Setelah ninggalkan Deviana dengan wajah yang puas, Randika kembali berpetualang ncari boneka ginseng.
Ketika dia dengan santai berjalan, handphonenya tiba-tiba berdering nyaring. Ketika dia nerima telepon itu, Hannah langsung tawa pecah tepat di telinga Randika.
"Kak! Coba tebak apa yang aku temukan." Hannah terdengar begitu antusias.
mangnya apa yang adik iparnya itu temukan? Mungkin dia sedang bosan dan iseng neleponnya.
"Kakak nyerah, apa mangnya yang kau temukan?" Randika sedang tidak ingin ladeninya, dia sudah ingin cepat-cepat nutup teleponnya.
"Kakak tidak akan mungkin percaya kalau aku bilangi, aku sendiri juga masih tidak percaya!" Hannah masih terlalu bersemangat.
"Han jangan terlalu girang seperti orang gila, tidak elegan tahu. Sekarang cepat katakan apa yang barusan kau temukan." Karena telah ngarungi dunia selama bertahun-tahun, sudah tidak ada yang bisa ngejutkan seorang Ares.
"Baiklah." Hannah nghirup udara dalam-dalam. "Sebenarnya yang nemukannya adalah temanku lalu dia mbawaku untuk lihatnya. Kalau dibilang itu boneka sih bisa saja tapi dia jauh lebih mirip seperti bayi, nah di situ uniknya kami tahu bahwa itu bukan manusia! Kalau aku posting di internet apakah aku njadi viral ya kak?"
Kata-kata Hannah itu segera narik perhatian Randika, bukankah itu boneka ginseng yang dicarinya?
"Aku tidak bisa njelaskan bentuknya secara detail, yang perlu kakak tahu benda itu lucu sekali." Hannah kembali bersemangat. "Tahu tidak, dia bahkan ngikuti kita ke asrama dan nari bersama kita!"
"Bisa kau jelaskan bentuknya?"
"Aku benar-benar tidak tahu kak, tapi kalau kubilang itu mirip lobak yang putih sekali. Masa bodoh, aku akan mposting fotonya di dia sosialku."
Tidak salah lagi, seharusnya apa yang ada di asrama Hannah itu adalah boneka ginseng! Randika tidak nyangka bahwa boneka itu akan nari di asrama perempuan.
"Han, apakah benda itu masih ada di sana?" Randika nahan napasnya, dia tidak boleh lepaskan kesempatan ini lagi.
"Iya."
"Kamu ada di mana sekarang? Boneka itu sangat berarti bagiku, aku harus ndapatkannya kembali." Randika terdengar cemas, dan di saat yang sama, dia sudah berlari nuju Universitas Cendrawasih.
"Oh" Hannah hanya ngangguk dan berpikir kenapa bisa boneka lucu itu penting untuk kakak iparnya?
Universitas Cendrawasih rupakan universitas favorit di kota ini. Berdasarkan salah satu voting, universitas ini masuk dalam kategori universitas yang paling diminati oleh banyak. Mungkin dengan semakin berkembangnya kota Cendrawasih, mbuat orang-orang mulai tertarik untuk tinggal maupun belajar di sini.
Universitas Cendrawasih berada di pusat kota, cukup jauh dari perusahaan milik Inggrid. Tetapi, Randika bukanlah manusia biasa dan dia berlari secepat mungkin. Dia tidak perlu waktu lama untuk dapat tiba di Universitas Cendrawasih.
"Aku sudah di sekolahmu, bagaimana caranya aku masuk ke asramamu?" Randika dengan cepat nelepon Hannah sekali lagi.
"Ha? Kakak sudah ada di sekolahku?" Hannah terkejut. Belum lima nit dia nelepon dan kakak iparnya sudah ada di sini. Bukankah harusnya dia sedang bekerja ya? Bahkan jika dia ngebut dari tempat kakaknya bekerja itu tetap mbutuhkan waktu 20-30 nit.
Hannah masih terdiam di balik telepon sedangkan Randika tidak berhenti berlari. "Hannah, di mana asramamu itu? Aku sudah ada di gedung Bahasa."
"Kakak mau apa?" Hannah langsung tersadar niatan Randika itu. "Kakak mau nerobos masuk asrama perempuan?"
