1 minggu sebelum ujian pertama akademi yang akan dilaksanakan di akhir bulan September.
Pada pagi harinya, di tempat latihan tahun kedua.
"Kira-kira apa yang akan kita lakukan di ujian pertama di tahun kedua ini ? Apa kita akan lawan boneka kayu lagi seperti di tahun pertama ?," tanya Noa.
"Saat senior Gretta masih njadi murid akademi ini, aku diberitahu kalau ujian pertama untuk tahun selanjutnya itu sama seperti tahun pertama, yaitu lawan sekumpulan boneka yang diciptakan oleh tuan Alan dan staf yang lainnya. Tetapi boneka untuk tahun selanjutnya itu terbuat dari bahan yang lebih kuat dari boneka yang diciptakan untuk ujian murid tahun pertama. Yah coba saja kamu tebak bahan apa yang lebih kuat dari kayu untuk dijadikan boneka yang akan dilawan murid tahun kedua," ucapku.
"Bahan yang lebih kuat dari kayu ya, mungkin batu atau bahkan besi," ucap Noa.
"Yah itu mang bahan yang lebih kuat dari kayu. Tetapi jika kita yang saat ini baru njadi murid tahun kedua, apabila di ujian pertama ini kita harus lawan boneka petarung yang terbuat dari besi, lalu boneka petarung apa yang akan kita lawan di tahun ketiga dan keempat nanti saat ujian pertama ?," tanyaku.
"Tentu saja lawan boneka petarung yang terbuat dari bahan yang lebih kuat dari besi. Mungkin kita akan lawan boneka petarung yang terbuat dari berlian," ucap Noa.
"Aku yakin tidak ada yang bisa nyelesaikan ujian itu bahkan di hari pertama jika harus lawan boneka petarung yang terbuat dari itu," ucapku.
-
Sore harinya, di ruangan Elevrad.
Saat ini seluruh anggota Elevrad sedang berkumpul untuk ngerjakan beberapa dokun yang diperlukan untuk persiapan turnan dan festival akademi yang akan digelar tahun depan. mang turnan dan festival itu masih lama diselenggarakan, tapi perencanaannya harus dimulai dari jauh-jauh hari agar persiapannya bisa lebih maksimal.
Semua anggota Elevrad saat ini sedang ngerjakan dokun-dokun itu di beberapa ruangan-ruangan lain yang ada di lantai 7 gedung tengah. mang selain ruang utama Elevrad, di lantai itu ada beberapa ruangan yang bisa digunakan oleh anggota Elevrad lainnya. reka mutuskan nggunakan ruangan-ruangan itu agar bisa fokus ngerjakan dokun itu. Sepertinya reka tidak fokus jika ngerjakan dokun itu di ruang utama Elevrad dengan banyaknya anggota Elevrad yang berkumpul di ruang utama, makanya reka mutuskan berpencar ke ruangan-ruangan yang lain. Begitupun juga denganku yang ikut nggunakan salah satu dari ruangan itu, tetapi aku tidak sendiri di ruangan itu karena ada Irene dan juga Elaina yang ikut mbantu ngerjakan dokun di ruangan itu.
"Aku masih tidak nyangka kalau senior Rid rupakan wakil ketua Elevrad, padahal senior Rid masih tahun kedua. Secara logika, jika senior Florian yang rupakan ketua Elevrad rupakan murid tahun keempat, bukankah wakil ketuanya juga harus dari tahun keempat atau 1 tingkat di bawahnya yaitu tahun ketiga ?," tanya Elaina.
"Aku sendiri pun juga tidak nyangka kalau aku akan dipilih njadi wakil ketua. Bahkan anggota Elevrad yang lain juga tidak keberatan denganku yang njadi wakil ketua," ucapku.
"Tapi, jika dilihat dari prestasi, popuralitas dan kekuatan senior Rid, nurutku pantas bagi senior Rid untuk njadi wakil ketua. Bahkan nurutku akan lebih pantas lagi bagi senior Rid untuk njadi ketua Elevrad saat ini," ucap Elaina.
"njadi ketua Elevrad saat ini ? Aku saja masih belum terbiasa dengan tugas sebagai wakil ketua Elevrad. Lagipula aku masih seorang murid tahun kedua, njadi wakil ketua Elevrad saat njadi murid tahun kedua saja sudah rupakan pencapaian yang luar biasa, tidak mungkin aku njadi ketua Elevrad saat masih njadi murid tahun kedua," ucapku.
"Yah itu hanya nurutku saja," ucap Elaina.
-
Sekitar 1 jam kemudian.
"Akhirnya selesai juga. Aku tidak nyangka kalau dokun yang harus aku kerjakan sebagai wakil ketua Elevrad sebanyak ini. Aku tidak bisa mbayangkan sebanyak apa dokun yang harus dikerjakan jika aku njadi ketua Elevrad," ucapku.
