kereta kuda itu.

Sopir kereta kuda itu pun lalu nghampiri Enzo.

"Kerja bagus karena telah ngantar kami ke tempat ini," ucap Enzo.

"Tidak perlu berterima kasih, tuan Enzo. Ini sudah njadi tugas saya," ucap sopir itu yang ternyata rupakan prajurit Duke San Angela yang nyamar.

Lalu kedua prajurit kerajaan yang sebelumnya terhempas pun mulai bangkit kembali. reka terkejut lihat kereta kuda yang sudah hancur terbakar. Tetapi reka lebih terkejut lagi karena reka berdua saat ini dikelilingi oleh banyak orang yang tiba-tiba muncul.

"Tuan Rid!!," teriak salah satu prajurit itu.

"Siapa kalian ? Apa tujuan kalian nyerang kami ?," tanya prajurit yang satunya.

"Tidak perlu berisik, para prajurit sekalian. Tujuan kami yang sebenarnya bukanlah kalian, lainkan Rid. Kami harus mbunuhnya," ucap Enzo.

Kedua prajurit itu pun terkejut ketika Enzo berkata seperti itu.

"Tuan Enzo, apa anda yang rencanakan ini ?," tanya prajurit itu.

"Bukan aku yang rencanakannya tetapi jika kamu bertanya kalau aku terlibat dengan ini maka aku akan njawab ’iya’," ucap Enzo.

"Kenapa anda tega lakukan ini ? Bukankah anda dengan tuan Rid-," ucap prajurit itu.

Namun sebelum prajurit itu sempat nyelesaikan perkataannya, tiba-tiba muncul seseorang dari belakangnya.

~Fla Magic : Burning Touch~

Orang itu langsung nyentuh prajurit itu dan tiba-tiba prajurit itu langsung terbakar. Prajurit itu pun berteriak kesakitan. Sentara prajurit yang satu lagi berniat untuk nolongnya, tetapi tiba-tiba dia diserang nggunakan sebuah tebasan yang terbuat dari sihir angin. Tebasan itu pun langsung motong kepalanya dan prajurit itu pun langsung tumbang dengan kepala yang sudah terpisah dari tubuhnya. Di belakang prajurit yang tumbang dengan kepala terpotong itu, ada seorang gadis muda yang sedang ngangkat tangan kanannya. Gadis itulah yang mbunuh prajurit itu dengan motong kepalanya. Sentara itu, prajurit yang terbakar itu masih terus berteriak kesakitan namun lama-kelamaan teriakannya semakin pelan sampai akhirnya dia pun tewas dengan tubuh yang masih terus terbakar.

"Akhirnya dia mati juga. Aku sudah muak ndengarnya ngatakan ’tuan Rid’, ’tuan Rid’, ’tuan Rid’ terus-nerus. Rakyat jelata seperti dia tidak cocok dipanggil tuan," ucap orang yang mbakar prajurit itu.

"Javier, aku tidak nyangka kalau kamu ikut juga dalam rencana ini," ucap Enzo.

Ternyata orang yang mbakar prajurit itu adalah Javier.

"Tuan Duke yang nyuruhku untuk bergabung dalam rencana ini. Aku minta maaf karena telah rebut tugasmu untuk mbunuh rakyat jelata itu, tuan muda Enzo. Karena kelihatannya dia sudah mati akibat sihir yang aku lancarkan tadi. Padahal kamu sendiri yang ditunjuk sebagai eksekutor untuk mbunuh rakyat jelata itu," ucap Javier.

"Aku tidak keberatan akan hal itu. skipun aku ditunjuk sebagai eksekutor, tapi aku sendiri tidak suka ngotori tanganku sendiri. Daripada itu, jika dia mati semudah ini, mbawa banyak orang seperti ini jadi terlihat sia-sia," ucap Enzo.

Saat Enzo dan Javier sedang ngobrol, tiba-tiba api besar yang berkobar di tempat kereta kuda yang hancur itu terbelah dan langsung nghilang dalam sekejap. reka semua yang berada di sekitar tempat itu langsung noleh ke arah kereta kuda yang hancur itu. Saat api itu sudah nghilang, terlihat Rid yang sedang gang pedang miliknya. Tidak ada satupun luka yang ada pada tubuhnya skipun dia diserang oleh banyak sihir secara ndadak. reka pun terkejut lihat Rid yang masih baik-baik saja.

"Rakyat jelata itu masih hidup skipun terkena serangan itu," ucap Javier.

"Seperti yang diduga, mbunuhnya itu tidaklah mudah," ucap Enzo.

Aku yang baru saja selesai nghilangkan api yang ngelilingiku pun langsung berjalan perlahan ke depan. Aku lihat kedua prajurit yang nemaniku sudah tewas secara ngenaskan. Lalu aku pun natap ke arah Enzo.

"Enzo," ucapku.

"Kelihatannya kamu tidak terkejut saat lihatku seperti ini ya, Rid," ucap Enzo.

