Font Size
15px

Randika keluar dari rumah Christina dengan terbirit-birit, dia berlari dengan cepat nuju kamar Viona.

Randika nyadari bahwa pintu yang dia dobrak masih tergeletak begitu saja, dia harus pergi secepat mungkin untuk nghindari masalah.

Di kamar Viona, Randika disuguhkan es teh manis yang sudah dipersiapkan oleh Viona.

"Ran, kamu pasti haus." Kata Viona sambil mberikan gelasnya pada Randika.

"Vi, aku bukan hanya haus tapi juga lapar." Senyuman nakal milik Randika mulai naik kembali.

"Ah? Baiklah aku ambilkan cemilan dulu." Viona lalu berdiri hendak ke dapur untuk mbuatkan cemilan.

"Maksudku aku lapar akan kasih sayangmu, biarkan aku nikmatimu sekali lagi." Kata Randika sambil tersenyum sekaligus nahan tangan Viona agar dia tidak bisa kabur.

"Ran." Wajah Viona sudah tersipu malu. Kata-kata Randika ngacu pada keterusan mon sra reka tadi.

"Vi, tadi kita diganggu di tengah jalan. Sekarang biarkan aku nyelesaikannya." Randika sudah luk Viona dari belakang dan nyebul leher putih Viona yang mulus itu.

"Ran Jangan!" Viona kembali malu.

Randika benar-benar nyayangkan kejadian tadi, kalau bukan karena teriakan Christina itu maka dia sudah bersatu dengan Viona.

"Tidak usah malu." Kata Randika dengan senyuman hangat. "Aku cuma ingin lihat dalaman yang kau pakai."

ndengar kata-kata itu, wajah Viona kembali rah. Mungkin perempuan lain sudah nampar Randika sekaran tetapi, Viona telah berkali-kali diselamatkan oleh Randika jadi sulit bagi dirinya untuk nolak cinta pria ini.

"Kau tidak perlu khawatir. Aku ncintaimu baik dirimu yang polos maupun yang nakal!" Randika sudah berhenti berbicara dan mbiarkan tangannya bekerja. Dia lalu lorot sedikit celana Viona sambil ngatakan. "Khususnya dirimu yang makai G-String."

Viona sudah malu setengah mati, kata-kata terakhir Randika itu nyerang pertahanan terakhirnya. Dirinya mang miliki sifat nakal tetapi selama ini dia tidak punya pasangan untuk lampiaskannya jadi ini pertama kalinya dia rasa didominasi.

"Vi, aku akan mbuka bajumu dulu." Randika lalu ngangkat baju Viona hingga terlepas. Pinggang ramping Viona benar-benar enak dipegang. Beha berwarna hitam itu segera nunjukan kedua gunung yang disembunyikan oleh Viona.

Kulit Viona benar-benar mulus bagaikan sutera. Randika suka ngelus-elus Viona khususnya dadanya yang besar itu!

lihat Viona yang njadi penurut, Randika tidak tergesa-gesa. "Vi, biarkan aku mbuka celanamu lagi. Aku ingin lihat dalamanmu sekali lagi."

Viona makai celana hot pants yang ketat. Paha dan kakinya yang panjang itu sudah lama terpaku di mata Randika.

Tetapi, untuk mon berikut ini Viona tidak mbutuhkan celananya itu.

Randika lalu mangku Viona di sofa dan tangannya yang gang pinggang Viona mulai turun ke kancing celananya. Dia perlahan nurunkan risleting celana Viona itu.

Randika lalu nggunakan kedua tangannya untuk lepasnya secara perlahan lewati paha dan kaki Viona. Viona mbantu Randika dengan ngawang sedikit untuk mpermudah Randika lepaskannya.

"Kita lanjutkan ini di kasur." Randika tersenyum lebar sambil nggendong Viona ke kasur. Selama proses ini, Viona nutupi wajahnya.

Setelah letakkan Viona di kasur, Randika natap puas pada tubuh Viona yang sungguh nawan ini.

Randika sudah terbakar oleh api nafsu, tidak sabar dengan apa yang akan reka lakukan. ngintip dari celah tangannya, Viona mperhatikan tatapan buas Randika tersebut. Dia lalu nutup wajahnya lagi.

"Ran aku malu." Kata Viona dengan suara pelan.

"Tenanglah Vi, aku ada di sini dan kita akan lalui ini bersama." Kata Randika dengan lembut sambil ncium dahinya. Dia lalu berusaha lepas pengait behanya.