"Kamu harus mbiasakannya, Rid. Lagipula tahun depan kamu pasti akan njadi ketua Elevrad nggantikan senior Florian," ucap Irene.
"Benar juga. Sepertinya tahun depan akan sangat sibuk," ucapku.
"Ini, aku sudah selesai dengan dokunku," ucap Irene.
"Terima kasih, Irene," ucapku.
"Aku juga sudah selesai dengan dokunku," ucap Elaina.
"Terima kasih, Elaina. Dengan ini kita sudah nyelesaikan semua dokun yang rupakan bagian kita. Aku harus mberikan dokun ini kepada senior Florian. Kalau begitu, aku pergi dulu," ucapku.
Aku pun pergi ninggalkan ruangan itu dan nuju ruangan utama Elevrad untuk mberikan dokun itu kepada senior Florian.
"Karena semua dokun sudah selesai dikerjakan, aku izin untuk pulang lebih dulu, senior Irene. Aku harus berlatih karena seminggu lagi ujian pertama untukku dan murid tahun pertama yang lainnya akan dimulai," ucap Elaina.
"Silahkan saja jika kamu mau pulang lebih dulu untuk berlatih. Aku akan pulang nanti setelah Rid selesai dengan urusannya," ucap Irene.
"Baiklah. Ngomong-ngomong, kamu kelihatannya tidak gelisah sama sekali dengan ujiannya ya, senior ? Seperti yang diharapkan dari orang sekuat dirimu, kamu sama sekali tidak takut dengan ujian ndatang. Kalau aku agak sedikit gelisah karena aku juga tidak tahu ujian apa yang akan aku hadapi," ucap Elaina.
"Bahkan seorang putri pedang juga bisa gelisah ya. Yah itu wajar karena kamu belum pernah ngikuti ujian ini sebelumnya jadi kamu tidak tahu apa yang akan kamu hadapi di ujian ini. Sayangnya, aku tidak bisa mberi tahumu secara rinci tentang ujian apa yang akan dihadapi olehmu nanti karena akan diberi hukuman oleh akademi apabila seorang senior mberitahukan konten ujian kepada juniornya. Tapi kamu tidak perlu gelisah seperti itu, nurutku dengan kemampuanmu saat ini, kamu bisa dengan mudah nyelesaikan ujian pertama itu dengan sempurna," ucap Irene.
-
Di ruang utama Elevrad.
"Terima kasih karena telah ngerjakan dokun-dokun ini, Rid, ah maksudku wakil ketua," ucap senior Florian.
"Sepertinya kamu sedang berusaha niru senior Vyn saat dia masih njadi ketua Elevrad ya, senior ?," tanyaku.
"Ahahah, tidak kok. Ngomong-ngomong, apa setelah ini kamu mau pulang ?," tanya senior Florian.
"Iya," ucapku.
"Aku minta tolong untuk ngantarkan dokun ini ke nona Karina untuk ditandatangani oleh beliau, karena kebetulan kamu juga ingin pulang ke asrama," ucap senior Florian.
"Baiklah, senior," ucapku.
"Maaf ya karena masih repotkanmu padahal kamu sudah ingin pulang," ucap senior Florian.
"Tidak apa-apa, senior. Kalau begitu aku pamit untuk pulang dan ngantarkan dokun ini dulu," ucapku.
"Iya, silahkan, wakil ketua," ucap senior Florian.
Aku pun pergi nuju pintu untuk keluar dari ruangan utama Elevrad. Saat aku hendak mau mbuka pintu, tiba-tiba pintu tersebut dibuka oleh seseorang.
"Rid ? Kamu belum pulang ?," tanya Enzo.
Ternyata yang mbuka pintu itu adalah Enzo. Enzo tidak sendiri, ada putri Alia juga dibelakangnya.
"Ini aku mau pulang, tapi aku mau ngantarkan dokun ini ke nona Karina terlebih dahulu sebelum pulang," ucapku.
"Begitu ya," ucap Enzo.
"Kamu sendiri belum pulang, Enzo ?," tanyaku.
"Belum. Aku masih ada perlu dengan senior Florian," ucap Enzo.
"Begitu ya. Kalau begitu aku pamit untuk pulang dulu ya. Sampai nanti, Enzo, putri Alia," ucapku.
"Iya sampai nanti, Rid," ucap Enzo.
"Sampai nanti," ucap putri Alia.
Lalu aku pun pergi ninggalkan reka dan pergi ke ruangan yang sebelumnya aku pakai untuk ngerjakan dokun karena aku mau ngajak Irene untuk pulang juga. Setelah itu, aku dan Irene pun pergi nuruni tangga untuk pergi keluar dari gedung tengah akademi. Sentara itu, Enzo dan putri Alia pun masuk ke dalam ruangan utama Elevrad untuk ndiskusikan sesuatu dengan senior Florian.
