Font Size
15px

Berdiri sambil bermuka muram, Randika nyadari sesuatu dan bergumam pada dirinya sendiri. Kenapa dirinya seperti ngenal suara itu?

Di mana ya dia pernah ndengarnya? Apa ini cuma halusinasinya saja?

Di saat Randika masih tenggelam dalam pikirannya, teriakan itu berganti njadi tangisan.

Dalam sekejap akhirnya Randika sadar, bukankah itu suara Christina?

Dan kalau didengar baik-baik, bukankah suara itu berasal dari samping rumah?

Randika segera keluar dari rumah Viona dan nggedor rumah Christina, namun tidak ada respon.

"Vi, mundurlah." Kata Randika dengan santai, lalu dia ngangkat kakinya dan ndobrak pintunya!

DUAK!

Pintu itu segera copot dan nabrak tembok dengan mudah.

Ketika Randika masuk, dia langsung terkejut dengan apa yang dia lihat.

Christina terlihat nangis sambil mpertahankan celana dalamnya yang dia pakai itu agar tidak dipelorot oleh si boneka ginseng. Boneka ginseng itu terlihat tertawa seperti om-om genit yang penasaran dengan dalaman apa yang dipakai Christina ini.

Randika benar-benar tidak habis pikir, boneka ginseng ini ternyata sum?

"Tolong aku singkirkan benda itu!" Christina tidak nyadari bahwa Randika lah yang masuk ke rumahnya dan berusaha nolongnya, dia yang sekarang benar-benar ketakutan.

"Vi, pulanglah ke rumahmu dulu dan kunci pintumu rapat-rapat." Mata Randika sudah ngunci boneka ginseng itu lekat-lekat. Kali ini dia tidak akan mbiarkannya lolos.

Boneka ginseng itu noleh dan tertawa ke arah Randika. Dia lalu berlompat-lompat hingga naik di atas ja dan tersenyum ke arahnya. Sepertinya dia nantang Randika.

"Kali ini kau tidak bisa lari!" Tatapan mata Randika njadi serius dan nerjang maju. Di tangannya, dia gang sepatu yang ada di pintu masuk dan lemparnya!

Boneka ginseng ini sangat lincah jadi satu-satunya cara adalah nangkapnya di udara.

"Hei bukankah kau yang tadi pagi?" Saat Randika nerjang maju, Christina akhirnya sadar bahwa pria ini adalah pria yang ditemuinya tadi siang.

Randika tidak mpedulikannya, perhatiannya benar-benar terfokus pada boneka ginseng.

Boneka ginseng itu lihat sepatu yang layang ke arahnya, dia hanya tersenyum. Ia kemudian njulurkan tangannya dan nangkap sepatu tersebut, karena sepatu itu tidak nuhi seleranya maka dia langsung mbuangnya.

Pada saat ini, Randika sudah sangat dekat. Randika loncat dan nangkap boneka ginseng itu dengan kedua tangannya. Sayangnya, boneka ginseng itu lompat dan manjat lengan Randika sampai ke atas bahunya sambil tertawa.

Randika langsung bereaksi dan berusaha nangkapnya tetapi si boneka ginseng lakukan salto di udara dan ndarat dengan indah di lantai.

Boneka ginseng ini benar-benar terlalu lincah.

Randika tidak mau nyerah, sekarang permainan kejar-kejaran ini libatkan seluruh pelosok rumah.

Boneka ginseng ini tidak henti-hentinya tertawa ketika setiap usaha Randika itu gagal. Randika juga tidak bisa terlalu nggunakan kekerasan untuk nangkapnya, bagaimana kalau boneka ginseng ini mati dan khasiatnya hilang? Jadi dia hanya bisa nangkapnya dengan hati-hati.

Sekarang, boneka ginseng itu loncat-loncat di tempat tidur. Sepertinya dia nyukai kasur empuk itu.

Saat itu juga Randika tahu inilah kesempatan terbesarnya. Dia nunggu lompatan tertinggi dan langsung loncat maju. Sayangnya, usahanya benar-benar sia-sia.

Kali ini boneka ginseng tersebut nggunakan tangan Randika sebagai pijakan dan ndarat di kepalanya. Dia nginjak-injak kepala Randika dengan girang sambil tertawa.

Kalau aku berhasil nangkapmu, aku akan benar-benar rebusmu!

Randika berdiri dan boneka ginseng itu segera loncat turun. Ia lalu noleh ke belakang dan tertawa ke Randika.

Randika sudah nyalurkan tenaga dalamnya ke kakinya yang mbuatnya bisa berlari secepat angin. Tetapi, boneka ginseng ini jauh lebih cepat dan Randika sama sekali bukan saingannya.

Apakah ini esensi sejati dari bumi dan langit?

