Font Size
15px

Randika dan Inggrid duduk di belakang, hari ini reka makai jasa si supir.

"Omong-omong, bukankah kemarin kamu ngomong kalau mau pergi sentara waktu?" Tanya Randika.

"Iya." Inggrid ngangguk. "Aku harus mastikan sendiri kelancaran kunjungan bisnis ini."

"Kapan kamu berangkat?"

"Besok." Kata Inggrid sambil riksa buku hariannya.

lihat jadwal kerja Inggrid yang tebal di buku tersebut mbuat hati Randika sedikit sedih lalu dia berkata sambil gang tangan Inggrid. "Jangan terlalu keras bekerja, yang terpenting adalah kesehatanmu."

lihat kekhawatiran di mata Randika, hati Inggrid terasa hangat dan dia pun ngangguk.

Pada saat ini, mobil reka tiba-tiba ngerem.

"Kenapa?" Tanya Randika.

"Maaf tuan, sepertinya ada kecelakaan di depan. Semua mobil berhenti dan beberapa ada yang turun."

Inggrid ngerutkan dahinya ketika ndengarnya. Hari ini banyak urusan yang perlu dia kerjakan di kantor, kenapa hari ini justru ada musibah semacam ini? Mau tidak mau dia harus nunggu, karena nyalahkan orang lain juga tidak akan nghasilkan apa-apa.

Randika juga tidak berdaya, setidaknya istrinya ada di sampingnya untuk nghilangkan kebosanannya.

Namun, berkat pendengaran super Randika, dari arah depan justru terdengar suara tembakan.

Apa yang sedang terjadi?

Randika terkejut dan setelah ngamati keadaan dengan baik, orang-orang yang keluar dari mobil itu justru berlarian ke arah belakang. Dia ndapatkan firasat buruk.

"Tunggu di sini dan jangan keluar dari mobil, aku akan lihat keadaan." Randika dengan cepat keluar dan berlari ke arah suara tembakan itu.

Sekitar 150 ter di depan, beberapa orang bertopeng gang erat senapan serbu reka. Di tengah jalan terdapat mobil yang mbawa uang sedang terguling. Kedua pintu depan tampak terbuka dan kedua pengawal yang njaga mobil uang itu tampak terluka.

Dan polisi yang ngawal reka sudah tergeletak di tanah. skipun reka tidak mati, jika keadaan terus seperti ini reka akan kehabisan darah.

Seluruh keadaan benar-benar kacau dan tembakan ada di mana-mana.

Lalu para penjahat itu berhasil lumpuhkan kedua pengawal tersebut dan mulai mindahkan uang tersebut ke sebuah mobil van.

Apabila diperhatikan dengan baik, terlihat 3 mobil nutupi jalan mobil uang itu.

Jelas ini adalah perampokan terencana!

Semua berawal dari ketiga mobil ini tiba-tiba nerobos lampu rah dan nghentikan laju mobil uang itu.

Para pengawal itu benar-benar kesal karena dia hampir nabrak gara-gara tindakan ceroboh ketiga mobil itu. reka ingin maki dan ketika reka keluar, para penjahat itu dengan cepat keluar dan nembaki reka.

Pa pa pa pa!

Rentetan tembakan terdengar dan para pengawal mobil uang dan polisi yang ngawal reka dihujani peluru. TIdak butuh waktu lama bagi para penjahat ini untuk lumpuhkan reka.

Pengemudi-pengemudi yang ndengar suara tembakan itu segera keluar dari mobil dan larikan diri.

"Ah!"

"Tolong ada perampokan!"

Para penjahat ini jelas orang-orang terlatih. Setelah berhasil lumpuhkan semua penghalang, reka dengan cepat mindahkan uangnya ke mobil van reka dan ninggalkan TKP secepat mungkin.

Tapi, tidak jauh di belakang reka terdengar suara sirine polisi.

"Sialan! Kenapa reaksi reka begitu cepat?" Salah satu dari reka dengan cepat njadi serius. nurut rencana reka yang telah reka susun sejak lama, respon para polisi tidak akan secepat ini.

"Sepertinya itu mobil polisi yang patroli di dekat sini. Cepat habisi dia!" Penjahat itu dengan cepat ngeluarkan senjata serbunya dan mbidik mobil polisi tersebut.

"Tiarap!" Polisi yang lihat penjahat itu ngeluarkan senjatanya langsung mbanting setir dan rekannya langsung nunduk.

