Font Size
15px

Universitas Cendrawasih miliki fasilitas lengkap untuk para mahasiswanya ngembangkan bakat-bakatnya. Mulai dari lapangan basket, sepak bola, badminton, kolam renang, tenis dll.

Karena tidak ada kegiatan apa-apa di kampus, kolam renang pun dibuka untuk umum. Selama pengunjung mbayar dan matuhi aturan, reka bisa berenang dengan nyaman di tempat ini.

Ketika Randika masuk di ruangan kolam renang tersebut, matanya langsung dipenuhi pemandangan indah.

Ya tuhan banyak sekali cewek cantiknya!

reka semua terlihat putih mulus dan cantik. Bikini yang reka pakai dengan sempurna nonjolkan aset-aset reka.

Ketika dia berjalan, dia lihat seorang cewek yang keluar dari kolam renang. Mata Randika tidak bisa lepas dari perempuan tersebut, dia pasti 36D!

Kepala Randika mulai panas, di mana pun dia noleh, dia pasti nemukan cewek cantik lainnya.

"Kak matamu itu lho, malu-maluin saja." Hannah tertawa ketika lihat Randika yang celingak-celinguk.

"Jangan khawatir, kakak sudah biasa." Mata Randika masih tertuju pada kumpulan malaikat itu.

"Setidaknya ganti baju dulu." Hannah kehabisan kata-kata. Mungkin dirinya salah ngajak Randika ke sini, Hannah rasa sedang nuntun serigala ke kandang ayam.

"Baiklah." Randika terpaksa nahan diri dan cepat-cepat ganti baju.

Kemudian, Randika dengan celana renangnya keluar lagi nyambut pemandangan surga ini. Perutnya yang sixpack dan luka-luka yang dia dapat, mberi kesan dia seorang pria penuh dengan pengalaman hidup.

Ketika dia ndekati kolam renang, Randika lihat sekumpulan perempuan cantik yang sedang bermain. Randika lalu masuk ke kolam dan nyapa reka.

"Siang." Para perempuan ini sedang asyik ngobrol dan bermain air dengan gembira dan tiba-tiba ada seorang lelaki yang nyapa reka.

"Pergi sana, kami tidak nerima laki sum di sini." Salah satu dari reka langsung nolak kehadiran Randika.

Teman-temannya tertawa ketika ndengarnya dan berenang njauhi Randika.

Hmmm? Apakah pesonaku sudah hilang? Bukan, bukan, ini pasti suatu kesalahan.

Randika rasa targetnya barusan terlalu tinggi jadi dia berenang ke arah perempuan muda lainnya.

"Hai sendirian aja nih?"

"Wow teknik berenangmu sungguh indah!"

"Wah bikini yang kau pakai sangat cocok untuk dirimu yang nawan ini."

........

Setelah beberapa kali berusaha, Randika keluar dari kolam dan duduk di pinggir kolam dengan wajah cemberut. Semua usahanya gagal dan dia sekarang dipaksa hanya lihat dari samping, sungguh sial nasibnya hari ini.

"Kenapa kak? Apakah reka semua ncuekimu?" Tiba-tiba dari belakang Hannah muncul sambil tersenyum.

Randika noleh dan lihat Hannah juga makai bikininya.

mang adik iparnya ini juga seorang bidadari.

Bisa dikatakan bahwa dia dan Inggrid benar-benar bagai pinang dibelah dua. Dadanya yang besar itu serta kaki putih yang mulus itu berhasil mbuat Randika terpukau. Bikini putihnya mbuat dia bagaikan supermodel dan terlebih senyuman indahnya itu mbuat Hannah njadi wanita tercantik di kolam renang ini.

Kecantikan adik iparnya ini dengan mudah lampaui semua perempuan cantik yang ada di sini.

"Han, kau sungguh cantik." Randika tersenyum hangat.

"Tentu saja!" Hannah mbusungkan dadanya dan loncat ke dalam kolam. Dia berenang beberapa ter tanpa narik napas.

lihat cara berenang Hannah, Randika rasa dia bagaikan putri duyung. Sungguh nyenangkan lihat perempuan itu berenang, mungkinkah adik iparnya ikut klub berenang?

