Malam ini dilalui oleh Randika tanpa tidur. Rasa kecewa karena dikhianati dan rasa sakit tubuhnya nemaninya sepanjang malam hari ini. Setiap kali dia jamkan mata, sosok Bulan Kegelapan dan Harimau akan nampak di benaknya. Yang ngusik pikirannya adalah bagaimana bisa reka berdua yang ngaku telah nyerang markasnya, kini sudah berada di Indonesia secepat itu? Apakah mungkin orang yang nghancurkan markasnya adalah ulah orang lain?
skipun Yuna yakin bahwa musuh yang nghancurkan markasnya adalah Bulan Kegelapan, orang tersebut masih ngenakan topeng. Kecil kemungkinannya bahwa Yuna salah nebak identitas orang tersebut, karena Yuna telah bekerja sama dengan Bulan Kegelapan sejak lama.
Jadi Bulan Kegelapan yang dia lawan adalah orang lain?
Secara logika inilah yang paling masuk akal. Tapi wajah lawannya itu benar-benar mirip dan terlebih kecepatan si Bulan Kegelapan yang dia bunuh. Kecepatan seperti itu tidak akan mudah ditiru oleh siapapun di dunia ini. Randika yakin bahwa orang yang dilawannya adalah Bulan Kegelapan.
Randika rasa masalah ini benar-benar tidak masuk akal. Pasti ada suatu petunjuk yang terlewatkan. Sambil mainkan pisau di tangannya, wajah Randika semakin serius mikirkan adegan pertarungan sebelumnya.
Tiba-tiba, dia sadar bahwa ada jejak percikan darah di pisaunya. Darah ini tentu milik si Bulan Kegelapan. Pisau yang dimainkannya adalah pisau yang sebelumnya nancap di tubuh Bulan Kegelapan.
mbunuh? Aku mbunuhnya dengan pisau ini?
Randika mulai mahami kunci permasalahan ini.
Dia tidak mau nyombong, tetapi dalam kondisi terbaiknya mbunuh Bulan Kegelapan bisa dia lakukan dalam 1 detik. Bahkan dalam kondisinya yang seperti sekarang ini, dia masih bisa lakukannya tanpa kesulitan.
Namun, apakah Bulan Kegelapan benar-benar seceroboh itu?
Naoki Moretti dan mafia Italia mungkin tidak miliki pemahaman yang baik ngenai kekuatan dirinya, tetapi apakah Bulan Kegelapan sama seperti reka? Setelah bersama-sama raungi hidup selama 8 tahun, tidak mungkin Bulan Kegelapan tidak ngerti kekuatan sang Dewa Perang.
ski begitu, dia tetap lawan Randika seorang diri. Apakah dia sudah tidak miliki niatan untuk hidup?
Randika juga sangat mahami karakter Bulan Kegelapan. Orang ini adalah orang yang sabar dan penuh dengan skema licik. Hal terakhir yang akan dia lakukan adalah mbahayakan nyawanya sendiri.
Bulan Kegelapan yang dia bunuh nampaknya tidak miliki pemahaman terhadap kekuatannya. Jadi apakah serangan yang dilakukan oleh Bulan Kegelapan terhadap Randika bertujuan untuk mbunuh dirinya sendiri?
'Musuh dalam keadaan lemah, apa pun yang terjadi hari ini aku akan mbunuhnya dengan tanganku sendiri.' Prinsip seperti ini tidak mirip dengan karakter si Bulan Kegelapan. Jadi jelas, Bulan Kegelapan mbuang prinsipnya.
Jadi kunci permasalahan hal ini adalah kematian si Bulan Kegelapan!
Randika akhirnya nemukan inti permasalahannya tapi, entah kenapa, dia rasa bahwa masalah ini masih terlalu tidak jelas. Pada saat ini, matahari sudah mulai terbit dan terdengar pergerakan dari kamar Inggrid.
Randika segera terbangun dan raup mukanya. Ketika dia keluar dari kamarnya, Inggrid juga berada di ambang pintu kamarnya.
