Ketika Randika noleh kearah orang diseberangnya, 'bukankah itu Deviana?' benaknya.
"Wah kebetulan sekali bertemu denganmu." Kata Randika sambil tersenyum pada wanita itu.
Deviana dan petugas polisi lainnya langsung ngamankan lokasi. reka semua natap Randika dengan penuh hormat. Dalam hati reka, reka sudah nganggap orang ini sekutu reka. Para polisi yang sudah ngetahui kehebatan Randika di kejadian balapan liar di gunung kapan hari justru semakin hormat padanya.
"Tanpa bantuanmu hari ini, aku tidak tahu masalah buruk apa yang akan terjadi." Deviana nghampirinya sambil tersenyum.
Pada saat ini, Deviana makai seragam polisinya dan rok pendek. skipun begitu, semua ini tidak bisa nutup kemolekan tubuhnya itu.
"Hahaha ini cuma masalah kecil." Randika lalu tersenyum. "Selama kau ngingat perjanjian kita."
"Janji? Janji apa?" Deviana bingung.
Randika lalu berbisik padanya. "Bukankah kau sudah berjanji kalau aku nolongmu sekali maka aku boleh rabamu sekali?"
Ketika ndengarnya, Deviana tersipu malu. Tetapi dia tidak bisa marah ataupun berkontar di depan teman-temannya.
"Baiklah." Senyuman Deviana itu segera nuhi mata Randika. Dia benar-benar terlihat cantik dengan baju apa pun.
"Kalau begitu." Randika tertawa kecil dan njulurkan tangannya.
Deviana yang lihatnya segera ngambil langkah mundur. "Tapi yang njadi perjanjian kita adalah ketika aku minta pertolonganmu. Kali ini aku tidak minta pertolonganmu jadi bisa dikatakan yang barusan tidak dihitung."
Randika tertawa pahit, dia dari awal sudah tahu trik semacam ini yang akan digunakan Deviana.
lihat wajah Randika yang kecewa itu, Deviana tertawa dalam hatinya. "Lain kali kalau ada kejadian seperti ini kau bisa bekerja keras lagi."
Dengan adanya Randika njaga kota ini, Deviana bisa bernapas sedikit lega karena ada orang yang bisa diandalkannya.
Kedua orang ini terlihat sangat dekat di mata orang-orang. Semua orang yang hadir ncium bau-bau romantis di antara reka berdua.
Hal ini cukup nciptakan gelombang tersendiri di kalangan para polisi ini, khususnya bagi para polisi muda yang nganggap Deviana sebagai Dewi di antara reka.
Hal ini dianggap Kenny sebagai hinaan, kenapa pria itu bisa bersra-sraan dengan pujaan hatinya?
Kenny nggertakan giginya dan berjalan ndekati reka berdua.
"Dev, kita perlu nyelesaikan pekerjaan kita secepat mungkin." Kata Kenny pada Deviana.
"Baiklah."
Ketika Deviana pergi ninggalkan Randika, dalam sekejap senyuman Kenny berubah njadi wajah yang dingin.
"Siapa kamu?" Tanya Kenny pada Randika dengan muka masam.
Namun, Randika tidak mpedulikannya dan pergi ninggalkannya. Orang itu datang-datang sudah berwajah dingin dan arogan seperti itu, mangnya aku hutang uang sama kamu?
"Hei berhenti!" Kenny langsung berteriak.
skipun dia baru bergabung di kepolisian, atasannya muji kinerjanya dan promosi hanyalah masalah waktu bagi dirinya. Semua polisi perempuan nyukai dirinya karena wajahnya yang tampan.
Dengan kemampuannya yang luar biasa dan penampilannya yang tampan mbuat Kenny yakin pada masa depannya. Namun, semua itu tidak terasa lengkap apabila tidak ada pasangan hidup. Dia nyukai Deviana namun, Deviana selalu dingin padanya dan njaga jarak. Kenny tidak mau nyerah dan nganggap keuletan adalah kunci luluhkan hati Deviana.
Tapi hari ini dia lihat pujaan hatinya tersenyum di depan pria lain, mana mungkin hal ini tidak mbuatnya cemburu dan marah?
Tangan kanan Kenny hendak raih pundak Randika tetapi dengan cepat Randika raihnya dan mutar tangan Kenny dengan kuat.
Ketika Kenny ingin lepaskan diri, Randika semakin keras mutarnya dan Kenny hanya bisa ringis kesakitan.
