Keesokan harinya, pukul 4 pagi.
Seperti biasa, aku berlatih tanding dengan nona Violetta di taman akademi. Setelah cukup lama berlatih tanding, aku pun berbicara dengan nona Violetta.
"Nona Violetta, apa kamu pernah pergi ke kota San Angela ?," tanyaku.
"Kota San Angela ? Aku pernah kesana, mangnya ada apa ?," tanya nona Violetta.
"Nanti jam 8 pagi aku akan pergi ke kota San Angela untuk ngantarkan proposal ke kediaman tuan Duke San Angela. Aku hanya ingin tahu kota San Angela itu seperti apa," ucapku.
"Ah benar juga, kamu itu wakil ketua Elevrad ya maka kamu harus ngantarkan proposal ke salah satu kediaman Duke. Baiklah, aku akan mberitahumu. Karena kamu adalah murid tahun kedua saat ini, maka kamu pasti pernah ke kota San Minerva saat masih njadi murid tahun pertama untuk laksanakan ujian keempat kan ? Kota San Angela tidak jauh berbeda dengan kota San Minerva. Kualitas udara di kota itu sangat bagus dan sejuk karena di kota itu juga terdapat banyak pohon dan tumbuhan yang nghiasi kota itu. Tapi suhu di sekitar kota itu cukup panas dibandingkan dengan kota San Minerva dan kota lainnya. Jadi aku sarankan kamu jangan makai pakaian yang tebal jika ingin berkunjung ke kota itu. Selain itu, karena kota itu rupakan pusat wilayah San Angela dan wilayah San Angela sendiri berbatasan langsung dengan wilayah kerajaan Sedona, di kota itu juga banyak budak terutama budak dari ras Demi-Human yang berkeliaran bersama pemiliknya. Alasan kenapa banyak budak di kota itu karena pusat perdagangan budak di kerajaan ini ada di kota San Angela. Jujur, aku tidak nyaman saat berada disana karena aku sendiri rasa kasihan dengan budak-budak itu karena sebelumnya aku mpunyai rekan kerja dari ras-ras lain. lihat ras-ras lain seperti reka dijadikan budak, aku tidak tega," ucap nona Violetta.
"Aku sendiri juga tidak tega lihat budak-budak yang ada di kerajaan ini. Kerajaan ini mang harus dirubah agar tidak legalkan perbudakan lagi," ucapku.
"Aku setuju denganmu tapi untuk rubah kerajaan ini tidaklah semudah itu. Bahkan jika kamu mpunyai status bangsawan yang tinggi, tidak mudah bagimu untuk rubah kerajaan ini," ucap nona Violetta.
"Ya, aku tahu. Ngomong-ngomong, terima kasih karena telah mberikanku informasi tentang kota itu, nona Violetta," ucapku.
"Sama-sama, Rid," ucap nona Violetta.
"Aku akan mberikanmu oleh-oleh nanti, nona Violetta. Tapi aku tidak tahu oleh-oleh khas kota San Angela itu apa saja. Apa ada sesuatu yang kamu inginkan dari kota San Angela, nona ?," tanyaku.
"Tidak perlu mbelikanku oleh-oleh, lagipula kamu juga pasti akan mbelikan banyak oleh-oleh untuk temanmu yang lain. Jika kamu mbelikanku oleh-oleh, nanti uangmu akan habis. Lebih baik kamu simpan saja uang pemberian dari akademi," ucap nona Violetta.
"Tidak apa-apa, nona. Lagipula uangku masih banyak, apalagi aku juga ndapatkan banyak uang setelah nangkan turnan akademi," ucapku.
"Aku juga ndapatkan banyak uang dari Yang Mulia Ratu karena kontribusiku dalam nggagalkan para penyerang yang nyerang akademi sebelumnya," pikirku.
"Yah kalau kamu maksa maka apa boleh buat. Tidak ada yang aku inginkan secara khusus dari oleh-oleh di kota San Angela, aku akan nerima apapun oleh-oleh yang akan kamu berikan. Tapi, aku lebih berharap ndapatkan oleh-oleh makanan, apapun itu," ucap nona Violetta.
"Baiklah, nona," ucapku.
"Makanan ya," pikirku.
Aku penasaran apakah nona Violetta itu sebenarnya suka makan, tetapi aku mutuskan untuk tidak nanyakannya karena itu akan dianggap tidak sopan.
"Ngomong-ngomong, nona Violetta tahu betul tentang murid akademi ini. Apakah dulu nona Violetta rupakan murid akademi ini juga ?," tanyaku.