Inggrid baru saja bangun. skipun dia sudah cuci muka, muka ngantuknya masih belum bisa hilang. Tanpa adanya riasan, wajahnya masih terlihat cantik alami dan piyama yang dia pakai nambah kesan imut pada wanita cantik ini.
Ketika Inggrid mbuka pintu, dia disambut oleh wajah seorang pria yang sedang natapnya lekat-lekat. Inggrid terlihat panik dan akhirnya sadar bahwa bukankah lelaki ini yang ngikat jalinan perkawinan dengannya?
Apabila Randika miliki kekuatan untuk mbaca pikiran, dia pasti akan sedih. Bagaimana tidak? Istrinya lupakan dirinya, bahkan dia tidak ingat dengan wajahnya.
"Hai istriku yang cantik, kok sudah bangun?" Entah kenapa setiap kali reka berdua bertemu, Randika selalu ingin nggoda Inggrid.
Istri?
ndengar hal ini, Inggrid langsung rinding. Dia kemudian masang muka serius dan mandang wajah Randika dengan wajah yang dingin. "Jaga mulutmu! Aku tidak ingin ndengar kata-kata seperti itu lagi!"
"Lha terus aku harus manggilmu apa? Istriku, kau nampaknya malu-malu kalau hubungan kita diketahui orang. Bagaimana kalau aku manggilmu sayang atau cintaku?" Randika terus nggoda Inggrid dibumbui dengan senyuman.
"Kau! Jangan sampai kau manggilku seperti itu!"
Inggrid rasa bahwa pagi-pagi dia sudah dibuat njadi gila. Dari sejak dia bertemu dengan Randika, perasaan Inggrid selalu buruk. Terlebih, pria ini sungguh tidak tahu malu. Dia benar-benar mbencinya, apakah pria ini tidak bisa lihat hal ini?
"Terus aku harus manggilmu apa? Istri tidak boleh, sayangku juga tidak, bagaimana kalau beruangku yang kecil?"
Setiap kata yang diucapkan Randika berhasil mbuat Inggrid mbenci dirinya. Pria ini benar-benar bodoh atau apa? Bukankah reka hanya njalin kawin kontrak? Kenapa dia berusaha mbuat dirinya kesal terus-terusan?
Inggrid tidak mbalas perkataan Randika dan hanya turun ke lantai 1 begitu saja.
Inggrid rasa percuma berdebat dengan lelaki bodoh itu. Semakin kau berdebat, semakin kesal dirinya. Jadi solusi terbaik adalah ngabaikannya!
"Yuhuu Beruang kecilku yang cantik! Jangan kau lari dari cintaku yang mbara ini. Mari kita nikmati hari ini bersama-sama "
Randika hanya berteriak dari atas dan mberikan kecupan dari jauh sedangkan Inggrid turun dengan tangannya nutup telinganya.
.....
Di lantai bawah, Ibu Ipah sudah mpersiapkan sarapan. Hari ini nu sarapannya adalah roti dan telur orak-arik dan aneka buah-buahan. Inggrid berusaha secepat mungkin makannya. Dia tidak sabar untuk segera pergi ninggalkan rumah dan Randika.
skipun begitu, Inggrid tidak bisa makan dengan cepat. Malahan, dia makan dengan elegan mirip seorang putri kerajaan. Mungkin ini adalah table manner yang telah ndarah daging di tubuh seorang kalangan atas.
Sebaliknya, Randika makan dengan tata krama yang buruk. Dia duduk makan seperti sedang di warung dengan satu kakinya berada di atas kursi. Terlebih dia makan di samping Inggrid.
Jelas dari suaranya, Inggrid nggeser kursinya dan tidak ingin dekat-dekat dengan Randika. Randika pun tidak berkata apa-apa. Dia hanya fokus terhadap makanan yang ada di depannya dan dia sudah tidak sabar untuk segera lahap semuanya.