Randika hanya bisa bersedih ketika sosok boneka ginseng itu nghilang kembali tanpa jejak.

Boneka itu benar-benar berengsek, ia nganggap dirinya ini hanya sebuah lelucon. Ares sang Dewa Perang ini benar-benar direhkan.

Setelah boneka ginseng itu nghilang, suasana rumah njadi hening.

Christina yang ngintip dari pintu nghampiri Randika, "Makhluk apa itu barusan?"

"Bisa dikatakan dia makhluk supernatural." Randika nghela napas. nangkapnya benar-benar sebuah ujian.

"Makhluk supernatural?" Christina terkejut. skipun dia awalnya tidak percaya tetapi penjelasan itu mungkin masuk akal baginya.

"Jangan khawatir, makhluk itu tidak berbahaya. Tapi cuma sedikit jail saja." Randika duduk di kasur dan tersenyum. "Aku tidak nyangka akan bertemu denganmu lagi secepat ini."

Muka Christina segera njadi jelek. "Jangan mbual seperti ini semacam takdir atau apa, ingat caramu nggodaku tadi benar-benar buruk!"

"nggodamu?" Randika terlihat bingung. "Kapan aku nggodamu?"

"Kau!" Christina njadi marah. "Tadi siang kau ncari alasan untuk berbicara denganku bukan? Caramu nggoda juga benar-benar biadab!"

"Maksudmu tentang operasi pembesaran dada?" Randika nghela napas. "Christina sepertinya kau salah mahaminya. Operasi pembesaran dada itu tidak ada hubungannya denganku nggodamu. Kau benar-benar mbutuhkannya, itu pendapatku dari sudut pandang seorang dokter."

"Terserah! Sekarang cepat kau keluar dari sini!" Ekspresi Christina masih marah-marah.

"Bukankah barusan aku nolongmu? Sekarang kau marah-marah ngusirku, apakah itu caramu untuk berterima kasih?" Randika selalu lakukan sesuatu dengan harapan imbalan.

"Ini rumahku dan aku punya hak untuk ngusirmu!" Katanya dengan nada dingin.

"Sudahlah jangan marah-marah." Randika lalu rebahan. "Biarkan aku istirahat dulu."

Christina benar-benar tidak habis pikir dengan orang ini. "Kalau aku bilang keluar ya keluar!"

Randika berdiri dan nghampiri Christina.

"Kau apa yang kau lakukan?"

"Aku ingin mbuktikan sesuatu." Randika lalu berbisik padanya. "Aku ingin mbuktikan bahwa kau juga seorang wanita!"

Dalam sekejap, Randika luk erat Christina dan nciumnya!

Untuk perempuan keras kepala semacam Christina, Randika mulai malas berdebat dengannya. Christina bilang bahwa dia nggodanya, jadi dia langsung nunjukan bagaimana caranya dia ndapatkan hati wanita yang sebenarnya!

Christina benar-benar terkejut. Tiga detik pertama dia terpana dengan kenikmatan yang dia rasakan tetapi, tiga detik setelahnya dia baru sadar akan situasinya dan lawan mati-matian.

"Hm, Hm, Hm!" Christina mulai berteriak dan lawan mati-matian. Dia ingin ngatakan pada Randika untuk lepaskannya tetapi bibir Randika dengan sempurna nutupi suaranya.

Christina terus mukul-mukul dada Randika, tetapi bagi Randika itu hanya bagaikan gigitan semut. Terlebih, Randika gang erat leher Christina jadi dia tidak bisa ke mana-mana.

Berada di bawah serangan gigih Randika, Christina mulai khawatir. Selama ini dia nggertakan giginya, nahan serangan lidah Randika yang intens. Sepertinya pria ini ingin mpertemukan kedua lidah reka.

Dasar pria bajingan! Tatapan mata Christina benar-benar tajam.

Tiba-tiba, Randika berteriak kesakitan dan lepas Christina dari pelukannya. Ternyata bibirnya telah digigit olehnya.

"Keluar dari sini!" Christina mulai ngambil barang-barang di dekatnya dan lemparnya ke Randika.

"Hei santai saja! Itu cuma ciuman biasa!" Kata Randika dengan santai. Namun, Randika lihat bahwa Christina neteskan air mata.

Ciuman pertama?

Mustahil, untuk seumuran Christina dia baru pertama kali berciuman?

Randika dengan cepat mbuang pemikiran ini, karena mustahil bukan?

"Cepat pergi!" Christina benar-benar sudah naik pitam.

"Oke, oke, aku keluar. Jangan lempariku lagi."

Ketika Randika sudah pergi, tangisan Christina semakin njadi-jadi. Kenapa pria itu lakukan semua itu padanya?

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 86: Aku Ingin Membuktikan Sesuatu on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.