"Iya, aku dulunya rupakan murid akademi ini juga. Aku lulus dari akademi ini 6 tahun yang lalu saat aku berumur 21 tahun. Saat ini, umurku sudah 27 tahun. Karena kamu sudah berada di tahun kedua, aku tebak kalau umurmu itu 18 atau 19 tahun," ucap nona Violetta.
"Aku sudah 19 tahun sekarang. Hmm, itu artinya aku dan nona berbeda 8 tahun ya," ucapku.
"Itu benar. Umur kita hanyalah berbeda 8 tahun, daripada manggil nona, kamu bisa manggilku ’kakak’," ucap nona Violetta.
"Apa nona sedang nggodaku ?," tanyaku.
"Aku hanya bercanda, aku tidak masalah dipanggil dengan ’nona’," ucap nona Violetta.
Ketika aku dan nona Violetta sedang ngobrol, tiba-tiba datang nona Karina ke taman akademi.
"Sepertinya kalian sedang asik ngobrol ya," ucap nona Karina.
"Nona Karina ?," ucapku sedikit terkejut.
"Tumben sekali lihat nona pagi-pagi ada disini," ucap nona Violetta.
"Aku kesini karena aku ingin nemui Rid. Ada yang ingin aku bicarakan dengannya," ucap nona Karina.
"nemui Rid ya. Ngomong-ngomong, kenapa nona bisa tahu kalau Rid ada disini ?," tanya nona Violetta.
"Selama ini aku sudah tahu kalau kamu dan Rid sering berlatih tanding di taman ini di jam segini. Makanya aku datang ke taman ini di jam segini untuk nemui Rid," ucap nona Karina.
"Aku tidak nyangka kalau nona sudah tahu tentang latih tanding yang dilakukan kami berdua. Aku minta maaf karena telah nggunakan taman ini sebagai tempat latih tanding, nona," ucap nona Violetta.
"Tidak apa-apa, lagipula tidak ada kerusakan yang terjadi skipun kalian berlatih tanding di taman ini. Daripada itu, aku ingin ngobrol berdua saja dengan Rid karena itu apa kamu tidak keberatan apabila aku mbawa Rid pergi ke suatu tempat untuk berbicara berdua dengannya ?," tanya nona Karina.
"Aku tidak keberatan, nona. Lagipula latih tanding antara aku dan dia sudah selesai," ucap nona Violetta.
"Baiklah. Kalau begitu, ikut aku, Rid. Ada yang ingin kubicarakan denganmu," ucap nona Karina.
"Baiklah, nona. Kalau begitu, aku pergi dulu, nona Violetta," ucapku.
"Iya, silahkan," ucap nona Violetta.
Aku pun pergi ngikuti nona Karina dan ninggalkan nona Violetta yang masih berada di taman. Aku terus ngikuti nona Karina yang mulai berjalan masuk nuju hutan akademi. Beberapa saat kami berjalan nyusuri hutan, nona Karina pun berhenti.
"Sepertinya ini tempat yang cocok untuk mbicarakan ini," ucap nona Karina.
"mangnya ada perlu apa, nona ? Sampai mbicarakan ini di tempat seperti ini ?," tanyaku.
"Aku dengar kamu nanti akan pergi ke kota San Angela untuk ngantarkan proposal kepada Duke San Angela," ucap nona Karina.
"Itu benar, nona. Aku pergi bersama dengan ditemani Enzo yang rupakan putra Duke San Angela," ucapku.
"Begitu ya," ucap nona Karina.
Lalu nona Karina ngambil sesuatu dari saku pakaiannya.
"Bawalah ini," ucap nona Karina sambil mberikanku sebuah kristal yang mirip dengan kristal komunikasi.
"Kristal komunikasi ?," tanyaku.
"Bukan, benda ini bukan kristal komunikasi. Tapi yang jelas benda ini akan berguna untukmu jika ada sesuatu yang ncurigakan nantinya," ucap nona Karina.
"Hmmm begitu ya. Terima kasih karena telah mberikan benda ini, nona," ucapku.
"Iya. Jangan lupa untuk terus ngaktifkan benda itu ketika kamu sudah berangkat nuju kota San Angela," ucap nona Karina.
"Baik, nona," ucapku.
"Dan juga, jangan lupa untuk selalu waspada, Rid. Aku yakin kamu tidak lupa kalau kamu kemungkinan njadi incaran banyak orang karena njadi pasangan Irene saat ini," ucap nona Karina.
"Baik, nona. Aku tidak akan lupa soal itu," ucapku.
Lalu aku pun lihat benda yang diberikan nona Karina dengan serius.