Untuk sesaat, Randika rasa bahwa di dunia ini hanya ada dirinya dan setumpuk makanan di hadapannya. Dia makan semuanya dengan cepat dan dengan mulut yang terlihat penuh.
"Wow, buah apa ini? Kok empuk sekali?"
Randika yang sibuk ngambil segala macam makanan tidak sadar bahwa dia telah lakukan kesalahan. Aura mbunuh segera nuhi ruang makan kediaman Inggrid ini.
Sadar akan tatapan ini, Randika segera lihat tangannya sendiri. Oh tidak! Ternyata dia salah ngambil buah milik Inggrid yang besar itu!
"Uhuk, Uhuk.. Maaf aku makan terlalu cepat jadi tidak sadar akan perbuatanku. Ahhh, aku kok rasa kenyang ya? Aku akan nghirup udara segar dulu!" Randika pun lari terbirit-birit, takut akan olan Inggrid yang siap landa dirinya.
Lagipula, aura mbunuh yang keluar dari Inggrid sudah sangat pekat jadi kalau dia tidak lari bisa-bisa dia akan dibunuh beneran oleh istrinya!
Sebenarnya, Randika ncari-cari alasan untuk bisa keluar dari rumah. Di depan Inggrid, dia tidak berbicara ngenai masalah yang dia alami. Kemarin, ajakan pernikahan Inggrid benar-benar narik bagi dirinya jadi dia ngikuti pengaturan istrinya itu. Dan sekarang dia rasa bingung, apabila hal ini semua selesai apakah dia akan pergi ataukah akan tetap bersama dengan Inggrid seumur hidupnya? Hal ini mbuat dirinya bingung.
Ketika lihat sosok Randika yang nghilang, Inggrid segera cemberut. Alasan dia begitu sabar terhadap tindakan cabul Randika adalah kejadian semalam yang sedikit lelehkan hatinya.
Inggrid sadar bahwa hidupnya telah diselamatkan oleh Randika. Setidaknya ada kebaikan di dalam diri Randika pikirnya
Inggrid tahu bahwa hubungan reka hanya terjalin berkat kesepakatan reka yang berlandaskan uang. Walaupun itu terdengar salah, apa salahnya miliki hubungan baik di antara reka? Setidaknya Inggrid ingin tetap hidup dengan tenang dan tidak ncolok.
...
Setelah berhasil keluar dari rumah, Randika segera berkeliling di area perumahan. Perumahan ini milik kalangan elit jadi sisi jalan maupun tanaman yang ada sangatlah bersih dan indah. Dia mulai berandai-andai dengan uang yang diberikan Inggrid nantinya dan berpikir bahwa dia akan mbeli salah satu rumah di perumahan ini.
Rumah yang dimiliki oleh Inggrid dekat dengan taman. Di taman ini ada sebuah danau buatan yang indah. Dengan adanya mainan untuk anak-anak dan fasilitas lainnya, mbuat taman ini sangat nyaman dikunjungi.
Ketika dia hendak ndekati taman tersebut, Randika kedatangan seorang tamu yang sedang bersembunyi di balik kegelapan.
"Ohhh, Elva? Wow ternyata kegelapan malam kemarin mbuatku salah nilai figurmu. Ternyata kau miliki tubuh yang elok juga!" Tentu hal ini dikatakan oleh Randika sebagai candaan saja.
Elva yang ndengarnya hanya berkata tanpa ekspresi, "Nona Safira setuju untuk bertemu dengan Anda. Aku akan mbawamu ke tempatnya."
"Aduh semua perempuan rasanya suka ngejarku. Apakah ketampananku sudah legenda di negara ini?"
Hal ini untungnya tidak terucapkan karena kalau sampai terucapkan, entah apa reaksi Elva. Untuk masalah Safira, Randika rasa bahwa hari ini adalah hari keberuntungannya karena dia sangat mbutuhkan bantuannya. Dia hanya cemas apakah Safira masih ngingat dirinya?
Reviews
All reviews (0)