Pondok Indah adalah perumahan elit lainnya yang dimiliki oleh kota Cendrawasih. Tempat ini bukan hanya rumah orang kaya, pejabat-pejabat korupsi dan pemilik bisnis illegal tinggal di tempat ini. Bisa dibilang perumahan ini adalah perumahan orang pendosa.
Wajah Randika nunjukkan kejijikan ketika dia ngingat fakta tersebut.
Tanpa butuh waktu lama, tubuhnya sudah njadi gumpalan asap dan nuju rumah N/23.
Jika kau berani nyuruh orang untuk mbunuh, berarti kau sudah siap untuk dibunuh juga.
Sebelum tiba di luar rumah Satria, Randika yang pejalan kaki itu sangat ncolok. Para petugas keamanan nyadari kejanggalan ini dan laporkannya lalui HT. "Lapor! Terlihat target ncurigakan di luar rumah!"
"Laporan diterima!"
Randika masih mperhatikan sekeliling rumah dan nyadari ada beberapa orang yang bersembunyi di balik kegelapan.
Randika lalu nghela napas dan loncat lewati pagar. Tiba-tiba, beberapa petugas dan orang-orang yang bersembunyi itu sudah mbidik Randika dengan pistolnya!
"Siapa kamu!" Salah satu petugas maju dan bertanya.
"Aku ncari seseorang." Kata Randika dengan wajah datar.
"Siapa?"
"Satria, pemimpin dari Perusahaan Galaksi."
Para petugas ini mulai ragu. Pemuda ini terlihat tenang dan jujur tetapi dia sudah loncati pagar rumah tuan reka. Apakah dia tamu atau musuh?
"Siapa namamu? Aku akan laporkannya ke atas." Petugas itu minta Randika tidak bergerak. "Setelah ndapat balasan, kami akan ngabarimu."
"Oh?" Randika sudah malas untuk berbasa-basi. "Namaku Randika, aku orang yang majikanmu cari selama ini. Lagipula, aku bisa nerobos masuk dan ncarinya sendiri kalau aku mau."
"Kau!" Petugas itu hendak mborgol Randika tetapi dalam sekejap Randika nendangnya dengan keras. Orang-orang yang berada di balik kegelapan langsung nembakkan pistol reka.
DOR!
Reaksi reka cepat tetapi Randika lebih cepat lagi!
Sesaat setelah peluru itu lesat, Randika sudah nghilang dan peluru itu terbenam di tanah.
Orang itu nghilang!
Ketika reka semua ncari di mana keberadaan Randika, tiba-tiba matahari tertutup oleh bayangan dan ternyata itu Randika yang loncat tinggi!
Ketika reka noleh ke atas, Randika sudah lemparkan jarum akupunturnya ke arah reka semua.
Semua orang terkejut dan tidak bisa nghindar, jarum itu nancap di dahi reka. Saat itu juga, sensasi terbakar langsung nyebar di seluruh tubuh reka!
"Ah!"
Saat raungan kesakitan ini terdengar, para pengawal yang ada di dalam rumah segera berlari nuju reka. Yang reka lihat hanyalah para petugas keamanan yang telah pingsan dan seorang pemuda yang berdiri di tengah reka.
Tanpa ragu-ragu, para pengawal elit ini segera ncabut senjata reka dan nembakkannya.
DOR! DOR! DOR!
Namun, reka hanya nembak udara kosong.
Apa yang sedang terjadi?
Semua pengawal itu terkejut, reka telah latih keahlian nembak reka setiap saat bukankah harusnya lawannya itu sudah terkapar di tanah?
"Kalian ncariku?" Suara itu muncul di belakang reka. Seketika itu juga reka terkejut karena musuhnya sudah ada di belakang reka!
Saat reka hendak noleh, Randika sudah bergerak kembali. Dengan kedua tangannya itu, dia mukul kedua pengawal dengan sangat cepat dan keras. Keduanya langsung pingsan di tempat.
Di satu sisi, ada seorang pengawal yang nghunuskan pisaunya. Randika segera ncengkram pergelangan tangannya dan rebut pisaunya lalu nancapkannya di perut orang tersebut.
Di saat kedua pengawal lainnya mbidik Randika, reka kehilangan sosok Randika lagi. Yang reka ingat terakhir hanyalah sebuah kaki yang nendang reka tepat di wajahnya. reka terpental jauh sampai natap tembok.
Satu per satu pengawal itu tumbang dan pingsan. Randika lalu berjalan santai sambil bersiul ketika masuki rumah.
Saat Randika masuk lalui pintu, dia disambut oleh sebuah flashbang, itu benar-benar trik murahan. Di saat itu juga, rentetan senapan serbu nembakinya.
