Font Size
15px

Elva dan Randika berjalan sekitar 2 nit nuju suatu tempat terpencil. Di sisi jalan, ada sebuah mobil parkir. lihat sosok reka berdua yang ndekat, orang di dalam mobil segera turun.

Dengan rambutnya yang bergelombang, muka yang serius dan kacamata bulat yang ncolok mbuat perempuan ini miliki citra seorang profesor.

lihat perempuan ini, Randika sedikit kaget namun dia segera tenang kembali. Dia sudah lama tidak lihat sosok orang ini.

"Apakah kamu Safira?" Randika mang ngenal orang ini sejak lama tetapi dia telah lupa dengan wajah Safira dan dia pun khawatir Safira tidak ngenal dirinya.

Elva yang ngatur pertemuan ini hanya berdiri dengan tenang di samping sambil mperhatikan reka berdua.

"Iya ini aku sendiri dan kamu adalah?" Safira nyipitkan matanya sambil lototi Randika, berusaha ngingat siapakah orang tersebut.

Kedatangan Safira hari ini juga patut dipertanyakan. Dia adalah anggota dari Arwah Garuda yang identitasnya sangat dilindungi. Safira bahkan jarang keluar dari markas karena pekerjaannya sebagai dokter organisasi. skipun begitu, kadang ada situasi ndesak yang perlu dia tangani sesegera mungkin.

Oleh karena itu, hari ini Safira terlihat sedikit penasaran sekaligus bingung. Siapa orang yang minta bertemu dengannya dan bagaimana bisa orang ini ngerti bahwa dia adalah salah satu anggota Arwah Garuda?

Randika tidak njawab pertanyaan Safira, malahan dia ngeluarkan sebuah kalung dan mberikannya kepada Safira.

"Kalau kamu lihat bagian dalam kalung ini, kamu akan ngerti."

Kalung ini terlihat biasa-biasa saja, tetapi di bagian dalam kalung terdapat ukiran 'R&S'. Orang-orang mungkin akan lihatnya dengan tatapan biasa saja namun Safira lihatnya dengan ekspresi serius.

Kalung ini mau berapa kali Safira teliti terlihat asli dan pada akhirnya dia ngeluarkan kalung yang dia pakai. Bentuk yang sama dengan ukiran yang sama. Sudah pasti dia adalah orang itu!

"Kamu adalah kak Randika?" Kata Safira sambil ragu-ragu.

"Kenapa? Kamu lupa dengan wajah kakakmu sendiri walau sudah 10 tahun tidak bertemu?" Saat Randika ngatakan hal ini, Safira sudah berlari untuk luknya. Randika terlihat senyum-senyum sendiri ketika rasakan keempukan dada adiknya ini.

Ketika Safira luknya dengan erat, aroma tubuhnya segera terhirup oleh Randika. Untuk sesaat, Randika tidak bisa berpikir dan nikmati mon ini.

"Kak Randika ini benar-benar kamu! Ke mana saja kau akhir-akhir ini? Kenapa kau tidak mberi kabar apa pun? Kakak tahu tidak Safira sudah susah payah ncarimu tahu! Aku sudah ncari-cari di mana pun kau tetap tidak ada dan ternyata kau malah ada di Indonesia dan kakak tetap tidak mberiku kabar apa pun tentangmu!" Safira ngatakan semua hal ini dengan mata yang berkaca-kaca. Setiap kata yang dia lontarkan, nyayat hati Randika.

Randika lalu berpikir bahwa waktu mang cepat berlalu. Sudah 10 tahun dia berkelana dan berpisah dengan adiknya. Ternyata selama 10 tahun ini, adiknya terus mikirkan dirinya.

"Tenangkan dirimu terlebih dahulu. Lagipula, kakek pasti tidak mberitahumu ya? Aku selalu ngabari bagaimana keadaanku dan keberadaanku. Kalau bukan dari kakek, mana mungkin aku tahu bahwa kamu sudah njadi salah satu anggota Arwah Garuda." Berkat kakeknya, Randika ngetahui bahwa Safira berada di salah satu organisasi rahasia di negaranya ini.

Randika juga bukanlah kacang yang lupa pada kulitnya, sesekali dia akan ngabari keluarganya tentang keadaannya dan juga mperoleh informasi dalam negeri.

Saat dia akhirnya pulang ke Indonesia pertama kali, dia tidak segera pulang kampung karena dia tidak tahu bagaimana cara nghadapi 'keluarga' yang dia tinggalkan.

Randika adalah anak yatim yang tidak tahu siapa orang tuanya. Masa kecilnya dia telah dibesarkan oleh beberapa kakek yang tinggal di kaki gunung.

Dia terkadang masih ngingat bagaimana kakek ke-3 mbawa keranjang bambu di punggungnya dan tik tanaman obat di gunung setiap harinya. Setiap kali kakeknya itu kembali ke rumah, dia tidak lupa mbawa makan malam seperti kelinci dan juga buah-buahan yang dia petik selama perjalanan.

Dia juga ngingat kakek ke-4 yang ngajarinya serangkaian angka tidak jelas setiap harinya. Uniknya, sampai detik ini dia masih tidak tahu kegunaan dari angka-angka tersebut.

Randika ninggalkan gunung pada umur 15. Dengan usianya yang muda, dia berharap bisa lihat dunia luar yang begitu luas dengan berbekal pengetahuan yang diberikan oleh para kakeknya.

"Oya? Dasar kakek! Bisa-bisanya dia lupa akan sesuatu yang penting, kalau aku pulang akan aku cabutin jenggot reka satu per satu!" Safira ngatakan semua hal ini dengan nada kesal dan muka yang cemberut.

