Ketika Randika naik ke lantai 2, dia bertemu dengan Inggrid yang hanya berbalutkan handuk. Sepertinya dia sedang ngambil hair dryer di kamar Hannah.
Hanya sebuah handuk yang nghalangi dirinya lihat tubuh bahenol dan sexy itu. Tetapi, justru pemandangan seperti ini miliki sisi erotisnya tersendiri dan mbuat Randika tersenyum lebar. Apalagi Inggrid sangat wangi sekali, Randika makin suka.
Karena dia dan Viona telah diganggu 2x, mungkin Tuhan ingin nebusnya agar dia bisa bermain dengan Inggrid.
"Istriku yang cantik baru selesai mandi ya." Randika luk Inggrid dari belakang.
"Hei jangan pegang-pegang." Kata Inggrid dengan nada dingin, tetapi dia tidak semarah seperti dulu. Sepertinya dia sudah terbiasa dengan kegenitan Randika.
"Hahaha salahmu karena kau begitu nawan." Randika nghirup dalam-dalam di leher Inggrid dan Inggrid natapnya tajam.
Tangan Randika semakin tidak sabar. skipun terhalangi handuk, Randika bisa rasakan kelembutan kulit Inggrid yang begitu luar biasa, dan dia benar-benar tahu bahwa istrinya ini tidak makai apa-apa di balik handuk ini.
Ketika ngingat pakaian dalam Viona yang tadi, Randika makin tidak bisa nahan nafsunya.
"Sayang, kau begitu cantik hari ini." Randika lalu nghirup sekali lagi di leher Inggrid dan bermaksud ingin nciumnya.
Inggrid berpikir dalam hati bahwa pria ini lagi-lagi ingin ncabuli dirinya. Dia hanya bisa nggelengkan kepalanya tetapi, dari badan Randika tercium bau parfum.
Ketika Randika ingin nciumnya, Inggrid justru luknya erat. Randika ngira Inggrid malu-malu dan rasa bahwa reaksi hari ini Inggrid lebih imut daripada biasanya.
Inggrid justru ingin mastikan bau apakah yang dia cium itu? Setelah nghirupnya, jelas itu parfum wanita. Dalam sekejap ekspresi Inggrid njadi dingin.
Dengan cepat dia ndorong Randika dan berkata dengan nada dingin, "Dari mana kau?"
Randika terkejut dan berkata sambil tersenyum, "Aku hari ini banyak urusan, petualanganku yang mana yang ingin kau dengar?"
"Sesaat setelah ninggalkan rumah dengan terburu-buru." Inggrid najamkan tatapannya. "Ke mana kau pergi?"
Randika rasa aneh, kenapa tiba-tiba Inggrid bertanya seperti itu?
"Hahaha ternyata istriku ngkhawatirkanku ya?" Randika luk pinggang Inggrid.
"Siapa yang peduli sama kamu?" Inggrid langsung berjalan ke kamarnya. "Terserah kamu mau ngatakannya atau tidak."
"Ah! Maksudku bukan begitu." lihat Inggrid yang segera ninggalkannya, Randika langsung nyusulnya.
"Aku ada urusan dengan salah satu bawahanku Viona, kamu ingat kan sama dia?" Randika dengan cepat raih tangan Inggrid, nahannya agar tidak pergi.
"Urusan?" Inggrid penasaran, tetapi ngingat bau parfum yang nempel itu, entah kenapa hatinya terasa sedih.
"Perempuan muda yang cantik kapan hari itu ya, ada urusan apa kamu sama dia?"
"Aww Istriku ternyata cemburu ya." Randika tersenyum.
"HAH? Buat apa aku cemburu?" Inggrid tersipu malu dan langsung lari ke kamarnya. Dia sudah tidak mau berurusan dengan Randika. Tetapi, ketika dia mbanting pintu kamarnya, Randika sudah berhasil nyelinap masuk.
"Sayang, aku benar-benar tidak ada maksud apa-apa." Randika segera njelaskan. "Aku tidak tahu kalau kamu sudah ndengar kejadian boneka ginseng di perusahaan kita atau belum."
"Sekretarisku yang ngatakannya, aku tidak terlalu mpedulikannya."
"Boneka ginseng itu benar-benar penting bagiku. Viona nemukannya di sekitar perumahannya, mangkanya aku buru-buru pergi nemuinya. Boneka itu benar-benar sulit ditangkap." Randika kembali luk Inggrid dengan sra.
"Baiklah aku percaya sama kamu. Sekarang keluarlah, aku mau pakai baju." Inggrid lihat keseriusan di mata Randika jadi dia mpercayainya.