"Itu karena aku sejak awal tidak pernah mpercayaimu. Jadi aku tidak terkejut apabila kamu lakukan ini," ucapku.

"Oh begitu. Bunuh dia," ucap Enzo.

Setelah Enzo mberi perintah seperti itu, 5 orang dewasa yang berpakaian seperti bandit pun mulai nyerangku dengan senjata reka. Aku pun juga bersiap untuk nyerang reka dengan nggunakan pedangku.

"Hahaha, apa yang bisa kamu lakukan dengan pedang tumpul dari akademi itu, bocah," ucap salah satu dari orang yang nyerangku itu.

Lalu yang lainnya pun tertawa, tapi aku tidak mperdulikan tawa reka.

~Enhance Weapon : Sharp~

5 orang yang nyerangku pun sudah hampir ndekatiku.

~Flower Sword Art : Sword Dance In The Flower Garden~

Kemudian, aku langsung nebas kelima orang tersebut dengan tebasan beruntun yang sangat cepat. reka berlima pun terkena tebasan yang aku lancarkan dengan telak. reka pun langsung tumbang dengan banyak darah yang keluar dari tubuh reka akibat banyaknya tebasan yang ngenai reka. Aku tidak tahu apakah reka masih hidup atau sudah mati, lagipula aku juga tidak mperdulikannya.

"nggunakan teknik ini saat sedang tidak berada di taman bunga rasanya sangat aneh," ucapku.

Sentara itu, Enzo dan yang lainnya pun terkejut.

"5 orang prajurit terbaik dikalahkan begitu saja ?," tanya Enzo.

Lalu tiba-tiba seorang gadis lesat ke arahku dengan cepat dan langsung layangkan sebuah tebasan angin yang sangat besar. Tebasan angin itu tercipta hanya dengan sebuah ayunan tangannya saja tanpa makai senjata sama sekali. Aku pun langsung motong tebasan angin itu njadi 2. Tebasan angin yang terbelah itu pun hanya lewatiku tanpa ngenaiku sama sekali. Tetapi tebasan itu terus lesat ke belakangku sambil motong pohon-pohon yang dikenainya.

Setelah itu gadis itu langsung ndekatiku dan nyerangku dengan gerakan seperti sedang motong nggunakan tangannya. Aku dengan cepat nghindarinya dengan bergerak ke samping dan tiba-tiba sebuah pohon yang berada tepat di belakangku sebelumnya terbelah njadi 2 secara vertikal. Setelah nghindari serangan itu, aku pun langsung nyerang gadis itu.

~Flower Sword Art : Chaenoles Thorn Thrust~

Aku nusuk gadis itu tepat di perutnya. Gadis itu pun langsung terpental sangat jauh ke belakang hingga nabrak beberapa pohon sampai hancur. Setelah nyerang gadis itu, aku pun mperhatikan pedangku. Di ujung pedangku, hanya ada sedikit darah setelah nusuk gadis itu.

"Ada yang aneh. Padahal pedangku sudah aku pertajam tetapi kenapa aku tidak bisa nusuk gadis itu dengan dalam ?," pikirku.

Saat aku sedang mikirkan itu, tiba-tiba Javier muncul di belakangku dan bersiap nyerangku dengan pedangnya.

"Matilah kau, Rid Archie!!!," ucap Javier.

~Fla Magic : Great Burning Slash~

Javier ngarahkan pedang apinya itu ke arahku. Tetapi aku langsung berbalik dan bersiap untuk nahan serangan itu.

~Advanced Glacier Strike~

Kedua serangan kami pun saling beradu tetapi adu serangan itu tidak berlangsung lama karena pedang Javier tiba-tiba terangkat ke atas setelah aku berhasil nangkan adu serangan ini. lihat ada celah di pertahanan Javier, aku pun bersiap nyerangnya dengan nggunakan pukulan yang diperkuat Mana.

~Mana Strike~

Aku berniat mukul Javier tepat di dadanya tetapi sebelum pukulanku ngenainya, tiba-tiba seseorang yang ngenakan tudung kepala muncul di depanku dan nggantikan Javier untuk nerima pukulanku ini. Orang itupun terkena pukulanku dengan telak tepat di dadanya dan langsung mbuatnya terhempas bersamaan dengan Javier yang berada di belakangnya. reka berdua terhempas sangat jauh ke belakang hingga nabrak beberapa pohon sampai hancur.

Setelah itu, tidak ada serangan lagi yang dilancarkan kepadaku. Lalu aku pun lihat ke arah Enzo yang terlihat sedang terkejut.

"Apa cuma segini saja kekuatan yang kamu bawa, Enzo ? Bukankah tadi kamu bilang kalau kamu ingin mbunuhku ?," tanyaku.

Enzo awalnya sempat terkejut namun kali ini raut wajahnya kembali normal.