"Laporkan ini ke markas!"

Bersamaan dengan raungan keras, rentetan peluru kembali terdengar dan nembaki mobil polisi tersebut.

Mobil tersebut dengan cepat penuh dengan lubang dan nepi.

rasa bahwa reka telah berhasil, para penjahat itu tertawa lega.

Tetapi, yang tidak reka kira adalah mobil patroli lain yang nabrak reka dari samping. Hal ini mbuat reka berguling sebanyak 3x.

"Tersangka berhasil dilumpuhkan, laporkan markas lokasi kita dan suruh reka ngirim bantuan sekaligus ambulans."

Polisi itu dengan cepat ngevakuasi dan ngecek temannya yang tertembak sebelumnya.

Di dalam mobil, para penjahat ini cukup terluka. skipun begitu, reka semua masih bisa berdiri dan siap bertarung hingga mati.

"Bagaimana kita akan nghadapinya?" Beberapa penjahat ini mulai tidak bisa lihat jalan keluar. Para polisi sudah lumpuhkan mobil reka dan terlihat 2 mobil polisi sudah ngepung reka. Senjata para polisi itu sudah diarahkan pada pintu mobil van reka.

"Bawa uangnya." Pemimpin reka yang bernama Handoko segera ngisi ulang senjatanya dan ekspresinya njadi serius. "Mulai dari sini kita akan lari."

reka semua berenam dan tas yang ada 15, jadi satu orang akan mbawa satu senapan serbu dan 2 tas yang reka bawa. Ketika reka keluar dari mobil, reka harus segera nembak agar ndapatkan ruang untuk larikan diri.

reka akan nggunakan taktik hit and run, setelah 4 orang berhasil ncapai jarak tertentu maka reka akan bergantian nembak dengan 2 orang yang lindungi reka sebelumnya.

Karena reka unggul dalam hal senjata, para polisi ini tidak akan bisa nahan reka.

"Kak, bagaimana dengan 3 tas sisanya?"

"Lupakan saja, cepat kita keluar!" Teriak Handoko.

Kemudian 2 orang dengan cepat turun dan nembaki sedangkan 4 orang lainnya berlari dengan cepat.

skipun tadi para polisi sudah ngevakuasi tempat tersebut, karena kurangnya orang dan reka juga harus waspada dengan mobil tersangka, masih ada orang yang duduk di mobil reka dan mobil masih lalu lalang lewati reka. skipun reka lihat para polisi itu dan mobil van yang rusak parah, reka hanya nganggap itu kecelakaan dan cuek dengannya.

Setelah rentetan tembakan pertama, barulah reka semua ketakutan dan lari semburat ke segala arah.

Para penjahat ini nggunakan reka sebagai samaran dan nggunakan mobil reka yang tertinggal sebagai perlindungan.

Para polisi yang sedang ditembaki, ngetahui pergerakan para penjahat itu dan maju perlahan sambil terus nghubungi markas.

Inggrid yang masih nunggu Randika di dalam mobil tiba-tiba njadi cemas. Dia lihat begitu banyak orang berlarian ketakutan dan mobil polisi yang banyak.

Apa mangnya yang sedang terjadi?

"Cepat!" Handoko dan teman-temannya mulai nghemat peluru karena reka sudah miliki jarak dengan para polisi. Karena hal ini, para polisi semakin dekat dengan posisi reka dan dia mulai cemas. Jika reka tidak bisa segera ngecoh reka, maka reka akan ngalami pengejaran skala besar.

Cuma gara-gara mobil patroli itu, rencananya benar-benar njadi berantakan.

"Kenapa respon reka cepat begini!"

"Bagaimana ini kak?" Para penjahat ini dengan cepat njadi gugup.

"Tidak ada pilihan lain, culik dan sandera orang lain!" Handoko tahu bahwa ini adalah satu-satunya cara agar reka semua bisa selamat.

Selama dia miliki sandera, para polisi tidak akan bertindak gegabah.

ndengar saran kakak tertuanya ini, reka dengan cepat ncari dan narik orang yang masih duduk di mobil reka.

Di sisi lain, para polisi sepertinya ngetahui niatan reka dan mpercepat laju reka sambil masih waspada.

Sambil nyembunyikan senjatanya, salah satu penjahat itu ngetuk jendela orang yang masih di dalam mobil.