"Jadi tidak hanya aku yang nyadari kalau kemungkinan ada sesuatu yang akan terjadi di perjalananku nuju kota San Angela ya. Nona Karina juga nyadarinya dan sampai mberikan benda ini," pikirku.
Setelah itu, aku pun masukan benda itu ke saku pakaianku.
-
Pukul 8 pagi di gerbang akademi.
Saat ini, aku, Irene, Charles, Chloe, dan Enzo sedang bersiap untuk naiki kereta kuda yang akan ngantar kami nuju tujuan kami masing-masing. Sentara itu, Noa dan yang lainnya ikut ngantar kepergian kami.
"Kalian tidak perlu repot-repot ngantar kami. Lagipula kami cuma pergi selama seharian saja, nanti sore atau malam juga pulang," ucapku.
"Tidak apa-apa. Lagipula kita juga tidak tahu mau lakukan apa saat ini, jadi kita mutuskan untuk pergi ngantarkan kepergian kalian," ucap Julie.
"Begitu ya. Ngomong-ngomong, Noa, aku minta maaf karena tidak bisa nepati janjiku untuk main bersama di hari Sabtu ini karena seperti yang kamu lihat, aku harus pergi ke kota San Angela," ucapku.
"Santai saja, Rid, lagipula masih ada hari esok. Yang terpenting jangan lupakan oleh-oleh untukku," ucap Noa.
"Aku pasti akan mbelikannya untukmu, tenang saja," ucapku.
"Baguslah. Aku juga ngharapkan oleh-oleh dari kalian," ucap Noa.
"Kamu tidak perlu khawatir, Noa," ucap Chloe.
"Itu benar," ucap Charles.
Sentara itu, Irene dan Enzo terlihat hanya diam saja. Lalu anggota Elevrad yang lainnya pun sudah mulai naiki kereta kuda masing-masing.
"Sudah waktunya untuk berangkat. Kalau begitu, kami pergi dulu," ucapku.
"Hati-hati kalian," ucap Noa dan yang lainnya.
Aku pun langsung bergegas untuk naiki kereta kuda yang akan ngantarku dan Enzo nuju kota San Angela. Tetapi saat aku hendak naiki kereta kuda itu, Irene tiba-tiba nghentikanku.
"Tunggu sebentar, Rid," ucap Irene.
Aku pun langsung berhenti setelah ndengar Irene yang nghentikanku.
"Ada apa, Irene ?," tanyaku.
"Aku hanya ingin bilang hati-hati dalam perjalananmu nuju kota San Angela," ucap Irene.
Aku pun tersenyum ndengar perkataan Irene.
"Kamu juga, hati-hati dalam perjalananmu nuju kota San Lucia," ucapku.
"Iya," ucap Irene.
"Kalau begitu, aku pergi dulu, Irene. Sampai nanti," ucapku.
"Kalau begitu aku juga, sampai nanti juga, Rid," ucap Irene.
Setelah ngatakan itu, aku pun naiki kereta kuda yang akan ngantarku nuju kota San Angela, sentara Irene langsung bergegas naiki kereta kuda yang akan ngantarnya nuju kota San Lucia.
"Kalian berdua terlihat seperti pasangan yang serasi," ucap Enzo.
"nurutku itu normal untuk ngucapkan itu ketika hendak berpisah," ucapku.
"Hendak berpisah, ya," ucap Enzo.
"Kalian berdua, apa kalian sudah siap berangkat ?," tanya sopir kereta kuda kepada kami berdua.
"Siap, tuan," ucap kami berdua.
"Apa tidak ada barang atau sesuatu yang tertinggal ?," tanya sopir itu.
"Tidak, tuan," ucap kami berdua.
"Baiklah. Kalau begitu, kita berangkat sekarang," ucap sopir itu.
Kereta kuda itupun perlahan mulai berjalan ninggalkan gerbang akademi untuk nuju kota San Angela. Begitupun juga dengan kereta kuda yang lain, reka perlahan mulai pergi untuk nuju tujuan reka masing-masing.
Beberapa nit kemudian, kereta kuda yang nuju kota San Angela mulai pergi ninggalkan ibukota San Estella. Kereta kuda itu terus laju dengan kecepatan yang stabil. Semakin lajunya kereta kuda itu, semakin dekat juga ’insiden itu’ akan terjadi. Insiden yang akan terjadi sebentar lagi, akan nghebohkan seluruh kerajaan San Fulgen. Tidak hanya itu, ’insiden itu’ juga akan njadi pemicu terjadinya beberapa insiden lain yang akan terjadi nantinya.
-Bersambung
Reviews
All reviews (0)