"Sayang, apakah kau lupa kalau kita itu suami istri? mangnya kenapa kalau kau pakai baju di hadapanku? Aku tidak keberatan lihat tubuhmu yang indah itu." Kata Randika sambil tersenyum. "Kau juga barusan ragukan kesetiaan suamimu, aku harus nghukummu "
Inggrid mulai pasrah nghadapi orang ini dan ketika dia hendak ndorong Randika, Randika justru ngangkatnya dan mbantingnya ke kasur.
Randika dengan cepat nindih Inggrid dan berkata sambil tersenyum nakal. "Inilah hukumanmu hari ini."
Randika dengan cepat ncium Inggrid tetapi Inggrid berhasil nghindar.
"Cepat keluar sana!" Teriak Inggrid.
"Aku tidak akan ke mana-mana sebelum ndapatkan bibirmu yang cantik itu." Randika mulai sedikit kasar.
Ketika Inggrid ingin lepaskan diri, Randika luknya erat dan reka berguling bersama. Sekarang posisi Inggrid berada di atas, di pelukannya Randika.
"Hahaha ternyata kamu ingin di atas?" Randika tersenyum. "Baiklah hari ini suamimu akan nurutimu."
Inggrid tersipu malu ketika ndengarnya. Ketika dia ingin mberontak, handuk di tubuhnya semakin lorot dan ini mbuatnya tidak bisa bebas lawan.
"Kau tidak bisa ke mana-mana."
Randika juga nyadari handuk yang dipakai Inggrid hampir lepas. Senyumannya justru semakin lebar.
"Sayang, karena kau tadi ragukanku maka aku harus mberimu kejelasan bahwa kaulah satu-satunya untukku. Jadi jangan anggap hukuman ini sebagai hukuman, anggaplah ini sebuah pernyataan."
Inggrid semakin terpojok dan ngeluarkan jurus andalannya. "Jika kau tidak lepaskanku, aku akan manggil Ibu Ipah."
"Tidak apa-apa, dia hanya akan ngira bahwa kita sedang bersraan."
Setelah berkata demikian, Randika remas pantat Inggrid. Serangan ndadak ini mbuat Inggrid terkejut dan ngangkat badannya sedikit. Pada saat ini, handuk yang sudah hampir lepas itu akhirnya jatuh karena Inggrid ngangkat badannya.
Inggrid langsung nutup dadanya itu dengan luk Randika dengan erat, tidak ingin Randika lihatnya.
Di mata Randika, pegunungan yang besar itu penyet di dadanya. Benar-benar empuk dan nikmat.
Randika kemudian ngelus rambut Inggrid dan berkata dengan lembut. "Sayang, jangan khawatir. Aku hanya ingin nciummu."
ndengar suara yang lembut itu, entah kenapa hati Inggrid njadi luluh dan nutup matanya. Hari ini Randika terlihat tampan di matanya.
Randika lalu ngangkat dagu Inggrid dan nciumnya. Dalam sekejap, kelembutan bibir Inggrid segera nguasai dirinya.
Hari ini Randika telah berciuman dengan 3 perempuan berbeda. Harus dikatakan bahwa reka semua miliki teknik dan ciri khas masing-masing. Bibir Inggrid benar-benar lembut, berbeda dengan April yang sedikit lebih tebal dan cara berciumnya sedikit liar.
Setelah berciuman beberapa saat, Randika lepas pelukannya dan ngambil handuk yang jatuh itu dan nutupi tubuh mungil Inggrid.
"Selamat beristirahat cintaku." Kata Randika sambil berjalan keluar dan mberi kiss bye.
Inggrid hanya bisa natap linglung ke arah Randika. Dia ingin marah pada pria itu tetapi perasaan hangat di hatinya mbuat dia bingung dengan perasaannya. Inggrid berusaha tidak mikirkannya dan makai bajunya.
..........
Keesokan harinya, ketika Inggrid keluar dari kamar dia bertemu dengan Randika.
"Selamat pagi sayang." lihat Inggrid yang masih makai piyamanya, mbuat Randika berpikir kapan dia akan sekamar dengan Inggrid.
Sedangkan untuk hubungan badan, itu hanyalah masalah waktu. Yang terpenting adalah reka harus tidur sekamar dulu.
Setelah reka berdua sarapan bersama, reka berdua pergi ke perusahaan bersama-sama.
lihat kedua orang itu pergi bersama, Ibu Ipah bergumam pada dirinya sendiri. "Mungkin sebentar lagi aku harus manggilnya tuan."
Reviews
All reviews (0)