Ketika jendela mobilnya diketuk, pengemudi itu ingin mbuka jendelanya dan bertanya ada apa dengan keributan di luar ini. Tetapi ketika dia mbuka sedikit jendelanya, tiba-tiba penjahat itu ngeluarkan senjatanya dan nodongnya.

Prang!

Penjahat itu berusaha cahkan kaca jendelanya!

Setelah beberapa kali ncoba, akhirnya kaca tersebut pecah dan dia berkata sambil nodong. "Keluar dari mobil!"

Pengemudi itu ketakutan dan nurutinya sambil getaran.

Namun, pada saat ini, bahu si penjahat itu ditepuk dan dia pun noleh.

Ternyata itu adalah sebuah tinju yang layang tepat ke arah wajahnya!

Dalam sekejap, hidungnya patah dan dia jatuh kesakitan. Ketika dia mulai sadar dari kesakitannya itu, dia lihat bahwa penyerangnya berdiri di hadapannya.

Dengan cepat, penjahat ini raih senjatanya dan sebelum dia dapat nembakannya, pria itu layangkan sebuah pukulan lagi ke wajahnya dan dia pun jatuh pingsan.

Randika lalu mpreteli senjata orang tersebut dan berkata pada pengemudi yang ketakutan itu. "Duduklah dan tiarap sampai keadaan mbaik."

Dengan cepat dia masuk ke dalam mobilnya dan Randika berjalan nuju ke 5 penjahat lainnya.

Ketika Randika berusaha nghampiri salah satu dari reka, orang tersebut nyadari Randika dan mbidiknya.

"Berhenti!"

Namun, Randika dengan cepat njadi gumpalan asap. Ketika senjata itu diarahkan padanya, dia sudah bergerak dan lesat tepat di hadapannya dan ncengkram pergelangan tangan orang itu!

Randika dengan kuat remasnya hingga remuk dan mukulnya hingga pingsan.

Setelah mpreteli senjatanya, Randika kembali nghampiri yang lain.

nyadari teman yang di depannya nghilang, salah satu penjahat dengan waspada ngawasi sekelilingnya. Ketika dia mperhatikan sekelilingnya dia tidak nemukan apa-apa, tetapi tiba-tiba terlihat bayangan dari belakangnya.

Dia terkejut dan langsung noleh, namun tinju Randika sudah layang dan dia terpental hingga nabrak sebuah mobil.

Randika dengan cepat nutup mulutnya itu agar teman-temannya yang lain tidak nyadarinya. Setelah mbuatnya pingsan dan mpreteli senjatanya, Randika kembali nghampiri yang lain.

Dalam sekejap Randika berhasil numpas tiga orang. Dia lalu natap ketiga orang sisanya yang berkumpul njadi 1.

"Sialan, mana bocah-bocah itu pergi?" Handoko nunggu ketiga bawahannya itu mbawa sandera sambil berlindung di balik mobil.

"Kak, kita harus pergi dari sini!" Kata salah satu penjahat.

"Kenapa kalian buru-buru?" Tiba-tiba di arah samping mobil reka berlindung terdengar suara.

Ketiga orang ini terkejut dan ngangkat senjata reka. reka dengan cepat nembak ke Randika tetapi usaha reka ini sia-sia.

Randika benar-benar terlalu cepat. Dalam sekejap dia sudah lompat dan berada di tengah-tengah reka.

Handoko tiba-tiba rasa punggungnya patah dan dia pun hanya bisa jatuh tersungkur. Dan ketika kedua bawahannya itu lihat Handoko terjatuh, hal yang reka ingat hanyalah sebuah kaki yang layang ke wajah reka.

Ketika salah satu dari reka ingin lawan balik, Randika hanya natap balik dan nghajarnya sekali lagi. Dengan begini misinya telah selesai.

Setelah mbereskan keenam penjahat ini, Randika sudah ingin balik ke mobilnya. Namun, para polisi yang ngejar para penjahat ini berhasil ngejar dirinya dan terkejut lihat para penjahat ini sudah jatuh pingsan.

Pengemudi yang tadi diselamatkan oleh Randika sudah rekam semua kejadian ini. Dia ingin ngirimkannya ke dia sosial, siapa tahu videonya akan viral dan cerita ini diangkat njadi film Hollywood. Aksi orang itu benar-benar hebat!

Ketika baru berjalan beberapa langkah, terdengar suara perempuan yang lembut manggilnya. "Randika!"

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 90: Aksi Ala Hollywood on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.