"Haha Kakek ke-2 belum pernah rasakan amarahmu sama sekali. Ketika kita masih kecil, kakek ke-3 selalu komplain ke kakek ke-2 bahwa dia nyesal telah mbesarkanmu. Dia aslinya kepingin mbesarkanku karena sifatku yang tenang dan tidak nakal. Kakakmu dari kecil mang sudah hebat bukan?"

Randika dan Safira mulai terjebak di kenangan-kenangan masa lalu reka yang indah. mang reka adalah anak adopsi yang telah dibesarkan oleh beberapa kakek di kaki gunung, tapi kenangan masa kecil reka mbuat reka lebih dekat daripada saudara asli.

Randika dibesarkan oleh 2 kakek sedangkan Safira 2 kakek lainnya.

Mungkin pengaturan ini telah dilakukan oleh para tetua itu ketika lihat bakat kedua bocah ini. Kedua kakek yang mbesarkan Randika ahli dalam bela diri sedangkan para kakek yang mbesarkan Safira ahli dalam ilmu pengobatan.

"Seharusnya dia nangis kalau beneran milihmu! Dia kakek yang malas dan tidak mau lakukan pekerjaan rumah sama sekali, terlebih dia juga tidak bisa sama sepertimu. Apakah kalian mau makan serangga dan mati karena kelaparan? Sejak kecil aku semua yang ngerjakan pekerjaan rumah dan masak setiap harinya dan itupun aku masih disuruh beli rokok dan lagi .. " Safira terus ngol tanpa henti.

"Oke oke, aku sudah ngerti bahwa kamulah anak yang terbaik!" Randika terpaksa ngalah, dia tidak nyangka bahwa adiknya ini kadang-kadang bertingkah seperti anak kecil.

Elva yang lihat ini terlihat seperti orang bodoh dengan mulut yang ternganga. Nona Safira di Arwah Garuda dikenal sebagai ratu es karena sikapnya yang begitu dingin. Sekarang, dia terlihat seperti gadis remaja yang manja terhadap pacarnya dan berbicara tanpa henti.

"Hahaha, akhirnya kakak sadar! Omong-omong kenapa kakak manggilku? Apakah ada yang bisa aku bantu ataukah kakak ingin aku nemanimu pulang ke gunung?" Safira tentu sadar bahwa kakaknya tidak mungkin ingin bertemu hanya untuk bertukar sapa, pasti ada sesuatu yang dia perlukan dari dirinya.

"Aku mungkin tidak akan pulang sentara waktu."

"Oh"

Ketika ndengar jawaban kakaknya, entah kenapa wajah Safira terlihat sedikit muram.

lihat hal ini, Randika segera nambahkan "Ahh.. Maksudku sebentar lagi kan sudah bulan Agustus. Bagaimana kalau kita kembali bersama pada waktu itu? Suasana rumah selalu riah ketika mperingati 17 Agustus."

ndengar janji Randika, Safira akhirnya masang wajah gembira. Lagipula bulan Agustus tinggal 4 bulan lagi dan dia juga tidak bisa tiba-tiba ninggalkan markas untuk waktu yang lama. Dengan begini, dia bisa ngatur jadwalnya agar bisa nikmati waktu bersama dengan Randika.

"Kalau begitu, untuk sekarang apa yang bisa kubantu?"

"Jadi begini, aku punya kekuatan misterius dalam tubuhku dan akhir-akhir ini susah untuk dikendalikan. Seingatku kamu telah nguasai teknik akupuntur kakek bukan? Bisakah kamu mbantuku untuk ngobati tubuhku? Aku mang punya obat untuk ngatasi masalah ini tetapi persediaannya mulai nipis dan aku masih belum sempat ndapatkannya kembali."

Randika ngatakan semuanya dengan lugas tanpa nutup-nutupi.

"Oke akan kucoba, sini kuperiksa denyut nadimu terlebih dahulu."

...

Setelah beberapa saat riksa keadaan Randika, wajah Safira terlihat serius.

"Kak bisa kau jelaskan kenapa kau miliki hal semacam ini di tubuhmu?"

Sayangnya, Randika tidak bisa njawabnya karena dia pun tidak tahu ngapa hal itu bisa terjadi. Yang hanya dia tahu adalah kekuatan misterius ini sangatlah kuat.

lihat Randika yang hanya nggelengkan kepalanya, Safira tidak nanyakan hal ini lebih lanjut.

"Teknik akupuntur milikku belum aku pelajari sampai tuntas, tetapi untuk nekan kekuatan misteriusmu ini aku bisa mbantumu. Untuk sekarang mungkin kekuatanmu tidak apa-apa tetapi aku sarankan jangan makai kekuatanmu di luar batas selama 10 hari ke depan. Kalau tidak, kekuatan liar ini akan ledak dan apabila aku tidak ada di sisimu maka kau akan .. "

"Oke tidak apa-apa. Sepuluh hari sangatlah gampang. Oya, aku belum bilang ya? Aku sudah nikah jadi aku tidak mungkin akan berkeliaran di jalan setiap harinya seperti dulu."

Ketika kata nikah keluar dari mulut Randika, ekspresi wajah Safira benar-benar berubah.

"Apa? Kau sudah nikah?"

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 9: Apa? Kamu Sudah Menikah? on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Nightwatcher cover
Similar genre

Nightwatcher

Paperboy ·Harem

Inthisworld,thereis:Confucianism;Taoism;Buddhism,Demons,andMagicians.XuQi’an,a...Readmore Inthisworld,thereis:Confucianism;Taoism;Buddhism,Demons,a...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.