-
Di ruangan kepala akademi.
Aku saat ini sedang berbicara dengan nona Karina di ruangan itu, sentara Irene sedang nungguku di luar gedung staf dan pengajar akademi.
"Ada perlu apa kamu kemari, wakil ketua ?," tanya nona Karina.
"Tolong panggi aku dengan nama saja seperti biasa, nona. Panggilan ’wakil ketua’ itu mbuatku tidak nyaman," ucapku.
"Fufufu, baiklah. Jadi ada perlu apa kamu kesini ?," tanya nona Karina lagi.
"Aku kesini untuk ngantarkan dokun ini. Tolong nanti dibaca dan ditandatangani, nona," ucapku.
"Baiklah. Sudah lama ya kita tidak bertemu dan berbicara berdua seperti ini," ucap nona Karina.
"Yah itu karena aku selama ini tidak ada keperluan dengan nona. Jadi kesempatan kita untuk bertemu itu jarang," ucapku.
"Yah kamu benar. Ngomong-ngomong, kelihatannya kamu cukup akrab dengan komandan prajurit yang njaga akademi ini," ucap nona Karina.
"Akrab apanya, nona ? Aku kan tidak pernah ngobrol dengan dia," ucapku.
"Kamu tidak perlu berbohong. Aku tau kalau kamu dan dia selama ini selalu berlatih tanding di taman akademi saat jam 4 pagi," ucap nona Karina.
ndengar perkataan nona Karina, aku sedikit terkejut.
"Ketahuan ya, maafkan aku, nona, karena telah berbohong. Dan maafkan aku juga karena telah nggunakan taman akademi sebagai tempat berlatih tanding," ucapku.
"Tidak apa-apa, santai saja. Lagipula taman akademi juga tidak ngalami kerusakan saat kalian berlatih tanding. Jadi, apa tujuanmu berlatih tanding dengan Violetta ?," tanya nona Karina.
"Tidak ada tujuan apa-apa, nona. Aku berlatih tanding dengan nona Violetta murni karena aku ingin bertambah kuat," ucapku.
"Begitu ya, aku kira kamu berlatih tanding dengannya untuk ngukur kekuatan seorang komandan," ucap nona Karina.
"ngukur kekuatan seorang komandan ? Untuk apa aku lakukan itu ?," tanyaku.
"Kamu tahu kan kalau ada 2 cara bagi murid tahun keempat untuk bisa lulus dari akademi ini. Pertama adalah dengan ngumpulkan 150.000 poin hingga akhir tahun ajaran atau ngalahkan Komandan Prajurit Kerajaan San Fulgen. Jika berhasil ngalahkan komandan prajurit, ski di awal tahun ajaran, kamu akan langsung lulus dari akademi ini. Jadi aku kira, kamu sedang ngukur kekuatan seorang komandan karena kamu ingin ncoba lawan reka saat tahun keempat nanti," ucap nona Karina.
"Tidak, nona. Aku tidak berpikiran seperti itu. Aku murni hanya ingin berlatih agar bisa njadi kuat. Lagipula, apa nona Violetta termasuk Komandan Prajurit juga ? Dia kan hanya njaga akademi ini saja, berbeda dengan komandan prajurit lain yang mpunyai wilayah yang reka jaga," ucapku.
"mang Violetta hanya njadi Komandan Prajurit yang njaga akademi ini saja. Tetapi dia sudah termasuk ke dalam salah satu Komandan Prajurit di kerajaan San Fulgen. Dan lagi, kekuatan dia juga setara dengan para komandan lainnya," ucap nona Karina.
"Begitu ya," ucapku.
"Yah aku tidak akan mpermasalahkan apapun alasanmu lakukan latih tanding dengan Violetta. Daripada itu, bagaimana keadaan Elevrad saat ini ? Apa ada sesuatu yang nurutmu ncurigakan ?," tanya nona Violetta.
"Sesuatu yang ncurigakan ya, mungkin ada. Sebelum aku datang ke ruangan nona Karina, aku bertemu dengan senior Florian terlebih dahulu di ruangan utama Elevrad. Lalu aku pun pergi dari ruangan itu dan aku berpapasan dengan Enzo dan putri Alia saat keluar dari ruangan itu. Enzo bilang kalau dia ada perlu dengan senior Florian dan sepertinya putri Alia juga. Lalu Enzo dan putri Alia pun masuk ke ruangan itu. lihat reka bertiga yang rupakan anak dari ketiga Duke berada di ruangan itu, aku rasa kalau reka sedang rencanakan sesuatu yang ncurigakan," ucapku.
-
1 Minggu kemudian.
Ujian Pertama akademi pun telah dimulai dan kami pun berhasil nyelesaikan ujian pertama itu dengan sempurna
-Bersambung
Reviews
All reviews (0)