"Aku terkesan kamu masih bisa sombong, Rid, tapi sadarilah posisimu sekarang. Saat ini kamu sedang terkepung oleh banyak orang. skipun kamu sudah ngalahkan 5 di antara kami, masih banyak orang yang sudah bersiap untuk mbunuhmu," ucap Enzo.

Gadis yang aku tusuk dan terpental karena seranganku sebelumnya sudah kembali ndekatiku lagi. Di perutnya terdapat luka akibat serangan yang aku lancarkan kepadanya tetapi luka itu tidaklah dalam.

"Sialan kau, Rid Archie," ucap Javier.

Javier pun juga sudah kembali ndekatiku bersamaan dengan orang yang ngenakan tudung kepala tadi. Tapi kali ini tudung kepalanya sudah terbuka. Orang itu ternyata seorang pria muda yang sepertinya miliki umur yang tidak jauh berbeda denganku. Di mulutnya terdapat sedikit bekas darah yang sepertinya dia baru saja muntahkan sejumlah darah dari mulutnya akibat terkena seranganku. Tetapi aku sedikit terkejut saat lihatnya masih bisa bertahan dan bangkit kembali setelah nerima serangan itu. Padahal serangan itu ngenainya dengan telak tepat di dadanya, seharusnya dia sudah tumbang karena hal itu. Ini mbuatku sedikit bingung, ada yang aneh dari pria muda dan gadis muda yang aku lawan tadi. Kemudian aku lihat ke sekitar, masih ada banyak orang yang ngepungku saat ini.

"mang benar. skipun aku sudah ngalahkan 5 orang yang berpakaian seperti bandit, tetapi di sekelilingku saat ini masih ada 25 orang yang berpakaian seperti bandit, tapi aku tahu kalau reka bukanlah bandit lainkan prajurit yang nyamar. Lalu seorang sopir yang ngantar kami yang rupakan prajurit yang nyamar juga. Selain itu, ada Enzo, Javier, pria muda dan gadis muda yang aku lawan sebelumnya. Ditambah masih ada 6 orang lagi yang ngenakan tudung kepala sama seperti pria muda yang aku lawan sebelumnya. Itu berarti total reka ada 36 orang. Sepertinya cukup sulit untuk ngatasi reka semua," pikirku.

Kemudian, Enzo secara tiba-tiba rapal sebuah mantra.

~Listrik yang nyengat, kurunglah kami dalam sangkar listrikmu~

~Electric Magic : Great Electric Cage~

Enzo mbuat sebuah sangkar yang terbuat dari sihir listrik miliknya. Sangkar itu mbuat kami semua terkurung di dalamnya.

"Dengan begini, kamu tidak akan bisa kabur, Rid. Karena siapapun yang berusaha kabur dari kurungan ini akan tersengat listrik yang sangat dahsyat," ucap Enzo.

Aku lalu mperhatikan keseluruhan sangkar ini. Sangkar ini berukuran sangat besar, mungkin hampir sepertiga dari luas hutan ini

"Bukankah sangkar sebesar ini akan mbuat hutan ini njadi ncolok ? Apakah kamu tidak ngira kalau ada kemungkinan orang lain akan ngetahui ada sesuatu yang aneh di hutan ini karena lihat adanya sangkar yang besar ini ?," tanyaku.

"Orang yang nyuruhku sudah mikirkan adanya kemungkinan itu, jadi dia juga ngutus beberapa orang untuk ngawasi area di luar hutan. Jika ada orang lain yang penasaran karena lihat adanya sangkar yang besar ini, orang-orang itu akan njelaskan kalau di hutan ini sedang ada pembasmian hewan liar dan monster yang muncul di tempat ini. Dengan penjelasan seperti itu, tidak akan ada orang lain yang datang ke hutan ini. Jadi tidak ada satupun yang akan mbantumu, Rid. Kamu juga tidak akan bisa kabur kemana-mana. Inilah akhir bagimu, Rid!," ucap Enzo.

Lalu aku pun tersenyum setelah ndengar perkataan Enzo.

"Kabur ? Tenang saja, aku tidak akan kabur kemana-mana," ucapku.

~San Fulgen Art Water Technique : Rain Swords~

~San Lucia Art : Snow Blade Dance Technique~

Aku ngaktifkan dan nggunakan kedua teknik itu secara bersamaan. Kemudian beberapa pedang es dan pedang air pun bermunculan ngelilingiku.

"Justru akulah yang tidak akan mbiarkan kalian untuk kabur. Jika aku mbiarkan kalian kabur saat ini, di masa depan nanti kalian pasti akan balas dendam terhadapku dan itu akan sangat nyusahkanku. Jadi aku akan nghabisi kalian semua disini," ucapku.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 246 : Penyerangan di Hutan Hevea on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Mercenary’s War cover
Similar genre

Mercenary’s War

Just Like Water ·Action

GaoYangwasamilitaryenthusiast,anordinaryone,wholovedknives,guns,andadventure. Inanaccident,GaoYangfoundhimselfinAfrica,whereheunfortunatelyexperien...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.