Randika bingung, mangnya kenapa dengan hal itu? Dia yang sudah pernah masuk ke tempat pelacuran harus takut ketika masuk ke asrama perempuan?
"Han, apakah boneka itu masih ada di sana?" Randika berusaha ngembalikan topik pembicaraan. Selama boneka masih ada di asrama, kesempatannya untuk nangkapnya masih besar.
"Barusan saja dia nghilang." Hannah lalu bertanya. "Kak, mangnya boneka itu segitu pentingnya?"
Randika langsung kecewa ketika ndengarnya. Nasibnya benar-benar sedang sial.
Entah kapan dia akan nemukan jejak keberadaan boneka itu lagi.
"Halo kak, kau masih di situ? Apa kakak beneran sudah ada di gedung Bahasa?" Hannah masih penasaran.
"mangnya kapan kakakmu ini pernah bohong?" Randika lalu nggaruk-garuk kepalanya. "Ya sudah, karena boneka itu sudah tidak ada, kakak pulang dulu ya."
"Eh jangan! Kakak kan sudah capek-capek datang ke sini, masa sudah langsung mau pulang?" Hannah lalu berkata sambil tersenyum. "Tunggu di situ 5 nit, Hannah akan nghampirimu."
Randika lalu ngatakan. "Baiklah, aku ada di aula depan ruangan dosen."
"Baiklah, tunggu aku sebentar."
Ketika dia duduk nunggu, Randika baru sadar bahwa punggungnya basah oleh keringat. Dia sudah berlari sekuat tenaga tadi dan hari ini juga panas.
Karena bosan, dia berkeliling di lorong dan mperhatikan perempuan-perempuan muda yang berjalan.
Bisa dikatakan bahwa Universitas Cendrawasih penuh dengan bunga-bunga yang cantik dan nawan. Randika sampai ngiler lihat tubuh-tubuh reka yang bahenol dan sexy, semua perempuan ini akan njadi gadis-gadis yang cantik beberapa tahun lagi.
Saat dia ngagumi perempuan-perempuan itu, seseorang berdiri di hadapannya.
skipun baju dan celananya terlihat formal, dada perempuan itu sungguh besar. Dia mberikan jempolnya terhadap kedua lon itu!
"Kak... sudah cukup." Pemilik dari kedua lon yang indah itu negurnya. lihat kelakuan sum kakak iparnya ini benar-benar mbuat malu Hannah.
Randika lalu naikkan kembali pandangannya dan tertawa. "Hahaha akhirnya kau datang juga. Lalu kita mau ngapain sekarang?"
"Karena kakak sudah capek-capek datang ke sini, aku akan mbawamu keliling kampusku ini." Hannah lalu narik paksa tangan Randika.
"Eh buat apa juga aku keliling gedung universitasmu? Hari ini mataharinya nyengat tahu, nanti kita berdua jadi hitam bagaimana?"
Matahari benar-benar terlihat panas hari ini, bahkan orang bisa gosong kalau berjemur sekarang!
"Oh kakak benar juga." Hannah lalu tersenyum dan noleh ke arahnya. "Kalau begitu, aku akan ngajak kakak untuk berenang."
"Berenang?" Randika terkejut.
"Iya kita akan berenang." Hannah tersenyum dan narik kakaknya itu. "Banyak cewek cantik di sana kak, kau tidak akan nyesal."
Dalam benak Randika sudah berisikan gambaran perempuan-perempuan cantik makai bikini, kumpulan dada-dada besar, kaki dan paha yang mulus-mulus dan terlebih lagi reka semua masih muda!
Ya tuhan apakah itu surga dunia?
"Kak, kau barusan berpikiran sum ya?"
"Ha? Kau pikir kakak iparmu ini hidung belang?" Randika dengan cepat ngusap ilernya. "Aku hanya berpikir mungkin ada benarnya juga kamu ngajakku berenang, tapi aku tidak bisa berhenti mikirkan kakakmu Inggrid. Aku takut dia cemburu nanti kalau cewek-cewek ndekatiku."
"Kalau kakak tidak mau, kita bisa nongkrong di cafe sana saja kalau kakak mau." Kata Hannah sambil tersenyum nakal.
"Ah! Kakak bercanda tadi hahaha. Kakak ingin berenang kok, ayo tunjukkan di mana kolam renangnya!" Randika lalu berjalang dengan penuh semangat.
Reviews
All reviews (0)