Tak butuh waktu lama untuk para polisi ngamankan dan nertibkan lokasi. Para penjahat sudah berhasil diamankan dan sedang nuju kantor polisi.
Randika berjalan dengan santai nuju ke mobilnya. Dia rasa hari ini adalah hari yang cerah dan 'olahraga' tadi benar-benar telah mbuat tubuhnya njadi bersemangat.
skipun Inggrid terlihat bingung, dia tidak bertanya apa-apa pada Randika ketika dia masuk kembali ke mobil.
Tak lama kemudian, mobil reka telah tiba di perusahaan Cendrawasih. Keduanya segera masuk dan pergi ke ruangan reka masing-masing. Hari ini, Randika akan ninjau hasil parfum buatan Kelvin dan timnya.
Ketika Randika baru masuk di ruangannya Kelvin, terdengar suara teriakan histeris dari tengah ruangan.
"Imut sekali boneka ini!"
"Hahaha sejak kapan teknologi sudah secanggih ini?"
Ketika Randika berusaha lihat apa yang sedang terjadi, dia terkejut bukan main ketika dia lihat bahwa sumber keributan itu adalah boneka ginseng yang dia cari! Dia benar-benar tidak nyangka bahwa boneka itu akan ada di sini untuk nari!
Iya dia tidak salah lihat, boneka ini benar-benar nggoyangkan pantatnya!
Salah satu bawahannya mutar lagu dan boneka ginseng itu nggoyangkan pantatnya di atas ja. Para ahli parfum ikut nari bersamanya. reka ngikuti irama lagu Lady Gaga Bad Romance.
"I want your love and I want your revenge. You and could write bad romance."
"Oh-oh-oh-oh."
reka benar-benar nghayati lagu ini.
Seluruh ruangan benar-benar riah. Para ahli parfum ini nikmati waktu senggang ini dengan nari sekuat tenaga dan seliar mungkin bersama dengan boneka ginseng.
Boneka ginseng ini justru lebih gila lagi, dia nampilkan beberapa gaya freestyle dan pintar ngatur para kerumunan orang gila ini.
Suasana semakin nggila ketika lagu ncapai Reff. Boneka itu nggoyangkan pantatnya dengan liar dan ditutup dengan headspin.
Randika makin ragu dengan boneka tersebut, yakin dia bukan manusia?
Boneka ginseng ini terlihat seperti orang mabuk. Dia terus-terusan terlihat tertawa. Setelah headspinnya itu, dia seakan-akan berlari ngelilingi ja dan sambil minta tos. Semua orang langsung njulurkan tangannya dan tos dengan boneka yang reka anggap imut itu.
Ketika Kelvin lihat Randika, dia langsung nghampirinya sambil tertawa. "Sesekali berpesta bukanlah hal yang buruk bukan? Berkat boneka itu suasana ruangan njadi riah sejak pagi tadi. Orang-orang nyukainya."
Pada saat ini, boneka ginseng itu noleh ke arah Randika dan ngarahkan pantatnya pada Randika. Dia lalu nggoyang-goyangkannya sambil nepuk pantatnya. Benar-benar suatu provokasi yang micu kemarahan.
Ketika Ares direhkan seperti itu, darahnya benar-benar njadi ndidih. Hari ini dia akan rebusnya hidup-hidup!
Randika berjalan perlahan ke boneka ginseng tersebut. Para ahli parfum yang lihat Randika langsung terdiam.
Boneka ginseng itu juga berhenti dan natap Randika. Tatapan matanya terlihat tertawa dan tangan kecilnya itu dia julurkan, dia ingin bersalaman dengan Randika.
Boneka ini ngajaknya damai?
Randika berusaha raih tangan boneka ginseng tersebut. Tetapi, karena aura mbunuhnya Randika tidak bisa dia tahan, boneka ginseng itu malah loncat. Dia loncat ke lantai dan berlarian ke sana kemari.
Randika langsung nerjang dan boneka ginseng itu loncat-loncat di kepalanya.
Ketika Randika berusaha nangkapnya, boneka itu sudah luncur turun dari punggungnya dan nghilang.
lihat boneka ginseng itu nghilang, Randika makin marah. Kenapa boneka ginseng ini begitu lincah?
"Lihat apa kalian? Cepat kerja!" Teriak Randika setelah ditatap oleh begitu banyak orang.
