Font Size
15px

"Boneka itu adalah boneka ginseng. Guru ketiga ngatakan bahwa boneka itu bisa nyembuhkan penyakitku." Kata Randika pada Indra dengan nada nenangkan.

"Maksud kakak adalah kau ingin makannya?" Mata Indra terbelalak.

"Tentu saja tidak." Ekspresi Randika benar-benar terlihat serius. "Aku hanya mberikannya pada guru ketiga."

"Apa yang akan dilakukan guru ketiga dengannya?" Indra luk boneka ginseng itu. Boneka itu tampak nikmati pelukan hangat Indra.

lihat adegan itu Randika njadi tidak bisa berkata-kata. Kenapa bisa boneka itu begitu akrab dengan Indra? Seharusnya ia sangat waspada terhadap manusia.

"Aku kurang tahu ngenai itu. Aku yakin guru ketiga akan nanganinya dengan baik." Kata Randika.

"Kak. Kau bohong padaku. Guru ketiga jelas akan mbuatnya njadi obat-obatan." Kata Indra dengan nada serius.

Bajingan, sejak kapan Indra njadi bisa berpikir? Dia njadi pintar di saat yang tidak tepat.

"Indra, tubuhku benar-benar terluka. Boneka itu adalah satu-satunya kesempatanku untuk sembuh." Kata Randika dengan tulus. "Dengan begitu barulah aku bisa bertarung sekuat tenaga."

"Kak, kenapa kau perlu bertarung sekuat tenaga? Kau sudah sangat kuat sekarang." Tanya Indra.

"Karena selalu ada orang yang ingin nyakitiku. Aku tidak bisa lindungi diriku setiap saat." Randika lalu natap Indra lekat-lekat. "Berikan boneka itu padaku."

"Kalau begitu aku akan lindungimu! Kau tidak perlu boneka ini." Indra kemudian letakan boneka itu di pundaknya. Boneka ginseng itu terlihat tertawa dan duduk dengan santai di pundak Indra, ia sama sekali tidak takut terhadap Indra.

ndengar kata-kata Indra itu, Randika njadi sedikit marah di dalam hatinya.

"Apa kau masih nganggapku kakak seperguruanmu?" Randika pura-pura njadi marah. "Apa kau sudah lupa kata-kata guru sebelum kau ninggalkan gunung? Kau harus ndengarkanku selama kau ngikutiku. Dan sekarang kau berani lawan kakak seperguruanmu?"

Indra nggelengkan kepalanya. "Aku hanya ndengar kata-kata bijak kakak saja."

Bajingan! Dia jadi pintar bermain dengan kata-kata.

Randika sudah hampir gila, dia serasa ingin nguliti Indra hidup-hidup.

"Kak, kenapa mukamu njadi seperti itu? Apakah kakak kebelet eek?" Tanya Indra.

Ya tuhan, kenapa dia njadi polos kembali?

Randika dengan cepat berpikir keras jawaban apa yang cocok untuk Indra. Dia harus yakinkan Indra untuk nangkap boneka itu. Karena Indra sangat akrab dengan boneka tersebut, dialah satu-satunya harapan bagi Randika.

"Kak, coba lihat boneka ini sekali lagi." Indra ngambil dan naruh boneka ginseng itu di tangannya. "Bukankah dia sangat lucu?"

Lucu?

Boneka sum dan licik seperti ini lucu?

Randika sudah hampir muntah darah. Baiklah, adik seperguruannya ini telah nang.

Randika nghela napas dalam-dalam. Tiba-tiba, boneka ginseng itu manjat ke pundak Randika dan sambil tersenyum ncubit pipinya.

lihat tindakan boneka ini, Randika tahu bahwa boneka ini sedang ngejeknya.

"Terus mau kau apakan boneka ini?" Tanya Randika.

"Aku ingin liharanya dan natap keimutannya setiap hari." Kata Indra sambil tersenyum.

liharanya?

Randika terkejut, dia lalu natap Indra dengan bingung. Adik seperguruannya ini ingin lihara boneka ginseng seperti anjingnya?

Tetapi setelah dilihat-lihat, reka berdua mang miliki sifat yang sama.

Boneka ginseng itu kembali manjat pundak Indra dan luncur dari punggung Indra ke kasur. Ia terlihat bahagia sekali.

"Kak, aku rasa luka di tubuhmu bisa sembuh oleh waktu. Sedangkan boneka ini adalah makhluk bernyawa, guru selalu ngingatkanku untuk nghargai seluruh makhluk hidup." Indra lalu natap Randika dengan serius. "Jadi kak, aku mohon kakak tidak akan nangkap boneka ini lagi."

Kau ingin aku nyerah?

