"Senior Rid, bertandinglah denganku di pertandingan harian. Jika kamu nang, maka aku akan langsung bergabung njadi anggota Elevrad," ucap Elaina.
"Bertanding lawanku ?," tanyaku sedikit terkejut.
"Iya," ucap Elaina.
"Eh, ada apa nih, putri pedang mau nantang Rid Archie yang dijuluki ’pahlawan’ di surat kabar ?,"
"Ini ngejutkan,"
"Jika ini benar-benar terjadi, pasti pertandingan ini akan sangat seru," ucap murid-murid tahun pertama yang ndengar tentang obrolan kami.
reka pun langsung ngerumuni kami dan penasaran dengan obrolan kami selanjutnya. Aku lihat ke arah Elaina, dari tatapannya itu, sepertinya dia sangat serius untuk bertanding lawanku.
"Bertanding lawannya ya. Yah aku tidak masalah sih jika harus lawannya skipun jika aku nang, aku hanya ndapatkan 150 poin karena lawanku rupakan juniorku. Sepertinya senior Florian sudah mprediksi akan hal ini, jadinya dia nyuruhku untuk datang rekrutnya," pikirku.
"Baiklah. Jika itu yang kamu mau, maka mari kita bertanding. Jika aku nang, kamu harus bergabung langsung dengan Elevrad," ucapku.
"Iya. Tapi jika aku nang, senior Rid, kamu harus putus dengan senior Irene dan berkencanlah denganku," ucap Elaina.
Aku terdiam ndengar itu, begitupun dengan Charles, Chloe dan Irene.
"Tunggu, barusan kamu bilang apa ?," tanyaku.
"Jika aku nang, kamu harus putus dengan senior Irene dan berkencan denganku, senior Rid," ucap Elaina.
Aku, Charles dan Chloe pun terkejut setelah ndengar itu, begitu juga dengan murid-murid yang ngerumuni kami.
"Apa?!?!,"
"Kenapa putri pedang mbuat taruhan seperti itu ?
"Apa dia nyukai Rid Archie ?," ucap murid-murid yang terkejut itu.
"Bagaimana senior Rid, apa kamu nyetujuinya ?," tanya Elaina.
"Tunggu sebentar, aku sedang mikirkan apa yang sedang terjadi saat ini terlebih dahulu," ucapku.
Aku lalu terdiam dan berpikir.
"Kenapa dia ngajukan taruhan seperti itu, apa dia nyukaiku ? Tapi aku sama sekali tidak pernah bertemu dengannya, bagaimana bisa dia nyukai seseorang yang bahkan belum pernah bertemu sama sekali," pikirku.
Aku lalu lihat ke arahnya untuk mbaca pikirannya namun tidak bisa.
"Sepertinya dia makai suatu benda yang bisa nangkal sihir pembaca pikiranku, sama seperti Irene. Apa semua bangsawan selalu makai benda seperti ini ? Tapi jika dilihat dari wajahnya, sepertinya dia serius," pikirku.
Sejak tadi, Elaina selalu makai ekspresi yang serius. Bisa dibilang, ekspresi yang dia pakai mirip dengan Irene, skipun tidak sedingin Irene.
"Yah. Sepertinya tidak apa-apa jika aku nerima taruhan itu, lagipula aku tinggal ngalahkannya saja agar aku tidak putus dengan Irene. Lagipula aku harus nuntaskan janjiku dengan Irene agar berkencan dengannya sampai acara itu gagal diselenggarakan atau sampai situasi sudah nguntungkan bagi Irene. Jadi aku tidak boleh kalah lawannya," pikirku.
"Baiklah, aku ne-," ucapku.
"Tunggu sebentar," ucap Irene.
Tiba-tiba Irene motong pembicaraanku disaat aku belum nyelesaikannya.
"Ada apa, senior Irene ?," tanya Elaina.
"Kamu tidak perlu lawan Rid. Lawanlah aku, dengan taruhan yang sama," ucap Irene.
Aku, Charles, dan Chloe yang ndengar itu pun terkejut. Begitupun dengan murid-murid yang ngerumuni kami.
"Ada apa ini ? Apa putri es yang rupakan pacar Rid Archie saat ini tidak terima dengan taruhan yang diajukan putri pedang ?," ucap seorang murid yang bingung.