Beberapa jam kemudian rupakan waktu yang nyebalkan bagi Randika, pikirannya penuh dengan si boneka ginseng itu.
Di tengah kemarahannya, tiba-tiba Randika ditelepon oleh Indra.
Ketika bertemu dengan Indra terakhir kali, Randika mberinya handphone agar adik seperguruannya itu bisa nghubunginya dengan lebih mudah.
"Kakak seperguruan." Suara Indra terdengar bersemangat.
"Kenapa?" Setelah tadi berurusan boneka ginseng, suasana hati Randika masih belum mbaik. Ini pertama kalinya dia tidak bisa raih apa yang ada di depan matanya. Perasaan semacam ini belum pernah dialaminya.
"Kak, coba tebak apa yang barusan aku temukan?" Kata Indra.
"Jika kau ingin bercerita, cepatlah. Aku banyak urusan hari ini." ngingat sifat Indra yang seperti anak kecil, mungkin itu cuma seekor anjing ataupun kucing.
"Hahaha jangan murung begitu dong kak. Aku nemukan bayi yang super lucu. Terlebih, dia mirip sebuah lobak!" Kata Indra.
Lobak? Boneka ginseng!
Randika terkejut bukan main, boneka itu ndatangi Indra?
Jika dipikirkan baik-baik, boneka itu ndapatkan kesadarannya dari esensi bumi dan langit jadi mungkin dia tertarik dengan tenaga dalam Indra yang besar itu?
"Indra, apakah lobak itu mirip sebuah boneka?" Tanya Randika dengan buru-buru.
"Hmm Wah benar juga, kakak seperguruan mang hebat!" Indra tersenyum. "Cepatlah ke sini kak, dia sangat lucu."
"Baiklah, tolong pastikan jangan sampai kau kehilangan boneka itu. Aku segera ke sana."
"Jangan khawatir kak, aku dan boneka ini tidak akan ke mana-mana. Kami sangat akrab."
Setelah nutup telepon, Randika bergegas ke tempat Indra. Akhir-akhir ini, pikirannya benar-benar dipenuhi oleh boneka ginseng tersebut. Karena perkataan kakek ketiga, dia harus ndapatkan boneka itu untuk nyembuhkan tubuhnya.
Tidak lama kemudian, Randika tiba di rumah Indra. Ketika dia masuk ke dalam rumah, suara tawa boneka tersebut langsung nggema di telinga Randika.
Randika tidak akan pernah lupakan suara tawa yang nyebalkan itu.
Randika masuk ke kamar tidur Indra dan lihat boneka itu duduk bersama Indra, saling tersenyum pada satu sama lain.
"Kak, kemarilah dan lihatlah dia!" Indra yang nyadari kehadiran Randika njadi bersemangat.
Boneka ginseng itu natap Randika lebar-lebar dan nirukan suara bayi sambil ngemut jempolnya. Ia kemudian manjat ke pundak Indra dan ncubit pipinya.
"Hahaha imut sekali kan dia kak?" Indra sangat nyayangi boneka itu. Boneka ginseng itu manjat ke kepala Indra dan nggunakannya sebagai kasur.
ngerti bahwa boneka itu ada di kepalanya, Indra njaga agar kepalanya tetap stabil. "Kak, apakah nurutmu aku bisa milikinya?"
lihat bahwa boneka ginseng tampak tertidur, Randika mulai bergerak. Dia dengan sigap nangkapnya dengan tangan kanannya tetapi boneka itu dengan mudah nghindarinya. Di saat Randika njulurkan tangannya, boneka itu sudah lompat ke kasur.
"Kak! Apa yang kau lakukan?" Indra ndadak njadi cemas.
"Sstt diamlah, biarkan aku berkonsentrasi." Randika mulai serius, jika dia tidak bisa nangkapnya hari ini maka lama-lama dia bisa nggila.
lihat Randika yang begitu, boneka ginseng itu bersembunyi di belakang Indra dan nirukan suara minta tolong. Indra natapnya dan lihat bahwa boneka itu nutup matanya dengan kedua tangannya, mperlihatkan bahwa ia terlihat ketakutan.
"Kak, kau nakutinya!" Teriak Indra.
Boneka itu bahkan nggunakan taktik licik seperti itu, benar-benar luar biasa!
Reviews
All reviews (0)