Randika nampar dahinya keras-keras, dia tidak nyangka Indra akan ngajarkannya tentang moral. Dia benar-benar sudah belajar caranya mberontak.

"Baiklah, aku tidak akan berusaha nangkapnya lagi." Randika lalu lirik boneka ginseng itu dari sudut matanya. Dia lihat boneka itu sedang asyik berlompatan di kasur, Randika benar-benar ingin nerjangnya dan nangkapnya di udara.

"Kakak seperguruan mang pengertian! Aku benar-benar nghormatimu." Indra terlihat senang. "Sekarang aku lapar, aku akan mbawanya ncari makan bersamaku."

Ah?

Randika berdiri mbeku beberapa saat, lalu dia hanya bisa tersenyum pahit. "Kalau begitu aku akan ikut denganmu."

Dia lalu natap boneka ginseng tersebut. Dia harus mikirkan cara untuk nangkapnya tanpa diketahui oleh Indra.

reka bertiga lalu pergi bersama-sama. Boneka ginseng itu duduk dengan manis di pundak Indra, kedua pasangan ini terlihat nggemaskan. Semua pejalan kaki yang lihatnya tersenyum olehnya, bahkan beberapa perempuan berteriak histeris lihatnya. reka benar-benar nganggapnya nggemaskan.

Boneka ginseng itu sepanjang jalan terlihat tersenyum setiap saat, dia sepertinya nikmati dunia manusia yang narik ini.

"Kau mau makan apa?" Indra bertanya pada boneka ginseng. "Ah, aku lupa kalau kau tidak bisa berbicara."

"Kalau begitu bagaimana kalau nasi padang?"

Indra mutuskan apa yang ingin dia makan. Randika hanya bisa ngikutinya dengan wajah sedih.

Pada saat ini, tiba-tiba dari belakang reka terdengar suara yang manggil reka. "Berhenti!"

ndengar suara itu, Randika dan Indra berhenti berjalan dan noleh ke belakang. reka terkejut karena seorang perempuan paruh baya yang berpakaian wah ternyata yang manggil reka.

Tante-tante ini terlihat gemuk dan jari-jarinya dipenuhi cincin. Belum lagi pakaian yang dia pakai serasa bisa robek kapanpun karena perut yang gemuk itu.

Yang paling mbuat tante ini ncolok adalah lipstik yang tebal, kalung berlian yang dikenakannya dan kedua pengawal yang ada di belakangnya. Para sobat miskin akan minder dan nangis di bawah aura orang kayanya ini.

Mata Vero, si perempuan kaya gemuk itu, segera terkunci pada boneka ginseng yang ada di pundak Indra.

"Apa itu yang ada di pundakmu? Akan kubeli dia!" Vero benar-benar ngatakannya dengan arogan. Dia tidak nganggap kedua orang lainnya, dia hanya tertarik dengan boneka ginseng tersebut.

"Benda itu sangat ncolok dari manapun kau lihat. Aku akan mbawanya untuk njadi koleksiku." Nada Vero terdengar nyebalkan. Tetapi, Randika dan Indra tidak mpedulikannya dan berjalan pergi dari sana.

Vero berdiri linglung, terkejut karena dirinya dicuekin. Dia lalu rasa malu dan marah.

"Kak, kenapa kita ninggalkan orang itu?" Wajah Indra terlihat bingung. Barusan Randika narik paksa Indra dan bergegas ninggalkan perempuan kaya itu. Hal ini mbuatnya bingung.

"mangnya kau ingin njual boneka yang ada di pundakmu itu?" Tanya Randika dengan santai.

"Tentu saja tidak!" Indra dengan cepat nggelengkan kepalanya.

"Kalau begitu percayalah padaku, orang tadi berniat mbeli boneka ginseng itu. Dan dari cara bicaranya saja dia sudah terlihat seperti orang sombong, apakah kau tidak kesal ndengarnya?"

"Sedikit." Indra mulai mahami apa yang dikatakan Randika. "Tapi guru ngajarkanku bahwa jangan sembarangan nghajar orang, jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa."

Sepertinya Indra kembali njadi dirinya yang rupakan orang pedesaan lagi.

"Hei! Kalian tidak ndengarku tadi? Aku ingin mbelinya!" Suara Vero masih dapat terdengar dari belakang, dia berlari nghampiri Randika dan Indra. Randika sudah malas untuk noleh dan tetap berjalan.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 93: Aku Akan Memeliharanya on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

On the Path to the Great Dao cover
Trending now

On the Path to the Great Dao

Pig Nerd ·Action

【Fromtheauthorof''!】Mygrandfatherisverypeculiar.Everyday,helightsincenseforhimselfandeatscandlesinfrontofhisownancestraltablet.Thevillagersareallte...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.