"Dengan taruhan yang sama. Apa maksudmu jika aku nang lawanmu, kamu akan putus dengan senior Rid dan aku bisa berkencan dengannya ?," tanya Elaina.
"Iya. Tapi jika aku nang, kamu harus bergabung langsung dengan Elevrad dan izinkan aku untuk nambah satu taruhan lagi, yaitu jangan pernah berpikiran untuk berkencan dengan Rid lagi,"
"Jika kamu lawan Rid dengan taruhan apapun itu, kamu tidak akan bisa nangkannya. Setidaknya jika lawanku, kamu masih miliki kemungkinan untuk nang. Bagaimana ?," ucap Irene.
Irene dan Elaina saling mandang satu sama lain dengan pandangan serius.
"Putri es mberi syarat baru pada taruhan itu,"
"Sepertinya putri es juga tidak mau lepas Rid Archie,"
"Keduanya sama-sama manas untuk mperebutkan Rid Archie," ucap murid-murid yang ngerumuni kami.
"Bagaimana perasaanmu saat diperebutkan oleh 2 perempuan, Rid ?," tanya Charles.
"Entahlah. Lagipula aku tidak tahu kenapa putri pedang tiba-tiba ngajukan syarat taruhan seperti itu. Kami saja tidak pernah bertemu sebelumnya," ucapku.
"Mungkin Elaina jatuh cinta pada pandangan pertama saat lihatmu. Yah lagipula popuralitasmu sudah terkenal hinggal seluruh kerajaan ini. Bukan tidak mungkin kalau ada perempuan lain yang jatuh cinta denganmu juga," ucap Charles.
"njadi terkenal benar-benar repotkan," ucapku.
Lalu aku lihat ke arah Chloe yang daritadi hanya diam saja. Entah kenapa dia seperti antusias saat lihat Irene dan Elaina. Sentara, Irene dan Elaina masih saling mandang dengan serius.
"Baiklah, aku terima tawaranmu itu, senior Irene. Lagipula sejak dulu aku juga ingin lawanmu. Kapan pertandingannya akan dilakukan ? Karena aku sekarang sudah lakukan pertandingan harian, aku sudah tidak bisa lakukan pertandingan harian lagi hari ini," ucap Elaina.
"Aku juga sama. Kalau begitu kita adakan pertandingannya besok jam 4 sore di arena pertandingan ini," ucap Irene.
"Baiklah, kalau begitu kita sepakat," ucap Elaina.
Elaina ngulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Irene, Irene pun nerima uluran tangan itu. Dan keduanya pun berjabat tangan.
"Sudah resmi, besok akan ada pertandingan besar. Beritahu yang lainnya,"
"Pertandingan antara kedua putri akan berlangsung besok,"
"Pertandingan ini tentu akan sangat seru karena penang pertandingan ini akan ndapatkan Rid Archie," ucap murid-murid itu.
"Kenapa namaku disebut-sebut seperti layaknya barang," ucapku.
"Ahahaha, reka sepertinya sangat antusias dengan pertandingan antara Irene lawan Elaina," ucap Charles.
"reka yang antusias, aku yang pusing," ucapku.
-
Keesokan paginya, di tempat latihan tahun kedua.
"Jadi nanti nona Irene akan bertanding lawan putri pedang di pertandingan harian ?," tanya Leandra.
"Iya," ucap Irene.
"Sepertinya pertandingan itu akan sangat seru, kira-kira aku boleh datang untuk nontonnya tidak ?," tanya Leandra.
"Datang saja. Walaupun pertandingannya diadakan di arena pertandingan tahun pertama, murid tahun angkatan lain boleh datang ke arena pertandingan itu untuk ndukung teman reka yang bertanding di arena pertandingan itu," ucap Irene.
"Begitu ya, kalau begitu aku akan datang bersama dengan yang lainnya," ucap Leandra.
Sentara itu, aku terdiam di sisi lain tempat latihan sambil mikirkan sesuatu. Lily yang lihatku sedang terdiam pun datang nghampiriku.
"Ada apa, Rid ?," tanya Lily.
"Aku hanya khawatir dengan pertandingan Irene nanti. Aku belum tahu seberapa kuat putri pedang jadi aku tidak bisa mastikan apakah Irene dapat nang atau tidak. Jika Irene kalah, itu berarti aku harus putus dengan Irene dan berkencan dengan putri pedang. Lagipula, kenapa Irene tiba-tiba ngajukan pertandingan lawan putri pedang dengan taruhan yang sama seperti yang putri pedang ajukan kepadaku. Jika aku yang lawan putri pedang seperti kesepakatan awal, aku yakin kalau aku bisa ngalahkannya. Semua ini mbuatku pusing," ucapku.