Setelah nghabiskan satu magasin penuh, para pengawal itu baru nyadari bahwa target reka sudah tidak ada.
Randika, yang sudah bergerak secepat kilat itu, sudah berada di lantai 2. Dia malas berurusan dengan orang banyak dan sedang ncari bos terakhir.
Tetapi, di lantai 2 dia disambut oleh seorang pengawal asing yang tinggi dan kekar.
"Cukup sampai di sini saja perjalananmu, aku akan mbunuhmu!" Kata orang asing itu dengan Bahasa Indonesia yang fasih.
Orang itu berlari dengan langkah kaki yang besar dan setiap hentakan kakinya nggetarkan lantai.
"mbunuhmu hanya butuh 1 detik." Kata Randika dengan santai.
"Mimpi!" Orang itu layangkan sebuah pukulan keras ke wajah Randika!
skipun pukulan itu bertenaga, di mata Randika pukulan itu sangat pelan.
Orang asing itu benar-benar murka ketika lihat Randika hanya berdiri diam dan wajahnya terlihat nyebalkan.
Berani rehkanku kau akan mati bocah! Pikirnya.
Namun, Randika hanya nggerakan satu kakinya dan orang asing itu berhenti dalam sekejap. Satu cm lagi pukulannya akan ncapai wajah Randika namun Randika benar-benar nghancurkan bolanya dengan tendangan yang keras. Wajahnya berubah njadi pucat pasi.
Orang asing itu segera berlutut kesakitan dan dipukul keras oleh Randika hingga pingsan.
Setelah mbereskan orang itu, Randika masuk ke dalam kamar Satria yang sudah tidak terjaga.
Satria natap Randika dengan tubuh yang getar tanpa henti.
"Siapa kamu? Berani-beraninya kau nerobos masuk ke rumahku!" Satria tidak habis pikir. Belum sampai 5 nit petugas keamanan yang di luar ngatakan ada orang ncurigakan di luar dan sekarang orang tersebut sudah ada di hadapannya. Kekuatan orang itu benar-benar luar biasa!
Perlu diketahui bahwa petugas keamanan dan pengawal yang dipekerjakannya adalah mantan pasukan khusus dari militer. Setiap bulannya dia akan ngeluarkan 200 juta buat keamanan rumahnya dan hanya butuh 5 nit saja reka semua tumbang.
"Ah aku mang orang biasa yang tidak terkenal, wajar saja kau lupa dengan wajahku." Kata Randika sambil tersenyum. Dia lalu ngambil sebuah kursi dan duduk di depan Satria.
Satria berpikir dalam hati, siapa orang yang berani lawannya di kota ini. Dalam sekejap punggungnya basah oleh keringat dan bertanya sambil nelan air ludahnya. "Kau Randika?"
"Ah aku tersanjung pemilik Perusahaan Galaksi bisa ngingat diriku." Randika ngangguk puas. "Benar aku Randika yang kau cari."
Kali ini Satria benar-benar skakmat. Kalau lawannya ini berada jauh darinya, dia bisa ngirim tim pembunuh ataupun wanita sexy untuk njebak orang tersebut. Beda cerita kalau lawannya yang ndatanginya, dia sekarang sudah benar-benar tamat.
Satria nggertakan giginya dan ngatakan, "Maafkan aku telah nyinggungmu. Ini murni salahku, setelah ini aku ataupun anakku tidak akan pernah nyinggungmu lagi."
"Perusahaanmu telah repotkanku berkali-kali, dan kau minta aku lupakan semuanya?" Secercah rasa jijik nuhi wajah Randika. "Sepertinya kau masih belum ngerti situasimu saat ini?"
"Apa yang kau mau? Aku akan berikan semuanya asalkan nyawaku selamat." Satria langsung berusaha mbeli nyawanya, karena yang paling penting baginya bukan kerajaannya ataupun keluarganya lainkan nyawanya sendiri.
"Wah tuan Satria salah paham. Bagaimana mungkin bos Perusahaan Galaksi mati begitu saja? Bisa-bisa dunia gempar ndengarnya." Kata Randika sambil tersenyum. "Aku tidak ingin apa-apa, aku hanya ingin mberi pelajaran padamu."
ndengar kata-kata Randika, Satria terkejut. Jika orang ini datang untuk mbuatnya cacat seumur hidup, lebih baik dia mati.
Randika berdiri dan Satria rangkak mundur sambil rinding. "Kau! Mau apa kau!"
"Kau milih yang mana? Tangan kirimu atau tangan kananmu?" Randika lalu mbanting kursi yang didudukinya dan ngambil pecahan kayu yang runcing,
lihat kayu tersebut, Satria tidak bisa berhenti getar. Dia rasa bahwa hari ini dia akan kehilangan salah satu tangannya.
Reviews
All reviews (0)