Font Size
15px

"Kalau begitu, pertandingan dimulai," ucap tuan Elgin.

Tuan Elgin pun langsung nepi ke pinggir arena, sentara Irene dan Elaina angsung nyerang nggunakan senjata reka masing-masing. reka saling nyerang dari jarak dekat dan saling beradu serangan. Saat saling beradu serangan, ada satu mon yang mbuat kedua senjata reka saling beradu kekuatan untuk nekan lawan reka masing-masing. Disaat saling beradu kekuatan itu, Irene berbicara dengan Elaina.

"Putri pedang, kenapa kamu mbuat taruhan seperti itu dengan Rid sebelumnya ? Apa kamu ada perasaan dengan Rid ?," tanya Irene.

"Sepertinya kamu yang rupakan pacarnya saat ini sangat penasaran ya," ucap Elaina.

reka pun seimbang dalam adu kekuatan itu dan reka berdua pun mundur beberapa langkah untuk saling beradu serangan lagi.

"Daripada disebut sebagai perasaan, mungkin lebih benar jika nyebut kalau aku tertarik pada senior Rid," ucap Elaina.

"Tertarik dengannya ?," tanya Irene.

reka saling ngobrol disaat reka saling nyerang satu sama lain.

"Iya. Aku tertarik padanya setelah mbaca surat kabar yang beredar beberapa waktu lalu," ucap Elaina.

"Jika kamu hanya tertarik, kenapa kamu ngajukan taruhan seperti itu dengannya ?," tanya Irene.

"Jika aku njadi pacar senior Rid, aku bisa semakin dekat dengannya. Lalu jika semakin dekat dengannya, mungkin rasa tertarik ini akan tumbuh njadi perasaan yang namanya cinta. Lagipula senior Rid cocok untuk dijadikan sebagai pasangan hidupku. Perempuan mana yang tidak mau miliki laki-laki yang kuat sebagai pasangan hidupnya. Kamu pun juga begitu kan, senior Irene ? Makanya kamu mbatalkan keikutsertaanmu dalam ~Matchmaking Battle~ untuk mperebutkan pangeran Charles dan milih untuk berpacaran dengan senior Rid. Karena kamu tahu kalau senior Rid lebih kuat dari pangeran Charles," ucap Elaina.

"Aku tidak mau mbicarakan tentang acara itu, tapi aku terkejut kalau kamu ngetahui tentang acara itu," ucap Irene.

"Keluarga San Lucia bukanlah satu-satunya keluarga yang dekat dengan keluarga kerajaan," ucap Elaina.

"Begitu ya. Daripada itu, jika pada awalnya kamu tetap ngajukan taruhan itu saat bertarung dengan Rid, kamu tidak akan bisa nangkan taruhan itu. Selama di akademi ini, Rid tidak pernah kalah dalam bertanding lawan siapapun, jadi aku ragu kalau kamu bisa nangkan pertandingan serta taruhanmu itu," ucap Irene.

"Aku tahu itu. Aku juga yakin kalau aku tidak bisa nangkan pertandingan apabila aku lawan senior Rid. Lagipula aku ngajukan taruhan itu kepadanya hanya sebagai umpan saja," ucap Elaina.

"Umpan ya, jadi sejak awal kamu ngajukan taruhan itu kepada Rid agar aku terpancing dan mbuatku ingin bertarung lawanmu," ucap Irene.

"Seperti yang diharapkan darimu, senior Irene. Sebelumnya kamu bilang sendiri kalau ada kemungkinan bagiku untuk nang lawanmu. Kalau begitu, aku tidak akan sia-siakan adanya kemungkinan itu," ucap Elaina.