"Kamu terlalu khawatiran, Rid. Lagipula nona pasti nang lawan putri pedang itu. Sepertinya nona mpunyai suatu alasan kenapa dia mutuskan untuk ngajukan pertandingan lawan putri pedang. Hmmm coba kita cari tahu, saat putri pedang nantangmu untuk lakukan pertandingan harian, taruhan apa yang awalnya kalian setujui ?," tanya Lily.
"Jika aku nang, putri pedang akan bergabung langsung dengan Elevrad. Sentara jika aku kalah, aku harus putus dengan Irene dan berkencan dengan putri pedang," ucapku.
"Hanya itu saja ?," tanya Lily.
"Iya, hanya itu saja," ucapku.
"Lalu apa taruhan yang disetujui nona Irene dan putri pedang yang mbuat reka mau lakukan pertandingan harian ?," tanya Lily.
"Dari yang aku dengar, jika putri pedang nang, maka Irene harus putus denganku dan putri pedang akan berkencan denganku. Lalu jika Irene nang, putri pedang harus bergabung langsung dengan Elevrad dan putri pedang tidak boleh lagi berpikiran untuk berkencan denganku," ucapku.
"Nah, itu yang mbuat kenapa nona Irene mutuskan untuk ngajukan pertandingan lawan putri pedang untuk nggantikanmu. Karena nona Irene ingin ngajukan syarat tambahan yang tidak kamu ajukan. Nona Irene ngajukan syarat tambahan yaitu agar putri pedang tidak boleh berpikiran untuk berkencan denganmu lagi agar putri pedang tidak ngganggumu atau dekat-dekat denganmu lagi untuk njadikanmu sebagai pacarnya," ucap Lily.
"Hmmm Benar juga. Kalau putri pedang ngajukan syarat seperti itu, ada kemungkinan kalau dia itu nyukaiku. Jadi jika aku dan putri pedang tetap bertanding dengan kesepakatan awal kami, apabila aku berhasil nang, putri pedang masih bebas ndekatiku atau nggangguku lagi untuk mbuatku njadi pacarnya. Makanya Irene berpikiran seperti itu agar jika putri pedang kalah, dia tidak akan berpikiran untuk mbuatku njadi pacarnya lagi. Aku tidak nyangka kalau Irene ternyata punya alasan sendiri untuk lakukan itu. Sepertinya dia ingin lindungiku agar hubungan pura-pura ini bisa bertahan sampai lama," ucapku.
"Yah aku rasa nona Irene punya alasan lain selain itu," ucap Lily.
Lalu tiba-tiba Irene dan Leandra pun nghampiriku dan Lily yang sedang ngobrol.
"Kamu tidak perlu khawatir, Rid. Aku pasti akan nangkan pertandingan lawan putri pedang," ucap Irene dengan wajah yang serius.
lihat itu, aku pun tersenyum.
"Iya, aku yakin kamu bisa ngalahkannya," ucapku.
Lalu tiba-tiba Noa pun juga ikut nghampiri kami.
"Hei, Rid, bagaimana rasanya diperebutkan oleh 2 perempuan ?," tanya Noa.
"Diam, Noa," ucapku.
-
Pukul 3 sore.
Setelah pembelajaran di akademi selesai, aku dan yang lainnya mutuskan untuk pergi ke ruang Elevrad terlebih dahulu sebelum pergi ke gedung tahun pertama.
"Jadi Irene dan putri pedang akan saling bertanding dan jika Irene nang, maka putri pedang akan bergabung secara langsung dengan Elevrad ?," tanya senior Florian.
"Itu benar, ketua," ucapku.
"Tapi jika Irene kalah, maka putri pedang tidak akan bergabung dengan Elevrad. Dan kamu juga harus putus dengan Irene lalu berkencan dengan putri pedang," ucap senior Florian.
"I-itu benar juga, ketua," ucapku.
"Kamu populer sekali ya, wakil ketua. Bahkan putri pedang juga tertarik kepadamu. Sepertinya jika ada perempuan lain yang mau rebut kamu, Irene akan pasang badan untuk lawan perempuan itu," ucap senior Vanina.