"Sebagai polisi, keselamatan warga adalah yang terpenting." Sesaat setelah Randika lepaskan tangannya, Kenny dengan cepat ngambil langkah mundur. Randika lalu berkata padanya dengan nada dingin. "Jika polisi bertindak atas kepentingan pribadi, aku bisa laporkanmu!"
"Kau!" Kenny benar-benar marah. "Mana mungkin kau bisa disebut warga biasa? Sebagai polisi aku berhak riksa identitasmu, sekarang ikut aku ke kantor!"
"Apa salahnya warga biasa mpunyai keahlian mpertahankan dirinya sendiri?" Randika nggelengkan kepalanya. "Kalian punya senjata, jadi wajar kan kalau aku bisa berkelahi?"
"Aku omongin ya, jangan salahkan orang lain jika kau tidak mampu ndapatkan perempuan yang kau mau. ncuri hatinya itu tergantung pada sikap kita padanya." Randika segera pergi ninggalkannya.
ndengar ceramah Randika justru mbuat Kenny semakin kesal dan marah. Dia nghentakan kakinya dengan keras. "Berhenti!"
Teriakan dan hentakan kakinya itu ngundang perhatian semua orang termasuk Deviana.
Kenny ngeluarkan borgol miliknya dan nghampiri Randika. Tetapi, yang Kenny tidak tahu adalah sosok Randika sudah tidak ada di depannya. Ketika dia kebingungan ncari Randika, ternyata pergelangan tangannya sudah dicengkeram erat oleh Randika. Kemudian Randika ngambil borgol tersebut dan mborgol kedua tangan Kenny di belakang punggungnya.
"Bajingan!" Kenny benar-benar terkejut dan lengah, dia tidak nyangka orang ini sangat cepat.
"Sepertinya kamu cocok njadi polisi di belakang ja deh." Randika tersenyum. "Sayang jika wajah putihmu itu terkena debu dan terlebih lagi kau tidak punya kemampuan fisik yang bagus. Bagaimana rasanya tidak njadi nomor 1 lagi?"
"Cepat lepaskan aku!"
"Hah? Buat apa aku lakukannya?" Randika nghela napas. "Apakah kau rasa bahwa jika borgol itu terlepas kau bisa ngalahkanku? Di depan seekor singa, semut sepertimu bukanlah apa-apa."
"HEI! Apa yang kalian berdua lakukan?" Deviana berlari nghampiri reka. Dia lalu natap tajam Kenny. "Kau ingin mpermalukan pekerjaan kita?"
Kenny hampir muntah darah ndengarnya. Jelas aku yang sedang dipermalukan dan bukannya ndukungku yang rupakan rekan seprofesi, kau justru mbela orang luar ini?
"Randika, kau baik-baik saja?" Tanya Deviana dengan cemas.
Randika terkejut karena tangan Deviana sudah nyeka keringat di wajahnya.
Ah perempuan ini rupanya sudah jatuh pada pesonaku!
Randika tersenyum lihat Deviana yang penuh perhatian ini. Dia lalu lepas Kenny dan ngatakan. "Aku tidak apa-apa, cuma temanmu ini kurang sopan."
"Kenny! Kenapa kau terus ncari gara-gara sama orang lain?" Deviana njadi marah lihat tingkah laku Kenny yang kekanak-kanakan ini. Setiap kali dirinya berbicara dengan orang, Kenny selalu saja nimbrung.
"Ah! Maksudku. Maksudku bukan begitu." Kenny ingin njelaskan tetapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Randika lalu ngatakan. "Dia barusan ngancamku karena aku terlihat dekat denganmu. Bahkan dia ngancam akan mbawaku ke kantor polisi."
Kali ini hati Kenny benar-benar hancur. Penjelasan macam apa yang bisa dia jelaskan?
"Anu itu" Kenny benar-benar tidak bisa berkata-kata.
Deviana natapnya dengan dingin. "Bukan urusanmu aku dekat dengan siapa. Jangan pernah ngajakku ngomong lagi!"
Setelah berkata seperti itu, Deviana sudah malas lihat wajah Kenny dan ninggalkannya. Hati Kenny benar-benar hancur sentara Randika hanya nggelengkan kepalanya dan ikut pergi.
Kenny yang masih terborgol itu hanya bisa jatuh berlutut dan nangis.
Reviews
All reviews (0)