Para lelaki lainnya juga terpaku pada sosok Hannah yang nawan, apalagi lelaki sebaya dengan Hannah.

"Hei Jim, bukankah itu cewek yang kau suka?" Teriak salah satu orang pada temannya.

Jimmy, yang sudah nyukai Hannah sejak dia pertama kali bertemu, segera noleh dan lihat pujaan hatinya itu. Dia dengan cepat njadi malu.

"Wah gadis itu sungguh sexy, aku tidak nyangka ada cewek secantik itu di kampus kita. Jurusan apa ya dia?"

Tatapan mata Jimmy tidak pernah ninggalkan Hannah sedetik pun. "Aku tidak tahu. Aku hanya pernah lihatnya sekali waktu dia berenang di sini."

"Wah cinta lokasi ya?" Temannya itu terkejut.

"Bukan, cintaku hanya sepihak." Jimmy lalu mutuskan untuk berkenalan dengan Hannah, dia harus ndapatkan hatinya.

Bermodalkan sebagai kapten tim renang universitas ini, Jimmy yakin akan bisa ndapatkan hatinya. Setelah reka berenang sebentar bersama-sama, tidak lama lagi reka berdua akan berenang-renang di ranjang.

Namun, Hannah hanya berenang sebentar dan langsung berenang kembali ke pinggir kolam tempat Randika duduk.

"Hmm? Cepat sekali kau keluar?" Tanya Randika.

Hannah hanya tersenyum nakal dan ketika dia keluar dari kolam, dia nyelam terlebih dahulu dan langsung lompat keluar. Hal ini nyebabkan air bermuncratan ke arah Randika.

"Hei! Aku jadi basah lagi kan!" Randika njadi muram kembali.

"Hahaha aku tidak suka lihat kak Randika yang murung seperti itu." Hannah lalu duduk di samping Randika.

Hal ini mbuat Jimmy terdiam, tatapan matanya njadi tajam.

"Aku tidak nyangka bahwa kau pintar berenang, aku sempat berpikir kamu seperti putri duyung tadi." Kata Randika sambil mberi handuk pada Hannah.

ndengar pujian itu, Hannah semakin njadi-jadi. "Benarkah aku sehebat itu?"

"Mana mungkin kakakmu ini bohong? Sudah cantik, kau juga pintar berenang jadi tidak salah jika aku ngiramu sebagai putri duyung." Kata Randika sambil ncuri pandang pada tubuh adik iparnya itu.

Randika aslinya masih belum puas, dia masih rasa kecewa karena ditolak banyak perempuan di sini.

Hannah bisa mahami apa yang mbuat kakak iparnya itu murung, dia lalu natap Randika. "Kak, kenapa kau tidak mau berenang denganku? Sudahlah lupakan saja reka, lagipula kau terlalu tua buat reka."

Kata-kata ini nyayat hati Randika. Sialan, aku tidak setua itu tahu!

Randika dengan cemberut njawab. "Aku kan sudah tua jadi aku hanya akan lihatmu di pinggir saja."

Namun, di saat ini Jimmy nimbrung di percakapan reka berdua. "Ngomong saja kau tidak bisa berenang pak tua."

Randika dan Hannah terkejut ketika ndengarnya. Siapa mangnya kamu?

Ketika Hannah lihat lelaki yang rasa sok ganteng dan hebat itu tersenyum ke arahnya, dia rasa jijik dan malingkan wajahnya. Namun, Jimmy tidak mudah nyerah. "Hei manis, kau ingin berenang bersama? Aku akan ngajarimu beberapa trik."

Sejak jaman dulu, punya kecantikan yang nonjol pasti ndatangkan pria-pria sum seperti ini. Hannah sudah kebal dengan teknik rayu murahan seperti itu.

Ketika Randika mahami niat lelaki itu, dia tertawa dalam hati.

"Tidak butuh, kau tidak lihat aku sedang berbicara?" Hannah rasa orang ini tidak sopan sama sekali.

"Jangan cemberut begitu, nanti cantikmu hilang lho. Aku tadi sempat lihat teknik berenangmu yang cantik itu, aku akan ngajarimu beberapa trik lainnya." Rayu Jimmy.