"Enaknya, aku juga ingin diperebutkan oleh banyak perempuan," ucap senior Darryl.
"Tenang saja, Darryl. Kamu pasti akan diperebutkan oleh banyak perempuan. Jika tidak sekarang, mungkin suatu saat nanti," ucap senior Klara.
"Kapan tepatnya ’suatu saat nanti’ itu ?," tanya senior Darryl.
"Entahlah. Kamu teruslah berharap agar ’suatu saat nanti’ itu berada dalam jarak waktu yang dekat," ucap senior Klara.
"Kamu sedikit kejam ya, ibu bendahara," ucap senior Darryl.
"Siapa yang kamu panggil ’ibu’ ?," tanya senior Klara yang nampak kesal.
"Sudah, sudah, kalian berdua. Karena sebentar lagi sudah mau waktunya bagi Irene untuk bertanding, maka kita sudahi dulu sampai disini. Bagi kalian yang mau ikut untuk nonton pertandingan itu, silahkan ikut saja. Aku tidak bisa ikut karena masih ada beberapa urusan tapi aku yakin kalau kamu bisa nang, Irene. Aku ndukungmu," ucap senior Florian.
"Terima kasih, senior," ucap Irene.
"Aku juga ndukungmu, wakil ketua," ucap senior Florian.
"Kenapa aku juga ?," tanyaku.
"Aku mau ikut untuk nonton pertandingan Irene," ucap senior Nadine.
"Kalau begitu aku juga," ucap senior Vanina.
Setelah berkumpul di ruangan Elevrad, kami pun langsung pergi nuju gedung tahun pertama.
-
Di arena pertandingan lantai dua di gedung tahun pertama.
Arena pertandingan itu saat ini sudah sangat ramai dipenuhi oleh banyak penonton.
"Wah tempat ini sangat ramai ditonton oleh banyak murid, padahal ini hanya pertandingan harian," ucap senior Vanina.
"Mungkin karena pertandingan ini adalah pertandingan antara kedua putri," ucap senior Nadine.
"Putri es dan putri pedang ya. Di belakang kita juga ada seorang putri yaitu putri mawar," ucap senior Vanina sambil lihat ke belakang.
Di belakangnya ada putri Alia yang ikut nonton.
"Ada apa, Vanina ?," tanya putri Alia.
"Tidak ada apa-apa kok, Alia," ucap senior Vanina.
Tidak hanya putri Alia, Enzo pun juga ikut nonton pertandingan ini.
Keberadaan kami yang rupakan anggota Elevrad narik banyak perhatian di arena pertandingan itu, tetapi kami tidak begitu terganggu dengan perhatian itu. Setelah itu, Irene dan Elaina pun mulai masuki arena pertandingan. Para murid yang nonton pun bersorak untuk Elaina
"Putri pedang!!!,"
"Kalahkan putri es itu, putri pedang," ucap murid-murid yang nonton.
"Sepertinya dukungan untuk putri pedang sangat banyak di arena ini," ucap senior Vanina.
"Yah itu sudah jelas karena arena ini rupakan arena untuk murid tahun pertama. Bisa dibilang kalau ini rupakan kandang reka," ucap senior Nadine.
"Semangat, Irene!!," teriak Chloe.
"Nona Irene, semangat!!," teriak Leandra dan Lily.
Tapi suara reka terdengar kecil dibandingkan dengan suara sorakan murid tahun pertama yang nonton.
"Suara kita tidak terdengar," ucap Chloe.
"Tidak apa-apa. Yang terpenting kalian sudah bersorak untuk Irene," ucapku.
Lalu Irene dan Elaina pun saling berhadapan.
"Jangan lupa akan janjimu jika aku nang, senior Irene," ucap Elaina.
"Kamu juga jangan lupa akan janjimu jika aku nang," ucap Irene.
reka berdua saling bertatapan dengan wajah yang serius.
"Karena kedua murid sudah berada di arena, saya akan langsung mulai pertandingannya. Sebelum itu, saya akan bertanya kepada masing-masing murid. Apakah Irene Erald San Lucia sudah siap ?," tanya tuan Elgin.
"Siap," ucap Irene.
"Apakah Elaina Stabile sudah siap ?," tanya pengawas Elgin.
"Siap," ucap Elaina.
"Kalau begitu, pertandingan dimulai!," ucap tuan Elgin.
-Bersambung
Reviews
All reviews (0)