Randika sudah berhasil nemukan pengait tersebut dan berusaha lepasnya. Hari ini adalah hari di mana Viona njadi wanitanya.

Klik!

Dok! Dok!

Bersamaan dengan pengait itu lepas, terdengar suara pintu digedor keras dari luar.

Mata Viona terbuka lebar dan ngatakan. "Ran, ada yang nggedor pintu rumah."

Bajingan, bajingan, siapa lagi coba yang ngganggu dirinya?

Randika benar-benar kehabisan kata-kata. Bajingan mana lagi yang berani ngganggu dirinya? Setiap kali mon intim seperti ini ada aja halangannya.

"Sudah biarkan saja orang itu. Mungkin itu cuma anak-anak yang lagi iseng saja." Kata Randika sambil berusaha lepas beha Viona yang sudah tidak terikat itu, sedikit lagi kedua pucuk itu akan terlihat.

Namun, dengan cepat Viona berdiri dan nutupi dadanya. "Aku serius!"

Penolakan ini mbuat hati Randika benar-benar hancur.

"Baiklah kalau begitu." Randika berdiri dan berjalan nuju pintu dengan wajah kecewa.

Ketika dia mbuka pintu rumah, ternyata Christina lah yang lagi-lagi ngganggu dirinya!

"Hmmm? Kenapa kau ngganggu waktuku yang berharga?" Ketika lihat orang itu adalah Christina, Randika njadi marah. "Bukankah kau sudah muak denganku?"

Christina ndengus dingin dan nunjuk pintu rumahnya. "Pintuku kau yang rusaki kan? Cepat perbaiki hari ini!"

"HAH?? Kau manggilku cuma karena itu?" Randika langsung nampar dahinya. "Kau kira aku tukang?"

"Pokoknya itu tanggung jawabmu!" Kata Christina sambil ninggalkan rumah Viona.

Randika benar-benar kehabisan kata-kata.

Setelah mperbaiki pintu Christina dengan ogah-ogahan, Randika kembali ke rumah Viona dan mintanya agar reka neruskan mon intim tadi. Tetapi, Viona nolak lakukannya. Randika benar-benar kecewa ndengarnya.

Hal ini mbuat Randika maki Christina tanpa henti di hatinya. Gara-gara wanita itu, mon sempurna mbuat Viona njadi wanitanya benar-benar telah hilang. Mon yang dia bangun selama ini telah hancur berantakan.

Dengan muka kecewa, Randika hanya bisa berjalan pulang.

Langit sudah gelap dan kota Cendrawasih kembali dihiasi lampu-lampu terang.

Tin! Tin!

skipun sudah gelap, pusat kota ini masih dipenuhi oleh mobil. Serasa tidak mau kalah, para pejalan kaki juga nuhi kedua sisi jalan.

Randika masih berjalan dengan wajah kecewa ketika dia hendak manggil taksi, tiba-tiba ada seorang perempuan muda lewati dirinya.

Randika tidak bisa tidak lototinya, perempuan ini benar-benar cantik!

Perempuan ini berumur sekitar awal 20an dan berambut pirang. Dia miliki wajah yang lonjong dan makai make up tipis, lipstik rah yang cerah, hidung mancung dan alis yang disulam. Dia makai high heels dan rok pendek yang ketat. Sepertinya perempuan ini hendak berkencan.

Mungkin ini adalah semacam penghiburan dari atas jadi Randika tidak segan-segan nikmati pemandangan indah ini.

Setelah lototinya beberapa detik, Randika malingkan wajahnya dan kembali ncari taksi.

Tiba-tiba, terdengar suara teriakan dari samping.

Ketika dia noleh, Randika lihat bahwa perempuan muda tadi telah digiring oleh beberapa orang ke samping gang yang sepi. Salah satu dari reka nutup mulut perempuan itu dengan mulutnya dan sisanya segera mperhatikan sekelilingnya.

Penculikan?

skipun pejalan kakinya yang berlalu sedang tidak terlalu banyak, para penculik itu benar-benar berani beraksi di tengah keramaian.

Randika hanya nghela napas dan mutuskan untuk mbuntuti reka.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 87: Momen Intim yang Dirusak Lagi on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Elven Invasion cover
Trending now

Elven Invasion

Respro ·Action

MagicvsScience HumanvsElves EarthvsForestia MortalvsGod ThisisataleinwhichGoddessLunainordertosaveherplanetandcivilizationstartsainvasiononEarth,Wi...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.