~Blade Dance Technique : Rhythm of the Destruction Sword~

Elaina lalu ncoba nebas Irene tetapi Irene dapat nahan tebasan itu. Tetapi setelah nahan tebasan itu dengan rapiernya, Irene pun terdorong beberapa ter ke belakang. Elaina terus nyerang Irene dengan tebasannya itu skipun berhasil ditahan oleh Irene. Tapi semakin sering Irene nahan tebasan itu, semakin sering juga Irene terdorong ke belakang dan saat ini jarak Irene dengan dinding arena semakin dekat. Lalu Irene pun terpojok di dinding arena setelah kembali terdorong saat nahan tebasan Elaina. Lalu Elaina pun lancarkan sebuah serangan kepada Irene yang terpojok.

~Swort Art : Destruction Slash - Wind Splitter~

Elaina pun nebas Irene tapi Irene berhasil nahan tebasan itu nggunakan rapiernya. Di dinding yang berada di belakang Irene, tiba-tiba muncul sebuah bekas goresan yang sangat dalam yang manjang secara horizontal. Bekas goresan itu tercipta karena serangan yang dilancarkan Elaina.

"Serangan yang barusan itu lumayan berbahaya. Apa kamu berniat untuk mbelah tubuhku ?," tanya Irene.

"Aku tahu kalau kamu akan dapat ngatasi seranganku tadi, tapi aku tidak nyangka kalau kamu akan dapat nahannya dengan mudah nggunakan rapiermu," ucap Elaina.

Kedua senjata reka masih beradu namun tiba-tiba Elaina sengaja mbuat pedangnya bergesekan dengan rapier milik Irene agar dia bisa bergerak ke samping Irene. Setelah dia berhasil bergerak ke samping Irene, dia pun lancarkan serangan kembali.

~Blade Dance Technique : Rhythm of Sword Thrust~

Elaina lalu ncoba untuk nusuk Irene secara bertubi-tubi. Tapi Irene berhasil nahan tusukan bertubi-tubi itu secara satu persatu nggunakan rapiernya. Elaina yang terkejut setelah lihat serangannya berhasil ditahan oleh Irene pun ningkatkan kecepatan serangannya. Tetapi Irene masih bisa untuk nahan semua serangan itu. Kemudian, Irene tiba-tiba nahan serangan Elaina dengan kekuatan yang cukup besar yang mbuat pedang milik Elaina terangkat ke atas. Hal itu mbuat pertahanan Elaina terbuka. Irene yang lihat itu pun langsung lancarkan sebuah serangan ke arah Elaina.

~Advanced Glacier Strike~

Serangan itu diarahkan dengan telak ke tubuh Elaina. Namun sebelum serangan itu berhasil ngenai Elaina dengan telak, Elaina langsung nggunakan pedangnya yang sebelumnya terangkat untuk nahan serangan milik Irene. Serangan itu pun berhasil ditahan oleh Elaina. Tapi karena serangan itu sangat kuat, serangan itu mbuat Elaina terhempas nghantam dinding yang jauh berada di belakangnya.

*BUMMMMMMM

Suara benturan pun terdengar keras dan asap pun muncul di tempat Elaina nghantam dinding. Murid-murid tahun pertama yang nonton itu pun seketika terdiam. Sentara Chloe, Leandra, Lily dan yang lainnya pun langsung bersorak untuk Irene.

"Putri es sangat kuat sekali,"

"Apa putri pedang sudah kalah ?,"

"Tidak mungkin nona Elaina akan kalah semudah itu," ucap murid-murid tahun pertama itu.

Tiba-tiba dari balik asap yang nyelimuti tempat Elaina, muncul sebuah tebasan angin dari balik asap itu. Tebasan angin itu ngarah ke Irene, namun Irene langsung motong tebasan angin itu njadi dua dengan rapiernya yang sudah diselimuti oleh sihir es. Tidak hanya 1 tebasan angin, tetapi tebasan angin yang lainnya pun terus bermunculan dan ngarah ke Irene. Irene terus nebas tebasan angin yang ngarah kepadanya. Lalu asap yang nyelimuti tempat Elaina pun perlahan mulai nghilang. Terlihat Elaina terus lancarkan serangan tebasan angin jarak jauh ke arah Irene dengan nggunakan pedangnya. Terdapat beberapa luka ditubuhnya skipun luka itu hanyalah luka kecil.