Lalu Jimmy natap Randika. "Orang tua sepertinya cuma bisa ngajarimu ngapung, percayalah padaku."

Randika terkejut, dia sudah diam dan hanya mperhatikan kenapa dia masih tetap kena? Bocah ini nyari gara-gara mangnya.

"Orang tua seperti dia hanya datang ke tempat ini untuk lirik cewek-cewek dengan mata sumnya, jelas dia aslinya tidak bisa berenang."

Randika masih berusaha tenang dalam hatinya. Dia tidak boleh ledak gara-gara omongan seorang bocah.

Demi mpertahankan martabatnya sebagai yang lebih tua, Randika milih untuk bersabar.

Randika hanya malingkan wajahnya, pura-pura tidak ndengar.

lihat Randika tidak bereaksi, Jimmy semakin njadi-jadi. "Pinggangnya yang rapuh sudah tidak kuat berolahraga keras seperti ini, sudah lupakan saja dia dan berenang bersamaku."

Hannah langsung masang wajah dingin. "Pergi sana, aku selamanya tidak akan berenang bersamamu. Lagipula kau sama sekali tidak sebanding dengannya."

Randika tersenyum, adik iparnya ini pintar mbela dirinya.

Ekspresi Jimmy semakin jijik ketika ndengarnya. "Maksudmu aku yang rupakan ujung tombak klub renang sekolah ini kalah cepat dengan pak tua ini? Aku bahkan tidak perlu mbuka mataku ketika lawannya."

Randika natap tajam bocah itu. Bocah ini lama kelamaan semakin njadi-jadi dan Randika sudah mulai tidak suka dengan sikap sombongnya itu.

Mata tertutup ketika adu renang dengannya?

"Hei bocah, jangan sombong seperti itu atau nanti kau akan malu sendiri." Kata Randika dengan santai.

lihat Randika yang sudah terpancing, Jimmy dengan cepat mbalas. "Apa? Kau ingin adu cepat denganku? Buat janji dulu dengan dokter tulangmu, kita bisa repot nanti nggotongmu ke rumah sakit."

"Ha? Buat apa adu cepat kalau aku sudah tahu hasilnya dari awal?" Randika tertawa, bocah ini sepertinya tidak ngerti siapa lawannya ini.

"Omong saja takut!" Jimmy langsung keluar dari air dan nghampirinya. "Ayo kita bertanding pak tua, kalau kau kalah kau harus berteriak 'aku pria sum' tiga kali di sini."

Kalah?

Randika masih terheran-heran, anak ini percaya diri sekali dengan kemampuannya. "Sudah sana pergi, jangan pernah sok hebat di depan cewek lagi seperti itu. Malu-maluin tahu."

Hannah yang ndengarnya ngangguk setuju, dia rasa bahwa Jimmy adalah pria tidak sopan dan sok tampan.

"Kau!" Jimmy dengan cepat njadi marah dan nantangnya sekali lagi. "Baiklah, kita ganti taruhannya. Siapapun yang nang akan telanjang dan nggonggong sebanyak 5x!"

Jimmy sudah kehilangan akal sehatnya, dia benar-benar ingin nginjak harga diri pria yang rebut pujaan hatinya itu.

Randika lalu njawab dengan muka serius. "Nak, aku sudah mperingatkanmu lebih dari satu kali. Cepat pergi atau kau akan nyesalinya."

"Ngomong saja kau takut, bagaimana pak tua? Berani atau tidak?"

Anak ini benar-benar bajingan ya, Randika sudah hilang kesabarannya.

"Baiklah kalau begitu, jika kau ingin markan burungmu yang kecil itu akan kulayani permintaanmu." Randika lalu berdiri.

"Bermimpilah terus pak tua!"

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 81: Maju Sini Pak Tua on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Tycoon War God cover
Trending now

Tycoon War God

Once Young ·Other

Inhispreviouslife,LinMuwasthetopassassinonEarth.HeaccidentallytraversedtotheEternalImmortalRealm,where,overthespanofeighthundredyears,hecultivatedf...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.