~Wind Sword Art : Consecutive Wind Slashes~

Elaina terus lancarkan tebasan angin ke arah Irene. Semakin lama, tebasan angin itu semakin cepat. ski begitu, Irene masih sanggup untuk terus motong tebasan angin yang ngarah kepadanya.

Beberapa saat kemudian, karena tebasan angin itu tidak juga berhenti, Irene mutuskan untuk lancarkan sebuah serangan kuat agar bisa nghancurkan seluruh tebasan angin itu sekaligus dan mbuat Elaina berhenti nyerang nggunakan tebasan angin jarak jauhnya itu. Ketika sebuah tebasan angin mulai ndekati Irene, Irene pun bersiap lancarkan sebuah tebasan yang kuat.

~Ice Sword Art : Great Ice Slash~

Irene lancarkan sebuah tebasan es yang sangat besar ke arah tebasan angin yang ndekatinya. Tebasan angin itu pun langsung hancur begitupun juga tebasan angin yang berada di belakang. Tebasan es itu nuju ke arah Elaina sambil nghancurkan tebasan angin yang terus berdatangan. Elaina yang lihat itu pun sedikit terkejut.

"’Ice Sword Art’ ? Padahal dia sendiri rupakan pengguna rapier. Kenapa dia namai tekniknya seperti itu ?," pikir Elaina.

Lalu Elaina pun nghentikan tebasan angin berturut-turutnya dan langsung bersiap untuk lancarkan serangan yang lain.

~Wind Sword Art : Great Wind Slash~

Elaina lancarkan sebuah tebasan angin yang sangat besar ke arah tebasan es milik Irene. Lalu kedua tebasan itu pun saling beradu dan mbuat ledakan kekuatan yang cukup besar. Ledakan itu juga mbuat kabut es bermunculan di arena itu dan mbuat penglihatan di arena itu njadi terbatas.

"Kabut es ? Sepertinya kabut es ini muncul akibat tebasan es yang hancur itu," ucap Elaina.

"Lebih baik kamu berhati-hati terhadap kabut es ini, putri pedang," ucap Irene yang berada di sisi lain arena turnan.

Irene dan Elaina tidak bisa saling lihat karena pandangan reka terhalangi oleh kabut es ini. Tapi reka masih bisa rasakan dimana masing-masing dari reka berada.

"Berhati-hati untuk apa ?," tanya Elaina.

Tiba-tiba, Irene dengan cepat lesat ke arah Elaina dan langsung lancarkan serangan ke arahnya tanpa Elaina sadari.

~San Lucia Art : Freezing Air X-Slash~

Elaina terkena serangan itu dengan telak tepat di badannya yang mbuat sebuah tanda X besar yang mbeku muncul di badannya. Tanda X di badannya itu sangat besar, lebihi ukuran tubuh Elaina sendiri. Setelah ditebas seperti itu, Elaina pun njatuhkan pedangnya. Sentara tubuhnya tetap berdiri karena tanda X yang besar itu terbentuk dari lantai arena hingga ke atas tubuh Elaina, sehingga tanda X itu nopang tubuhnya agar tidak terjatuh ke lantai arena.

"Aku nyuruhmu berhati-hati terhadap kabut es ini karena kabut es ini bisa nyebabkan kekalahan untukmu," ucap Irene.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 236 : Pertandingan Harian, Irene vs Elaina on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

On the Path to the Great Dao cover
Trending now

On the Path to the Great Dao

Pig Nerd ·Action

【Fromtheauthorof''!】Mygrandfatherisverypeculiar.Everyday,helightsincenseforhimselfandeatscandlesinfrontofhisownancestraltablet.Thevillagersareallte...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.